
Dia mengerut kan dahi nya ketika mendengar kata kata yang benar benar keluar dari anak kecil berumur 7 tahun.
"Qian Yu, apa kau benar benar akan melakukan hal yang sama dengan ku ?" Tanya nya dengan terkejut.
"Tentu saja, jika aku sudah dewasa seperti Kakak Xue , aku pasti akan melakukan hal yang sama. Menyelamatkan orang itu adalah hal yang baik, orang orang itu tidak mengerti kebaikan yang kakak buat, tapi tenang ! Aku mengerti itu semua !" Kata Qian Yu dengan suara khas anak anak nya.
Qian Yu memeluk nya lebih erat, dia membalas pelukan itu dengan penuh kasih sayang.
"Qian Yu, jika kau mau seperti aku , maka kamu harus berlatih dengan keras dan tidak membantah apa bila Guru mengajak mu untuk berlatih. Jika kamu hanya bermain sepanjang hari, apa kah nanti bisa seperti ku ?" Tanya nya dengan pelan.
"Oh iya, aku akan melakukan itu sekarang. Selama tinggal Kakak Xue ! Guru menyuruh ku untuk melatih teknik pernafasan bersama nya sebentar lagi. " Kata Qian Yu.
"Hati hati. " Ucap nya sambil memegangi tubuh Qian Yu untuk turun dari pangkuan nya dengan hati hati.
Melihat kepergian Qian Yu membuat nya merasa tenang, rasa nya seperti baru saja melepaskan seluruh beban nya.
"Pada dasar nya, orang orang itu hanya pengecut. Mereka berlagak mengatakan kalau mereka membela kebenaran, tapi ketika di hadapkan dengan musibah yang menimpa Qian Yu, mereka bahkan tidak berani menunjuk kan kepala. " Gumam nya sambil tertawa ringan.
Dia sudah tidak berniat untuk berlatih lagi dan justru meregangkan tubuh nya, beberapa hari kemudian. Sudah waktu nya untuk pergi bertanding.
Kali ini, Ketua Sekte secara pribadi memimpin murid murid dari Sekte Biru Es menaiki sebuah kapal terbang.
Ini benar benar berbentuk kapal besar yang bisa menampung 30 sampai 50 orang dan bisa terbang dengan Kristal Roh sebagai bahan bakar nya.
"Woah, aku dengar Kapal ini sudah sangat lama di simpan sehingga tidak ada yang pernah melihat nya lagi selama 20 tahun belakangan ini. " Kata salah satu murid dengan penuh Kekaguman.
Tetua Ouyang dan Ketua Fraksi lain memilih untuk tidak ikut dan menjaga Sekte, hanya Tetua Liu dari Fraksi Pengobatan yang ikut.
Saat ini dia sedang bergandengan dengan Lin Cong Zi yang ikut juga untuk pertandingan Antar Tiga Sekte terkuat.
Akan ada ribuan orang yang menonton dan kebanyakan adalah keluarga keluarga kecil yang berada di jalur kultivasi.
Atau kultivator tanpa sekte atau keluarga, biasa nya akan pergi menonton pertandingan ini.
"Semua nya tampak sangat indah. " Ucap nya dengan kagum sebelum pandangan nya menyapu pada sebuah tanda kecil di sudut, yaitu Phoenix Salju.
Lin Cong Zi menatap ke arah yang dia lihat dan bertepuk tangan pelan.
"Lihatlah, nama mu terukir di sana. Ini adalah kebetulan yang sangat bagus. " Bisik Lin Cong Zi.
Dia hanya tertawa ringan sebelum menatap lambang di sebelah Phoenix Salju, tubuh nya melemas, itu adalah lambang Qilin.
Lambang Qilin adalah lambang yang di miliki oleh nya sebagai petunjuk siapa orang tua nya, di sebelah lambang Qilin, ada lambang Phoenix Salju yang sama dengan nama nya.
Dia yakin ini bukan sebuah kebetulan belaka, sebelum Ketua Sekte naik ke atas kapal terbang.
"Tidak, Ketua Sekte. Aku hanya penasaran, dari mana ada lambang Qilin sebagus itu. " Ucap nya dengan tenang.
"Kau memiliki selera yang sama dengan ku, aku mendapat kan kapal ini dari seseorang. Dia bilang kalau itu adalah lambang milik nya, jadi aku meminta nya untuk mengukir di kapal ini. " Kata Ketua Sekte dengan senyum tipis sebelum berjalan ke depan untuk mengendalikan kapal terbang.
"Semua nya sudah naik, mari mulai perjalanan kita !" Ucap Tetua Liu dengan bersemangat.
Kapal Terbang mulai maju ke depan, awal nya agak lambat tapi berubah menjadi sangat cepat bahkan lebih cepat dari pada kemampuan terbang nya.
Dia yakin, jika di lihat dari bawah maka mereka hanya akan terlihat seperti bayangan sekilas. Dia memegang dinding kapal sebagai pegangan agar menjaga keseimbangan nya.
Karena kapal terbang beberapa kali melakukan belokan tajam karena ada awan tebal, ini mirip dengan pesawat tapi versi terbuka dan lebih kasar.
Dia duduk di salah satu dinding kapal dengan santai setelah menyusuaikan diri.
"Saudari Lin, apa kah kamu pernah menaiki ini sebelum nya ?" Tanya nya sedikit berteriak karena kecepatan mereka yang sangat tinggi.
Agak sulit untuk saling berkomunikasi.
"Tentu saja belum ! Umur ku baru 21 tahun, sedang kan kapal ini kabar nya belum di tunjuk kan selama 20 puluh tahun lebih !" Teriak Lin Cong Zi dengan mulut yang penuh angin.
Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa melihat keadaan Lin Cong Zi yang mengenaskan sebelum memasang pelindung angin di sekitar mereka.
Angin kencang tadi menghilang di gantikan dengan angin sejuk yang menerbang kan beberapa helai rambut mereka.
"Bukan kah begini lebih baik ?" Tanya nya sambil tertawa ringan.
Lin Cong Zi duduk sambil bertopang dagu dan menatap nya dengan kedua mata bulat gadis itu.
"Ada apa ?" Tanya nya dengan tidak nyaman karena di tatapi seperti itu.
"Tidak, aku hanya merasa kalau kau belakangan ini menjadi lebih murung dari biasa nya, kau juga menjadi lebih pendiam. Apa kah ada sesuatu yang menganggu pikiran mu ? Ingin berbagi dengan ku ?" Tanya Lin Cong Zi sambil mengulur kan tangan dan merangkul bahu nya.
Dia menghela nafas pelan dan tidak langsung menjawab melainkan mengambil nafas dalam dalam dan dengan ragu harus menceritakan masalah nya pada Lin Cong Zi atau tidak.
"Aku bertemu orang yang aneh, dia bilang pada ku kalau dia kehilangan ayah nya berniat untuk mencari ayah nya, tapi perlahan lahan teka teki yang lebih besar mendatangi nya, jadi dia yang awal nya sangat bersemangat untuk mencari ayah nya menjadi ragu kalau semua nya akan berjalan tidak sesuai dengan apa yang ada di pikiran nya. Aku kasihan dengan nya dan berniat untuk membantu nya, tapi tidak terlalu mengerti dengan hal ini sehingga aku sendiri bingung apa kah harus menyuruh nya untuk tetap mencari ayah nya atau pergi sejauh mungkin dari tempat yang ada petunjuk tentang ayah nya. " Ucap nya dengan ragu ragu.
"Emh, ini cukup sulit, tapi menurut ku, sesulit apa pun di Terima, kita tetap harus mencari fakta nya meski pun itu menyakitkan. Jika aku menjadi diri nya maka aku tidak ingin hidup di dalam bayang bayang kebohongan yang aku buat sendiri, tapi setiap orang berbeda. Itu hanya pendapat ku, pendapat ku adalah tetap mengejar ayah nya dan mencari tahu semua nya dengan jelas, setelah itu baru lah di putus kan langkah selanjut nya. " Kata Lin Cong Zi, dia mendengar kan dengan seksama semua nasihat yang di beri kan oleh Lin Cong Zi.
"Hm, aku juga berpikir begitu, aku akan memberi tahu dia tentang hal ini. Tapi, dia mungkin agak ragu ragu. "Ucap nya sambil mengangguk.
"Ragu itu wajar, jika aku berada di posisi nya maka aku juga akan ragu tapi aku tetap akan memilih pilihan ku yang tadi. " Kata Lin Cong Zi tanpa berpikir dua kali.
Bonus like 9 k : 1 / 3