Penerus Dewi Kematian (Series 2)

Penerus Dewi Kematian (Series 2)
139. Roh Pakaian II


"Bukan segel biasa ? Aku juga tahu kalau itu bukan segel biasa. Tolong jelas kan lebih detail lagi, aku tidak mengerti dengan kata kata mu. " Ucap nya sambil mengeluh.


"Itu, bukan segel biasa ! Itu hanya bisa di buka oleh seseorang yang mempunyai kebencian dan dendam yang begitu besar tapi tidak memiliki niat jahat. " Ucap Qiu Yue dengan sebal.


"Hah ? Siapa yang bisa memiliki kebencian dan dendam tanpa memiliki niat jahat ?" Tanya nya masih tidak mengerti.


"Dasar bodoh ! Aku awal nya berpikir kalau itu tidak mungkin juga, tapi setelah bertemu dengan mu, aku mau tidak mau harus mengakui kalau jenis itu memang ada dan itu adalah kau. " Ucap Qiu Yue emosi.


"Aku ? Aku tidak memiliki niat jahat ? Omong kosong macam apa itu ? Jangan membual !" Ucap nya dengan kesal.


"Membual ? Untuk apa membual dengan mu ! Lagi pula, kamu yang melepaskan segel milik ku dan itu adalah bukti yang kuat. Kau tidak bisa menolak nya."Ucap Qiu Yue.


"Mungkin saja setelah 10.000 tahun penyegelan, segel itu telah melemah. Atau mungkin dendam yang ku miliki terlalu besar. Aku memang memiliki kebencian dan dendam yang besar, tapi bukan berarti aku tidak memiliki niat jahat. " Ucap nya dengan sinis.


"Melemah ? Mungkin. Tidak ada yang tidak mungkin, tapi yang pasti aku akan menjadikan mu sebagai Tuan ku. Aku tidak ingin berutang budi pada seseorang. " Ucap Qiu Yue.


"Tuan Qiu, kamu terlihat sangat kuat. Bagai mana mungkin orang bisa menyegel mu ? Aku rasa kekuatan mu saat ini bahkan tidak mencapai seperempat kekuatan mu saat dalam kondisi yang baik. " Ucap nya dengan serius sambil mengamati Jiwa Qiu Yue.


Qiu Yue tampak termenung sebentar sebelum tertawa penuh dengan rasa sakit. Tatapan nya juga penuh dengan luka.


"Aku dulu memang tidak terkalahkan, tapi tidak ada guna nya. Hati ku lemah dan tidak bisa mengatakan apa pun, aku di khianati oleh orang yang ku sayang." Ucap Qiu Yue dengan helaan nafas.


"Apa ada kemungkinan orang yang menyakiti mu masih hidup ?" Tanya nya dengan pelan.


"Tentu saja, tentu masih ada jika tidak ada kecelakaan. Dengan kemampuan nya yang dulu, maka hidup 10.000 tahun akan sama dengan hidup 100 tahun orang biasa. " Ucap Qiu Yue setelah berpikir sebentar.


"Kamu tampak nya masih tidak bisa menerima kalau orang terdekat mu mengkhianati mu. Di lihat dari cara bicara mu yang terlihat berat saat mengatakan nya. " Ucap nya dengan tenang.


Dia berdiri menghadap jendela atau dengan kata lain dia membelakangi roh pakaian itu, hanya untuk melihat bulan yang baru saja menunjuk kan diri.


"Kamu terlalu banyak berpikir, aku tentu saja sudah membenci nya ke tulang tulang. " Ucap Qiu Yue sambil menggertak kan gigi nya.


"Itu hanya dalam mimpi mu, tapi pada kenyataannya kamu tidak bisa melakukan nya. Kamu masih berharap kalau dia akan kembali dan meminta maaf, bukan ?" Tanya nya dengan pelan.


Qiu Yue tampak marah ketika dia mengatakan nya, tampak nya Qiu Yue membenci diri sendiri karena tidak bisa membenci orang yang seharus nya dia benci.


Dia dulu seperti ini, selalu seperti ini. Tapi, lama kelamaan dia terbiasa dan dia tidak memiliki rasa lagi.


"Aku sudah bilang kalau aku membenci nya ke tulang tulang ! Jangan bertanya tentang itu lagi atau aku akan membunuh mu !" Ucap Qiu Yue sambil menggeram.


"Kamu tidak bisa membunuh ku dan akui lah apa yang sebenar nya kamu rasa kan. Satu hal yang harus ku beritahu, sifat manusia bisa berubah dengan cepat. " Ucap nya dengan pelan dan tenang.


Dia bahkan tidak menoleh sedikit pun, masalah di khianati seperti ini dia sudah terbiasa sampai sampai dia mati rasa.


"Aku tidak mencuri ! Benar benar tidak mencuri ! Tolong percaya pada ku !" Ucap Xue Fenghuang kecil dengan penuh air mata dan permohonan.


Dia kecil, di tuduh mencuri uang salah satu teman nya. Teman teman nya yang lain langsung menuduh nya dengan alasan dia adalah anak miskin.


Mereka melapor pada guru dan dia tidak bisa memberikan pembelaan sedikit pun karena dukungan dari teman teman sekelas nya.


Saat itu, dia mengepal kan tangan nya sendiri saat sedang berlutut dan di siram air dingin di depan banyak orang saat hujan salju.


Dia melihat orang orang lain menggunakan jaket kulit yang tebal, hangat dan nyaman sedang kan dia hanya menggunakan jaket tipis.


Air dingin yang menyentuh kulit nya rasa nya sangat panas, dia tidak bisa menahan air mata nya dan menatap orang orang yang tertawa di atas penderitaan nya dengan mata yang memerah.


Pada saat itu lah, dia bersumpah untuk menyelesaikan dendam ini 3 kali lipat ! Guru nya tidak memiliki belas kasihan sedikit pun bahkan ketika dia terus memohon.


"Kau tinggal di sini sampai satu jam ke depan ! Akui kesalahan mu dan kau bisa langsung masuk kelas !" Ucap guru nya sebelum meninggal kan nya yang masih kecil, berlutut sendirian di tengah lapangan yang dingin.


Dia yang saat itu baru berumur 10 tahun, benar benar tidak bisa melakukan apa pun. Sampai akhir nya 1 jam berlalu, setengah tubuh nya sudah terbenam oleh salju.


Tubuh nya gemetar dan dia sudah tidak bisa berdiri lagi, seluruh tubuh nya lemah dan bibir nya membiru.


Sampai akhir nya ada sebuah tangan yang di julurkan pada nya. Ini adalah orang yang kehilangan uang.


"Aku tidak mencuri uang mu. To... to.... tolong percaya pa... pada... ku. " Ucap nya dengan terbata bata, bibir nya telah pecah kemana mana.


"Ikut aku. " Ucap anak gadis itu dengan senyuman. hangat yang entah kenapa terasa ganjil.


Dia yang dulu nya polos dengan yakin menerima uluran tangan, sampai akhir nya di bawa ke bagian belakang dengan iming iming berganti pakaian.


Ruang berganti pakaian memang ada di bagian belakang jadi dia percaya, baru saja akan melangkah lagi dan ada dua orang yang menarik masing masing tangan nya.


Dia yang masih sangat lemah secara langsung jatuh terduduk di tanah.


Byurrr


Sebuah air hangat di siram kan pada nya, kulit nya memerah dan seluruh tubuh nya gemetar. Orang yang kehilangan uang tertawa jahat.


"Kamu pikir aku benar benar melepaskan mu ? Kau seorang bebek bodoh yang naif !" Umpat gadis jahat itu.


Bonus like : 2 / 3


Note : jujur aja sedih banget ini nulis nya , hampir berlinang air mata. Sebenar nya author gak tega kasih Fenghuang pengalaman yang se tragis ini, tapi untuk kepentingan alur cerita mau gak mau.