
Dia dengan santai menggeleng kan kepala nya.
"Tidak perlu menebal kan dinding penahan, itu sudah cukup untuk menahan orang untuk masuk. Jika memang ada yang bisa masuk maka itu arti nya mereka sengaja ingin masuk, itu adalah resiko mereka karena menginginkan sesuatu yang bukan milik mereka. " Ucap nya dengan tajam.
Ada banyak sekali orang orang yang ingin mengambil peninggalan peninggalan Kekaisaran yang hancur, dengan harapan mendapat kan harta karun.
Dia tidak menentang hal ini, hanya saja mereka harus menerima akibat dari hal tersebut. Dapat atau tidak nya, itu tergantung pada mereka lagi.
Yuanzheng Yuwen tampak berpikir sejenak sebelum mengangguk setuju dengan kata kata nya.
"Apa kah kalian akan segera pergi ? Jika tidak maka biar kan aku untuk menjamu kalian di Sekte ku. " Ucap nya dengan anggun.
Shangguan Qing menggeleng kan kepala nya dan mengangkat kedua bahu nya sambil menatap Yuanzheng Yuwen.
Tatapan nya jatuh pada Yuanzheng Yuwen yang sedang berpikir.
"Kami tidak sedang terburu buru, tapi kami takut akan membuat Nona Xue repot. " Ucap Yuanzheng Yuwen dengan sopan.
"Tidak masalah, hanya jamuan kecil di halaman rumah ku. " Ucap nya sambil mengangguk.
Mereka pun pergi ke Sekte Biru Es, sesampai nya di sana murid murid bagian luar dengan segan menghindari nya.
"Fenghuang ? Kau sudah pulang ?" Tanya Ouyang Si Niang.
"Ya, aku membawa dua tamu ku untuk menginap sementara di Sekte. " Ucap nya.
"Hm, sebaik nya kamu melapor kan ini kepada Ketua Sekte terlebih dahulu agar tidak ada kesalah pahaman. " Ucap Tetua Ouyang.
Dia mengangguk, memang itu niat nya. Dia berjalan menuju Xue Shangxin dan menggandeng tangan anak perempuan itu.
"Tetua Ouyang, terima kasih karena telah membantu ku menjaga Shangxin. " Ucap nya.
"Tenang saja, Shangxin adalah anak yang penurut dan tidak membuat masalah. " Ucap Ouyang Si Niang.
Dia tersenyum pelan dan pamit pergi, dia berjalan ke arah rumah nya dan membuka rumah nya. Xue Shangxin tampak beberapa kali menatap ke arah Shangguan Qing.
Dia tersenyum tipis melihat ekspresi yang di beri kan oleh Xue Shangxin dan mengerti apa yang di pikir kan oleh anak perempuan itu.
Yuanzheng Yuwen yang juga sedang melihat Xue Shangxin langsung mengerti.
"Nona Xue, tampak nya anda menjadi lebih baik dari sebelum nya. " Ucap Yuanzheng Yuwen berjalan ke depan.
Dia menyusul dan membiarkan Xue Shangxin berjalan seiringan dengan langkah milik Shangguan Qing.
"Memang , aku lihat Tuan Yuanzheng juga membaik." Ucap nya dengan tenang.
Kedua tangan nya tertaut di belakang, dia tersenyum cerah seolah olah tidak terjadi apa apa semalam.
"Di mana kamu akan memakam kan mereka ?" Tanya Yuanzheng Yuwen.
Dia tahu kalau mereka yang ada di kata kata Yuanzheng Yuwen merujuk pada mayat yang di bawa oleh nya.
Wajah nya tidak berubah dan hanya tersenyum tipis.
"Entah lah, aku sendiri juga tidak tahu. Tapi, aku rasa tinggal di Sekte Biru Es bukan lah sesuatu yang buruk. " Ucap nya dengan pelan.
"Mungkin, entah lah aku masih memikir kan nya. " Ucap nya dengan pelan.
"Apa kau mau aku bantu ?" Tanya Yuanzheng Yuwen dengan tulus.
Dia tersenyum melihat ketulusan ini.
"Tidak perlu, aku adalah seorang kultivator. Mengubur kan beberapa orang di halaman bukan lah sesuatu yang sulit. " Ucap nya dengan tenang.
Yuanzheng Yuwen tidak memaksa lagi sampai akhir nya mereka sampai dan dia memberikan dua kamar kosong yang ada untuk Yuanzheng Yuwen dan Shangguan Qing.
Xue Shangxin juga memiliki kamar sendiri, tepat di sebelah nya. Dia masuk ke dalam kamar nya dan mengeluarkan ke tujuh mayat yang ada.
"Kalian terlalu tega untuk meninggal kan ku sendirian di sini. " Ucap nya dengan pelan.
Dia menengadahkan tangan nya ke atas, cahaya biru terbentuk di tangan nya. Perlahan lahan, cahaya biru itu membentuk sesuatu.
Darah mengalir dari sudut bibir nya tapi dia tidak peduli, sampai akhir nya itu membentuk sebuah pecahan es.
Pecahan es itu terbagi menjadi tujuh dan memasuki satu persatu mayat. Dia jatuh berlutut dengan lemas, sudut bibir nya di penuhi dengan darah segar yang mengalir.
Dia menggunakan setengah jiwa nya untuk menjaga mayat mayat ini untuk tetap bertahan dan tidak hancur.
Bayang kan, bagai mana rasa nya ketika setengah jiwa nya secara paksa di robek. Rasa sakit nya sangat tidak terbayang kan.
Dan dia berhasil melakukan sesuatu yang gila seperti ini. Dengan ini juga, dia tidak akan bisa mati meski pun dia mau.
Kecuali, mayat mayat ini secara paksa di hancur kan. Karena, ada setengah nyawa nya yang tersimpan di sini. Jadi, meski pun orang menusuk seluruh tubuh nya, dia masih tidak akan mati.
Dia berjalan dengan tertatih tatih menuju cermin tembaga hanya untuk melihat diri nya yang menyedihkan.
Betapa menyedihkan nya dia, berharap jika orang yang sudah pergi bisa kembali lagi suatu saat. Padahal itu adalah hal yang mustahil untuk di lakukan.
Betapa dia meyakin kan diri nya kalau orang orang ini tidak akan kembali di masa depan, tapi dia masih tidak bisa menahan diri nya untuk tetap berharap pada keajaiban yang sebenar nya tidak ada.
Dia menggunakan kain putih untuk menyeka bibir nya sebelum duduk untuk berkultuvasi sebentar, dia akan memulihkan diri nya terlebih dahulu sebelum pergi ke tempat Ketua Sekte.
Dengan keadaan Jiwa nya nyang begitu kacay saat ini, Ketua Sekte bisa dengan mudah menebak apa yang telah dia lakukan.
Dia duduk dalam posisi teratai dan main berkultuvasi dengan serius. Dia tidak bisa tidak meringis kala dia merasa kan sesuatu yang sangat sakit.
Jika dia tidak bertahan dalam posisi ini maka jiwa nya akan hancur berkeping-keping, tanpa dapat mengikuti lingkaran reinkarnasi.
Karena, menanam kan setengah jiwa ke tubuh lain tidak mudah dan merupakan teknik terlarang, tidak banyak yang bisa melakukan nya.
Kebanyakan langsung hancur karena mereka tidak tahan dengan rasa sakit yang ada, sedang kan dia sendiri mau tidak mau harus menahan nya.
Rasa sakit menjalar dari dada nya menuju kepala nya, kepala nya terasa akan segera pecah dan ini membuat nya akan segera kehilangan kesadaran.
Dia menggigit bibir nya sendiri sampai berdarah agar membuat nya tetap sadar dan tidak pingsan di situasi seperti ini.
"Aku pasti bisa bertahan dari rasa sakit ini. " Ucap nya dengan geram, dia mengepal kan tangan nya dengan sangat kuat.