Penerus Dewi Kematian (Series 2)

Penerus Dewi Kematian (Series 2)
45. Pengkhianat


Setelah memastikan kalau Qin Yue kembali dengan selamat, dia pergi dengan jubah hitam menuju Toko Phoenix Salju. Dia bisa melihat Le Ning yang sedang duduk dengan gelisah di lantai dua bangunan itu.


"Apa ada yang menganggu mu ?" Tanya nya sambil menepuk bahu gadis itu.


"Ah ! Nona mengejut kan ku saja. Aku tidak ada masalah apa apa, hanya saja malam ini bintang bintang sangat banyak. " Kata Le Ning memaksakan senyum.


"Apa kau benar benar tidak ada masalah ?" Tanya nya lagi tetap dengan senyum manis nya.


"Tidak... tidak tentu saja ! Aku tidak ada masalah apa pun. " Kata Le Ning berusaha untuk tersenyum seperti biasa.


"Aku dengar kau memiliki seorang adik laki laki yang tinggal di desa, kau harus membawa ku untuk melihat nya. " Ucap nya dengan nada bercanda.


Le Ning tampak tidak menjawab dan terdiam.


"Kenapa kau diam ? Apa kah kata kata ku menyinggung mu ?"Tanya nya.


"Hah, kita harus menyerang istana dalam waktu satu tahun. Di tambah lagi, aku baru baru ini mendapat kan sedikit penyimpangan Qi yang menghambat kultivasi ku. " Ucap nya asal asalan.


"Itu berbahaya nona, kau harus segera istirahat. Le Ning, tidak akan menganggu mu lagi. Aku akan membawa kan teh hangat untuk mu. " Kata Le Ning, dia tersenyum dingin saat duduk di kasur nya.


Tidak lama, Le Ning membawa seteko teh hangat. Bahkan ketika dia mencium bau teh ini, dia tahu kalau ada racun tapi dia tetap meminum nya.


Karena......... tubuh nya sudah kebal dengan seluruh racun sekarang.


Jadi, tidak peduli dengan racun apa yang di bawa oleh Le Ning, maka itu akan sia-sia.


"Le Ning, apa kah begini cara kau memperlakukan tuan mu ?" Tanya nya sambil memutar mutar cangkir nya dengan kepala menunduk.


"A.... aku terpaksa. Mohon maaf kan aku nona !" Kata Le Ning langsung berlutut.


"Memang nya kau melakukan apa ? Aku sedang bercanda Le Ning. Apa kau sedang menyembunyikan sesuatu pada ku ?" Tanya nya sambil mengangkat kepala nya.


Senyum nya mengembang, Le Ning tidak berani menjawab, tangan nya membelai pipi gadis itu dengan lembut.


"Aku sudah menganggap mu sebagai saudari ku sendiri Le Ning. Apa kau tahu itu ?" Tanya nya dengan suara halus yang tidak di jawab oleh Le Ning.


"Tapi sayang nya, kau tidak dapat melihat itu sebagai keberuntungan mu. " Ucap nya dengan sinis, tangan nya mencekik leher Le Ning dengan erat.


Senyum nya berubah menjadi seringaian.


"Apa kau kira aku tidak tahu semua yang kau lakukan di balik trik kecil mu itu ? Apa kau kira aku tidak berani membunuh mu secara langsung ? Apa kau kira dengan hubungan kita , aku akan melepas kan mu ?" Tanya nya dengan mata yang memerah.


"Le Ning, tidak berharap untuk di lepas kan. Hanya berharap bisa melepaskan adik ku. " Kata Le Ning dengan terbata bata.


Salah satu tangan nya mengepal dengan erat.


"Jika memang begini, maka Le Ning tidak akan keberatan. Hanya saja, satu permintaan ku sebelum meninggal, tolong ambil mayat adik ku dari tangan Kaisar Zhu dengan utuh. Tolong untuk kubur kan kami bersama. " Kata Le Ning dengan air mata.


"Aku tidak menyesal karena sudah mengikuti mu. Penyesalan terbesar ku adalah tidak mempercayai mu, di masa depan aku akan kembali bekerja pada mu dan melayani mu tanpa keraguan. Terima kasih atas bantuan mu selama ini nona, Le Ning yang tidak layak untuk kebaikan mu. " Kata Le Ning dengan lirih sebelum mengeluarkan belati dan menusuk jantung nya sendiri.


Dia terdiam kala darah Le Ning terpercik ke wajah nya, ingatan demi ingatan tentang kebersamaan nya dengan Le Ning berputar di kepala nya bagai kan film.


Mulai dari dia menunduk kan Le Ning, sampai Le Ning yang selalu membawa kan nya makanan dan membelikan nya makanan manis.


Membawa kan nya gambar sederhana buatan gadis itu atau topi yang berasal dari anyaman bambu. Tak terasa, di tengah ingatan itu, setetes air mata menetes.


Apa lagi saat melihat Le Ning yang selalu memeluk nya di saat dia sedih, saat Jing Luyan mengatakan kalau mereka hanya teman dan banyak hal lain.


"Sebenar nya.......... yang seharus nya mati di sini adalah aku. Aku selalu tanpa ampun pada seseorang, karena satu kejahatan aku membunuh mereka dan melupakan seluruh kebaikan mereka. Aku terlalu berambisi, semua ini salah ku. " Gumam nya.


Air mata masih tidak ingin berhenti mengalir dari mata nya, bukan apa, dia hanya terlalu takut untuk kembali menjadi orang bodoh yang di khianati.


"Aku terlalu terpaku pada masa lalu dan tanpa sadar mulai menghilang kan teman teman ku di masa ini perlahan lahan. " Gumam nya dengan tubuh gemetar.


Dia memeluk sapu tangan yang di rajut oleh Le Ning secara pribadi untuk nya.


"Jika ada kehidupan di masa depan. Maka aku akan melakukan yang terbaik untuk mu. " Gumam nya.


Tok tok


Dia tidak menjawab dan hanya terus terisak, bagai mana pun, dia belum pernah merasa kan hal ini di masa lalu. Sudah di kata kan, kalau sifat keras yang di miliki oleh nya hanya lah sifat yang terbentuk karena situasi memaksa nya.


Seorang pria dengan perawakan tinggi dan tampan berjalan masuk dan merangkul bahu nya. Dia diam dan menenggelamkan kepala nya di bahu pria itu.


"Bagai mana kau bisa tahu kalau aku akan berada di sini, malam ini ?" Tanya nya dengan nada terputus putus.


"Ayah angkat menyuruh ku untuk melihat kondisi mu. Dia tahu dengan sifat mu, kau pasti akan melakukan nya malam ini. Untung lah aku tidak terlambat terlalu lama, aku takut kau akan melakukan sesuatu yang berbahaya. " Kata pria itu sambil mengelus kepala nya.


"Memang nya, apa yang bisa ku lakukan ? Aku tidak mungkin bunuh diri. " Gumam nya setengah bercanda, dia berusaha untuk tertawa tapi tidak dapat melakukan nya.


"Jangan memaksa diri mu sendiri, ayo kita malam kan Le Ning dan doa kan supaya dia bisa bereinkarnasi dengan baik dan seluruh dosa nya di maafkan. " Kata Yun Xing.


Ya, pria itu adalah Yun Xing, satu dari tiga anak angkat Yun Wang. Pria muda di samping nya ini sebenar nya sangat kaku, tapi dia tidak tahu mengapa pria itu sangat jangan malam ini.


Tapi dia tidak peduli, dia membutuh kan sebuah bahu untuk di jadi kan sandaran oleh nya.