Penerus Dewi Kematian (Series 2)

Penerus Dewi Kematian (Series 2)
35. Bekerja Sama


Dia membunuh semua mayat itu sebelum membekukan mereka dan membuat mereka hancur menjadi ribuan keping es.


"No na ?" Tanya Le Ning dengan suara lemah dan mata yang setengah terbuka.


"Hm." Jawab nya.


"Apa yang terjadi ? Kenapa sangat dingin ?" Tanya Le Ning dengan sedikut gemetar.


"Ada beberapa orang yang mengantar kan nyawa mereka pada ku. Jadi aku membekukan mereka lalu menghancurkan mereka menjadi ribuan keping. Bukan kah itu hal yang menakjubkan ?" Tanya nya dengan santai dan memejam kan mata nya.


"Apa ?! Apa kah nona baik baik saja ?!" Tanya Le Ning dengan terkejut dan segera sadar dari setengah tidur nya.


Le Ning langsung berdiri dan melihat tangan nya yang tergores pedang milik salah satu prajurit Kaisar Zhu.


"Ya ampun nona, anda bisa membangunkan kami. Kenapa tidak membangunkan kami ?" Tanya Le Ning dengan khawatir.


Gadis muda itu tampak memeriksa seluruh tubuh nya untuk memastikan kalau tidak ada luka lagi.


"Kau terlalu berlebihan Le Ning, kalian semua sudah lelah karena mengurus ini selama seharian. Lagi pula hal ini masih dapat ku tangani. " Ucap nya menenangkan.


"Nona, berjanji lah pada ku kalau kau akan memanggil ku jika kau berada dalam kesulitan. " Kata Le Ning dengan wajah serius dan berlutut di depan nya.


"Apa yang kau lakukan ?" Tanya nya dengan nada rendah, takut membangun kan yang lain.


"Nona, kita sudah berjanji kalau hidup dan mati bersama. Aku tidak ingin nona hidup dengan penuh tekanan, Le Ning akan selalu ada untuk nona kapan pun di butuh kan. Le Ning tidak ingin berdiri kalau nona tidak berjanji pada ku. " Kata Le Ning dengan kekeh berlutut di depan nya.


Dia menghela nafas pelan, sebelum mengangguk.


"Baik lah, aku berjanji akan memanggil mu apa bila aku mengalami bahaya atau kesulitan. Sekarang cepat lah berdiri atau lutut mu akan terluka. " Ucap nya sambil mbantu Le Ning untuk berdiri dari posisi berlutut.


Le Ning langsung bangun dan memeluk nya.


"Nona, jika kau ada masalah dan sampai terluka maka aku akan sangat menyesal karena tidak bisa membantu mu. Nona , di masa depan hidup ku ini adalah milik mu. Jadi jangan ragu untuk menggunakan nya. " Bisik Le Ning di samping telinga nya.


"Apa yang kau maksud Le Ning ? Kita hidup dan mati bersama bukan ? Arti nya kalau aku hidup maka kau harus hidup juga. " Ucap nya.


Dia merasa kalau Le Ning adalah orang yang paling dekat dengan nya. Orang yang bisa berbagi beban dengan nya.


Tatapan nya berubah menjadi sedikit berair, tapi dia segera menatap ke arah atas untuk menghilangkan air mata yang siap menetes.


Le Ning melepas kan pelukan mereka dan mengajak nya untuk duduk di bawah pohon. Le Ning langsung tertidur lagi ketika duduk di bawah pohon.


Sedang kan dia masih menatap bulan yang tampak sangat indah. Bulan itu tampak sangat indah, apa lagi ketika di temani oleh para bintang.


Tapi sayang nya, bintang bintang itu tidak terlihat malam ini. Bulan itu terlihat begitu indah, tak tersentuh, tapi kesepian.


Itu sama seperti diri nya, tampak indah dan sempurna, tapi merasa kesepian. Tak terasa malam sudah berubah menjadi pagi, bulan juga mulai menghilang dari pandangan nya.


"Ayo bangun !" Panggil nya dengan nada rendah.


"Baik nona. " Jawab bawahan nya dengan patuh meski pun mata mereka masih tertutup rapat.


"Apa kalian berniat menaiki kuda dalam posisi mata tertutup seperti itu ?" Tanya nya.


"Ayo, kita tidak bisa menunggu sampai matahari terbit !" Ucap nya, dia naik ke punggung Xiao Hei.


Yang lain juga tidak berani untuk menunda dan langsung menaiki kuda masing masing. Mereka memacu kuda, karena kondisi jalan yang masih sangat sepi, itu mempermudah mereka.


Sesampai nya di kota Qin Shui, mereka di halangi oleh penjaga untuk mengecek mereka.


"Kalian tidak boleh masuk. " Kata para penjaga itu.


Dia menunjuk kan tanda pengenal nya sebagai murid Sekte Tianwen dan beberapa keping emas.


"Baik, baik, silakan masuk. "Kata penjaga itu dengan buru buru sambil menyimpan koin emas itu.


Dia menyeringai dan menyimpan tanda pengenal nya, setelah gerbang di buka dia langsung memacu kuda nya.


Tidak sulit untuk mencari kediaman Jenderal Qin yang merupakan tempat paling bagus di kota ini, sesampai nya di gerbang Rumah Jenderal Qin.


Mereka di tahan oleh orang orang dengan pakaian zirah, ini adalah milik Kaisar Zhu.


"Kalian di larang untuk masuk, Kediaman Qin sedang di segel. " Kata Prajurit itu.


"Aku adalah nona kedua Kediaman Xue, kediaman Xue kami adalah teman baik Kediaman Qin. " Ucap nya.


"Apa kah kau berniat untuk melawan titah Kaisar ?!" Tanya Prajurit itu dengan marah.


"Tentu saja tidak, anda salah paham. Aku datang kemari untuk menjenguk paman Qin, kami tidak ingin di bilang sebagai seorang sahabat yang tidak tahu diri karena meninggal kan sahabat di saat sulit. Apa kah anda ingin merusak persahabatan kedua kediaman yang sudah berlangsung selama puluhan tahun ?" Tanya nya dengan nada biasa tapi penuh dengan ancaman.


Prajurit itu tampak bimbang sebelum mendiskusikan dengan teman nya.


"Baik lah anda boleh masuk, tapi tidak dengan yang di belakang anda. " Kata Prajurit itu.


"Ya, tidak apa apa. " Kata nya.


"Nona, hati hati. " Bisik Le Ning.


Dia mengangguk dan langsung berjalan ke dalam dengan langkah pasti, di tangan nya dia memegang sebuah wadah yang terbuat dari anyaman rotan membentuk sebuah wadah untuk menyimpan buah.


Dia memegang itu dan berjalan masuk, di depan sana datang lah seorang pelayan tua yang terkejut dengan kedatangan nya.


"Bagai mana anda bisa masuk ? Ada kebutuhan apa dengan tuan ku ? Belakangan ini, kondisi tuan ku kurang baik. " Kata pelayan tua itu dengan canggung.


"Aku nona kedua kediaman Xue, kediaman Xue ku sudah lama bersahabat dengan kediaman Qin. " Ucap nya sambil memberikan tanda pengenal nya.


"Ah ternyata nona kedua dari kediaman Xue, aku akan memberi tahu tuan ku soal ini. " Kata pelayan tua itu.


Dia mengangguk, tatapan nya beralih pada kondisi sekitar nya yang masih tampak sangat baik. Ada sebuah kampung militer yang kosong.


Dia tahu kalau kekuatan militer milik Kediaman Qin, setengah nya sudah di ambil oleh Kaisar Zhu, bahkan mereka sekarang harus hidup di segel seperti ini.


"Nona kedua, silakan masuk. Tuan ku mempersilahkan anda untuk menemui nya. "Dia mengangguk lagi dan berjalan masuk ke dalam.


Dia di tuntun untuk masuk ke sebuah ruangan yang berisi kan banyak benda benda antik, di tengah ruangan, duduk lah seorang pria berambut putih dengan wajah gagah.