
Setelah mendengar perkataan yang keluar dari mulut Vino. Devan keluar dari rumah sakit itu, kali ini Devan tidak pulang ke rumah kedua orang tuanya, pria itu memilih pulang ke Apartemen miliknya, apartemen yang dulu pernah dia tempati bersama dengan Mala, sebelum semua ini terjadi.
" Kenapa semuanya jadi seperti ini sayang" lirih Devan setelah tiba di dalam mobilnya,
Pria itu membawa mobil dengan kecepatan sedang, pikirannya sedang tidak fokus saat ini, saat melihat keadaan yang di cintai nya, membuat Devan ikut merasakan sakit, ingin rasanya selalu ada dan mendampingi wanita itu, tapi apa boleh buat. ada Bima yang akan selalu ada untuknya,
Seorang Albima yang terlihat begitu mencintai dan menyayangi Mala, Devan kembali mengingat perkataan Bima, saat di mana Bima mengatakan bahwa Mala adalah dunianya.
1 jam kemudian, mobil Devan sudah tiba di depan sebuah gedung mewah, sebuah gedung yang tidak terlalu banyak orang berlalu-lalang di sekitarnya. karna gedung ini merupakan gedung Elit, oleh karena itu, tidak sembarang orang memiliki unit di sini
" Lebih baik aku tinggal di Apartemen ini saja" gumam Devan di sela langkah kakinya.
Di saat Devan tidak terlalu fokus berjalan, tiba-tiba dia tidak sengaja menabrak seseorang yang juga sedang berjalan dari lain arah.
Brak
Tubuh Devan bertabrakan dengan seseorang yang ada di hadapannya. " Sorry.. sorry " ucap Devan pelan
" Tidak ap.. Devan" ucapan Wilson saat menyadari bahwa orang yang menabrak tubuhnya adalah Devan
" Wilson, maafkan saya, saya tidak sengaja wilson"
Ya, pria itu adalah Wilson, ternyata Wilson ada urusan penting hingga mengharuskan dirinya terbang ke negara indonesia pagi tadi, pria itu kembali setelah mendapat kabar dari angga bahwa ada hal penting yang harus segera Wilson urus.
" Tidak masalah, kamu kenapa,? saya perhatikan seperti sedang banyak pikiran" ucap Wilson saat menyadari begitu banyak beban yang terlihat dari raut wajah Devan
" Iya Wilson, saat ini begitu banyak hal yang sangat menggangu pikiran saya"
" Mari duduk dulu, kamu bisa cerita apapun itu sama saya, siapa tau saya bisa memberi solusi"
Devan mengambil nafas panjang. mungkin yang di katakan Wilson memang benar, siapa tau dengan bercerita akan mengurangi beban pikiran Devan saat ini.
" Baiklah, mari kita bicara di restoran yang ada di apartemen ini saja, sekalian makan malam" ajak Devan pada Wilson, karna memang kebetulan ini sudah masuk jam makan malam.
Mereka berdua berjalan beriringan, tak butuh langkah lama, Devan dan Wilson sudah tiba di Restoran yang ada di gedung Apartemen itu.
Wilson memanggil waiters dan memesan makan malam untuk mereka berdua, kali ini entah kenapa Devan sangat menginginkan makan nasi goreng,
Devan memesan nasi goreng udang pedas, sedangkan Wilson memesan sop buntut,
Sambil menunggu pesanannya datang, akhirnya Wilson memutuskan untuk memuai pembicaraan mereka berdua, lebih tepatnya pembicaraan tentang masalah Devan,
" Jadi bagaimana Devan, Sebenarnya masalah apa yang sedang kamu hadapi, kenapa kamu terlihat begitu banyak pikiran" tanya Wilson pada Devan.
Mendengar itu membuat Devan mengambil napas panjang, masalah yang sedang Devan hadapi bukan lah masalah besar, namun entah kenapa rasanya masalah itu terlalu berat untuk nya.
" Ini semua tentang Mala" ucap Devan sendu.
" Tentang Mala? apa kamu sudah tau semuanya?"
Devan menatap Wilson setelah mendengar ucapan yang keluar dari mulut pria itu, " Sudah tau semuanya? maksudnya?"
" Iya, apa kamu sudah tau semuanya" ucap Wilson mengulangi perkataannya kembali
" Apa kamu sudah tau tentang Mala dan Bima?"
" Emmm, iya Van, aku sudah tau tentang mereka sejak beberapa bulan yang lalu, tepatnya saat aku mau menemui papa di rumah sakit,"
" Kapan Wilson?"
" Bisa kamu ceritakan Wilson"
" Iya Van, waktu itu. Mala sempat mengakui dirinya bukan Mala tapi Delisa, lalu. beberapa hari kemudian. aku di minta ayah untuk menghadiri acara pernikahan dari rekan bisnisnya,"
" Pernikahan rekan bisnis, emang apa hubungannya dengan Mala?"
" Saya belum selesai bicara"
" Oh iya, lanjut"
" Saat ayah memintaku untuk menghadiri acara pernikahan itu, aku kembali di buat terkejut lagi Van, ternyata yang menjadi pengantin wanitanya adalah Mala"
" Kenapa waktu itu kamu bisa yakin kalau dia adalah Mala?
" Iya soalnya di sana ada keluarga Mala, ayah bundanya. kak Nara juga kak Andra ada di sana, dan sejak saat itu aku tau semuanya, semua yang menjadi pertanyaan ku"
" Apa kamu masih mencintainya " tanya Devan tiba-tiba
Mendengat itu membuat Wilson mengangkat sebelah Alisnya, bagaimana bisa Devan mengatakan hal itu, apa Devan sudah mengetahui tentang perasaan yang selama ini Wilson pendam buat Mala.
" Apa maksud kamu Van?" tanya Wilson yang masih pura-pura tidak tau.
" Aku tau Wilson, kamu sebenarnya mempunyai rasa yang sama kan terhadap Mala?"
" Siapa yang bilang seperti itu. tidak" balas Wilson masih berusaha menyembunyikan perasaan yang dia miliki
" Sudahlah Wilson, aku sudah paham dan tau, jika kamu memiliki perasaan yang sama pada Mala"
" Iya Van, jujur. aku sudah mencintai Mala sejak masih jam SMP. aku jatuh cinta pada nya sudah selama itu, hingga saat ini pun, perasaan itu masih tetap sama, tapi aku sadar, bahwa cinta tak harus memiliki"
" Lalu apa Mala tau tentang perasaanmu?"
" Sudah, dia sudah tau, tapi dia hanya bisa menganggap aku sebagai sahabat, gak lebih" lirihnya pilu
" Kamu pernah mengatakannya sama Mala?"
" Sudah, tepatnya pada saat aku bertamu di kediaman kedua orang tua Mala, apa kamu ingat malam itu?"
" Jadi kamu mengatakan semuanya pada saat Mala menjadi istriku?"
" Iya, karna memang itu kesempatan yang aku punya, selama selama kurang lebih 8 tahun, aku hanya bisa memendam perasaan ini tanpa berani memberitahu Mala, hanya saat itu ada kesempatan dan keberanian dari diriku"
" Lalu, apa saat ini perasaan itu masih sama?"
" Entahlah Van, aku sudah berusaha melupakan Mala, namun rasanya berat dan sulit, Mala adalah wanita terbaik yang pernah aku temui,"
" Kamu benar juga Wilson, dia memang wanita terbaik" ucap Devan sendu
" Tapi kamu tenang saja Van, percaya padaku. Mala hanya mencintai kamu. tidak ada yang lain"
" Siapa yang mengatakan seperti itu?" tanya Devan saat mendengar ucapan Wilson
Namun saat Wilson mau menjawab, tiba-tiba seorang Waiters datang membawa pesanan mereka.
" Silahkan di nikmati pak, permisi" gumamnya