Penerus Dewi Kematian (Series 2)

Penerus Dewi Kematian (Series 2)
65. "Gadis itu milik ku!"


"Jadi, karena kalian sudah tahu identitas ku yang sebenar nya maka serah kan pedang Es Jiwa yang ada di tangan kalian atau aku akan menghancurkan tempat ini menjadi abu !" Kata Fu Yin Kai dengan angkuh.


"Nona Fu, aku akan memberi kan mu pedang Es Jiwa yang ada di tangan ku ini. " Ucap nya dengan tiba tiba yang membuat Yuanzheng Yuwen memandang nya dengan terkejut.


Tatapan pemuda itu tampak mengisyaratkan sesuatu.


'Pikir kan baik baik !' Itu lah pesan yang tergambar jelas dari tatapan mata pemuda itu, dia hanya tersenyum tipis.


Fu Yin Kai tertawa dengan bangga dan mengulur kan tangan nya.


"Tapi dengan satu syarat. " Ucap nya dengan senyum jahat.


"Apa itu ?!" Tanya Fu Yin Kai dengan nada tinggi karena merasa telah di permainkan.


"Aku tidak akan bertele tele, aku ingin nona Fu bersujud di hadapan ku sebanyak 100 kali dan memanggil ku sebagai leluhur mu !" Ucap nya sambil menahan tawa.


Jelas, dia melakukan ini hanya untuk hiburan. Wajah Fu Yin Kai berubah menjadi sangat muram dan bersiap untuk bertarung.


"Kenapa ? Nona keberatan ? Lagi pula, aku tidak memaksa nona Fu untuk mengambil pedang ini dari tangan ku. Jika Nona Fu tidak menginginkan nya maka aku hanya bisa menerima nya dengan lapang dada. " Ucap nya pura pura sedih.


Dia diam diam melukai jari nya sendiri dan meneteskan darah di Pedang Es Jiwa sebagai tanda kepemilikan milik nya.


"Tidak !" Fu Yin Kai tampak mengerti apa yang akan di lakukan nya dan berniat untuk menghalangi nya.


Tapi sudah terlambat, darah nya sudah bergabung dengan Pedang Es Jiwa. Pedang itu bersinar terang sebelum kembali menjadi normal.


"Kau ! " Fu Yin Kai menatap nya dengan ganas.


"Aku akan membunuh mu ! Dengan begitu tuan dari pedang itu akan menghilang !" Kata Fu Yin Kai dengan marah.


Dia hanya diam tidak membalas, tapi mempersiapkan diri untuk menerima serangan yang akan di layangkan oleh Fu Yin Kai.


Tepat saat di tangan Fu Yin Kai ada sebuah bola Es besar yang bersiap untuk menelan nya, teriakan dari seorang wanita terdengar oleh nya.


"Gadis itu milik ku !" Dia menatap seorang wanita berumur 20an tahun yang menggunakan jubah Biru yang memancarkan aura mulia di sekujur tubuh.


"Tetua Ouyang !" Kata Fu Yin Kai dan tetua di belakang nya dengan terkejut.


Fu Yin Kai segera menunduk dalam dalam dengan ketakutan.


Wanita yang di panggil sebagai Tetua Ouyang hanya diam dan tidak menanggapi melainkan langsung berjalan ke arah nya.


Sekarang dia tahu kalau ternyata pemilik aura yang sangat kuat yang berdiri di pintu adalah milik Tetua Ouyang ini.


Dia tidak berani menurunkan pedang nya karena dia masih tidak tahu apa tujuan tetua Ouyang ini datang kemari.


"Murid Fu, gadis dan pemuda ini adalah milik ku. Aku harap kau memberi ku wajah. " Kata Tetua Ouyang dengan angkuh.


"Tentu saja Tetua Ouyang, aku dan Tetua Liu akan pergi terlebih dahulu. Aku tidak akan menganggu mu lagi. " Kata Fu Yin Kai dengan tangan yang terkepal sebelum terbang dan menghilang.


"Aku ingin membawa kalian berdua menjadi murid Luar Sekte Biru Es, bagai mana menurut kalian ?" Tanya Tetua Ouyang.


"Kau tidak perlu takut aku akan mengambil pedang mu karena itu hanya senjata Kelas 5 puncak sedang kan senjata untuk tetua seperti ku adalah senjata kelas 6 puncak atau senjata kelas 7 awal. " Kata Tetua Ouyang acuh tak acuh.


"Baik lah aku akan mengikuti mu. " Ucap nya tiba tiba yang membuat banyak orang terkejut.


"Maaf, tapi aku tidak bisa mengikuti mu. Masih ada hal yang harus ku lakukan. " Kata Yuanzheng Yuwen dengan wajah meminta maaf.


"Tidak masalah, karena tujuan ku sejak awal adalah gadis ini. Dia memiliki tubuh Yin yang langka, sangat baik untuk Paviliun Teratai milik ku !" Kata Tetua Ouyang.


Yuanzheng Yuwen tampak sedikit terkejut karena dia tidak menyangka akan bertemu salah satu ketua Fraksi dalam Sekte Biru Es.


Yuanzheng Yuwen tampak menunduk dan memberi hormat sebelum berjalan keluar.


"Persiapkan diri mu, kita akan pergi besok pagi. " Kata Tetua Ouyang.


Dia mengangguk dan mengurus segala kekacauan yang ada dan menjadikan ayah angkat nya, Qin Liang sebagai Kaisar Zhu saat ini.


"Ayah, aku seperti nya tidak bisa datang dalam acara penobatan mu sebagai Kaisar nanti." Ucap nya dengan sedikit sedih.


"Anak bodoh, itu bukan lah hal yang penting. Diri mu bisa menarik seorang tetua Sekte Biru Es adalah pencapaian yang luar biasa. " Kata Qin Liang sambil memeluk nya.


"Jiejie, aku akan sangat merindukan mu nanti. " Ucap nya.


"Tentu saja, jiejie juga akan sangat merindukan mu. Jaga diri mu baik baik, aku akan menunggu mu di sini. " Kata Qin Yue sambil memeluk nya dengan erat.


Dia masuk ke dalam kamar nya dan mengemasi seluruh barang barang nya, dia meracik beberapa racun untuk berjaga jaga.


Tubuh nya sedikit gemetar ketika dia memikir kan tidak bisa tidur di kamar ini lagi selama beberapa tahun atau bahkan puluhan tahun.


Dia mengeluarkan kecapi yang di berikan oleh Xing Feng pada nya di hari ulang tahun nya yang ke empat belas. Kecapi ini tampak di hiasi berbagai ukiran indah.


Dia mulai memetik kecapi itu di bawah cahaya bulan yang terang, alunan nada indah tampak terdengar bahkan membuat burung burung menangis dan serigala mengeluarkan lolongan yang menyedihkan.


Beberapa orang di sekitar kamar nya yang mendengar ini teringat dengan hal sedih milik mereka dan menangis sejadi jadi nya.


Sedang kan pemain atau dalang di balik kisah menyedihkan ini sendiri tidak menangis ataupun meraung, hanya duduk tenang dengan tatapan kosong dan tangan yang terus memetik senar kecapi milik nya.


Seolah olah lagu itu di buat oleh lubuk hati nya yang paling dalam yang bahkan tidak perlu dia lihat lagi senar nada nya.


Seolah olah dia memainkan lagu yang sudah ia hafal selama puluhan tahun, padahal dia sendiri tidak tahu lagu apa ini.


Pikiran nya di bawa untuk kembali ke masa di mana dia kesulitan, di mana berbagai kesulitan secara beruntung menimpa nya tapi dia masih tangguh.


Tapi, sejak berada di sini dia menjadi lebih mudah menangis. Entah karena apa, dia juga tidak tahu. Mungkin karena hidup di sini bagai kan dunia mimpi yang dia selalu damba kan atau karena bawaan lembut dari pemilik tubuh sebelum nya.


Tidak ada yang tahu apa penyebab sebenar nya, tak terkecuali diri nya sendiri. Duduk dengan tatapan kosong sambil memainkan kecapi di bawah sinar bulan adalah pilihan terbaik yang pernah di buat oleh nya.


Bonus like 4 k : 2 / 3