
" Siapa ?"Tanya nya dengan suara rendah.
"Aku tidak tahu juga. " Balas Xing Feng dan Xing Luo.
"Biar kan aku yang membuka kan pintu. " Ucap nya.
"Tapi kau adalah wanita, biar kan aku yang membuka pintu. " Kata Xing Feng dan Xing Luo dengan serempak.
Mereka saling bertatapan dengan tajam.
"Biar kan aku yang membuka, kau baru sembuh Xing Luo." Kata Xing Feng.
"Tidak kak, kau sudah sangat lelah karena bertarung sedang kan aku bahkan bisa 100 kali lari keliling desa. " Kata Xing Luo dengan keras kepala.
"Sudah lah, biar kan aku yang buka. " Ucap nya dengan kesal, dia berjalan tanpa menghiraukan teriakan kedua pria dari belakang nya itu.
Dia membuka pintu dan melihat seorang kakek tua dengan pakaian yang cukup baik di banding kan warga warga lain mengetuk pintu.
"Ah, apa ada yang bisa ku bantu ? Ayo masuk dulu. " Ucap nya dengan ramah.
"Terima kasih pahlawan muda. " Kata kakek itu.
Dia mengajak kakek itu untuk berjalan masuk dan bertemu dengan Xing Luo dan Xing Feng.
"Kepala desa. " Kata Xing Feng dengan terkejut, dia sedikit terkejut tapi dengan mudah menyembunyikan nya.
"Nona pahlawan dan Tuan Muda Xing telah membantu banyak bagi Desa Hujan. Kami tidak dapat memberikan terlalu banyak hadiah karena donatur Desa kami, belakangan ini mulai pergi. " Kata kepala desa dengan sedih.
Kepala desa menyerah kan dua kantung berisikan perak, Xing Feng berniat ingin menolak nya, tapi dia segera menerima nya.
Dan memberi tanda pada Xing Feng untuk segera menerima nya.
"Kepala desa, apa kah aku bisa menjadi donatur desa hujan ?" Tanya nya.
"Apa ?! Nona benar benar ingin menjadi donatur desa Hujan ? Tapi keuntungan pajak di sini terlalu buruk. " Kata Kepala desa dengan pesimis.
"Tenang saja, aku bisa mengubah desa ini menjadi desa yang sangat makmur. Ini adalah untuk awalan, panggil orang orang untuk membuat pagar yang lebih kokoh. Perbaiki semua rumah orang di sini. " Dia menyerah kan sekantung emas.
"Nona, ini terlalu banyak. " Kata Kepala desa dengan terkejut.
"Lakukan yang terbaik, aku akan kembali dalam waktu dekat. " Ucap nya.
"Terima kasih nona. " Kata kepala desa ingin berlutut.
Tapi dia sudah lebih dulu menahan tubuh kurus pria muda itu.
"Perhatikan makanan yang di beri kan pada generasi muda. Apa kau mengerti ?" Tanya nya.
"Ya, aku mengerti nona. Apa kau akan pergi sekarang nona pahlawan ?" Tanya kepala desa.
"Benar, aku akan pergi sekarang bersama dengan Xing Feng dan Xing Luo. " ucap nya sambil mengangguk.
"Nona tenang saja,aku akan memberikan yang terbaik. " Kata Kepala Desa dengan air mata bahagia.
"Ya aku percaya pada mu jadi jangan sia sia kan kepercayaan ku pada mu. Karena jika aku sudah kecewa, maka aku akan sulit untuk percaya pada orang itu lagi. " Ucap nya dengan penuh sindiran pada kedua orang di sebelah nya.
"Nona, aku pasti tidak akan menyia nyiakan kepercayaan mu. Kau tenang saja. " Kata kepala desa.
"Hm, aku mengerti. Aku akan pergi sekarang juga dan kemungkinan besar baru akan kembali minggu depan. Ingat baik baik pesan ku, buat pertahanan tinggi, lalu beri kan makanan yang bergizi pada orang yang muda di bawa 10 tahun. Latih fisik mereka dengan baik. " Ucap nya sambil menaiki kuda di ikuti oleh Xing Feng.
Xing Luo tampak sedikit bingung karena kuda Xing Feng terlalu kecil untuk di naiki dua orang.
"Kau ikut dengan ku. " Ucap nya.
Dia menyuruh Xing Luo untuk naik ke punggung Xiao Hei. Xiao Hei adalah kuda besar yang bisa di naiki oleh dua orang bahkan 3 orang dengan anak anak.
"Eh, bagai mana kalau kami berdua yang naik kuda itu. Kau naik kuda ini. " Kata Xing Feng dengan buru buru.
"Tidak perlu, Xiao Hei tidak ingin di naiki oleh orang asing. " Kata nya dengan dingin.
"Pilih salah satu dari kalian, aku beri waktu 3 detik atau aku akan meninggal kan kalian berdua. " Ucap nya dengan nada yang sama.
Kedua pria itu tampak bertengkar kecil sebelum Xing Feng akhir nya pasrah dan memilih untuk mengalah dan membiar kan Xing Luo duduk di belakang nya.
Senyum Xing Luo menjadi sangat lebar, pria itu naik ke atas punggung Xiao Hei.
"Biar kan aku yang membawa kuda nya. " Kata Xing Luo, dia mengangguk.
Posisi nya sekarang seperti sedang di peluk Xing Luo, ini membuat Xing Feng menjadi marah tapi hanya bisa diam dan menelan kekesalan nya.
Setelah berada di pelukan Xing Luo seperti ini, dia menyadari kalau perasaan nya untuk pemuda di belakang nya ini sudah sepenuh nya menghilang.
Dia tersenyum tipis di balik cadar nya dan merasa bersyukur. Karena, dengan begitu dia tidak akan sama seperti dulu lagi.
Perjalanan panjang di lalui, sampai akhir nya hari sudah mulai gelap.
"Hari sudah mulai gelap, di terus kan juga berbahaya. Banyak bandit di jalan depan, lebih baik kita bermalam di sana. " Kata Xing Feng dengan khawatir.
"Ya, kita akan bermalam di sini. Aku kelaparan. " Ucap nya, dia meloncat ke bawah tanpa menunggu Xing Luo untuk turun lebih dulu.
Kaki nya menyentuh tanah dengan tepat dan dia mengeluarkan jagung.
"Kita akan membakar jagung. " Kata nya sambil duduk di bawah pohon.
"aku akan mencari kayu bakar. " Kata kakak beradik itu dengan kompak sebelum saling menatap dengan tajam.
Dia menghela nafas dan bertanya tanya di dalam hati, apa yang terjadi dengan kedua kakak beradik di depan nya ini.
"Tak perlu lagi, aku sudah menyiapkan nya. " Ucap nya menengahi sebelum mengeluarkan setumpuk kayu bakar.
"Untuk api, biar kan aku yang hidup kan. " Kata Xing Feng dengan senyum penuh kemenangan.
Xing Luo ingin membantah tapi tidak bisa, karena di antara mereka hanya Xing Feng yang memiliki elemen api.
Dia menggunakan sarung tangan, karena di tangan nya terus menerus mengeluarkan hawa dingin. Itu akan membuat api cepat padam dan dia tidak ingin itu terjadi.
Mereka membakar jagung masing masing dengan hening, meski pun terkadang kedua pria itu mencuri curi pandang ke Xue Fenghuang.
Xue Fenghuang yang mengetahui itu hanya diam dan memasang wajah tidak peduli. Dia berpura pura seolah olah tidak sadar kalau dia di tatap secara diam diam oleh kedua orang di depan nya ini.