Penerus Dewi Kematian (Series 2)

Penerus Dewi Kematian (Series 2)
153. Hidup Lebih Buruk Dari Kematian


Dia tertawa lantang tanpa memperdulikan tubuh nya yang di penuhi luka sebelum menatap pada musuh musuh nya dengan tatapan bengis.


Dia mengangkat pedang nya dan menerjang ke depan, pedang asing yang di gunakan nya ini tidak sekuat pedang milik nya tapi lumayan.


"Kalian akan membayar mahal untuk hal ini, seperti yang ku kata kan sebelum nya. Tidak akan ada yang lolos !" Ucap nya dengan mata yang memerah.


Asap hitam muncul lebih tebal dan tebal, dia juga tidak tahu dari mana asap tebal ini tapi seperti nya tidak berniat jahat.


Asap hitam itu mengikuti perintah nya, dia menjulurkan tangan nya ke depan dan asap asap itu menjadi rantai yang mencekik semua orang.


Dia melihat cahaya merah yang menjadi lebih redup, ini membuat nya panik sebelum suatu gelombang menghantam nya dengan sangat kuat.


Dia menghantam tanah dan kesadaran nya perlahan lahan hilang.


3 Jam kemudian


Dia terbangun dengan tangan yang hitam dan pakaian yang setengah hancur, darah nya telah mengering.


Dia melihat seluruh tubuh nya hampir hancur, seluruh kulit di kaki nya mengelupas dan tangan nya di penuhi darah.


Dia akhir nya mengingat apa yang terjadi, yang terjadi adalah ledakan kuat menghantam diri nya. Wajah nya berubah pucat.


Ledakan di sini dapat di lakukan dengan menghancurkan kultivasi sendiri, semakin kuat kultivasi seseorang maka semakin kuat ledakan nya.


Dia melihat sekeliling nya, yang di lihat nya hanya lah lahan tandus yang di penuhi dengan abu. Dia membulat kan mata nya dan melihat ke ujung.


Di sana ada pedang hitam, pedang ini adalah pedang yang di gunakan oleh paman nya dan ada satu lagi.


Ini adalah pedang milik Tetua Ouyang , dia langsung berlari menuju puncak gunung. Beberapa kali dia terjatuh karena tebing yang curam.


Dia tidak memperdulikan diri nya yang berkali kali menghantam Batu, lutut nya melemas kala melihat abu dan rumah yang hancur.


"Ayah ! Ayah ! Tidak ! Tidak mungkin !" Dia terus berteriak seperti orang gila sampai suara nya menjadi serak.


Setetes air mata menetes dan jatuh ke salah satu abu, dia menatap abu itu dengan tatapan sedih. Untuk sesaat dia terduduk di sana tanpa bisa melakukan apa pun.


Saat ini, tidak hanya fisik nya yang sakit melainkan pikiran nya juga sakit. Untuk siapa pun, dia ingin mengatakan kalau ini sangat sakit.


"Arghh ! " Dia meraung dengan marah, tubuh nya gemetar.


Darah tidak berhenti mengalir, bibir nya pucat, mata nya redup, Qi nya habis, tidak ada kekuatan yang tersisa untuk nya.


Dia jatuh terlentang di sana sambil mengingat ngingat apa yang terjadi sebelum nya, mulai dari paman nya yang menitipkan Pecahan Surgawi milik nya pada Xue Fenghuang.


"Kalian semua meninggalkan ku sendirian disini, apa kah kalian tidak memiliki rasa bersalah sedikit pun di hati kalian ? Apa kah aku masih merupakan keluarga kalian ?" Tanya nya dengan suara yang di penuhi dengan luka.


Dia tidak bisa berdiri, tidak bisa bergerak, tidak bisa melakukan apa pun. Lebih dari lima tusukan yang mendarat di tubuh nya, belum lagi luka luka lain nya yang bahkan tidak berani di lihat oleh nya.


"Semua nya meninggal, kenapa aku tidak ? Apa kah karena aku membagi jiwa ku ? " Gumam nya sambil memandang langit yang tampak mendung, seolah olah bisa merasakan kesedihan nya juga.


"Siapa pun yang bisa menolong ku, aku harap kalian menolong ku. " Gumam nya dengan suara pelan dan mata yang redup.


2 hari kemudian


Dia masih tidak berganti posisi, dia tidak bisa melakukan apa pun dan hanya bisa berbaring di sana dengan kaku.


Dia tidak bisa makan, tidak bisa minum , bahkan tidak bisa memunguti abu paman nya dan abu Tetua Ouyang.


Seluruh tubuh nya mati rasa, dia tidak bisa mengobati diri nya sendiri karena Qi nya yang belum pulih.


"Hidup tapi terasa lebih buruk dari kematian. " Gumam nya.


Byurrr


Hujan deras mengguyur diri nya, karena deras nya hujan. Itu terasa seperti jarum yang menusuk nusuk luka terbuka nya.


Rasa nya sangat perih, dia ingin berlari dan berteduh sebelum menyadari kalau dia tidak bisa berlari bahkan tidak bisa bergerak seinci pun.


Belum lagi, semua bangunan di sini telah berubah menjadi abu. Dia ingin marah, tapi pada siapa ? Air hujan membasuh luka nya dengan kejam dan melewati tubuh nya yang berlubang.


7 hari kemudian


Sudah lebih dari seminggu dia tidak bisa berdiri, luka luka nya menjadi lebih parah karena tidak di rawat.


Tidak ada Qi sama sekali di dalam tubuh nya, dia bahkan berpikir kalau Dantian nya hancur. Tapi setelah dia memeriksa, Dantian nya masih dalam keadaan yang utuh tapi tampak nya sedang terluka.


Bibir nya kering, tangan nya mati rasa, kaki nya mati rasa dan seluruh tubuh nya seperti akan hancur.


Setiap hari, dia di jemur oleh Matahari yang terik dan malam nya di guyur oleh hujan. Seluruh kulit di tubuh nya pecah pecah.


Mata nya tidak bersinar lagi seperti sebelum nya, seolah olah dia adalah orang yang berbeda.


"Harus berapa lama lagi aku menunggu dalam posisi ini ?" Gumam nya dengan penuh rasa putus asa.


1 bulan


2 bulan


4 bulan


5 Bulan !


5 Bulan berlalu sejak kejadian berdarah itu, Xue Fenghuang tidak bisa merasa kan sakit lagi pada diri nya.


Baru saja memejamkan mata nya, dia merasa ada aliran energi yang perlahan lahan merayap ke dalam tubuh nya.


Langsung saja dia menyerap semua nya dengan segera, Dantian nya terasa lebih berisi meski pun sedikit.


Dia kembali menyerap lebih banyak, supaya paling tidak dia bisa bergerak dan tidak di sini lebih lama. Jika dia bisa bergerak maka dia bisa menggunakan Kristal Roh untuk memulihkan kekuatan nya.


Dia akhir nya bisa sekedar menggerakkan tangan nya yang sudah lama mati rasa, sebelum akhir nya bisa untuk duduk meski pun tidak lama.


Dia mengambil cincin ruang nya dan menyerap banyak Kristal Roh sekaligus, dia tidak takut akan kekurangan Kristal Roh.


Karena, dia sendiri memiliki banyak. Tidak terasa Dantian nya terisi hampir setengah, dia langsung saja berdiri dan mengambil pedang yang jatuh di sana sebelum mengukir nama ayah nya sebagai bentuk penghormatan.


Dia terbang ke luar gerbang dan mengambil senjata milik paman nya serta milik Tetua Ouyang untuk di kubur kan nya di tempat yang layak.


Sekte Biru Es sudah tidak memiliki harta lagi karena semua nya sudah ada di tangan nya sejak beberapa hari lalu.


Ayah nya tampak nya sudah mengantisipasi ini , dia berjalan dengan kaku karena seluruh tubuh nya sudah lama tidak di gerak kan.


Rambut nya tampak berantakan dan wajah nya di penuhi dengan bercak bercak hitam, dia melihat sesuatu yang mengkilat di balik tumpukan abu.


Bonus Like 22 k : 2/ 3