Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Bertemu wilson


Saat ini mala sedang menuju ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya yang sudah masuk di minggu yang ke 22, perut mala juga sudah semakin membuncit. karna jarak apartemen ke rumah sakit cukup jauh, oleh karena itu mala memerlukan waktu sekitar 1jam lebih untuk tiba di sana, karna siang ini jalan cukup macet hingga mala memerlukan waktu lebih lama untuk tiba di rumah sakit itu,


Mala kembali melihat ponselnya yang sepi, wanita itu membuka aplikasi Whatshap namun tak kunjung ada balasan dari bima, bahkan pesannya masih tetap centang satu.


" Bima kemana ya. tumben aku kirim pesan tapi centang satu, apa dia sesibuk itu sampek mematikan ponselnya" ucap mala di sela kegiatan memainkan ponselnya.


Mala merasa sangat sepi dan bosan. biasanya saat bersama bima pria itu akan membual di saat jalanan sedang macet seperti saat ini. wanita itu mengingat kejadian satu bulan terakhir sebelum acara pernikahannya di langsungkan.


" Kamu kenapa calon istri. bosan hmm?" ucap bima pada mala yang terlihat sedikit badmood.


" Iya bosan, kenapa lama sekali bim, aku sedang ingin memakan masakan khas indonesia" rengek mala seperti anak kecil


" Sabar ya, kalau jam segini jalanan memang suka macet, ini kan jam orang pulang kantor. nanti kamu bisa makan apa saja yang kamu mau, sebentar lagi ya" ucap bima yang terdengar sangat lembut pada indra pendengarannya mala


" Aku menyanyi saja ya biar kamu tidak bosen"


" Iya boleh deh"


[ ๐ŸŽถ Ku tuliskan kenangan tentang, caraku menemukan dirimu. tentang apa yang membuatku mudah berikan hatiku padamu,


tak kan habis sejuta lagu untuk menceritakan cantikmu, Kan teramat panjang puisi tuk menyuratkan cinta ini.


Telah habis sudah cinta ini tak lagi tersisa untuk dunia.


karna tlah ku habiskan, sisa cinta ku hanya untukmu ๐ŸŽถ ]


" Eh lampunya sudah hijau bim," ucap mala di sela nyanyian bima


Pria itu langsung melajukan mobilnya untuk segera tiba di rumah makan yang di inginkan oleh mala. " Bagaimana suaraku bagus tidak?"


" Lumayan lah"


" Kok hanya lumayan. tapi boleh juga kan?"


" Ya ya ya"


Suara supir mala menyadarkan wanita itu dari lamunan satu bulan terakhir. " Non mala, kita sudah sampai" ulang pak dito lagi. " Eh iya pak kita sudah sampai ya"


" Iya non, kita sudah sampai."


" Saya masuk dulu ya pak" pekik mala sopan.


Setelah mengatakan hal itu, mala langsung keluar dan masuk ke dalam rumah sakit itu. setelah tiba di ruangan dokter fatma wanita itu di minta untuk berbaring di atas ranjang rumah sakit.


" Kita periksa dulu ya bu,"


" Iya dokter,"


" Ibu sendirian, tumben gak di temenin pak bima?" tanya dokter fatma pada mala, karna memang selama ini bima selalu ikut serta saat mala memeriksakan kandungannya.


" Iya dok, bima lagi ada meeting penting"


" Wah, bayinya sudah mulai aktif ya bu, berat bayinya normal. ini jenis kelaminnya juga udah kelihatan" balas dokter fatma lagi


" benarkah dok, Kalau boleh tau apa jenis kelamin anak saya dok?"


" Selamat ya bu, anaknya kembar laki-laki"


" Hah kembar dok, yang bener dokter?"


10 menit kemudian mala sudah selesai menjalankan semua pemeriksaan serta konsultasi dengan dokter fatma, wanita itu berjalan ke arah apotik untuk menebus obat sesuai dengan resep baru yang di berikan dokter fatma. mala berjalan dengan sangat pelan, hingga tak sengaja ada orang yang menabrak tubuhnya dari arah belakang.


" Awww" ucap mala sambil mengusap kakinya yang terkilir akibat orang tadi.


" Nona tidak apa-apa?" suara berat seorang laki-laki mengalihkan pandangan mala pada seseorang yang sedang berdiri tepat di samping tubuhnya. " siapa ya. kenapa suaranya seperti familiar " mala bermonolog dalam batinnya.


" Sepertinya kaki saya terkilir. awww"


Laki-laki itu langsung membantu mala untuk duduk di kursi tunggu yang ada di sekitar apotik itu, " duduk dulu biar saya bantu periksa kakinya, maaf ya" Titah wilson sambil mengangkat sebelah kaki mala yang terkilir. laki-laki yang menolong mala adalah wilson atmaja.


" Siapa dia ya, kenapa aku seperti sangat mengenal suaranya" Pekik mala sambil melihat sosok laki-laki yang sedang berjongkok di depannya untuk memijat kaki kiri mala. " astaga. dia kan wilson, iya aku ingat sekali suara itu" batinnya lagi


Karna saat ini wilson menggunakan masker, oleh karena itu mala sedikit tidak mengenalnya, namun masih ingat jelas dengan suara yang di miliki wilson atmaja.


" Sudah selesai, coba kakinya di gerakkan pasti sudah tidak sakit lagi"


Mala tak menjawab, wanita itu langsung menggerakkan kakinya yang memang sudah tidak terasa sakit lagi" Iya sudah tidak sakit lagi, terimakasih wilson" ucapnya tanpa sengaja. Mala menutup mulut dengan kedua tangannya. " Ya ampun, kenapa aku pakek menyebutkan namanya."


Wilson yang dari tadi tidak melihat wajah wanita yang ditolongnya langsung mengangkat wajah ketika mendengar wanita itu menyebutkan namanya.


" Mala" ucap bima kaget


" Terimakasih wilson, aku permisi dulu" ucap mala dan langsung bangkit dari duduknya. namun langkahnya terhenti saat suara berat wilson kembali menerpa indra pendengarannya.


" Mala, sebentar. ada banyak hal yang harus aku tanyakan padamu" ucap wilson sambil mendekati mala


" Aku bukan mala wilson. aku delisa"


" Mala, aku sudah tau jika kamu itu mala, kemarin saat acara pernikahanmu dengan bima aku bertemu dengan om winarto,"


" Ada apa wilson?"


Wilson mengajak mala untuk duduk di taman yang ada di rumah sakit itu, wilson memang selalu paham dengan kondisi mala setelah bersahabat mulai dari jaman sekolah menengah pertama.


" Sebenarnya apa yang terjadi terhadap kamu dan devan,? kenapa tiba-tiba kamu menikah dengan bima?"


Mala tak langsung menjawab, wanita itu mengambil napas panjang sebelum menceritakan semuanya pada wilson.


" Mas devan menghamili wanita lain wil, dia menghamili mantan kekasihnya yang bernama adelia" ucap mala sendu


Mendengar nama adelia membuat wilson mengangkat sebelah alisnya, adelia! nama itu seperti tidak asing buat wilson. seperti pernah mendengar nama itu sebelumnya. tapi kapan? dimana?


" Mantan kekasih, Adelia?' tanya wilson lagi


" Iya wil, wanita yang di hamili mas devan bernama adelia, mantan kekasihnya yang sangat mas devan cintai" lirihnya pilu hingga tanpa sadar air matanya perlahan meluruh membasahi pipi putihnya.


" Apa adelia itu adalah seorang dokter?" tanya wilson lagi


" Kok kamu tau bahwa adelia adalah seorang dokter?"


" Iya aku tau. beberapa bulan yang lalu aku pernah menolong seorang wanita yang tergeletak di pinggir jalan, saat aku membawanya ke rumah sakit ternyata kata dokter dia sedang hamil muda" terang wilson lagi


Mendengar penuturan wilson membuat mala mengusap air matanya yang mulai membasahi pipi, " Kejadiannya kapan"?


" Kira-kira delapan bulan yang lalu,"