
Rino memang pengawal Emir dan Arimbi ingat ketika Emir menghukumnya dengan menulis refleksi diri sebanyak sepuluh ribu kata. Dia jahat sekali pada istri cantiknya ini, gumam Arimbi pada dirinya sendiri. Memangnya kau harus menulis apa saja ya?
“Makan dirumahku saja nanti ya Ar. Jangan pulang cepat kan kita sudah lama tidak bertemu, banyak yang harus kita bicarakan.”
“Aduh maaf ya Joan, kita tidak bisa hari ini lama. Masih ada banyak waktu lain kali.”
“Apa kamu punya urusan mendadak?”
“Ya benar. Aku harus segera pulang setelah mengantarmu pulang.” jawab Arimbi. Bagaimanapun dia harus segera menyelesaikan hukuman menulisnya malam ini atau suami tampannya itu akan menghukumnya lebih berat lagi.
“Ya sudah tidak apa-apa. Besok ulang tahunnya Zivanna, apa kamu mau pergi bersama dengan Amanda itu? Sepertinya mereka itu bersahabat kan?”
Joana juga tidak begitu menyukai dan tidak mempercaya Zivana sama seperti sikapnya pada Reza. Terkadang Joana masih bertemu Amanda ketika dia masih satu-satunya putri Keluarga Rafaldi. Amanda selalu dingin pada Joana dan selalu mengabaikannya mungkin karena Joana tidak bersikap seperti anak orang kaya pada umumnya dan kerjaan Joana hanyalah tergila-gila pada pria tampan.
“Hmmm…..” jawab Arimbi mengangguk.
“Kamu mau memberi hadiah apa untuknya?”
Hadiahnya nanti akan dipajang ditempat yang bisa dilihat oleh semua orang di kediaman Keluarag Lavani dan Zivanna adalah putri kesayangan keluarga itu. Hadiahnya tidak boleh sembarangan dan murah. “Aku akan memberinya kosmetik yang belum pernah kubuka sebelumnya.”
“Itu saja?” tanya Joana terkejut.
“Memangnya apalagi? Hadiah ya hadiah! Jika satu hadiah tidak cukup aku akan kasih dua saja.”
Joana tersenyum dan memberikan dua jempol pada Arimbi, “Kamu pemberani sekali! Aku yakin Elisha pun tidak akan melakukan hal-hal seperti itu.”
Elisha adiknya Emir jauh lebih populer dari Zivanna dan jauh lebih kaya. Arimbi tidak akan memberikan satu set kosmetik saja pada Zivanna sebagai hadiah ulang tahunnya. Pasti semua orang memberikan hadiah yang pantas untuk Zivanna.
Memanjakan Zivanna itu sama dengan membuat Keluarga Lavani bahagia. Hal-hal seperti itu bagus dalam berbisnis. “Toh dia tidak pernah menyukaiku karena baginya aku hanyalah gadis desa. Aku yakin dia akan mempermalukanku nanti bahkan jika aku memberinya bintang sebagai hadiah. Lalu kenapa aku harus susah-susah memberi kado bagus untuk orang seperti dia?”
“Oh iya set kosmetik itu bukan barang murah kok. Aku dapat dari ibuku.” Arimbi menambahkan.
“Baiklah kalau begitu aku juga tidak akan susah-susah mencarikan hadiah untuknya. Zivanna tidak akan repot menggangguku yang penting aku datang tidak dengan tangan kosong.” kata Joana setelah dia memikirkan kata-kata Arimbi tadi. Zivanna mungkin tidak akan melihat hadiah yang diberikan oleh Arimbi dan Joana, mungkin saja akan dibuangnya.
Rino melihat kedua wanita itu dari mobil, mereka mendekat sambil terus berbincang-bincang. Arimbi membawa bawaan berat dan saat Rino melihat itu dia segera keluar dari mobil dan menghampirinya. Joana langsung melihat wajah tampan Rino dari dekat, dia menyadari betapa tidak asingnya wajah itu tapi dia tidak ingat pernah melihatnya dimana.
“Halo tampan.” sapa Joana tersenyum.
Wajah pria itu sedatar papan ketika dia mengabaikan sapaan Joana dan mengambil bawaan dari tangan Arimbi. Dia takut kalau nanti Emir sampai tahu istrinya menenteng bawaan berat seperti itu maka Rino akan jadi bulan-bulanan kemarahannya.
“Apa kamu memotretnya?” tanya Arimbi dengan santai.
“Tentu saja!” jawab Joana tersenyum senang.
Joana lalu mengeluarkan ponselnya dan setelah menemukan sudut yang pas, dia mengambil foto Rino yang terlihat keren sekali. Rino langsung memelototinya namun karena Joana adalah sahabat Arimbi, dia menahan amarahnya dan menghentikan niatnya untuk membanting ponsel Joana.
“Halo tampan. Siapa namamu?” Joana bertanya langsung pada Rino sambil tersenyum sebelum dia masuk ke dalam mobil. Tapi Rino mengacuhkannya dan tidak mengatakan apapun pada Joana. Sedangkan Arimbi hanya bisa tersenyum saja saat melihat kalau Joana meliriknya. “Aku tidak akan membantumu kali ini.” ujarnya.
Arimbi masih belum yakin untuk memberitahu Joana tentang hubungannya dengan Emir. Sedangkan Joana tersenyum dan berhenti bertanya lagipula dia sendiri tidak tahu nama model-model tampan dikoleksi fotonya itu. Tak lama kemudian mobil melaju menuju kediaman Keluarga Ganesha.
Sementara diwaktu yang bersamaan, Harry dan Reza serta sekretarisnya telah menunggu di ruang VIP Serkan Global Group. Namun seandainya Emir kembali pun dia pasti akan menolak bertemu dengan mereka yang tidak membuat janji untuk bertemu dengan Emir.
“Ayah, Tuan Emir tidak akan mau bertemu dengan kita tanpa membuat janji dulu.” ujar Reza. Dia mulai tidak sabar menunggu sekian lama untuk tujuan yang tidak jelas seperti ini.
Dia hanya mau pulang dan bertanya pada ibunya kenapa dia merusak rencana besarnya yang telah dia rancang bersama Amanda.
“Kita harus menunggu. Apa kamu tidak tahu apa yang akan terjadi pada perusahaan kita jika kita idak menjelaskan semuanya pada Tuan Emir? Ini harus diselesaikan semuanya hari ini juga.” ujar Harry.
Meksipun sebenarnya dia juga merasa gugup melihat situasi ini tapi dia tidak bisa melakukan apapun lagi saat ini selain menunggu sampai dia bisa bertemu dengan Emir.
Dia sudah tidak punya pilihan lagi selain menunggu seperti orang tidak tahu malu demi perusahaannya. Setelah cukup lama menunggu, dia pergi menuju ke meja resepsionis untuk memberitahu kalau mereka datang untuk bertemu dengan Emir.
Emir mempunyai banyak sekretaris dan informasi itu harus berjalan melalui mereka semua sebelum akhirnya sampai ditelinga pria itu. Setelah Aslan, sekretaris umum menerima informasi kalau ada orang-orang yang mau bertemu Emir, dia masih harus menyaring itu semua sebelum memberitahu pada Emir.
Biasanya mereka yang mau bertemu dengan Emir hanya diberi izin setelah diseleksi oleh Aslan sebagai asisten pribadi Emir. Aslan adalah orang yang paling dipercayai oleh Emir dan dia punya posisi yang sangat tinggi di perusahaan. Dia adalah orang kedua yang sangat dikagumi didunia bisnis dengan kata lain dia adalah pilihan kedua bagi orang-orang yang gagal bekerjasama dengan Emir.
Sayangnya walaupun banyak yang memberinya tawaran menggiurkan tapi Aslan tidak sebarangan bekerjasama dengan orang. Dan saat ini Emir sedang berada diruang kerjanya langsung meletakkan penanya dengan lelah. Sambil bersandar dikursinya, dia berputar-putar didalam ruangan itu beberapa kali sambil melepaskan beban kerja dikepalanya. Tiba-tiba dia ingat pada istri nakalnya yang sudah membuat masalah lagi hari ini.
‘Apakah wanita nakal dan tak tahu malu itu sudah pulang kerumah?’ pikirnya. Lalu dia meraih ponselnya dan menelepon Arimbi untuk mengeceknya. Teleponnya langsung tersambung namun Arimbi tak hanya tidak menjawab teleponnya tapi malah menolak panggilan itu. Wajah Emir langsung menggelap setelah itu. “Arimbi Rafaldiiiiii! Beraninya kamu ya! Berani sekali menolak panggilanku! Apa yang sedang kamu lakukan? Apa kamu menemui laki-laki lain diluar sana?” geramnya.
Tit!
Emir menerima pesan baru dari Arimbi. Dia membuka pesan yang dia terima, pesannya cukup pendek, “Kami masih dijalan ya Emir-ku sayang. Maaf tapi aku tidak bisa mengangkat telepon darimu sekarang, aku tidak mau temanku mencurigaiku dan tahu tentang hubungan kita. I love you suamiku.”
Emir bingung melihat kata ‘tidak bisa’. Apakah benar dia bersama Joana? Apakah dia benaran takut Joana tahu hubungan kami sangat dekat? Apakah aku memalukannya sehingga dia tidak mau membicarakan tentangku pada temannya? Tunggu saja nanti dirumah Arimbi! Awas kamu, habis kamu nanti dirumah! Geramnya.