
“Tunggu saja sampai kakiku sembuh! Jangan menyesali kalau kamu terus-terusan menggodaku.”
“Oh, baiklah suamiku sayang. Aku akan menunggu hari itu tiba.” ucapnya dengan gembira.
Sementara Emir melongo mendengar perkataan istrinya. Dia tidak tahu harus tertawa atau menangis. Apakah istrinya ini sangat bernafsu sehingga tak sabar menunggu hari itu tiba? Kenapa dia terlihat sangat gembir tidak bisa bangun selama tiga hari? Ck!
Arimbi bangkit dan mulai memunguti pakaian mereka dan membantu Emir mengenakan pakaiannya kembali. Emir hanya bisa melongo melihat istrinya yang masih dalam keadaan polos membantunya memakai pakaiannya dan sesekali menggesek-gesekkan badannya ke tubuh Emir.
‘Apa dia sengaja melakukannya? Dia ingin menyiksaku lagi? Ck! Dasar tidak tahu malu! Keluhnya didalam hati.
“Arimbi! Apa kamu sengaja menggodaku? Kenapa kamu membantuku memakai pakaian tapi kamu tidak memakai pakaianmu?” protes Emir.
“Eeh! Ah….itu….aku cepat berpakaian makanya aku membantumu dulu.” ujarnya langsung mengenakan pakaiannya dengan tersipu malu lalu dengan cepat berlari meninggalkan Emir yang terpelongo. Bahkan kancing bajunya belum dikancingkan, sudah ditinggalkan begitu saja.
Sementara itu Emir terus saja menatap pintu ruangan itu yang setengah terbuka selama beberapa waktu sebelum bergumam pelan, “Dia bahkan lari lebih cepat dari kelinci! Ck! Sungguh istri tidak bertanggung jawab! Dia yang melepaskan pakaianku, lalu menerkamku! Setelah puas dia hanya memakaikan pakaianku seperti ini? Arimbi! Tunggu saja pembalasanku!”
Setelah upaya Arimbi untuk menenangkannya berhasil, Emir tidak kesal lagi dan memutuskan untuk turun kebawah. Memang benar kata orang kalau suami istri bertengkar, solusi untuk menenangkan suasana adalah bercinta.
Dan Emir pun baru menyadari itu setelah bersama Arimbi. Wanita tak tahu malu itu selalu mampu membungkamnya dan membuatnya tidak berkutik.
Setelah tiba dilantai bawah Emir langsung menuju ke kamar yang sama dengan istrinya. Dia berbaring disebelahnya setelah dia membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa percintaan mereka. Dia merasa sangat mengantuk dan tidur siang bersama istrinya.
Emir memiringkan tubuhnya dan disaat bersamaan Arimbi pun membalikkan tubuhnya lalu memeluknya dan kakinya melingkar dipinggang Emir.
Lagi-lagi posisi itu membuat Emir menelan ludahnya ketika melihat paha mulus yang melingkari pinggangnya seenaknya. Belum lagi wajah Arimbi yang terlelap mendongak, Emir hanya bisa memandangi bibir merah muda yang manis. Karena dia pun sudah mengantuk dan merasa lelah, Emir puna hanya bisa memeluk tubuh Arimbi dan memejamkan matanya.
...******...
Sementara itu Amanda yang pergi ke kediaman Keluarga Lavani dan memarkirkan mobilnya di teras. Seorang pelayan bergegas keluar dari rumah untuk menyambutnya. Setelah dia turun dari mobil, pelayan itu datang dengan payung untuk melindunginya dari sinar matahari.
“Nona Amanda, Nona Zivanna masih tidur siang. Apakah anda ingin menunggunya diruang tamu?”
Pelayan itu menggeserkan payung kearah Amanda untuk melindunginya dari sinar matahari.
“Oh, Zivanna masih tidur siang?” Amanda mengangkat tangan kanannya dan melihat jam tangan. Sudah lewat jam tiga sore tapi Zivanna masih tidur siang?
“Iya. Nona Zivanna baru saja tidur hari ini jadi dia belum bangun.”
Amanda pun mempertimbangkan situasinya sejenak sebelum bertanya, “Apakah Gio ada dirumah?”
“Tuan Gio tidak ada dirumah. Nona zivanna mengatakan sesuatu padanya sebelum tidur siang tadi dan dia langsung meninggalkan rumah setelah itu. Dia juga belum pulang.” jawab pelayan itu.
Selanjutnya pelayan itu memegang payung diatas kepala Amanda dan membawanya menuju kedalam rumah. “Nona Amanda, duduklah sebentar. Saya akan mengambilkan minum untuk nona.”
“Baiklah. Terima kasih.” Amanda duduk di sofa dan menunggu. Bagaimanapun dia sudah sampai disana jadi dia tidak bisa pergi begitu saja sebelum dia bertemu Zivanna.
Tak begitu lama, pelayan itu kembali dengan membawa sepiring buah dan cemilan ringan beserta segelas teh lalu menghidangkan kepada Amanda.
Selanjutnya pelayan itu menemani Amanda dan menunggu disana sampai Zivanna bangun dari tidur siangnya. Amanda terus saja melirik kearah jam tangannya, berharap waktu berjalan dengan cepat.
Amanda terus berharap agar Zivanna segera bangun. Untungnua Amanda tak perlu menunggu terlalu lama karena Zivanna turun dari lantai atas lima belas menit kemudian.
“Nona Zivanna, ada Nona Amanda disini menunggumu.” pelayan itu maju untuk menyapa Zivanna terlebih dahulu. Zivanna memberi isyarat pada pelayan itu untuk pergi dan melanjutkan tugasnya lalu melangkah perlahan untuk menghampiri Amanda.
“Zivanna!” Amanda berdiri dan tersenyum. “Ku harap aku tidak menganggu tidur siangmu.”
“Ah tidak apa-apa. Lagipula aku sudah bangun.” ujar Zivanna bicara sambil berjalan menuju ke sofa dan duduk diseberang Amanda.
“Hari ini sangat panas. Apakah datang kamu kemari karena ada sesuatu yang mendesak untuk dibicarakan padaku? Kita bisa bicara ditelepon juga kan?”
“Oh tidak. Ini bukan sesuatu yang mendesak. Ini akhir pekan dan aku tidak punya pekerjaan, jadi aku datang untuk menemanimu. Bagaimana perasaanmu? Apakah kamu masih kesal karena insiden itu?” tanya Amanda dengan ekspresi sedih dan menyesal. Sungguh-sungguh ratu drama yang hebat.
Setelah Amanda mengajukan pertanyaan itu, Zivanna mengerutkan bibirnya dan menjawab, “Aku mengadakan pesta ulang tahun yang seharusnya berjalan dengan baik tetapi semuanya berakhir dengan sangat buruk! Baik tamu dan tuan rumah tidak senang ketika mereka pergi. Jadi tidakkah aku harus marah? Jika bukan karena Gio yang membantu membersihkan nama Reza dengan menyalahkannya karena dibius, maka aku pasti akan menyerangnya.”
Lalu dia memandang Amanda dan segera menuduhnya, “Amanda, kupikir bahwa kedatanganmu kesini untuk menemaniku. Kamu pasti datang kemari untuk memohon pengampunan atas nama Reza. Betul begitu? Aku tahu kalian berteman baik.” ujar Zivanna dengan percaya diri bahwa yang dikatakannya itu benar. Dia melengkungkan bibirnya menjadi seringai setelah menyelesaikan kalimatnya.
“Reza telah menyinggungku,” tambahnya. “Benar! Bukankah seharusnya adik perempuanmu tersayang yang merasa cemas tetapi mengapa malah kamu yang cemas dan khawatir? Kamu benar-benar datang kesini pada hari yang sangat panas hanya untuk memohon atas nama Reza? Ckck….”
Ketika Amanda tahu niatnya yang sebenarnya sudah terungkap, jadi dia tidak perlu repot-repotlagi menyembunyikannya. Justru sebaliknya, dia berbicara dengan terus terang dan mengatakan, “Zivanna memang benar apa yang kamu katakan barusan. Aku datang kesini untuk memohon atas nama Keluarga Kanchana! Kamu menyadari bahwa aku memiliki hubungan yang baik dengan Reza dan kami berteman baik.”
“Keluarga kami juga memiliki hubungan yang sangat baik dan memiliki beberapa proyek kerjasama dan aku yang bertanggung jawab atas proyek kerjasama kami. Karen itu, wajar bagiku untuk memohon pengampunan atas namanya. Selain itu hari ini karena Nyonya Kanchana juga yang telah memintaku untuk membantu mereka untuk memohon padamu.” ujar Amanda dengan tenang menjelaskan.
“Bicara tentang adik perempuanku yang tersayang. Sejak dia pindah ke kediaman Serkan dia menjadi semakin angkuhdalam bertingkah laku. Jadi dia tidak akan mengganggap Reza layak untuk waktunya. Dia telah bertengkar dengan Reza dan berencana untuk mengejar salah satu anggota keluarga Serkan! Aku kira salah satu dari mereka akan jauh berpengaruh dan memiliki status lebih tinggi daripada Reza.”