Penerus Dewi Kematian (Series 2)

Penerus Dewi Kematian (Series 2)
232. Payung


"Jadi, bagaimana aku bisa menghubungi kalian kedepan nya ?" Tanya nya dengan ringan.


"Kamu bisa menemuiku di Sekte Phoenix Langit. " Ucap Feng Taoran sambil mengeluarkan sebuah tanda pengenal.


"Kamu salah satu murid dari 9 Sekte besar ?" Tanya nya terkejut.


Sekte Phoenix Langit adalah salah satu dari 9 Sekte besar yang tidak akan dihancurkan olehnya. Sekte ini adalah satu satunya Sekte yang menentang penyerangan ketiga klan dan pencarian dirinya.


Sekte ini juga merupakan sekte paling lemah karena yang dipilih melalui wajah bukan bakat mereka, tapi dengar dengar kepala sekte nya sangat misterius dan tidak ada yang tahu dengan wajah nya.


"Mungkin kah kau Ketua Sekte Phoenix Langit ? Kau memilih untuk menentang serangan ketiga Klan karena tahu Identitas ku ?" Tanya nya sambil menaikkan salah satu alisnya.


"Tebakan yang bagus , tapi tidak sepenuhnya benar. Aku tidak suka dengan cara serangan mereka jadi aku menentangnya. Untuk Kepala Sekte, itu benar. Kau hanya perlu menunjukkan tanda pengenal itu dan kau akan dibiarkan masuk. " Ucap Feng Taoran sambil melirik ke arah tanda pengenal yang ada di tangan nya.


"Jangan melompat masuk lewat jendela, murid murid di sekte ku mungkin tidak bisa menahanmu tapi jika Shidiku mengetahuinya maka itu akan buruk. Masih belum bisa dipastikan siapa pemenang nya, tapi yang pasti tempat itu akan hancur. Aku saat ini sedang tidak memiliki banyak uang jadi aku akan menghemat nya. "Ucap Feng Taoran dengan sangat cepat.


"Baik, aku akan masuk lewat gerbang jika aku ingat. Aku sendiri terbiasa untuk masuk lewat jendela, lebih praktis. Tapi, akan ku usahakan untuk masuk lewat gerbang. " Ucapnya dengan tenang.


"Baik, selamat tinggal Fenghuang. " Ucap Feng Taoran sebelum menghilang.


Dia menatap tempat Feng Taoran berdiri dengan tatapan kosong, dia berusaha untuk meraih tempat Feng Taoran.


"Apa kau suka pada nya ?" Tanya Qian Bei.


"Tidak." Jawabnya dengan tegas.


Dia tidak suka pada Feng Taoran, hanya kagum saja. Pria semuda itu sudah memiliki kultivasi yang sangat kuat, bukankah dia harus banyak belajar dari pria itu ?


"Aku hanya kagum, dia begitu kuat di usia muda. Aku juga ingin menjadi sepertinya. " Ucap nya sambil kembali duduk.


"Kamu lebih muda dari nya 4 tahun, aku takut apabila kamu berumur sama dengan nya maka kamu akan sama kuatnya dengan dia. " Ucap Qian Bei.


"Senior Qian benar, aku pasti bisa menyusulnya. " Ucapnya sambil menghela nafas.


"Diantara kalian berempat, yang bakat kultivasi nya paling buruk adalah Feng Taoran. Yang paling baik adalah Zhang Wei. Tapi, jika ingin mengatakan siapa yang dengan bakat tambahan paling baik maka itu adalah Feng Taoran. " Ucap Qian Bei.


"Feng Taoran, seorang pria yang menjalani tiga kehidupan dengan begitu menyakitkan akhirnya bisa memperbaiki kehidupan nya, tidak berambisi dan tidak mengejar sesuatu dan hanya ingin mendapat kan keadilan bagi keluarganya. Wang Xi Rong, seorang gadis yang berambisi, dengan bakat yang baik, tapi adalah seorang pemalas. Kultivasi nya adalah yang paling rendah saat ini dibandingkan kamu dan Feng Taoran. Zhang Wei, seorang pria yang gagah, tampan dan lembut. Memiliki kepribadian yang berubah ubah dan tidak terlalu berambisi untuk membalaskan dendam nya. " Ucap Qian Bei sambil menjelaskan ketiga orang lain nya.


"Kamu, seorang gadis dengan bakat yang baik, tekad yang baik, ambisi yang besar, penuh dengan dendam, tapi penuh kepalsuan. Kamu tidak berani mengatakan apa yang kamu inginkan, kamu tidak percaya pada semua orang. Kamu takut pada semua orang, termasuk dirimu sendiri. " Ucap Qian Bei dengan tatapan yang tajam.


Dia yang sedang menatap Qian Bei merasakan bahwa dirinya sedang ditusuk oleh ribuan pisau, kata kata Qian Bei dengan telah memukul dengan tepat di titik sakitnya.


"Terima kasih atas saran mu Senior Qian, aku akan segera pergi. Hari sudah mulai gelap, aku takut teman teman ku akan mencari ku. " Ucap nya sambil berdiri.


"Ingatlah, bahwa ketakutan mu mungkin bukanlah kenyataan. Jadilah lebih berani untuk meyakinkan perasaan mu, seseorang menunggu mu. " Ucap Qian Bei dengan senyum.


"Seseorang menunggu ku ?" Tanya nya dengan terkejut.


Tapi ketika dia bertanya, Qian Bei telah hilang tanpa meninggalkan jejak. Dia mengeluarkan beberapa puluh Kristal Roh dan berjalan keluar dengan perasaan campur aduk.


Selama ini, tidak ada yang berniat untuk menunggu nya. Siapa yang berniat menunggu nya sekarang. Sesampainya dia di luar kedai, rintikan air hujan mulai menetes.


Dia berjalan di bawah hujan, jika dia ingin maka dia bisa untuk tetap kering di bawah hujan dengan Qi nya. Tapi dia memilih untuk membasuh diri nya sendiri dengan air hujan.


Air hujan yang menetes semakin deras membuat semua orang berlari ke pinggir dan berlindung, beberapa orang dengan payung dari kertas minyak berlari ke pinggir.


(Untuk ilustrasi payung nanti author up di instagram@kc.novel_writer.)


Hanya menyisakan diri nya sendiri di bawah guyuram hujan, rambut nya terurai dengan bebas. Pita merah yang mengikat rambutnya telah jatuh.


Pakaiannya sudah sepenuhnya basah , air mengalir tanpa henti dari wajahnya. Dia bahkan tidak bisa melihat ke depan dengan jelas.


Dia ingin melangkah dan berteduh tapi tidak bisa melakukan nya, seluruh langkah nya berat. Kakinya terasa menyatu dengan tanah dan dia hanya bisa diam di bawah guyuran hujan ini.


Dia mendongak ke atas hanya untuk melihat langit yang seketika telah sepenuh nya gelap dan petir yang saling menyambar.


Dia adalah seseorang yang takut dengan petir, tapi selalu memaksakan diri dan membohongi diri sendiri bahwa dia sebenar nya tidak takut hanya terkejut dengan suara petir.


Dia tidak memiliki seseorang untuk menjadi pelindungnya, sandarannya, tempat dia untuk mencurahkan segalanya.


Dalam dua kehidupan ini, dia hanya bisa mengandalkan diri nya sendiri. Berkali kali ditipu dan terjatuh ke dalam lubang, tapi pada akhirnya kembali bangkit hanya untuk kembali jatuh ke dalam lubang.


Memikirkan ini membuatnya miris dengan dirinya sendiri, dia tertawa keras. Air mata mengalir di tengah derasnya hujan, tidak ada yang tahu bahwa dia sedang menangis.


Air hujan masuk ke dalam mulut nya secara tidak terkendali, dia kembali tertawa dan air mata mengalir dengan sangat deras.


Tidak kalah deras di banding kan dengan air hujan yang mengguyur tubuhnya, dia tidak peduli lagi dengan petir yang terus menyambar.


Sebelum akhirnya dia tidak bisa merasakan guyuran hujan lagi dan mendongak. Begitu kepalanya terangkat, tatapan nya bertabrakan dengan tatapan yang begitu dalam.


Bonus like 35 k : 1 / 3