Penerus Dewi Kematian (Series 2)

Penerus Dewi Kematian (Series 2)
223. Qian Yao dan Qian Xin


Dia berdiri dan menatap ke arah Qian Yao dengan penuh kedinginan.


"Akan ada saatnya aku membawamu keluar, jadi tunggulah dengan baik disini. " Ucapnya dengan senyum melebar.


Dia berjalan naik kembali dan Rong Xian sudah menunggu nya di depan pintu masuk penjara bawah tanah.


"Semua nya akan menjadi lebih menarik sejak saat ini, Tetua Rong, anda cukup duduk dan saksikan dengan baik." Ucapnya dengan seringaian.


"Apa kamu akan membuat Qian Yao sebagai kambing hitam ?" Tanya Rong Xian sambil menahan tangannya.


"Ya, aku akan membuat pria itu sebagai kambing hitam, tapi disisi lain aku juga akan menjadi orang terdekat Rong Yanran selama dia sakit ini. " Ucapnya sambil tertawa.


"Orang terdekat ? Jangan macam macam. Ada sepuluh tetua dengan kekuatan yang sama denganku, mereka menjaga Rong Yanran setiap waktu. " Ucap Rong Xian dengan khawatir.


"Mereka semua hanyalah orang tua yang akan segera mati, untuk apa memikirkan mereka ? Jika aku menginginkan sesuatu maka tidak akan ada yang bisa menghalangi. " Ucapnya dengan senyum yang begitu mengerikan.


Diluar kediaman Rong Xian,


Qian Xin, putri Qian Yao yang menyukai Shangguan Shiyi sedang di tahan oleh dua murid senior Sekte Pedang Bulan.


"Katakan ! Dimana ayahmu ?!" Teriak salah satu tetua yang sudah sangat tua.


Tampak seperti tidak memiliki kekuatan lagi tapi sebenarnya sedikit di atas Qian Yao. Qian Xin gemetar dan menggelengkan kepalanya sambil menangis.


"Aku tidak tahu ! " Teriak Qian Xin dengan marah.


Pahh !


Sebuah tamparan menghantam wajah Qian Xin yang membuat cap merah yang tampak sangat jelas di kulit putih Qian Xin.


"Katakan, jangan pikir aku tidak berani untuk mencabut nyawa kecilmu itu. " Ucap Tetua itu dengan dingin.


Tubuh kecil Qian Xin semakin bergetar dan air mata mengalir lebih deras dari matanya.


"Aku tidak tahu, tolong lepaskan aku. Tolong ampuni aku, aku tidak ada hubungannya dengan ayahku. " Ucap Qian Xin sambil menangis sesegukan.


Qian Zuanshi yang berada di balik keramaian itu sedang berdiri dengan tatapan dingin tanpa ada belas kasihan. Di sebelahnya ada Shangguan Shiyi yang sedang berdiri dan merangkul Qin Zuanshi.


"Dia harus membayar semuanya. " Ucap Qin Zuanshi dengan dingin.


"Membayar ?" Shangguan Shiyi tampak tidak mengerti dengan kata katanya.


"Ketika aku berjalan keluar, aku melihat dirinya sedang menindas seorang gadis desa yang cantik dan manis. Karena merasa tersaingi, dia dan antek anteknya menahan tubuh gadis manis itu. Gadis manis itu sudah berkali kali meminta ampun tapi Qian Xin tidak melepaskan nya. " Ucapnya dengan datar dan tanpa emosi.


"Jadi aku melemparkan batu yang membuat mereka pergi. Jika aku tidak ada di sana, maka pastilah wajah gadis manis itu sudah hancur karena luka yang di buat oleh Qian Xin. " Ucapnya dengan halus.


"Saat ini posisi nya sama seperti gadis manis yang kau bicarakan, apakah memang ini niatmu ?" Tanya Shangguan Shiyi padanya.


(Maksudnya adalah dengan cepat melupakan seluruh kebaikan yang diberikan Qian Yao pada putrinya. Qian Xin langsung berusaha untuk mencuci diri dan memutuskan hubungan ayah dan anak dengan Qian Yao tanpa mempertimbangkan kebaikan Qian Yao selama ini. )


"Tapi, lagi lagi aku berpikir kalau itu terlalu kejam untuk pria itu. Dia akan menjadi bodoh dan gila, lalu membuat keributan. Itu akan menghancurkan seluruh rencana emas ku. " Lanjutnya sambil memandang Qian Xin yang terus mengatakan kalau Qian Yao selama ini jahat pada nya.


"Sungguh mengerikan, selama aku tinggal di kediaman Wakil Ketua Sekte. Yang kulihat adalah Qian Yao selalu memanjakan Qian Xin dengan sepenuh hati, tanpa memberikan satu hal sulit sedikitpun. " Ucap Shangguan Shiyi sambil menggelengkan kepala saat melihat pengakuan pengakuan palsu yang dibuat oleh Qian Xin pada ayahnya.


"Justru karena terlalu memanjakan putrinya, Qian Yao harus membayar harga mahal untuk itu. Putrinya telah tumbuh sebagai seseorang dengan tulang punggung yang lembut dan menjadi orang yang tidak berguna. "


(Tulang punggung yang lembut disini di maksudkan pada tidak memiliki pendirian dan teguh, tidak memiliki harga diri dan terus menunduk dan menjilat orang yang lebih kuat tapi menindas yang lebih lemah. )


"Kau benar. "Ucap Shangguan Shiyi.


"Orang orang yang di besarkan dengan cara yang keras akan menjadi dua hal. Orang yang memiliki harga diri tinggi atau menjadi orang yang sama dengan Qian Yao." Ucap nya dengan lembut.


"Orang yang kedua berarti mengandalkan mulutnya untuk bertahan hidup. Sedangkan orang yang pertama mengandalkan kekuatan untuk bertahan hidup. Aku tebak, kamu adalah yang pertama. " Ucap Shangguan Shiyi.


"Kita berdua adalah orang yang pertama, meskipun kamu tidak menceritakan pada ku masa lalu mu. Aku bisa merasakan bahwa itu bukanlah kenangan yang baik. " Ucapnya dengan senyum tipis.


"Bagaimana kau bisa menebak seperti itu ?" Tanya Shangguan Shiyi sambil mengulum senyum.


"Insting ku yang mengatakan nya, kamu adalah orang yang terlihat ramah tapi sebenarnya tidak mudah di dekati. Kamu terlihat dekat tapi sebenarnya jauh, kamu berbuat baik pada semua orang dan membuat orang lain salah paham. " Ucapnya dengan jujur dan penuh makna.


Senyumnya berubah menjadi sedikit sedih, dan dia berbalik untuk menatap Shangguan Shiyi yang ada di sampingnya.


Tatapan keduanya bertabrakan, mata nya menatap ke araha mata cokelat tua milik Shangguan Shiyi. Dia bisa melihat pantulan diri nya sendiri.


Sedangkan tatapan Shangguan Shiyi seperti tenggelam dalam mata hitam kelam milik Qin Zuanshi, kedua nya berdiri dan terpaku.


Sibuk dengan pikiran mereka masing masing, tidak ada yang membuka suara. Udara seperti sedang membeku dan waktu telah terhenti.


Teriakan teriakan yang dibuat oleh Qian Xin dan yang lainnya tidak lagi terdenga oleh mereka berdua. Mereka berdua hanya sibuk untuk pikiran mereka sendiri sendiri.


Akhirnya, salju turun untuk pertama kalinya. Bulan depan adalah ulang tahun Xue Fenghuang yang ke 17 dan tidak menyangka kalau dirinya sudah berada di tempat ini selama hampir 4 tahun.


Salju turun dan menghiasi rambut keduanya, keduanya seolah tidak peduli dengan turunnya salju dan sibuk dengan pemikiran masing masing.


Disisi lain, Rong Xian yang berdiri di atas salah satu puncak memilih untuk tidak mengganggu kedua nya yang sedang sibuk dengan dunia mereka sendiri.


Wanita itu duduk di atas tanah yang mulai di hiasi oleh salju sambil memandang keduanya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


Bisa bahagia, kesal dan merasa iri.


"Uh, aku iri sekali. Jelas jelas aku lebih tua dari mereka tapi aku masih sendirian sedangkan mereka menunjukkan hal yang mengundang rasa iri di depanku." Ucap Rong Xian sambil cemberut.


Bonus Like 33 k : 1 / 3