
" Paman, apakah kamu berpikir bahwa aku harus menaruh harapanku pada murid murid Sekte ini ?" Tanya dengan tawa sinis.
"Apa kah kamu yakin dia akan bersama kita ketika sedang kesulitan ? Orang orang seperti itu adalah orang yang takut dengan kematian. Aku takut, ketika kita memberi tahu hal ini pada mereka. Mereka akan lari terbirit birit keluar dari Sekte ini. " Ucap nya dengan sinis.
"Semua orang memiliki kepentingan diri sendiri, kita tidak tahu apa yang ada di pikiran mereka. Aku tidak tahu apa kah si ini akan pergi atau tidak, lalu si itu akan pergi atau tidak, kita tidak tahu apa yang ada di pikiran mereka. Aku bahkan takut kalau kamu akan pergi juga meninggal kan tempat ini. " Lirih nya.
Mata nya hampir saja meneteskan airmata, dia akhir nya bisa mengeluarkan semua hal yang sudah dia simpan.
Xue Yun maju dan memeluk diri nya, dia tidak melakukan apa pun ketika masuk ke dalam pelukan yang hangat dan nyaman.
"Selama ini, yang aku ketahui adalah aku tidak bisa mengandalkan orang lain. Yang bisa ku andalkan hanya lah diri ku sendiri. " Ucap nya.
"Aku hanya bisa mempercayai diri ku sendiri. " Gumam nya sebelum memejam kan mata.
Dia sudah menahan ini semua untuk waktu yang lama dan melepaskan nya membuat nya merasa lega.
"Selama ini, hanya aku yang bisa ku andal kan. Aku tidak bisa mengandalkan orang lain, tidak peduli bagaimana aku memohon pada mereka. " Gumam nya.
"Aku dulu adalah orang yang naif dan bodoh, aku pikir dengan memohon sesuatu dengan seseorang maka orang itu akan memberi apa yang ku ingin kan. Semakin aku bertumbuh dewasa, aku sadar kalau hal tersebut hanya lah hal yang sia sia. " Lanjut nya dengan nada yang bergetar.
Dia merasa kan tepukan ringan di punggung nya.
"Kamu telah melewati semua nya, kakak bilang untuk terus menjaga mu. Kamu tidak perlu takut aku akan pergi, karena aku tidak akan pergi kecuali kamu yang meninggalkan ku. " Ucap Xue Yun dengan suara serak.
Dia melepas kan pelukan itu, takut kalau dia terlalu lama dalam posisi itu maka dia akan terlena. Dia mengangkat celana putih nya yang sudah di basahi oleh darah.
Di lipat nya sampai sebatas lutut dan dengan kekuatan nya, luka itu tertutup dan sembuh sepenuh nya.
Dia mengambil dua pil merah darah dan menelan nya, lalu meminum teh dingin yang ada di cangkir nya.
"Teh itu sudah dingin, kenapa kamu tidak menghangat kan nya terlebih dahulu ?" Tanya Xue Yun dengan dahi yang mengerut.
"Aku malas untuk melakukan nya, lagi pula Teh dingin bukan lah hal yang buruk. " Ucap nya tanpa menoleh.
Dia menyembuh kan luka nya di kaki yang sebelah nya, memang kalau menyembuhkan menggunakan Qi maka akan memakan sangat banyak Qi.
Jadi kebanyakan orang orang akan memilih untuk menggunakan bubuk obat, sama seperti saat sedang memperbaiki bangunan.
Dia merasa kan kalau Xue Yun berjalan ke samping nya dan mengambil teko teh sebelum berjalan ke halaman belakang rumah nya untuk memanaskan teh itu.
Dia tersenyum tipis dan tidak mengatakan apa pun, seolah olah dia tidak menyadari pergerakan yang di buat oleh Xue Yun.
Keesokan hari nya
Dia saat ini sedang berada di dalam ruangan Batu yang di penuhi oleh bau obat obatan yang sangat tebal.
"Ayah, apa kah kamu ingin berjalan jalan setelah ini ?" Tanya nya dengan riang.
"Aku sudah menahan mu terlalu lama di sini, kamu menghabis kan waktu mu hanya untuk merawat ku. " Ucap Xue Tian Long sambil tersenyum sedih.
"Ayah, jangan khawatir, tidak masalah untuk ku menjaga ayah. Jangan membuat ku merasa selama dua kehidupan, hidup ku hanya sia sia dan kosong. " Ucap nya dengan sendu.
"Kamu sudah menanggung banyak hal berat, ini adalah kelalaian ku. " Ucap Xue Tian Long sebelum terbatuk batuk.
"Ayah, kamu tenang saja. Jangan menyalah kan diri sendiri. " Ucap nya sambil menepuk punggung ayah nya dengan pelan pelan.
Berharap batuk ayah nya mereda, tak berselang lama batuk ayah nya akhir nya terhenti. Dia memberikan air putih pada ayah nya.
"Fenghuang, ibu mu dulu sangat senang dengan tusuk rambut yang indah. Apa kah kamu tahu apa bentuk yang sangat di sukai oleh nya ?" Tanya Ayah nya.
"Bunga Peony ? Bunga Begonia ? Bunga Jin Zhan Hua ?" Tanya nya dengan bingung, dia menebak semua nama bunga karena sebelum nya ayah nya pernah bilang kalau ibu nya menyukai bunga.
"Salah, dia tidak menyukai tusuk rambut berbentuk bunga melainkan sebuah Phoenix Es. " Ucap ayah nya sambil mengeluarkan sebuah tusuk rambut perak.
Tusuk rambut itu memiliki bentuk Phoenix dengan bulu buntut yang panjang dan anggun, warna biru yang mencolok di sertai dengan ujung yang sangat lancip.
"Ini dulu adalah senjata kesayangan ibu mu, dia menyukai keindahan dan tidak suka dengan pedang. Berbanding terbalik dengan mu yang tidak memperdulikan penampilan. Dia selalu memperhatikan penampilan nya, sampai sampai menempa senjata berdarah ini. " Ucap Xue Tian Long sambil menyerah kan tusuk rambut itu.
Dia mengambil tusuk rambut itu dan melihat ada beberapa bekas darah yang mengering, dia membersihkan itu dan tusuk rambut itu tampak sempurna dan tanpa cela.
"Mengapa ini di sebut senjata berdarah adalah karena dia membentuk ini dengan ambisi dan darah nya. " Ucap Xue Tian Long sambil menghela nafas.
"Apa nama senjata ini ?" Tanya nya dengan penasaran.
"Nama nya sama seperti nama mu dan nama saudara mu. Dia begitu menyukai Phoenix Salju sampai sampai memberikan nama kedua putri nya dengan nama itu. " Ucap Xue Tian Long.
"Xue Fenghuang. " Gumam nya sambil menelusuri Tusuk Rambut yang memiliki panjang sekitar 6 inci itu.
( 6 inci : sekitar 15 cm)
"Kalau kamu mau maka simpan lah, anggap saja itu kenang kenangan dari ibu mu. " Ucap Xue Tian Long.
Dia tidak menolak , dia melepaskan ikatan rambut nya yang di buat nya dengan sebuah tusuk rambut sederhana.
Lalu kembali menggulung nya dan menyelipkan tusuk rambut ibu nya pada rambut nya.
"Kamu sangat mirip dengan ibu mu ketika menggunakan ini, kecantikan mu benar benar menurun dari ibu mu. Baik dari matamu, hidung mu maupun bibir mu. " Ucap Xue Tian Long dengan kesedihan yang mendalam.
Bonus Like 21 k : 3 / 3