Penerus Dewi Kematian (Series 2)

Penerus Dewi Kematian (Series 2)
152. Ulang Tahun Berdarah II


Dia berdiri dengan wajah yang tak tersentuh di atas tembok pertahanan dan memandang siapa pun yang keluar dari Sekte Biru Es.


Dia bersumpah untuk membunuh siapa pun yang telah tidak setia dan meninggal kan Sekte Biru Es di saat kesulitan.


"Aku tidak akan pergi meski pun ini berakhir kekalahan ! Sekte Biru Es telah membantu ku dan aku harus membayar itu ! " Teriak salah satu murid wanita dengan pedang besar.


"Kau benar, aku tidak akan menjadi pengecut yang takut ! Sekte sudah membawa ku dari seonggok sampah menjadi manusia !" Teriak pria lain dengan wajah sangar.


Dia diam diam terharu dengan perjuangan ini, ada beberapa yang memilih bertahan. Tapi, dari 3.000 murid Sekte Biru Es, hanya menyisakan 915 murid Sekte.


Dia memandang ke belakang hanya untuk melihat gunung tempat ayah nya berlindung.


"Jadi ini pilihan kalian ?" Tanya Jin Xue dengan sinis.


"Fenghuang, paman akan melawan tiga orang ini. " Ucap Xue Yun dengan wajah yang mengeras.


"Ketua Sekte, biarkan aku membantu mu. " Ucap Ouyang Si Niang yang meloncat ke atas menara.


Dua orang berbaju hitam lain nya datang dan berdiri di sebelah Xue Yun.


"Kalau kalian berani, ayo bertarung !" Ucap Xue Yun.


Pria itu melompat ke tanah kosong di bagian utara, menyisakan tiga ribu pasukan yang berdiri di depan nya.


Dia berdiri sambil memegang pedang nya yang besar.


"Kami Murid Sekte Biru Es tidak pernah takut mati, kami hanya takut tidak bisa membayar hutang budi pada Sekte !" Teriak pada murid di bawah.


Tangan nya mengepal, asap hitam keluar dari tubuh nya dan mata nya menggelap. Dia hampir tidak bisa mengendalikan diri nya sendiri.


"Serang !" Dia berkata dengan ringan tapi tegas, pintu di buka dan tiga ribu pasukan menyerbu masuk.


Dia meloncat ke bawah dari atas tembok dan menebas dengan brutal dia berada di tengah tengah kerumunan.


Dia memegang pedang nya dengan kedua tangan nya.


Cresshh


Dengan satu tebasan memutar nya, orang orang di sekitar nya pasti mati dengan perut yang terbelah. Darah terpercik kemana mana, wajah nya di penuhi dengan darah.


Tidak sampai situ, dia menusuk kan pedang ke dada lawan nya tanpa pandang bulu. Lalu mencabut nya dan menusuk kan nya lagi.


Sampai akhir nya pedang nya tertanam terlalu dalam di dalam tubuh seseorang, orang di belakang nya mengambil kesempatan.


Shiutt


Sebuah panah menembus bahu kanan nya , dia terhenyak ke depan sebelum mencabut panah itu dengan cepat seolah olah itu tidak menyakit kan.


Dia melempar panah itu ke belakang, tepat ke orang yang memanah nya dengan kekuatan yang sangat kuat.


Dia mencabut tusuk rambut nya dan menusuk orang yang sedang membelakangi nya, orang itu langsung memuntah kan darah dan tumbang.


Dia beralih ke kiri di mana ada orang yang berniat untuk menyerang nya, dia melempar tusuk rambut ibu nya.


Tusuk rambut itu dengan tepat menancap di dahi orang itu, orang itu langsung jatuh ke tanah tanpa kata lain.


Tusuk rambut itu berlumuran darah, dia mencabut tusuk rambut itu dan mengambil pedang nya dengan kasar.


Dia menusuk kan tusuk rambut nya kembali pada rambut nya, dan membiarkan darah mengalir dari rambut nya.


Seluruh tubuh nya berlumuran darah, dia menatap sekitar nya dengan penuh kebencian. Lalu dia melihat ratusan murid Sekte milik nya yang di bunuh dengan kejam.


Ini membangkitkan kemarahan nya.


"Kalian akan membayar mahal karena telah melakukan ini !" Ucap nya dengan suara serak, ini sangat berbeda dengan suara nya yang biasa.


Nada nya di penuhi dengan kebencian, dengan satu tangan yang bertumpu di pedang. Dia menatap sekeliling nya dengan bengis.


Wajah nya di penuhi dengan darah segar, ratusan orang tumbang di tangan nya, pedang nya terus mengalirkan darah segar tanpa henti.


Dia tidak berhenti sampai di sana, dia terus menebas dengan mata yang sudah memerah karena percikan darah.


Dia menatap ke belakang dengan penuh kengerian saat melihat puluhan Burung Gagak Emas yang terbang di atas rumah ayah nya.


"Ayah !" Teriak nya dengan suara tertahan karena darah yang mengalir dari bibir nya.


Sebuah pedang menembus perut nya, dia mengepalkan tangan nya dan menarik pedang itu dari perut nya dengan sekuat tenaga.


"Arghhh !" Dia meraung dengan marah dan mematahkan pedang itu menjadi tiga bagian.


Dia melanjut kan serangan nya menjadi lebih ganas , dia tidak memperdulikan luka terbuka di bagian bahu dan perut nya.


Pedang nya sudah menebas tanpa arah, sudah ribuan orang yang sudah dia bunuh. Murid Sekte Es Biru menjadi semakin menipis, dari menjadi 200 sampai menjadi puluhan orang.


Dia merasa tangan nya bercahaya, dan benar saja ada cahaya merah yang redup di lengan nya.


"Ayah !" Dia terus berteriak dengan histeris.


Dia akan berlari ke dalam tapi ratusan orang menghalangi nya, dia tidak bisa masuk ke dalam. Jika orang orang ini adalah prajurit biasa maka akan mudah untuk menghadapi nya.


Masalah nya, mereka semua memiliki kekuatan yang hanya berada di bawah nya beberapa tingkat. Dengan kemampuan nya yang terbatas, bagaimana mungkin dia tidak dikalahkan ?


Yang membuat nya bertahan sampai sekarang adalah tekad nya yang kuat. Tanda merah di lengan nya adalah tanda kalau formasi yang dia buat menjadi lebih lemah dan lemah di setiap saat nya.


Ini membuat nya menjadi semakin membabi buta, dia tidak peduli dengan kaki nya yang di penuhi oleh luka gores atau wajah nya yang di penuhi dengan darah.


Pahhh


Dia di cambuk dari belakang, pedang nya terlempar dan dia jatuh dengan posisi satu kaki berlutut. Mulut nya terus memuntahkan darah.


Cresshh


Sebuah pedang menusuk bahu kiri nya yang belum terluka, dia mengerut kan dahi ketika rasa sakit nya begitu menyengat.


Dia ingin berdiri tapi kaki nya tidak memiliki kekuatan lebih, dia menarik tusuk rambut nya dan menusuk kaki salah satu orang di dekat nya.


Qi nya sudah hampir habis. Bayangkan, melawan ribuan orang yang memiliki tingkat kultivasi hampir setara dengan nya.


Dia memaku kaki orang itu ke tanah dengan tusuk rambut nya tanpa peduli pedang yang masih menancap di bahu kiri nya.


Dukk


Dada nya di tendang yang membuat nya terpelanting menghantam batang pohon sambil terbatuk darah.


Pedang yang semula nya hanya menembus setengah menjadi sepenuh nya menembus diri nya, dia mencabut pedang itu dan dengan terseok Seok mengambil tusuk rambut itu.


Dia menatap orang orang di depan nya dengan penuh kebencian, dia berusaha berdiri mengandalkan pedang yang baru saja di lepaskan oleh nya.


Tubuh nya di penuhi dengan luka, telapak tangan nya terluka parah karena serangan orang orang. Lengan nya di penuhi dengan luka gores, dia mengenggam pedang yang asing itu dengan tangan yang gemetar.


"Kalian yang memaksa ku untuk melakukan ini !" Ucap nya setengah meraung, dia berjalan ke depan dengan tertatih tatih.


Pedang nya menebas leher beberapa orang dengan kekuatan yang tersisa. Dia melempar beberapa belati dari cincin ruang nya.


Dan semua nya tepat menusuk di tengah dahi mereka, orang orang jatuh bahkan sebelum mereka sempat berkedip.


Dia berjalan dengan kesulitan karena kaki nya yang sudah tidak berbentuk lagi. Semua nya di penuhi oleh darah.


Bonus Like 22 k : 1 / 3


Note : Jangan lupa like dan comment!