
"Kenapa wajahmu memerah ? Apakah kau sakit ?" Tanya Rong Xian dengan polos.
"Apa ?" Dia bingung sebelum memegang pipinya yang menghangat.
"Oh, ini karena cuaca panas di luar. " Ucap nya dengan segera.
Dia melirik ke arah Yuanzheng Yuwen sekilas dan melihat pria itu sedang menunduk kan kepala dalam dalam sehingga dia tidak bisa melihat ekspresi pria itu.
"Benarkah ? Kenapa aku merasa kalau siang ini sangat dingin ? Sebentar lagi adalah musim dingin, kau akan segera berulang tahun dalam beberapa bulan lagi. " Ucap Rong Xian.
Mendengar ini membuatnya lebih malu lagi dan canggung, dia sudah memberikan alasan yang tidak masuk akal tanpa berpikir dua kali lagi.
"Ehm, aku baru saja melewati padang pasir yang panjang dan cuaca di sana sangat panas. Tidak mengherankan bahwa wajahku memerah. " Ucap nya dengan sedikit terburu buru.
Rong Xian menatap nya dengan tatapan bingung sebelum mengangguk.
"Mungkin memang seperti itu, cuaca di padang pasir benar benar panas. " Ucap Rong Xian.
"Aku mengundang kalian untuk datang ke kedai yang berjarak dua bangunan dari Penginapan Embun Purnama, untuk makan malam. " Ucap nya dengan tenang sambil mengambil makanan yang sudah disiapkan oleh Rong Xian untuknya.
"Hm, apakah ada orang lain yang kau undang ?" Tanya Long Qionglin.
"Ada, Ketua dan Wakil Ketua Sekte Phoenix Langit. " Ucapnya dengan santai sambil mengunyah daging.
"Apa kau kenal dengan mereka ? Aku dengar temperamen Wakil Ketua Sekte Phoenix Langit sangat aneh , Ketua Sekte nya juga tampak ramah tapi sebenarnya tidak tertebak. " Ucap Long Qionglin.
"Keduanya adalah orang yang baik, aku sudah beberapa kali berbicara dengan mereka. Wakil Ketua nya memang irit bicara tapi bukan orang yang jahat. " Ucap nya dengan santai.
"Apa kau sudah pernah melihat rupa wajah Ketua Sekte nya yang luar biasa ? Dikatakan bahwa dia sangat jelek sampai sampai terus menerus menggunakan topeng bahkan di depan muridnya. " Ucap Long Qionglin dengan berapi api.
"Hmph ! Jelek apanya, itu adalah keindahan Surgawi. " Ucap nya sambil mendengus dingin.
"Keindahan Surgawi ? Apakah benar benar bagus ? " Tanya Long Qionglin dengan penasaran bahkan Rong Xian pun ikut penasaran.
"Jika aku mengatakan wajahnya lebih cantik dariku padahal dia pria, apakah kalian akan percaya ?" Tanya nya dengan sinis.
"Tentu saja tidak. " Jawab Rong Xian dan Long Qionglin serempak.
"Tapi itu adalah kenyataan nya, dia adalah orang yang tampan tapi juga cantik. Itu adalah kesempurnaan , orang orang berkata bahwa aku sangat cantik, tapi jika aku dibandingkan dengannya, aku masih belum apa apa. " Ucap nya sambil menghela nafas.
"Aku tidak percaya bahwa ada seseorang yang seindah itu !" Ucap Long Qionglin dengan setengah marah.
"Percuma untuk marah, kalian semua akan merasa bahwa aku biasa saja setelah melihat wajahnya. Dia adalah keindahan yang sesungguhnya, jika dia mengatakan yang nomor dua maka tidak akan ada yang berani untuk menguatkan diri mereka adalah nomor satu." Ucap nya dengan berkecil hati.
Dia, Xue Fenghuang, seorang gadis dengan kesombongan mutlak pun akan jatuh kedalam ketidak percayaan diri ketika melihat wajah Feng Taoran.
"Kau memandang diriku terlalu tinggi, Fenghuang. " Ucap suara halus dari belakangnya.
Mendengar ini dia langsung terlonjak dari tempat duduk nya, hanya untuk melihat Feng Taoran yang berjalan bersama dengan Lan Tianjin , masih menggunakan topeng.
"Feng Ge, kau mengejutkan ku sampai mati. " Ucap nya sambil mengelus dadanya.
"Kau berlebihan, orang mati tidak bisa berbicara. " Ucap Lan Tianjin dengan datar.
"Ck, tau apa kau wajah datar ?! Wajah mu seperti papan pencucian baju. " Ucap nya dengan sengit.
"Kau ?! Seorang monyet liar kecil yang berteriak seperti orang gila tanpa ada yang mengerti kata kata mu !" Ucap Lan Tianjin dengan dingin.
"Hmph, anjin liar sepertimu berani beraninya mengatai ku seorang Phoenix hidup. " Ucap nya dengan penuh kebanggaan.
"Apa maksudmu dengan Phoenix Hidup ? Tidak tahu malu ! Aku adalah seorang bakat kesayangan langit, kata kataku seharga tumpukan emas !" Ucap Lan Tianjin tidak ingin kalah.
"Sampah ? Kaulah yang sampah !" Balas Lan Tianjin masih tidak mau kalah.
"Aku sampah ? Kau kotoran !" Teriak nya dengan suara tertahan.
Mereka berdua menjadi sumber perhatian semua orang, Feng Taoran sudah menunduk kan kepala nya sejak tadi karena malu.
"Kau sangat tidak sopan pada orang yang lebih tua. " Ucap Lan Tianjin.
"Harusnya kau yang mengalah padaku, aku lebih muda darimu !" Teriak nya sambil menerkam Lan Tianjin.
Setelah beberapa saat kemudian, tangannya berada di kerah pakaian Lan Tianjin dan tangan Lan Tianjin berada di kerah pakaian nya.
"Apakah kalian berdua telah selesai ?" Tanya Feng Taoran dengan nada lelah.
"Belum !" Jawab nya serempak dengan Lan Tianjin.
Dia menoleh sebentar ke arah Feng Taoran sebelum kembali menatap Lan Tianjin dengan sengit, pria itu melakukan hal yang sama padanya.
Mereka berdua mendengus dingin tanpa ada yang mau melepaskan salah satu cengkraman terlebih dahulu.
"Lepaskan, lepaskan. Sudah, hentikan ini. " Ucap Feng Taoran dengan nada yang lembut tapi tegas.
"Kau dulu !" Ucapnya dengan serempak dengan Lan Tianjin.
"Kau !" Ucapnya terlebih dahulu.
"Kau !" Lan Tianjin membalas dengan kata kata yang sama.
"Kau !" Teriaknya.
"Kau lebih muda, harus mengalah pada yang tua !" Teriak Lan Tianjin.
"Kau lebih tua, aku masih anak anak, kau harus mengalah padaku !" Ucap nya tidak mau kalah.
"Apakah kalian tidak lelah ?" Tanya Feng Taoran sambil menarik telinga kiri nya dan menarik telinga kanan Lan Tianjin.
"Awhh, lepaskan aku !" Ucap nya dengan cepat melepaskan cengkraman nya pada kerah milik Lan Tianjin.
Lan Tianjin pun melakukan hal yang sama, bedanya hanya merengut dan menatap pada Feng Taoran seolah olah meminta sebuah pertolongan.
"Kalian harus lebih rukun di masa depan, apakah kalian mengerti ?" Tanya Feng Taoran.
"Ya." Jawab mereka berdua dengan kompak.
Feng Taoran melepaskan kuping mereka berdua dan dia menghela nafas lega.
Malam hari
Dia sudah memesan tempat duduk dan memesan berbagai hidangan lezat, dia juga menunggu kedatangan orang orang yang di undang nya.
Malam ini, dia akan berpesta. Itu bisa dilihat dari tumpukan guci anggur yang ada di sebelah mejanya. Dia memandang ke lantai 1 kedai yang ramai sedangkan di lantai 2 kedai baru hanya ada dia dengan meja besar.
Dia sendirian dan tidak bisa tidak merasa kesepian, dia dan orang orang di lantai bawah itu hanya berbeda satu lantai tapi terasa seperti mereka berada di dunia yang berbeda.
Memikirkan ini membuat nya merasa sakit , dia benar benar sakit. Dia menunggu dan melihat keluar setiap saat untuk menunggu kedatangan orang orang itu.
Bonus Like 37 k : 1 / 3