Penerus Dewi Kematian (Series 2)

Penerus Dewi Kematian (Series 2)
262. Gelang Merah


"Feng ge, lihatlah ! Dahiku sudah memerah, ini semua karena Lan Ge yang jahat pada anak kecil tidak berdaya sepertiku. " Ucapnya sambil cemberut dan menunjuk Lan Tianjin.


"Sudah sudah, kalian seperti anak kecil juga. Berhenti, ini ditempat umum bukan di Sekte. " Ucap Feng Taoran melerai dua anak bayi yang sudah besar itu.


"Hmph !" Keduanya dengan kompak mendengus dan memalingkan wajah untuk menatap sisi lain.


12 Jam berikutnya


Ketiga temannya sudah mendapatkan Gelang Merah, keempat dari mereka sama sama tidak memerlukan usaha besar untuk mendapatkan gelang merah ini.


Sudah ada 79 orang yang mendapatkan gelang merah dan yang hidup juga tidak banyak lagi paling hanya setengah.


Paviliun yang sebelumnya sangat ramai berubah menjadi penuh kesunyian, hanya paviliun miliknya yang masih utuh dan semuanya masih dalam keadaan sehat.


Ada beberapa yang penuh luka untuk menang dan kelelahan, tapi mereka berempat seperti sedang bermain di taman.


Banyak sekali yang meninggal dan peti mati telah menumpuk di sudut untuk di bawa pulang, jika tidak meninggal maka pasti luka parah.


Semua orang memiliki ambisi dan kesombongan masing masing dan menolak untuk menyerah dengan kekalahan mereka yang berakhir dengan kematian.


"Feng Ge, disini sangat tidak nyaman. Aura kematian ini membuatku tidak nyaman. " Ucap nya sambil memajukan bibirnya dan bertindak manja seolah dia adalah anak kecil yang belum pernah melihat darah.


"Hmph ! Teratai putih !" Umpat Lan Tianjin yang melihat tindakannya.


"Jika aku teratai putih, apa pedulimu , Wahai rumput laut ?" Tanya nya dengan bangga.


"Paling tidak,teratai putih terlihat baik. " Ucapnya sambil menjulurkan lidah ke arah Lan Tianjin.


Yuanzheng Yuwen yang melihat ini hanya tertawa kecil dan terus meminum sedikit demi sedikit tehnya.


"Sudah sudah, Fenghuang, melihat semacam ini pastinya bukan pertama kalinya bagimu. " Ucap Feng Taoran dengan sabar dan lembut.


"Ya ya ya. " Jawabnya sambil mengembungkan pipinya dan tampak lucu.


Mereka ini, sangking tidak ada pekerjaan lain karena menunggu sampai hampir mati bosan. Jadilah mereka ini memainkan peran.


Feng Taoran menjadi ibu yang sabar dengan dua anak, yaitu Xue Fenghuang dan Lan Tianjin sedangkan Yuanzheng Yuwen menjadi ayah yang bijak.


Sebenarnya keluarga ini cukup harmonis meskipun ada keributan keributan kecil dari kedua anak di keluarga ini.


"Huft, aku lelah sekali dengan peran ini. Apakah masih belum selesai ? Kita kemari untuk bertarung atau berkemah ?" Tanya nya sambil memainkan gelang merah yang ada di pergelangan tangan kanan nya.


"Sabar, hanya perlu sedikit bersabar untuk rencana besar. " Ucap Feng Taoran dengan bijak.


"Baik." Ucapnya dengan menurut.


"Fenghuang, ada yang ingin aku berikan padamu. " Ucap Yuanzheng Yuwen untuk pertama kalinya membuka mulut setelah beberapa jam terakhir.


Sebelum nya, Yuanzheng Yuwen hanya mengangguk , menggeleng dan tersenyum layaknya robot yang ada di kehidupan masa lalunya.


Dia bahkan curiga bahwa pria itu menemui kebisuan mendadak , tapi sekarang segala prasangka buruknya telah hilang kala melihat pria itu masih bisa berbicara dengan lancar.


"Apa itu ?" Tanya nya sedikit gugup.


Dia menatap gelang itu dengan tatapan terkejut dan berkali kali menatap gelang itu lalu menatap Yuanzheng Yuwen lagi.


"Aku juga memiliki sesuatu untukmu. " Ucapnya dengan sedikit malu.


Dia mengeluarkan sebuah cincin biru yang bercahaya dan terbang dari telapak tangannya.


"Ini adalah cincin yang ku buat sendiri dan pasti bisa membantumu, aku harap kamu akan menggunakannya. " Ucapnya sambil memasangkan cincin biru itu.


"Disini saja. " Ucap Yuanzheng Yuwen sambil menunjuk jari manis kanan nya.


Dia yang melihat ini mau tidak mau merasa malu karena bukankah orang yang menyelipkan cincin di jari manis adalah orang yang ingin menikah ?


Tapi dia menahan seluruh rasa malunya dan memasang cincin itu di jari manis kanan milik Yuanzheng Yuwen seperti keinginan pria itu.


Di sisi lain, Feng Taoran memandang kegiatan yang romantis dan membuat Surga dan Neraka iri itu tidak tahu harus menangis atau tertawa.


Dia ingin menangis kala mengingat taruhan nya dengan Qian Bei tapi juga ingin tertawa melihat perkembangan yang dimiliki oleh Xue Fenghuang dan Yuanzheng Yuwen.


Meskipun dia tidak yakin dengan latar belakang Yuanzheng Yuwen, tapi itu pastilah tidak sederhana. Tidak banyak yang menggunakan marga Yuanzheng.


Dia hanya pernah menemukan beberapa sebelumnya dan semuanya sudah mati. Tapi, melihat ketulusan yang dimiliki oleh Yuanzheng Yuwen maka dia rela melihat Xue Fenghuang dekat dengan pria itu.


Dia tiba tiba ingin sekali memukul kepalanya sendiri, dia bertingkah laku seperti orang tua Xue Fenghuang yang tulus.


Ini mungkin karena dia dekat dengan Xue Fenghuang sehingga sudah menganggap gadis itu sebagai adiknya dengan tulus.


Tapi, pada intinya, dia senang dengan kedekatan antara Yuanzheng Yuwen dan Xue Fenghuang.


Di tempat Xue Fenghuang, dia sudah merasa kalau jantungnya tidak akan bertahan lebih lama lagi. Ini bahkan berdetak jauh lebih cepat di bandingkan dia berada di ujung kematian.


Dia mungkin akan segera mengeluarkan kertas untuk menulis surat wasiat, dia menyembunyikan gejolak yang ada di dalam dirinya dengan wajah tenang.


Senyum tipis telah menutupi seluruh apa yang dirasakan olehnya , dia menatap ke mata Yuanzheng Yuwen dan tidak bisa tidak merasa gugup.


Tatapan Yuanzheng Yuwen sangat dalam, hampir hampir seperti sedang menembus dirinya. Dia merasa tidak nyaman dengan tatapan itu, seolah olah tatapan Yuanzheng Yuwen bisa melepaskan topeng yang digunakan olehnya dan menatap dirinya yang sebenarnya.


Dia mengalihkan pandangan menuju gelang merah yang diberikan oleh Yuanzheng Yuwen padanya dengan senyum cerah.


"Ini sangat bagus, aku pasti akan menggunakannya terus. Terima kasih !" Ucapnya dengan semangat.


"Sama sama, lain kali kita pasti akan saling membantu di masa depan. Jangan sungkan untuk meminta bantuan ku di masa depan. " Ucap Yuanzheng Yuwen dengan lembut.


"Tentu, aku tidak akan sungkan di masa depan. " Ucapnya dengan sedikit ragu.


'Karena kita sahabat. ' Dia melanjutkan kalimatnya di dalam hati karena merasa ragu dengan kata kata itu.


Bagaimana pun , itu agak menyakitinya secara tidak langsung. Itu seperti penegasan pada diri nya sendiri bahwa mereka berdua tidak lebih dari sepasang sahabat.


Dia seperti seekor anjing yang berharap untuk mendapatkan bulan di dalam pelukan nya. Setelah memikirkan julukan ini, dia ingin tertawa pahit tapi memilih untuk menahan nya.


Bonus Crazy Up 18/10/2021 - 31/10/2021 : 3 / 3