
Dia tidak langsung menyeberangi jurang, melainkan mengeluarkan daging sapi yang sudah di siapkan nya. Lalu mengeluarkan tumpukan kayu bakar.
Dia menggunakan korek api lalu menghidupkan api, setelah api sudah hidup, dia mengambil daging dan memotong nya dengan Bing Yue.
Bing Yue tampak mendengus tidak senang ketika melihat nya menggunakan pedang itu untuk memasak.
"Jangan menjadi terlalu pemarah atau tidak akan ada pria yang suka dengan mu, biar ku tebak. Kamu adalah Roh wanita bukan ?" Tanya nya dengan nada yang menggoda.
Dia mulai memanggang daging itu ketika sudah di bagi menjadi delapan bagian. Ketika di bakar dia menaburkan beberapa macam rempah rempah yang sudah dia siapkan.
Dia bahkan membawa panci dan berbagai macam hal lagi, dia lebih memilih untuk memulihkan kekuatan nya terlebih dahulu di banding kan terburu buru untuk pergi menyeberang.
Harum dari daging yang di bakar oleh nya terciuk kemana mana membuat perut nya yang memang sudah kosong kembali berbunyi, seolah olah tidak sabar lagi dengan makanan yang begitu menggoda.
Dia menepuk nepuk perut nya dengan pelan, seolah olah menenangkan cacing cacing yang memberontak.
"Apa kau mau makan juga ?" Tanya nya pada Bing Yue.
Pedang itu tampak melakukan gerakan ke kanan dan ke kiri, itu arti nya tidak mau.
"Kau tidak mau ? Sayang sekali. Padahal ini adalah masakan ku yang melegenda. Kamu tidak akan bisa menemukan makanan selezat ini selain dari ku. " Ucap nya dengan penuh kebanggaan.
Dia melangkah ke depan dan mengangkat daging daging nya. Lalu mulai memanggang jagung untuk makanan penutup.
Dia mengambil salah satu potongan daging dengan mata yang setengah terpejam.
Dia memakan nya meski pun masih panas, rasa nikmat mengalir ke dalam diri nya. Dia benar benar tidak bisa mendeskripsikan makanan nya dengan kata kata.
"Aku benar benar tidak bisa menemukan makanan yang lebih baik dari masakan ku. " Ucap nya dengan penuh rasa bangga diri.
"Apa kau benar benar tidak mau ?" Tanya nya sekali lagi pada Bing Yue.
Dan untuk sekali lagi pedang itu menggeleng, dia menghela nafas ringan dan menatap pada pedang itu dengan tatapan ingin tahu.
"Bing Yue, apa kah kamu tidak bisa bicara ?" Tanya nya.
Pedang itu sekali lagi melakukan gerakan gelengan kepala, dia menopang dagu nya sambil memasang wajah bingung.
"Qiu Yue bisa berbicara tapi kamu tidak bisa, bagai mana bisa seperti itu ? Qiu Yue adalah Roh senjata milik ku sebelum nya. " Ucap nya sambil menjelaskan.
Dia melihat Bing Yue terbang dan mulai mengukir sesuatu di batu yang berpasir. Dia mengamati dengan penasaran.
Ternyata, meski pun tidak bisa berbicara, Bing Yue tidak buta huruf. Bing Yue tampak menuliskan sesuatu di batu.
'Aku adalah Roh senjata murni yang di buat karena kebencian, dendam dan rasa putus asa. Sedangkan orang yang kamu sebutkan itu mungkin adalah jiwa manusia yang setengah hancur sehingga masuk ke dalam senjata untuk mempertahankan nyawa. 'Tulis Bing Yue.
Dia mengangguk paham, karena memang seperti yang di kata kan oleh Bing Yue. Qiu Yue adalah seorang manusia dulu nya, tapi baru sekarang menjadi Roh senjata.
Kondisi Roh milik Qiu Yue juga mengenaskan dengan Roh yang melemah dengan luka di sekujur tubuh.
Bing Yue terlihat menggeleng lagi dengan suara dengusan. Dia tertawa bahagia ketika melihat diri nya berhasil menjahili Bing Yue untuk kedua kali nya.
"Baik lah, baik lah. Kamu menang ! Kamu adalah pemenang nya, kita tidak sama. " Ucap nya sambil tertawa dan memakan makanan nya.
Dia merasa seperti ada yang menemani nya, meski pun Qiu Yue atau pun Lin Rong Rong sedang tertidur untuk melindungi nya.
Dia sekarang memiliki teman baru untuk di ajak berkeluh kesah meski pun Bing Yue tidak bisa berbicara seperti Qiu Yue atau pun Lin Rong Rong.
Dia memandang sekitar nya dengan tenang sebelum merasa kan getaran.
"Kau berhasil melakukan nya dengan baik ! Tapi ingat lah bahwa itu semua baru lah awal. Jurang Jiwa Kesepian adalah yang pusat dari permainan ini. " Ucap Binatang Ilahi Lapisan Surga itu.
"Griffin, sudah berapa lama kamu tinggal di sini ?" Tanya nya dengan penasaran.
Perlahan lahan, rasa takut nya pada Singa berkepala burung Rajawali itu memudar dan hanya menyisakan rasa penasaran.
"Kenapa kau menanyakan itu gadis kecil ?" Tanya Griffin itu dengan suara yang tidak bisa di jelaskan.
"Entahlah, hanya penasaran. Tidak perlu di jawab jika kau tidak senang. " Ucap nya dengan ringan sambil memejam kan mata.
Dia menyenderkan kepala nya sambil terus memasuk kan makanan ke dalam mulut nya.
"1 juta tahun. " Ucap Griffin itu.
"Waktu yang sangat lama, pasti bukan kenangan yang baik untuk berada di sini sendirian begitu lama. Kamu adalah Binatang Ilahi Lapisan Surga, kenapa kamu harus terkurung di sini dalam waktu yang begitu lama ?" Tanya nya.
"Untuk menunggu seseorang, aku di tugaskan oleh seseorang untuk menunggu seseorang. " Ucap Griffin itu dengan kata kata yang tidak jelas.
Dia tidak bertanya lebih lanjut soal siapa yang di tunggu oleh Griffin itu, seseorang yang bisa mengendalikan Griffin itu pasti bukan lah seseorang yang biasa.
Kekuatan nya pasti mampu membalik kan dunia atau bahkan setara dengan Dewa, dia memejamkan mata nya.
"Di sini begitu gelap, apa kah kamu tidak bosan ?" Tanya nya.
"Kenapa harus bosan ? Aku memiliki banyak mainan di sini yang bisa ku main kan. Sebaik nya khawatir kan diri mu sendiri karena jika kau tidak berhasil melewati Jurang Jiwa Kesepian maka jiwa mu akan hancur bersama dengan ratusan ribu orang sebelum diri mu. "
"Jangan kecewakan aku, aku memiliki harapan yang tinggi untuk mu. Karena tidak ada yang bisa melewati burung burung bodoh itu dalam waktu 10.000 tahun. " Ucap Griffin itu dengan dengusan dingin.
"Jadi kamu yang menjadi penyebab hilang nya orang orang ? Bukan para monster ?" Tanya nya dengan wajah terkejut.
"Tidak juga, tapi memang sebagian besar karena tempat ini bukan karena diri ku. Karena aku tidak memegang kendali penuh akan tempat ini, aku hanya menjaga dan menunggu serta melihat bakat yang layak. Selama 1 juta tahun ini , belum ada yang bisa melewati Jurang Jiwa Kesepian. " Ucap Griffin.
Mendengar ini membuat bulu kuduk nya berdiri sekaligus merasa sangat tertantang.
Bonus Like 24 k : 3 / 3