
"Aku bilang pergi dari sini. Tidak habis pikir dengan apa yang sudah kamu lakukan kemarin, Mas! Aku kecewa sama kamu mas. Benar-benar kecewa!" ucap Mala sambil menatap Devan tajam
Devan menghela nafas panjang, Mengerti dengan apa yang Mala rasakan saat ini. Siapapun akan merasa sangat kecewa saat seorang ayah lebih mementingkan wanita lain dari pada ayahnya.
"Maafkan aku Mala, Aku melakukan semua itu karna ada sebab dan alasan tertentu. Maafkan aku yang selalu membuatmu kecewa" Devan menatap lekat kedua manik mata Mala yang tersirat seperti memendam rasa kecewa yang amat besar.
"Sudahlah mas! Lebih baik kamu pergi dari sini. Tidak usah temui Bintang dan Langit lagi. Karna keputusan kamu kemarin sudah menunjukkan jika kamu tidak benar-benar menyayangi mereka"
"Aku benar-benar minta maaf Mala" ucapnya sendu sambil menundukkan wajahnya"Aku tidak butuh kata maaf mas! Kamu pergi sekarang!" sergah Mala dan langsung membalikkan tubuhnya.
Sifa dan Wilson yang sejak tadi memperhatikan Mala juga Devan hanya saling lirik. Mereka berdua cukup paham dengan apa yang Devan rasakan saat ini. Apalagi Wilson sudah tau betul jika Devan masih begitu mencintai Mala.
"Aku tau apa yang kamu rasakan Van. Aku juga tau bagaimana rasa kecewa Mala terhadapmu" Wilson membatin sambil terus menatap Devan yang sudah keluar dari ruangan itu.
Dengan langkah yang cukup berat, Devan putuskan untuk keluar dari ruangan Bintang. Membiarkan Mala yang masih terlihat di selimuti rasa kecewa dan juga sakit hati karna apa yang sudah dia lakukan kemarin.
"Maafkan aku Mala. Mungkin kamu memang benar-benar merasa sangat kecewa dengan keputusan aku kemarin, Tapi aku melakukan itu karna sudah terlanjur berjanji pada Nadia" ucap Devan sambil duduk di kursi tunggu di depan ruangan Bintang.
*****
"Akhirnya kamu datang juga Albima. Apa kamu masih ingat dengan aku?"
"Tidak usah banyak bicara. Ada apa kamu meminta saya datang ke tempat ini?"
"Slow. Jangan terlalu terburu-buru Bima. duduk dulu, Kita ngobrol-ngobrol dulu sebentar. Sudah sangat lama kita tidak saling berbicara Bim. Apa kabar?"
"Apa yang kamu mau? Jangan bertele-tela"
"Bima-Bima. Kau ini ternyata masih sama seperti dulu, Suka terburu-buru. Baiklah, Aku pastikan lagi. Apa kamu sudah siap?"
Belum sempat Bima menjawab, Pria itu merasa ada sebuah benda tajam yang sedang melayang di belakang tubuhnya. Karna kepekaan yang Bima miliki, Akhirnya pisah kecil itu mengenai tepat tangan kanan Viona, Karna Bima menundukkan tubuhnya untuk menghindari hal itu.
"Brengsek" umpat Viona sambil menahan nyeri di tangan kanannya
"Keluar kalian semua. Habisi pria brengsek ini!" titah Viona sambil mengusap lengan kirinya yang sudah mengeluarkan darah.
Di saat itulah, Semua orang suruhan Bima juga ikut keluar dan menghadapi anak buah Viona. Di sana juga ternyata Reno ikut maju dan menyerang Bima dari belakang.
"Saya akan membalaskan dendam yang selama ini terpendam Bima! Akan aku pastikan, Jika hari ini adalah hari terakhir kamu berada di dunia" ucap Reno sambil melayangkan pukulan pada Bima.
"Benarkah! Kita lihat saja penghianat, Apa kamu bisa melakukan hal itu"
Bima membalas setiap pukulan yang Reno layangkan pada wajahnya. Suara riuh serta bising sangat memekakkan telinga dan menggema di dalam ruangan itu.
"Dasar penghianat!" Ucap Bima pada Reno
"Bagaimana rasanya di khianati oleh orang yang paling anda percayai tuah muda. Perlu anda tau, Saya sudah mengalihkan semua aset MELANI Group atas nama Reno Lee" ucap Reno sambil tersenyum puas pada Bima.
"Apa kamu bilang, Tidak semudah itu Reno. Karna saya tidak sebodoh yang kamu pikir. Semua aset yang saya percayakan terhadap kamu hanyalah aset palsu. Karna aset aslinya sudah aku serahkan pada Mala, Istriku. Wanita yang akan memimpin perusahaan itu nantinya"
"Apa! Kurang ajar! Jadi selama ini semua aset itu palsu?"
"Tentu saja. Tidak semudah itu saya mempercayakan harta yang saya perjuangkan pada orang lain" ucap Bima sambil memelintir tangan Reno dan membuatnya berteriak kesakitan.
"Kamu salah mencari lawan Reno. Ini balasan atas apa yang sudah saya lakukan terhadap kamu. Asal kamu tau ya, Yang sudah membunuh Luis bukan saya, Tapi Andika sanjaya" ucap Bima dan langsung mendorong tubuh Reno
"Apa!" Cukup terkejut dengan apa yang baru saja Bima katakan. Tidak pernah menyangka jika ternyata dirinya sudah salah sasaran.
"Apa maksud kamu Bima?"
Bima tak menggubris perkataan Reno, Pria itu terus keluar dari gedung dengan membawa rasa marah yang begitu besar. Ingin membunuh Reno pun Bima masih cukup teringat dengan beberapa jasa Reno selama ini. Biarpun Reno melakukan itu tanpa ketulusan.
Sepeninggalan Bima, Reno masih terus diam. Mencoba mencerna apa yang baru saja Bima katakan padanya. "Apa maksud dari perkataan Bima. kenapa dia mengatakan jika Andika yang sudah membunuh ayah. Aku benar-benar tidak paham" ucapnya sambil menahan nyeri di tangannya akibat perlakuan Bima.
***
Bima melajukan mobilnya cepat, Perasaannya mulai tidak enak. Tentu saja Bima sangat menghawatirkan Mala di rumah sakit. Pria itu takut terjadi yang tidak-tidak terhadap Mala.
"Akan aku pastikan kamu menyesali semuanya Reno! Bagaimana bisa selama ini kamu membalas air susu dengan air toba hanya karna sebuah kesalahpahaman"
Hal itu membuat Bima teringat akan kejadian 5 tahun yang lalu. Kejadian di mana tanpa sengaja Bima melihat Andika yang sedang membunuh seorang pria paruh baya yang bernama Luis Lee.
"*Kak Andra, Hari ini aku masih ada urusan penting. Biasa kak! Kakak kalau mau pulang duluan gak papa" ucap Bima pada Andra saat mereka bertemu di parkiran kampus.
"Lalu nanti kamu pulang bagaimana Bim. Mau naik angkutan umum? Atau aku antar kamu saja bagaimana?"
"Memangnya tidak merepotkan kak. Soalnya ini masalah urgent sih"
"Tidak. Lagian hari ini jadwal kuliah kakak sudah selesai. Ayo naik. Kita ke tempat yang mau kamu datangi"
"Baiklah kak"
Bima naik ke dalam mobil milik Andra. karna memang Bima tidak membawa mobil sendiri. Mereka berdua memang sudah tinggal di apartemen yang sama sejak 2 bulan yang lalu.
Setelah tiba di sebuah gedung tak terpakai, Ternyata memang benar apa yang sudah di katakan oleh anggota Black flower jika ada seseorang yang sudah membunuh Luis Lee, Musuh besar Sunder ayahnya.
Andra membulatkan kedua matanya saat menyaksikan kejadian di depan matanya, "Bim, Apa itu. Kenapa dia membunuh orang itu dengan sangat sadis" ujar Andra sambil ikut melihat kejadian di depan matanya.
"Kak Andra pergi sekarang dari sini"
"Lalu kamu bagaimana?"
"Sudah, Jangan pedulikan aku. Aku sudah biasa"
Andika yang sudah menyelesaikan aksinya langsung pergi dari sana. Siapa duga jika Andika akan melakukan hal ini hanya karna tidak mendapatkan restu dari Luis. Ya, Luis adalah ayah dari, Latisa. Seorang wanita yang sudah berhasil mengambil hatinya. Latisa adalah anak perempuan dari Luis, Kakak dari Reno Lee*.
Mobil Bima sudah tiba di halaman rumah sakit, Pria itu turun dan berjalan cepat menuju ruangan Bintang. Dengan langkah lebar Bima menyusuri koridor rumah sakit.
Setelah tiba di dalam ruangan Bintang, Betapa terkejutnya Bima saat melihat ada banyak darah di sana. Darah apa ini Pikirnya.
Bima semakin mempercepat langkahnya dan langsung terkejut saat melihat Mala yang sudah tak sadarkan diri dalam dekapan Devan.
"Apa yang terjadi?"