Penerus Dewi Kematian (Series 2)

Penerus Dewi Kematian (Series 2)
91. Tetua Zhong


Mereka terbang ke puncak gunung yang dingin dan sepi, aura menyeramkan menyelimuti tempat ini tapi Lin Cong Zi tampak biasa saja.


"Jangan takut, ini hanya karena salah satu kebiasaan guru ku. Dia tidak suka banyak orang jadi dia membuat ilusi aura ini agar orang orang tidak akan mendekati tempat ini kecuali sedang ada urusan penting. " Kta Lin Cong Zi menjelaskan.


Dia mengangguk paham, memang sangat merepotkan kalau ada beberapa orang yang datang untuk mencari perhatian.


Jadi, tidak heran kalau Tetua Zhong memasang sesuatu semacam ini. Dia berjalan masuk, mengikuti langkah Lin Cong Zi.


Tok Tok


Lin Cong Zi mengetuk pelan pintu rumah kayu yang sangat sederhana.


"Masuk." Jawab suara serak dari dalam.


"Guru, murid ini memberi hormat pada guru dan murid tidak sendirian kali ini, melainkan bersama dengan Xue Fenghuang. " Kata Lin Cong Zi berlutut di balik punggung pria tua yang kurus sekali dan hanya menyisakan tulang berbalut kulit di sertai dengan rambut hitam panjang yang tidak terawat.


"Salam kepada Tetua Zhong, aku adalah Xue Fenghuang dan mendengar kalau Tetua mengundang ku kesini, sebuah kehormatan besar untuk aku berada di sini. " Ucap nya ikut berlutut di sebelah Lin Cong Zi.


"Xue Fenghuang ya ? Aku sudah mendengar banyak hal tentang mu, kau benar benar berhasil menarik perhatian ku. " Kata Tetua Zhong sebelum berbalik.


Dia tetap tenang meski pun melihat wajah Tetua Zhong yang mengerikan, kantung mata yang besar, bibir kering dan hidung bengkok.


Tidak heran kalau kata Lin Cong Zi murid murid lain akan berteriak dan menangis ketika melihat wajah Tetua Zhong.


"Senang karena bisa menarik perhatian Tetua Zhong. " Ucap nya sambil tersenyum tipis seolah olah tidak terganggu dengan wajah pria tua itu.


"Kau tidak sama seperti orang lain, kau memiliki ketenangan yang luar biasa. Aku sudah mendengar kalau kau menolak untuk memasuki Fraksi Racun karena kau ingin balas budi pada Ouyang Si Niang. Aku tidak akan mempermasalahkan itu, hanya saja aku yang sudah tua ini benar benar tidak bisa melihat bakat mu dalam bidang racun terbengkalai secara sia sia hanya karena kau berada di Fraksi yang salah. Oleh karena itu, aku ingin kau datang kemari dan bertukar pikiran dengan mu. Kalian berdua berdiri lah. " Kata Tetua Zhong.


"Terima kasih karena telah memberi ku kesempatan untuk bertukar pikiran dengan Tetua. " Ucap nya menangkup kan tangan nya di depan dada.


Mereka pun mendiskusikan berbagai macam penemuan racun dalam beberapa jam, 3 orang itu sudah berhasil menemukan satu racun yang sangat mematikan.


"Aku rasa ini adalah hal yang baik untuk melawan seseorang yang lebih kuat, ini lebih baik menjadi senjata rahasia dan dengan begitu kita mungkin akan memenangkan pertandingan kali ini. " Ucap nya dengan semangat tanpa sadar kalau dia sedang di bicarakan oleh orang lain.


Di sisi lain, tempat yang sangat gelap dan hanya menggunakan obor sebagai sumber cahaya nya. Sedang duduk dua orang pria, satu muda dan satu lagi paruh baya.


"Bagaimana dengan perkembangan nya ?" Tanya pria paruh baya itu.


"Dia ? Baik. Kekuatan nya meningkat dengan sangat cepat, hanya saja dia memiliki sifat yang tanpa ampun seperti yang di ramal kan oleh 'orang itu'" Ucap pria muda itu.


"Huft, aku harus memberi tahu nya bagai mana pun nanti. Aku harap dia tidak membenci ku seperti An Liu. " Kata pria paruh baya itu sambil menghela nafas.


"Kakak akan memberi tahu nya kebenaran ?" Tanya pria muda itu terkejut.


"Bagai mana pun dia harus tahu kalau sumber penderitaan nya selama ini berasal dari keraguan ku pada nya, aku tidak akan menolak jika dia akan pergi dan meninggal kan ku. Hanya saja, lega rasa nya jika bisa mengatakan apa yang sudah terpendam selama belasan tahun. " Kata pria paruh baya itu menghela nafas.


Dia kehilangan istri nya dan dua anak nya. Tidak ada yang tahu apa maksud dari kata kata pria paruh baya itu kecuali adik nya.


Setelah rahasia ini terungkap maka itu akan menjadi hari yang paling buruk untuk Xue Fenghuang, dimana darah akan mengalir dan mimpi buruk nya menjadi kenyataan.


Kata kata dari wanita di balik badai salju akan menjadi kenyataan, Xue Fenghuang akan kehilangan diri nya dan menjadi alat pembunuh.


Itu adalah hari yang mengerikan tapi juga adalah hari yang paling di tunggu dan tidak bisa di hindari.


Xue Fenghuang yang tidak mengetahui semua itu terus melanjut kan acara pembuatan racun nya bersama dua orang lain nya.


Entah kenapa dia merasa perasaan nya berubah menjadi tidak enak, seolah olah hati nya hancur dan sesuatu yang menyesak kan menghampiri nya.


Dia merasa tidak nyaman dan melihat kalau di luar hari sudah sore.


"Tetua Zhong, Saudari Lin, hari sudah sore. Aku harus berlatih kultivasi, aku akan datang kemari lagi besok atau lusa. "Ucap nya berdiri dan memberi hormat sebelum terbang menjauh.


Dia sampai ke halaman kediaman nya tepat waktu sebelum terduduk di rumput rumput sambil mengcengkram dada nya yang terasa sesak.


Dia tidak bisa bernafas, seolah olah oksigen di dunia ini menghilang semua. Dia pernah mengalami ini ketika dia akan meninggal sebelum nya.


Sehari sebelum dia di tembak, dia menghancurkan sekitar nya karena tidak bisa bernafas. Dia merasa seluruh tubuh nya hampir hancur, tangan nya masih mengecengkram dada nya dengan kuat.


Di saat saat yang menyakit kan seperti ini, air mata nya tidak bisa menetes sama sekali. Dia tidak memiliki pelampiasan untuk merasa kan rasa sakit yang sama.


Pemandangan nya kembali ke tempat yang di penuhi dengan tumpulan salju dan badai salju.


"Ini baru permulaan, kau akan merasa kalau ini adalah kehidupan yang paling buruk yang membuat mu akan menyesal karena telah membunuh banyak orang. " Kata suara wanita itu.


"Kehodupan mu akan berubah menjadi sangat buruk dan mimpi buruk akan menjadi kenyataan, mahkluk neraka merangkak keluar untuk menarik mu ikut bersama dengan mereka. " Kata suara di balik badai salju itu.


"Aku sekarang mengerti apa maksud mu, kau pasti ingin memberi ku hukuman karena aku banyak membunuh manusia bukan ? Maka aku akan tunjuk kan pada mu, apa itu arti nya membunuh. " Ucap nya dengan nafas yang terengah engah.


"Aku menunggu saat saat itu, kau dapat melakukan nya jika kau layak. " Ucap wanita di balik salju dengan acuh tak acuh.


Dia mengepal kan tangan dengan sangat erat bahkan membuat tangan nya berdarah. Darah nya membasahi salju yang putih , bersih dan indah.


Darah hitam nya tampak menjadi noda besar di salju putih itu.


bonus like 8 k : 3 / 3


note : itu chapter 87 memiliki masalah yang sedang author diskusi kan dengan pihak noveltoon, semoga saja hal ini bisa di perbaiki dengan cepat. Terima kasih.