
"Aku harus segera mencari Seni bela diri yang baru. " Gumam nya.
Seni bela diri dapat di cari di pasar, tapi itu hanya untuk Seni bela diri tingkat rendah. Perpustakaan Sekte membiar kan murid nya untuk mengambil 2 Seni Bela Diri tahap serigala.
Seni Bela Diri di bagi menjadi tiga tahap untuk saat ini :
- Tahap Serigala
- Tahap Harimau
- Tahap Elang
Untuk mendapat kan Seni bela diri tahap Harimau, maka perlu menukar kan poin yang di dapat kan apa bila mengerjakan misi.
Dia berkemas sebentar, dia memutus kan untuk pergi ke perpustakaan Sekte dan mengambil beberapa Seni Bela Diri.
Lalu setelah itu dia berjalan keluar dan mengunci pintu rumah nya. Selama di perjalanan, dia sudah biasa mendapat kan banyak hinaan.
Bukan nya dia tidak berani untuk menanggapi. Hanya saja, bagi nya orang orang seperti itu hanya seperti anjing yang menggonggong.
Dia yakin, jika di biar kan maka para anjing itu akan menyerah dan lelah sendiri. Lagi pula, para anjing rendahan itu tidak layak untuk membuat nya turun tangan.
"Cih, dasar jal*ng ! Aku yakin, ibu nya pasti juga seorang jal*ng, dan ayah nya adalah seorang pemabuk. " Kata salah satu wanita berdecih.
Langkah nya terhenti kala mendengar kata kata itu, dia terdiam. Meski pun dia tidak pernah melihat wajah kedua orang tua nya, dia tetap tidak ingin ada orang yang mengatakan hal buruk tentang kedua orang tua nya.
"He he he, nona kecil, mulut mu sangat beracun. Apa kah kau siluman ular ? Lihat wajah mu yang buruk rupa, bahkan lebih buruk dari pada sisik ular. Pantas saja kau tidak banyak yang suka, aku lihat kultivasi mu juga tidak baik, apa kah kau masuk ke murid bagian dalam dengan cara curang ?" Tanya nya sambil melipat tangan nya di depan dada.
"Kau ! Dasar Jal*ng ! Kau bahkan tidak layak untuk berbicara dengan ku !"Teriak wanita itu.
"Aku tidak layak dengan mu ? Aku lihat, seharus nya aku lah yang mengatakan itu. " Ucap nya dengan nada rendah.
Dia menahan tangan wanita itu yang berniat untuk menampar nya. Dia mengelus tangan wanita itu dengan pelan sebelum menggenggam nya dengan erat.
"Aku lihat....... ada banyak tulang yang bisa ku patah kan dari sini. Tidak buruk untuk memulai dari tangan. " Bisik nya di telinga wanita itu.
"Lepas kan ! Lepas kan tangan ku !" Kata Wanita itu memberontak.
"Ingin melepas kan diri ? Tidak mudah !" Tangan satu nya lagi memukul wanita itu tepat di dada.
Tangan kanan nya menahan salah satu tangan wanita itu sedang kan tangan lain nya dia gunakan untuk menyerang. Telapak tangan kiri nya bersinar cahaya biru.
Setelah telapak tangan nya menyentuh dada wanita itu, wanita itu terhenyak dan memuntah kan darah.
"Bagai mana ? Apa kah rasa nya enak ? Seluruh nadi mu akan membeku. Kultivasi mu akan terus menerus berkurang dan yang paling parah adalah, lidah mu akan membeku dan kau tidak bisa bicara lagi. Selamat tinggal anjing kecil, aku akan datang ke acara pemakaman mu nanti. " Ucap nya sambil terkekeh sebelum menendang tubuh itu dengan kuat.
"Kelakuan ku kali ini tidak melanggar peraturan sekte bukan ?" Tanya nya sambil mengangkat alis pada orang orang di sekitar nya.
Tidak ada yang berani untuk membuka mulut mereka seinci pun.
"Aku tanya sekali lagi, apa kah tindakan ku kali ini melanggar peraturan sekte ?!" Tanya nya dengan penuh penekanan.
"Ti... tidak. " Kata beberapa orang dengan gagap.
"Hm, tentu saja aku tidak melanggar. Aku tidak membunuh nya , lagi pula dia yang terlalu lemah. Bahkan tidak memberikan perlawanan yang berarti, aku justru bingung kenapa wanita lemah seperti nya bisa masuk ke murid bagian dalam. "Ucap nya dengan sinis.
Tepat ketika dia sudah selesai berbicara, aura kuat terasa di belakang nya.
"Siapa yang berani berani nya menyakiti putri ku ?!" Teriak seorang pria paruh baya yang membawa tombak dengan marah.
"Oh, seorang tetua lagi ? Apa kah yang bisa masuk menjadi murid bagian dalam hanya anak tetua ? Aku rasa, aku sudah salah memberi penilaian. Aku kira, hanya orang orang yang memiliki bakat Surga bisa masuk dan menjadi murid bagian dalam, ternyata syarat nya adalah menjadi anak seorang tetua. Sangat unik sekali, aku bahkan merasa kagum dan terkejut. " Ucap nya sambil menepuk tangan, dia tidak memberi pria paruh baya itu kesempatan untuk berbicara.
"Kau ! Jaga ucapan mu ! Murid liar dari mana kau ?! Siapa yang membawa mu masuk ke sini ?!" Tanya Pria paruh baya itu dengan marah dan menunjuk nunjuk nya.
"Aku ? Aku bisa datang dari mana saja, kenapa ? Apa kau takut putri mu akan kalah dengan ku ? Kau tenang saja, bahkan jika kau memanggil tabib di seluruh dunia ini, tidak ada yang bisa menyembuhkan diri nya. Jadi, aku ucap kan selamat berduka cita, eh..... turut berduka cita. " Dia tertawa dengan anggun dan menutup mulut nya yang terhalang oleh cadar.
"Kau ! Berani berani nya melawan ku !" Teriak Pria paruh baya itu.
"Tentu saja aku berani melawan mu, memang nya kau siapa sampai sampai harus membuat ku takut pada mu ? Aku bahkan tidak takut pada Dewa, lalu kenapa aku harus takut pada mahkluk cacat seperti mu ? Lalu, kenal kan dulu nama mu. "Kata nya dengan nada usil.
"Kau tidak tahu aku ? Aku adalah Tetua Divisi Hukuman Sekte Tianwen, Su Xing Jian ! Apa kau takut pada ku sekarang ?" Tanya Tetua Su dengan sombong.
"Hanya seorang tetua Divisi Hukum ? Bukan Ketua Divisi Hukum ? Sangat rendahan sekali tapi sudah berani berlagak, seolah olah sekte ini milik mu. Aku kira kau memiliki jabatan yang sangat tinggi di sini, ternyata hanya tetua biasa. Ah sudah lah, untuk apa aku menghabis kan waktu dengan orang seperti mu. Selamat tinggal Tetua Su, kita akan segera bertemu lagi nanti. " Ucap nya dengan nada menggoda dan mengedip kan mata.
Malam ini, dia akan membuat pertunjukan bagus untuk Sekte Tianwen yang di penuhi dengan peraturan yang sangat kaki dan mengekang nya.
Sebenar nya, dia tidak ingin masuk sebuah sekte. Tapi karena di tawari dan ingin mencari Seni bela diri, lalu dia juga menantang Si Nona Yun itu untuk bertarung di arena hidup dan mati. Maka dia sekalian pergi kemari, jika tujuan nya sudah selesai maka dia akan pergi.
Dia memanjat pohon bunga persik, lalu melakukan gerakan tolakan dan meloncat dari satu batu ke batu yang lain. Dalam sekejap dia menghilang dari pandangan semua orang.
Tatapan nya tertuju pada sebuah pagoda yang tidak terlalu tinggi hanya ada 5 tingkat dari pagoda itu. Di dalam nya ada seorang wanita tua yang menjaga perpustakaan.
"Tetua, murid bagian dalam, Xue Fenghuang ingin melihat lihat Seni Bela Diri di sini. " Ucap nya menyerah kan tanda pengenal nya dan menunduk kan kepala nya sebagai tanda kesopanan.
Dia bisa lihat kalau tetua penjaga ini kurang di hormati oleh sebagian murid, bisa di lihat oleh sikap para murid sebelum nya yang tidak menunjuk kan kesopanan sama sekali.
"Kau bisa langsung masuk dan memilih dua Seni bela diri. Jangan lupa untuk memperhatikan tingkatan nya." Kata tetua itu dengan santai.