Penerus Dewi Kematian (Series 2)

Penerus Dewi Kematian (Series 2)
84. Menuju Kediaman Ketua Sekte


"Ah lebih baik aku bertanya pada Tetua Ouyang dulu dari pada langsung menuju kediaman Ketua sekte, aku sudah mendengar banyak rumor buruk tentang diri nya. " Kata nya, dia berjalan keluar lagi dan menutup pintu nya.


"Sialan, kenapa aku tidak memikir kan hal ini ketika aku baru akan berjalan kemari ? Ah sudah lah ! Hitung hitung olahraga. " Gerutu nya.


Bukan tanpa alasan dia menggerutu, karena dari kediaman nya yang baru ini, lumayan jauh untuk pergi ke puncak kediaman Ouyang Si Niang.


Belum lagi kediaman nya yang jauh dari gerbang, belum sempat menarik nafas dan harus pergi lagi ke puncak kediaman Ouyang Si Niang.


Lalu, dia juga harus melewati kediaman para murid bagian luar.


Ketika dia melihat rumah nya dulu, itu di penuhi dengan rasa sepi dan misterius. Tidak ada yang berani untuk mendekati rumah itu.


"Hei, apa kau murid baru ? Tidak ada yang di perbolehkan untuk menatap rumah di sana lebih dari tiga detik, atau pemilik nya yang baru pindah ke murid bagian dalam akan membunuh mu dengan kejam. " Kata salah satu murid pria sambil memeragakan gerakan memotong leher.


Dia berusaha sekuat tenaga untuk menahan tawa saat mendengar kata kata pemuda di samping nya ini.


"Apa kah pemilik rumah nya sekejam itu ? Apa kau pernah melihat orang nya langsung dan berinteraksi langsung ? Lagi pula, bukan kah dia sudah pindah ke bagian dalam ?" Tanya nya pura pura tidak tahu.


Lucu rasa nya melihat seseorang untuk berhati hati dengan diri nya sendiri. Orang orang seperti pemuda ini adalah orang yang mudah di pengaruhi dan polos.


"Aku...... aku tentu saja sudah pernah melihat nya ! Dia memiliki tubuh yang gemuk, pendek dan wajah yang mengerikan ! " Kata pemuda itu mengarang.


"Benarkah ?" Tanya nya sambil tertawa geli.


Dia tidak tahu kalau di dalam rumor yang beredar, diri nya di cerita kan tampak sangat mengerikan. Dia harus memberi penghargaan pada pengarang cerita buruk ini.


"Kenapa kau tertawa ? Tidak ada yang lucu ! Aku tidak berbohong !" Kata pemuda itu dengan wajah gugup nya yang lucu.


"Xie Lun ! " Panggil suara pria lain dari belakang nya.


"Ah, saudaraku ! Kalau kau tidak percaya maka kau bisa bertanya pada saudara ku ini tentang pemilik rumah ini, dia adalah orang yang melihat dengan mata kepala nya sendiri bagai mana kekejaman pemilik rumah itu !" Kata pemuda itu sambil merangkul sahabat nya.


"Benarkah ?" Tanya nya, dia membalik kan tubuh nya untuk menatap sahabat pemuda itu yang baru datang.


Wajah sahabat pemuda itu berubah menjadi pucat seolah olah dia melihat hantu.


"Apa yang terjadi pada mu, saudara ku ? Apa kah kau terluka ?" Tanya Xie Lun dengan ragu.


"Xue.... Xue Fenghuang !" Ucap sahabat Xie Lun sambil terduduk.


"Apa maksudmu -" Ucapan Xie Lun di potong oleh nya.


"Jadi kau yang menyebar kan rumor ku ? Kau terlihat cukup bagus untuk di makan. " Ucap nya bercanda.


Dia berniat untuk memberikan pelajaran kecil pada orang pembuat rumor buruk tentang nya.


"A..... aku, tidak !" Kata Sahabat Xie Lun dengan terbata bata.


"Benarkah, kau tidak melakukan nya ? Lalu, kenapa yang pemuda ini kata kan kalau pemilik rumah itu adalah seseorang yang gendut, pendek dan wajah yang mengerikan ? " Tanya nya dengan senyum lebar.


"Kau, yang bernama Xue Fenghuang ? Kau tampak tidak seperti yang di ceritakan. " Kata Xie Lun dengan lambat.


"Tentu saja, aku tidak sesuai dengan yang di ceritakan. Aku tidak tahu apa yang ada di otak sahabat mu ini sampai sampai mengarang cerita yang begitu bagus ? Apa kah dia mengganti otak nya dengan batu kerikil ?" Tanya nya dengan sinis.


"Kau tampak cantik, tidak sesuai dengan yang di cerita. " Kata Xie Lun sambil memandang nya dengan penuh kekaguman tanpa peduli dengan keadaan menyedihkan sahabat nya.


Dia merangkul bahu Xie Lun dan menepuk nya beberapa kali.


"Ayo bertemu di masa depan, saat ini aku sedang buru buru, selamat tinggal !" Ucap nya, dia berjalan meninggal kan Xie Lun yang sedang terpesona dengan diri nya.


"Tetua." Ucap nya sambil menunduk untuk memberi hormat.


"Ada apa ?" Tanya Tetua Ouyang dengan mata terpejam.


"Tetua, apa kah aku bisa mendapat kan satu boneka besi yang kemarin ? Satu saja ! Aku mohon !" Kata nya dengan ekspresi memohon.


Wajah Ouyang Si Niang berubah drastis dan wanita di depan nya segera membuka mata nya, dia mengamati setiap perubahan dengan teliti.


"Untuk apa ? Aku tidak yakin kalau Ketua Sekte akan memberikan nya. Tapi, tidak ada salah nya untuk mencoba nya karena ini belum pernah terjadi selama boneka besi itu ada. Semua murid membenci boneka besi itu. " Kata Ouyang Si Niang dengan ragu.


"Emh, aku merasa kalau kekuatan pertarungan nyata milik ku berkembang dengan sangat baik sejak aku bertarung melawan Boneka Besi itu. Jadi, apa kah aku boleh pergi ke kediaman Ketua Sekte dan memohon pada nya ?" Tanya nya dengan penuh harap.


"Baiklah, aku akan ikut dengan mu juga. " Kata Ouyang Si Niang.


Mereka berdua berjalan berdampingan menuju Kediaman Ketua Sekte yang jarak nya sangat jauh dari puncak Fraksi Paviliun Teratai atau kediaman Tetua Ouyang.


Mereka langsung saja terbang menuju salah satu gunung yang paling besar dan paling gelap , butuh waktu hampir 1 jam untuk menuju kediaman Ketua Sekte.


Dia merasa sangat lelah karena harus menempuh jalan yang sangat jauh. Begitu, dia menginjak kan kaki di puncak gunung, dia merasa kan aura yang begitu suram.


Dia juga bisa melihat sebuah bangunan megah yang yang di beri warna hitam pekat , dia berjalan mendekati rumah itu.


Di depan rumah itu ada dua penjaga dengan kultivasi yang hanya sedikit di bawah Tetua Ouyang.


"Ada apa ?" Tanya penjaga itu dengan datar, seolah olah mereka bukan lah manusia.


"Ouyang Si Niang dari Fraksi Paviliun Teratai, memiliki sesuatu untuk di bicara kan dengan Ketua Sekte. " Ucap Tetua Ouyang sambil menangkup kan tangan di depan dada menghadap pintu hitam itu.


Kedua penjaga itu tampak mengirim sinyal pada Ketua Sekte yang berada di dalam.


"Silakan masuk, Ketua Sekte menunggu di dalam. " Kata kedua penjaga itu mempersilakan untuk masuk.


Tetua Ouyang menggandeng tangan nya, dia berjalan masuk dengan tatapan waspada. Rasa dingin menjalar ke seluruh tubuh nya, kepala nya terasa pusing.


Rasa familiar dari tempat ini terasa memasuki kepala nya, tapi tidak ada yang bisa ia ingat dari tempat ini. Dia merasa pusing dan hampir ingin pingsan, tubuh nya hampir jatuh tapi untung lah sudah lebih dulu di tangkap oleh Tetua Ouyang.


"Apa kau baik baik saja ? Apa kah racun dalam tubuh mu kembali bereaksi ?" Tanya Ouyang Si Niang dengan khawatir.


"Tetua tenang saja, aku baik baik saja hanya kurang istirahat. Ayo lanjut kan perjalanan. " Ucap nya sambil tersenyum seolah olah tidak ada apa pun yang terjadi pada nya.


Seorang pemuda dengan topeng hitam dan gambar Qilin emas di topeng, di sertai dengan seringaian di bibir pemuda itu.


Kaki pemuda itu ada di atas meja dan Tetua Ouyang langsung berlutut, dia mengikuti langkah yang di buat oleh Tetua Ouyang.


"Ketua Sekte !" Panggil Tetua Ouyang.


"Ada apa ? Apa yang kau ingin kan sampai sampai membuat mu datang kemari ke sini secara pribadi ?" Tanya Ketua Sekte dengan dingin.


"Murid Fraksi Paviliun Teratai ku, Xue Fenghuang, merasa kalau boneka besi untuk pelatihan membuat kemampuan nya meningkat. Apa kah dia bisa memiliki salah satu nya untuk di gunakan sebagai latihan ?" Tanya Tetua Ouyang setelah agak lama diam.


"Bagaiman dengan murid lain ? Bukan kah ini akan mengundang kecemburuan dari murid sekte yang lain ?" Tanya Ketua Sekte dengan sesantai tadi, tampak tidak terkejut dengan permintaan nya.


Dia merasa kalau diri nya di dominasi oleh aura Ketua Sekte.


"Murid lain tidak pernah meminta secara pribadi, bahkan mereka kalau bisa akan memilih untuk tidak pernah berurusan lagi dengan boneka besi, mereka tidak akan merasa cemburu pada ku. " Ucap nya buka suara.


Bonus like 7 k : 2 / 3