
Dia melepaskan jepit rambut nya, rambut nya terurai yang merubah wajah nya. Dari tampan menjadi cantik dan manis.
Senyum menyeringai milik nya dapat membuat orang membeku, membuat orang menangis dan menjerit kesakitan.
Karena, dari puluhan atau bahkan ratusan musuh yang mendapat seringaian dari nya, semua nya mati dengan mengenaskan.
Tiba tiba, pintu di dobrak dari luar. Belasan orang dengan cadar hitam memaksa untuk masuk , mereka masih masing membawa pedang.
"Akhirnya kalian datang. " Ucap nya dengan sinis.
Dia mengangkat jepit rambut nya, jepit rambut itu mulai bercahaya kebiruan sebelum mulai melayang dan bertarung bersama dengan belasan orang itu.
"Kekuatan mu berkembang pesat. " Ucap Yuanzheng Yuwen dengan lemah dari belakang nya.
"Terima kasih atas pujian mu, Tuan Muda Long. " Ucap nya sambil tertawa ringan.
Dia menutup mulut nya saat tertawa, seolah olah adalah gadis kecil pemalu yang baru pertama kali. melihat dunia luar.
Seseorang berusaha untuk menerkam nya dari belakang, saat dia sedang bercengkrama dengan Yuanzheng Yuwen.
Dia tidak berbalik, melainkan hanya menjulurkan tangan. Tangan nya menangkap leher orang itu, lalu mematahkan nya.
Kretek
Suara patahan tulang terdengar , orang yang di cekik oleh nya , jatuh ke tanah seperti boneka kayu yang patah.
Dia tidak kehilangan senyum nya, justru senyuman nya menjadi lebih lebar.
"Sampai mana pembicaraan ku tadi ? Kita bisa melanjut kan nya lagi. " Ucap nya dengan ringan.
"Nona Xue, kepribadian mu masih tidak berubah seperti sebelum nya. Justru menjadi lebih parah. " Ucap Yuanzheng Yuwen sambil menggeleng kan kepala.
"Ha ha ha , sekali lagi aku berterima kasih atas pujian nya. " Ucap nya sambil tertawa lantang.
Tawa nya menggema dan membuat seluruh ruangan itu bergetar, suhu udara turun drastis, membuat semua orang gemetar kedinginan.
Angin dingin yang datang entah dari mana, keluar dan meniup semua lilin yang ada di sana. Di balik kegelapan, yang hanya bisa di lihat adalah seorang gadis dengan rambut yang sepenuh nya terurai dan tatapan nya yang kelam.
Orang orang yang berusaha untuk membunuh Yuanzheng Yuwen menjadi ribuan keping es, dia memungut jepit rambut ibu nya yang terjatuh.
Lalu, kembali memasang nya di rambut nya. Tatapan nya menjadi hangat lagi seperti biasa nya, seolah olah ini bukan lah perbuatan nya.
Setiap sudut dinding di penuhi dengan es, udara menjadi sangat dingin, di tambah dengan kesunyian yang membuat tulang bergetar.
"Tuan Yuanzheng, waktu nya pergi. " Ucap nya, sambil menarik tangan Yuanzheng Yuwen.
Dia menapak di atas tembok dan mulai berlari di atas atap sambil menarik Yuanzheng Yuwen. Mereka terus berlari, sebelum ada puluhan orang yang mengejar dari belakang.
Orang orang di belakang terus menerus melempar kan pisau ke mereka. Dia mendengus dingin sebelum berhenti berlari dan berbalik.
Dia membawa Yuanzheng Yuwen untuk berdiri di belakang nya, tangan kiri nya memegang tubuh pria itu agar tidak jatuh menggelinding ke tanah.
"Sampah." Gumam nya dengan dingin.
"Enyah !" Dari tangan kanan nya terbentuk puluhan keping es.
Begitu kata kata enyah keluar dari bibir tipis nya, serpihan serpihan es itu meluncur dengan kecepatan tinggi.
"Apakah kau masih bisa berlari ?" Tanya nya dengan pelan pada Yuanzheng Yuwen.
"Jangan khawatir. " Ucap Yuanzheng Yuwen dengan wajah pucat.
Dia menjadi khawatir dan dengan paksa memasukkan sebuah pil ke dalam mulut Yuanzheng Yuwen. Pil itu dengan cepat meleleh dan masuk ke dalam tubuh pria itu.
Tubuh Yuanzheng Yuwen menjadi sedikit lebih berwarna setelah meminum pil itu.
"Ayo !" Ucap nya sambil menarik tangan Yuanzheng Yuwen lagi.
Dia meloncat ke bawah, di mana itu adalah pekarangan rumah yang sepi. Hanya ada beberapa orang yang sedang menjemur pakaian.
Begitu dia turun, dia langsung menekan titik akupuntur tiga wanita yang sedang menjemur pakaian itu. Mereka langsung jatuh ke tanah dalam kondisi pingsan.
Dia memapah tubuh Yuanzheng Yuwen dan membawa pria itu menuju dalam rumah sederhana itu, di sana ada sebuah ruangan yang agak bagus.
Dia menendang pintu sampai hancur dan di sana ada seorang wanita dengan pakaian serupa, tapi sedikit lebih rapih.
Wanita itu tampak terkejut dengan kehadiran nya dan membawa sebuah belati.
"Seorang kepala pelayan, berniat untuk menyakiti Tuan Muda kediaman nya sendiri. Aku takut kau tidak hanya berhenti di sana. " Ucap nya dengan tajam.
"Siapa kau ?! Tuan Muda !" Teriak kepala pelayan itu dengan ekspresi seperti melihat orang mati saat melihat Yuanzheng Yuwen.
"Kenapa ? Kau terkejut ? Melihatku masih hidup. " Ucap Yuanzheng Yuwen dengan cepat mencerna apa yang terjadi.
"Aku, aku tidak !" Teriak kepala pelayan itu berusaha untuk berdalih.
"Kau seorang tabib obat yang di katakan tidak memiliki kultivasi bukan ? Aku akan membunuh mu ! Maafkan aku Tuan Muda, tapi aku harus membunuh mu juga agar kau tidak membawa masalah bagi ku. Tempat ini sudah di penuhi dengan harum dupa beracun yang biasa di taruh di kamar mu. Aku harus meminum obat setiap satu minggu untuk mempertahankan diri. " Ucap Kepala pelayan itu dengan ekspresi bengis.
Dia tertawa ringan dan menanggapi serangan dari kepala pelayan itu dengan santai.
"Apa kau pikir racun kecil seperti ini memiliki pengaruh pada ku ? Aku bahkan tidak bisa menggunakan nya untuk meningkatkan kultivasi, sungguh kualitas racun yang begitu buruk. " Dengus nya.
Dia kembali tertawa melihat kepala pelayan itu yang mulai panik karena tidak bisa menusuk nya dengan sebuah belati.
Brukkk
Dia memukul dada kepala pelayan itu dengan ringan, tapi kepala pelayan itu terpental menghantam dinding belakang.
Wanita paruh baya itu terus memuntah kan darah, dia tidak berhenti di sana. Dia melangkah ke depan dengan senyum Iblis nya.
"Kau ! Kau ! Kau berbohong ! Kau mengatakan kalau kau tidak memiliki kekuatan !" Ucap Kepala Pelayan itu dengan panik.
"Kenapa kalau aku berbohong ? Bukan kah itu hal yang biasa di dunia persilatan ? Hm ?" Tanya nya sambil berjongkok dan mengangkat dagu kepala pelayan itu.
"Katakan pada ku, siapa yang menyuruh mu untuk membunuh Long Tian ?" Tanya nya dengan suara pelan, hampir mirip seperti bisikan.
Tapi, mampu membuat yang mendengar merinding dan gemetar ketakutan.
"Tenang, jika kau tidak ingin mengatakan nya dengan segera maka aku tidak akan memaksa mu. Kita masih memiliki banyak waktu untuk bermain. Lagipula aku tidak terburu buru saat ini. " Ucap nya dengan seringaian.
"Aku harus mulai dari mana ?" Tanya nya dengan seringaian yang mencapai mata.