Penerus Dewi Kematian (Series 2)

Penerus Dewi Kematian (Series 2)
249. Tahanan Rumah


Dia kembali dengan wajah angkuh nya dan duduk di meja dengan kaki yang terlipat, dia memakan makanan nya dengan rakus.


" Aku seperti sedang memelihara hantu kelaparan. " Ucap Zhao Lu dengan pasrah saat melihat ***** makan nya yang tidak manusiawi.


"Apa ada hantu kelaparan yang secantik diriku ? Kau harus lebih masuk akal di masa depan. " Ucap nya dengan penuh nasi.


Dia memakan banyak makanan sekaligus, dia akan menjadi tahanan rumah selama dua minggu dan itu adalah waktu yang baik untuk beristirahat.


Dia akan memakan banyak hal di dalam kediaman Zhao Lu.


"Aku ingin sekali marah ketika melihat kepercayaan diri mu, tapi itu adalah kenyataan. " Ucap Zhao Lu dengan penuh kepasraan.


"Ck, aku selalu mengatakan kenyataan bukan bualan. Aku bukan dirimu yang suka membual untuk membanggakan diri. " Ucap nya dengan malas.


"Ya ya, Nona Xue selalu benar. " Ucap Zhao Lu dengan ejekan.


"Entah kenapa aku merasa bahwa kata kata mu kurang tulus dan tidak enak di dengar walaupun itu sebuah pujian. " Ucap nya dengan sinis.


Zhao Lu hanya menyeringai sebelum Ruo Wenyu datang untuk makan bersama mereka, dia duduk dengan tegap dan ekspresi yang pantas.


Zhao Lu juga langsung memasang wajah berwibawa seolah olah sedang memarahi murid nya dan tampak tenang, dia menunduk kan kepala nya seolah olah habis di marahi.


"Shidi, apakah kau baik baik saja ?" Tanya Ruo Wenyu dengan khawatir.


"Tidak apa apa Shixiong, berkat Shizun aku tidak mendapatkan banyak luka. Aku harus berterima kasih banyak pada Shizun. " Ucap nya dengan akting yang sempurna.


"Baguslah kalau begitu, setelah mendengar nya aku menjadi tenang. Aku tahu bahwa Ketua Sekte tidak akan terlalu beras. "Ucap Ruo Wenyu dengan senyum tipis.


Ruo Wenyu duduk di samping nya atau lebih tepat nya duduk tepat di tengah tengah antara dia dan Zhao Lu.


Mereka mulai makan makanan mereka meskipun dia sudah mulai makan terlebih dahulu tadi dan ini adalah lauk baru.


Yang pertama kali di bawa sudah di habiskan olehnya sampai sampai hanya tersisa piring kosong. Dia memakan nasi miliknya dengan tenang dan cepat, tapi tidak menimbulkan sedikitpun suara.


Dia adalah orang pertama yang menghabiskan makanan nya, dia langsung berdiri dari kursi setelah menyesap tehnya sampai habis.


"Shizun, Shixiong, aku pamit dulu. " Ucap nya sambil menangkup kan kedua tangan nya.


"Baik." Jawab Zhao Lu dengan datar.


Dia berjalan pergi sambil bersiul dan tersenyum cerah, dia merindukan Rong Xian, Long Qionglin dan Yuanzheng Yuwen.


"Kita pasti akan segera bertemu. " Ucap nya dengan tatapan penuh tekad.


Selama dua minggu menjadi tahanan rumah, dia memang benar benar patuh di dalam rumah dan tidak keluar dari Sekte.


Dia bahkan tidak melangkah kan satu langkah pun diluar Puncak Xue milik Zhao Lu. Dia tentu saja tidak merenungkan kesalahan seperti yang di katakan oleh Lang Xun.


Memangnya, apa salahnya ? Luo Ye Lu menghinanya, bukankah itu sudah wajar untuk membuat pria itu membayarnya dengan nyawa pria itu ?


Hanya saja, dia bahkan tidak akan keluar dari kamar nya kecuali waktu makan. Dia diam diam merawat Xiao Bing yang sudah menjadi besar dan memiliki kultivasi.


Hanya saja, yang membuat nya sedih adalah Lin Rong Rong masih belum terbangun dari tidur nyenyak nya. Dia merasa kesepian di tempat besar ini.


Ini adalah seni bela diri dengan Yin yang sangat murni, sangat baik untuk diri nya yang memiliki Tubuh Yin Murni.


Dia dulu adalah seorang gadis dengan tubuh lebar, tinggi dan kekar. Sama sekali tidak mirip seorang gadis, wajahnya penuh dengan jerawat dan flek hitam.


Dia sendiri ingin menertawakan diri nya sendiri kala mengingat hal tersebut, dengan penampilan nya yang begitu buruk, bagaimana mungkin seorang Zhu Xinglian yang dulunya merupakan seorang Aktor terkenal menyukai dirinya.


Setelah memikir kan nya kembali, dia sadar bahwa dia dulu seperti seekor katak yang ingin meraih seekor Phoenix.


Tapi, sekarang dia adalah Phoenix dan Zhu Xinglian menjadi katak yang menginginkan nya. Memikirkan ini, senyum puas terbentuk di bibirnya.


Dia merasa bahwa kehidupan nya saat ini seperti cerita yang sangat sempurna, sampai sampai membuatnya takut bahwa dia hanyalah sebuah karakter utama dalam sebuah cerita dan ada seseorang yang mengendalikan semuanya.


Bahkan, jika dia dulu di juluki sebagai penulis terbaik sepanjang masa. Saat ini, dia masih belum bisa menulis cerita sesempurna jalan hidupnya saat ini.


"Keindahan yang menjatuhkan sebuah Kerajaan, darah tumpah menjadi sebuah sungai, kematian menjadi kabar harian, kesedihan sudah tidak terbendung. " Ucap nya dengan tatapan yang kosong.


Dia menyandar kan kepalanya di kursi milik nya dengan raut wajah lelah, dia cukup lelah dengan semua ini. Sangat lelah sekali dengan semua masalah ini.


Satu satunya pertanyaan yang ada di benak nya adalah, apakah semua yang ada disini nyata ? Dia masih memiliki keraguan besar untuk terikat dalam tempat ini.


Dia takut bahwa suatu hari nanti dia akan terbangun di rumah sakit yang ada di tempatnya sebelumnya, terbangun dengan seluruh kejahatan yang terkuak.


Dia tidak takut untuk di pandang jelek oleh semua orang tapi dia takut bahwa tidak akan ada yang bisa menemani nya untuk berjalan bersama.


Tidak ada yang bisa menggenggam tangan nya dan memberi dukungan, semua orang menjauhinya. Semua orang menganggap nya sebagai monster yang harus dijauhi.


Paling tidak, itulah yang di ketahui olehnya saat dia masih sekolah. Orang tua berkata pada anak nya untuk menjauhi nya dan menanam kebencian di dalam benak anak mereka untuk nya.


Dia menggelengkan kepalanya ringan kala memikirkan hal ini , orang tua bilang ingin memberikan yang terbaik untuk anak mereka. Tapi, nyatanya mereka juga yang merusak anak mereka.


Yang mengajarkan dan menanamkan kebencian pada anak bukanlah dari anak itu sendiri, melainkan dari orang terdekat mereka.


Selama bertahun-tahun panjang, dia telah menampung seluruh kebencian itu dalam diam dan perlahan lahan menyadari bahwa dia telah menyatu dengan kebencian itu.


Dia dan kebencian bagaikan anggota tubuh, yang tidak dapat dipisahkan. Dia ingin menolak kenyataan ini , tapi inilah kenyataan nya.


Dia tertawa sumbang ketika memikirkan ini, dan menatap ke depan dengan tatapan sendu.


"Apakah seseorang bisa memilih harus di lahirkan di keluarga kaya atau keluarga miskin ? "Tanya nya dengan tawa tidak senang.


Dunia begitu banyak berhutang padanya, tapi siapa yang mampu membayar untuk nya ? Dia hanya bisa merampas apa yang seharusnya di miliki olehnya.


Dia tidak salah, dia tidak salah ketika orang orang itu mengejeknya. Dia membunuh mereka dengan kedua tangan nya yang berlumuran darah.


Dia membunuh mereka tanpa berkedip, dia membunuh mereka semua yang menganggap nya sebagai permainan.


Dia membunuh mereka semua yang ditanam kebencian oleh orang tua mereka, dia membunuh mereka semua tanpa sisa dan belas kasihan.


Tapi, dia tidak salah. Dia hanya ingin merampas kembali apa yang seharus nya menjadi miliknya. Mereka semua adalah orang jahat, mereka membunuh perasaan nya.


Dia dulu adalah gadis yang baik, gadis yang manis, gadis yang ramah dan lembut, tapi mereka membunuh gadis baik itu dan menciptakan gadis jahat dengan tangan yang berlumuran darah.