Penerus Dewi Kematian (Series 2)

Penerus Dewi Kematian (Series 2)
72. Tarian Phoenix Es


Dia tidak tersinggung dengan apa yang di lakukan oleh Ouyang Si Niang, dia mengeluarkan Pedang Es Jiwa dan mulai melakukan gerakan yang telah di hafal nya dengan sangat baik.


Dia memejamkan mata, seolah olah tidak perlu berpikir lagi gerakan nya. Seluruh tubuh nya bergerak sendiri dengan pola yang indah.


Kaki kanan nya terangkat dan menahan serangan dari belakang, pedang nya terhunus ke depan dengan sempurna.


Gerakan nya yang berputar membuat riak di sekitaran nya, Ouyang Si Niang yang sedang fokus dengan bunga nya mau tidak mau menatap ke arah Xue Fenghuang dengan tatapan kagum.


Xue Fenghuang tidak berhenti di situ saja, melainkan langsung lanjut ke gerakan selanjutnya. Gerakan nya menjadi lebih cepat, lebih ringan dan lebih tajam.


Dia melompat ke salah satu dahan pohon sebelum memotong nya dengan ayunan pedang dari atas ke bawah.


kreshh


Baru tersentuh sedikit, dahan itu langsung patah, bunga bunga berguguran di tengah tengah gerakan itu, yang membuat nya tampak seperti sedang mandi bunga.


Tidak ada sekali pun keraguan yang nampak dalam gerakan nya, seolah olah dia telah melatih gerakan ini selama 10 tahun.


"Baik, sangat baik ! Aku memang tidak salah menilai mu, kemampuan mu sangat baik bahkan hampir mendekati milik ku. Jika kau terus berlatih maka kau akan menjadi jenius pedang. " Kata Ouyang Si Niang.


"Terima kasih atas pujian Tetua, aku pasti akan berlatih lebih sering. " Kata nya.


"Aku sudah mencari buku buku tentang Tubuh Yin Murni milik mu, dan hanya menemukan beberapa hal. Mungkin beberapa buku yang ku temukan di perpustakaan ini akan berguna untuk mu. " Kata Ouyang Si Niang memberikan nya 3 buah buku.


Dia menerima buku itu dan menyimpan nya ke dalam cincin ruang nya.


"Persiapkan diri mu, besok adalah waktu untuk pendistribusian Pil bagi Fraksi Paviliun Teratai kita. " Kata Tetua Ouyang saat dia sudah berjalan pergi.


Dia yang mendengar itu hanya mengangguk dan melanjutkan jalan nya, tapi jalan nya kali ini tidak menuju ke arah kediaman nya melainkan jalan keluar sekte.


Dia menggunakan pakaian biru dengan rambut yang di ikat seperti pria, tatapan nya menuju ke bangunan paling megah selain sekte milik nya.


Bangunan itu bertuliskan 'Pelelangan Qin Xiang !' ada ratusan orang yang keluar masuk.


"Anda ingin menjual atau membeli ?" Tanya penjaga yang di depan.


"Menjual." Ucap nya.


"Naiklah ke lantai dua,tuan." Kata penjaga itu.


Dia mengangguk dan berjalan naik ke lantai dua, dia melihat kalau lantai dua ini agak sepi, sampai akhir nya aku menghampiri salah satu meja.


"Tuan, ingin menjual apa ?" Tanya wanita di depan nya ini dengan pakaian yang terbuka, ini membuat nya kurang nyaman.


"Menjual ini. " Dia mengeluarkan 30 Pil Roh Bela Diri dari dalam cincin ruang milik nya.


Pegawai itu tampak terkejut dan meneliti obat nya.


"Tuan, biarkan aku memanggil atasan ku terlebih dahulu." Kata pegawai itu dengan tergesa gesa.


Dia hanya duduk tenang, jika orang orang kebanyakan akan menggunakan tudung hitam untuk menggunakan wajah.


Maka dia akan sangat menolak itu, dia bangga memiliki wajah indah, untuk apa di tutup tutupi ? Lagi pula, tidak akan ada yang bisa mengenali nya dalam pakaian pria.


Tidak lama, salah seorang pria dengan jenggot putih tebal dan panjang, rambut yang sudah sepenuh nya memutih di tambah dengan tongkat di tangan nya berjalan ke arah.


"Apa kah anda tuan yang ingin menjual Pil Roh Bela Diri ?" Tanya Tetua itu.


"Nama ku Ming dengan marga Li, biasa orang orang akan memanggil ku sebagai Tetua Li. " Kata Li Ming.


"Hm baik lah, Tetua Li, berapa harga yang akan kau buka untuk pil ini ?" Tanya nya dengan senyum lebar.


"Tuan, sebutkan berapa harga yang ingin anda berikan pada pelelangan kami. " Kata Tetua Li.


Dia tentu saja tahu apa yang ingin di lakukan oleh tetua ini pada nya, tetua ini berharap kalau dia akan memberikan harga murah setelah mengetahui nama nya.


Sayang nya, dia seorang pindahan baru bahkan tidak tahu tentang pelelangan ini.


"Aku ingin 85 persen hasil dari penjualan ketiga puluh pil ini. " Ucap nya tanpa ragu.


"85 persen ? Tuan , ini terlalu banyak. " Kata Tetua itu dengan wajah menggertak.


"Terlalu banyak bagai mana ? Ini adalah 30 Pil Roh Bela Diri yang jarang di pasaran dengan tingkat 80 persen. Lalu, pelelangan anda hanya memasarkan nya, apa kah 15 persen masih kurang ?" Tanya nya dengan sinis.


"Ini....... " Orang tua Li Ming ini sangat gigih dan pantang menyerah.


"Baik lah kalau tetua tidak setuju, aku tidak berniat untuk memaksa lebih lanjut. Aku dengar, ada pelelangan lain yang sama besar di dekat sini. " Ucap nya dengan tenang dan menyimpan seluruh pil obat nya.


Ketika dia sudah berdiri, Tetua Li akhir nya kembali buka suara.


"80 - 20 !" Kata tetua Li sambil menggertak kan gigi.


"Tidak, aku ingin seperti tadi. Jika kau tidak setuju maka aku tidak memaksa mu, selamat tinggal. " Ucap nya, dia berjalan.


"Tunggu ! Baiklah ! Baiklah !" Tetua Li akhir nya pasrah.


Dia berbalik dengan senyum senang.


"Kau seharus nya membuat nya menjadi mudah sejak tadi, kalau tidak kau tidak perlu kehilangan martabat mu sampai seperti ini. " Ucap nya dengan santai sambil menunjuk sekitar yang mulai memperhatikan mereka.


Tetua Li merasa malu dan segera duduk untuk menyembunyikan wajah di balik sekat sekat pemisah.


Mereka membuat surat perjanjian, dia tersenyum puas pada Tetua Li.


"Tuan,pil ini akan di lelang pada lelang tahunan yang akan di laksanakan akhir pekan ini. " Kata Tetua Li.


"Hm, aku senang mendengar itu. Kalau begitu aku akan pergi Tetua Li !" Ucap nya.


"Tunggu ! Tuan, ini adalah kursi khusus untuk tahu terhormat. Anda dapat duduk di ruangan pribadi di pelelangan ini. " Kata Tetua Li.


"Baiklah, terima kasih. Eh, ini bilang bilang tidak bayar kan ? Tidak di potong dengan hasil penjualan ku kan ?" Tanya nya setengah bercanda sambil mengangkat kartu di tangan nya.


Tetua Li bingung harus tertawa atau menangis di hadap kan dengan pertanyaan tidak tahu malu semacam ini.


"Ini....... Ini tentu saja tidak di bayar, Tuan. Bagai mana pun anda adalah tamu terhormat kami. " Kata Tetua Li dengan serba salah.


Dia mengangguk dan berjalan pergi dengan semangat, dia tentu saja tidak langsung pulang. Melainkan melakukan sesuatu yang disebut sebagai 'cuci mata'.


Dia melihat banyak perhiasan yang ada di lantai bawah dengan sangat semangat dan antusias, bahkan ketika harus mengantri.


Meski pun sudah melihat begitu banyak perhiasan di lantai bawah, tapi tidak ada yang bisa membuat nya untuk benar benar membeli mereka.


bonus like 5 k : 3 / 3