
Keesokan Harinya, dia sudah pergi dari kediaman Long pagi pagi bahkan sebelum matahari terbit. Kali ini, dia membawa sebuah belati di tangan kiri nya.
Tidak ada yang tahu bahwa dia keluar dari kediaman Long di waktu yang sangat pagi, kebanyakan orang belum bangun dan hanya ada beberapa yang sedang berjualan sayur.
Dia meloncat di atas atap rumah ke atap rumah yang lain sampai melihat sebuah istana yang sangat mewah, ketika dia berjalan masuk.
Dia langsung di halangi oleh kedua penjaga istana, dengan belati yang di bawanya. Leher kedua penjaga itu telah menunjukkan luka parah sebelum jatuh ke tanah dengan tatapan kosong.
Darah mengalir dari belati nya yang membentuk jejak yang di bawanya ketika ingin masuk ke dalam istana terkutuk ini.
Jika bukan karena istana ini berniat ikut campur, maka dia tidak akan terluka separah itu. Dia harus membuat mereka membayar kejahatan mereka.
Klan Long telah mengabdikan diri mereka pada Kekaisaran Zhou lebih dari 10 dekade. Tapi, dengan sekali pandangan Kekaisaran Zhou langsung memalingkan punggung dan berbalik menyerang Klan Long.
Kemarin, meskipun Long Tian Tang berhasil menang melawan Jenderal Zhong itu bukan berarti menang tanpa luka.
Long Tian Tang mendapatkan luka fisik dan luka dalam yang cukup parah dan masih membutuhkan perawatan sampai sekarang.
Dia terus berjalan dan ada sekitar 10 orang yang menghalangi nya.
"Kalian benar benar ingin mati disini ? Jika tidak maka aku akan melepaskan kalian. Tidak perlu takut, orang orang Kekaisaran sialan ini tidak akan bisa mencari kalian lagi. " Ucap nya sambil memiringkan kepala nya.
"Siapa kau ?!" Orang orang itu langsung bersiap untuk meminta bantuan, dia mendecakkan lidahnya dengan kesal.
"Kalian benar benar keras kepala dan membuatku marah. " Ucap nya dengan dingin.
Dalam satu kibasan, kesepuluh orang itu mengeluarkan darah dari mata, hidung, mulut dan telinga.
Perlahan lahan, mereka jatuh ketanah satu persatu sedangkan dia berjalan tanpa keperdulian. Dia tidak berniat untuk membunuh banyak orang saat ini.
Tapi, mereka yang sangat keras kepala dan membuatnya marah. Dia berjalan dengan tenang, gaun merah nya berkibar kala ditiup oleh angin.
Rambutnya yang tidak terikat membuat wajah putih pucat nya menjadi sangat indah tapi menakutkan.
Dia terus berjalan menuju istana utama, ratusan penjaga langsung menjadi waspada ketika melihat kedatangannya.
"Ha ha ha, ternyata banyak yang menyambutku. Aku jadi merasa terharu, aku ingin melihat mana Kaisar Zhou yang dikatakan sangat pintar. " Ucap nya dengan sinis.
"Menyerahlah !" Teriak para prajurit yang berkeliling sambil mengatakan tombak dan pedang ke arahnya.
Dia tertawa ringan sebelum mata pedang dan mata tombak itu patah semua hanya dengan satu jentikan jarinya.
Trik semacam ini, bagus dilihat tapi tidak bagus di gunakan. Tapi, jika untuk sekali sekali maka tidak masalah untuk menggunakan teknik ini.
Teknik ini menghabiskan lumayan banyak tenaga hanya untuk menghancurkan senjata lawan yang tingkat rendah.
Jika dia berhadapan dengan senjata yang setingkat Bing Yue, maka teknik ini akan sia sia. Orang orang mulai berjalan mundur selangkah demi selangkah.
Dia bahkan tidak memerlukan pedangnya untuk menghadapi ini. Dia berjalan ke depan dengan jalan yang dibuka.
Dua orang dengan baju zirah yang beberapa kali lipat lebih kuat dari prajurit tadi menghadangnya. Dia mendengus dingin dan mengibaskan tangannya.
Cahaya biru muda yang sangat dingin menghantam kedua orang itu sampai terpental ke belakang dan memuntahkan darah.
Dia berjalan terus ke dalam dan di dalam ada tiga orang dengan kekuatan yang sedikit lebih tinggi dari kedua orang tadi.
"Ck, orang takut mati. Bahkan untuk berjalan menuju tempatnya memiliki begitu banyak penjagaan. Apakah dia sadar jika banyak orang yang ingin membunuhnya ?" Gumam nya dengan sinis.
"Kau tidak berhak untuk menghina Yang Mulia !" Ucap salah satu dari mereka.
"Jika aku menghinanya, apa yang bisa kalian lakukan padaku ?" Tanya nya dengan sinis.
"Apakah kalian berpikir dengan kalian bertiga saja bisa membunuhku ?"Tanya nya lagi, dia sekali lagi mengibaskan tangan dan ketiga orang itu bernasib sama.
Sudah di bilang kalau dia tidak ingin membunuh terlalu banyak orang saat ini, dia sedang tidak dalam mood untuk membunuh orang lain.
Di sana, ada 5 orang yang sedang menjaga pintu. 5 orang ini kekuatan nya dua kali lipat dari yang tiga orang tadi.
Lumayan hebat, tapi bahkan tidak sekuat Jenderal Zhong yang diutus untuk melawan Long Tian Tang. Dia menduga, Jenderal Zhong seharusnya menjadi salah satu yang menjaga tempat ini sebelum dia pergi menjemput kematiannya.
"Siapa kau ?!" Tanya salah satu dari mereka dengan waspada.
"Jika aku menyebutkan namaku, apakah kalian bisa mengetahui tentangku ?" Tanya nya.
Dia tersenyum tipis dan melakukan beberapa gerakan, orang orang di depan mulai menghindari serangan nya sementara dia terus menyerang.
Cahaya birunya bertabrakan dengan cahaya merah yang datang dari kelima orang di depannya, awalnya itu adalah kekuatan yang setara.
Tapi, perlahan lahan cahaya biru mulai menelan semua cahaya merah sebelum semua nya menghilang dan kelima orang itu menemui kematiannya.
"Ckck, mereka mati dengan begitu saja ? Sangat mengecewakan. Padahal aku hanya menggunakan sepertiga kemampuan ku. " Ucap nya dengan kerutan dahi.
Pada awalnya dia hanya ingin membuat kelima orang ini pingsan, tidak menyangka kalau kelima orang ini sangat lemah dan meninggal dalam satu pukulan.
Dia menggeleng gelengkan kepalanya tidak mengerti sebelum berjalan masuk ke dalam ruangan yang kosong itu.
"Keluarlah, tidak peduli kau ingin berlari kemana, aku masih akan mengejarmu. " Ucap nya dengan dingin.
Dia berdiri di dekat jendela dan melihat ada dua orang yang berjubah hitam sedang berlari di halaman istana, satu pendek dan satu lagi tinggi.
Dia melempar belati nya dengan senyum di sudut mulut nya, orang yang tinggi tampaknya sadar dengan serangan mendadak yang diberinya.
Sehingga menggunakan nyawanya sebagai gantinya, belati itu menembus yang besar tapi tidak berhenti di sana saja.
Melainkan tembus ke yang kecil juga, anak laki laki tampan yang menggunakan pakaian emas jatuh dalam posisi terlentang dan jubahnya pun tersingkap.
"Seorang putra mahkota, harus lari layaknya pencuri. " Dengusnya sambil tertawa.
Dari belakangnya terasa niat membunuh yang begitu tebal.
"Matilah ! Kau sudah membunuh putra kesayangan ku !" Teriak pria tua dengan pakaian tidur emas dan rambut putih yang berantakan.
Sebuah belati di arahkan ke arahnya, dia menangkap belati itu dengan tangan kosong. Belati itu hancur menjadi debu tanpa meninggalkan luka sedikitpun.