GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 267. MEMPERMALUKAN ARIMBI


Emir juga memesan dua botol anggur. Bukan karena dia ingin minum tetapi karena anggur hampir menjadi kebutuhan yang harus ada saat menjamu tamu.


Tapi dia menatap tajam kearah istrinya sesaat seolah mengingatkan Arimbi bahwa dia tidak boleh minum alkohol karena kondisinya yang sedang hamil.


Arimbi mengerucutkan bibirnya seolah merajuk tapi Emir tak mempedulikannya. Seandainya mereka sedang berada dirumah sekarang, sudah dipastikan hukuman apa yang diberikan untuk istri nakalnya itu.


Ketika makanan dan minuman anggur tiba, Arimbi kembali menggoda Emir dengan mengedipkan matanya dan tersenyum manis ketika tidak ada yang memperhatikannya. Dia berterima kasih pada suaminya itu karena memesankan semua hidangan favoritnya.


Bahkan sebelum dia makan, dia sudah tersentuh oleh perhatian dan kasih sayang yang ditunjukkan oleh Emir. Begitu Emir memutuskan untuk memperlakukan seseorang dengan baik, dia akan sangat perhatian dan dengan mudah memanjakan dan membuat orang itu melayang dan menyerahkan hati mereka padanya.


Ketika dia pertama kali menikahinya, dia hanya melakukannya untuk membalas kebaikan Emir padanya dan dia tidak mempunyai perasaan apapun pada pria itu.


Sekarang Arimbi merasakan bahwa hatinya sepenuhnya milik Emir. Saat makan, Jordan dan Rafaldi bersaudara membicarakan tentang kerjasama mereka.


Berpikir bahwa Arimbi pernah dengan keras menolak lamaran Emir, Jordan terus menerus mempersulitnya  dan bertanya banyak tentang produk Rafaldi Group.


Karena Arimbi masih baru dalam industri bisnis dan tidak begitu akrab dengan manajemen perusahaan,  dia hanya bisa menjawab setengah dari semua pertanyaan Jordan padanya.


Dan itu juga adalah hasil kerja keras dan lembur Arimbi. Amanda menyesal membawa Arimbi tapi itu semua keinginan ayah mereka. Dia tidak menyangka Jordan sengaja mempermalukan Arimbi didepan Emir karena dia sangat jelas tertarik padanya ketika mereka masih berada di PT. Libra Elektroindo.


Atau mungkin dia memang sengaja melakukannya karena ada Emir disini? Pikir Amanda.


“Nona Arimbi, kau masih harus banyak belajar. Dengan kemampuanmu seperti ini, aku khawatir kau tidak akan mungkin bisa bertahan didunia bisnis.” Jordan menuangkan segelas besar anggur untuk Arimbi dan menyerahkannya padanya sambil tersenyum.


Jordan berkata, “Sebagai hukuman, kau harus minum tiga gelas anggur.”


Arimbi menggeser gelas berisi anggur itu sambil tersenyum dan berkata, “Maaf Tuan Jordan. Aku memang harus banyak belajar karena masih baru pertama kali memasuki dunia kerja.”


Selama dua kehidupan terakhirnya, Arimbi memang hampit tidak memiliki pengalaman bekerja di perusahaan besar jadi ada terlalu banyak hal yang dia tidak tahu dan harus bekerja keras untuk belajar.


“Untuk hukumannya. Mungkin Tuan Jordan lupa bahwa aku sudah mengatakan kalau aku tidak bisa minum karena kondisi perutku yang bermasalah.” Arimbi mendorong gelas yang tadi diisi oleh Jordan kehadapan pria itu.


“Sekali lagi saya minta maaf. Saya tidak bermaksud menyinggung perasaan Tuan Jordan dengan menolak minuman ini. Tapi saya lebih mementingkan kesehatan saya diatas segalanya.” jawabnya.


Dia mengenal baik suaminya, sepertinya Emir merasa marah pada sikap Jordan yang terkesan memaksanya untuk minum. Emir berpikir jika seseorang sudah mengatakan bahwa mereka tidak bisa minum dengan alasan masalah kesehatan, kenapa harus memaksakan orang tersebut dan mempermalukan Arimbi istri kesayangannya itu?


Arimbi memang masih baru di dunia bisnis, tapi dimata Emir jika istrinya itu bukan orang yang bodoh. Dia dibesarkan di pedesaan, jadi wajar jika dia tidak tahu banyak soal bisnis. Dia tidak peduli meskipun orang yang menghina istrinya adalah seorang manajer hebat di perusahaannya, Emir tidak membolehkan siapapun menghina Arimbi.


Emir menatap Arimbi dan merasakan hatinya sakit dan merasa kasihan pada istrinya itu. Tatapan mata Emir berubah menjadi dingin saat dia menatap Jordan, tanpa sadar Emir mengepalkan kedua tangannya.


“Nona Arimbi! Tidak baik minum alkohol jika kamu punya masalah dengan perutmu! Aku tidak akan pernah memaksa seseorang untuk minum meskipun itu untuk urusan bisnis.”


Suara Emir terdengar rendah dan dingin bahkan Arimbi tidak tahu apakah dia memujinya atau mengejeknya. Yang pasti Emir membelanya karena Jordan memaksanya untuk minum anggur. Jika pria itu terus saja memaksanya untuk minum, entah kemarahan seperti apa yang akan Emir tunjukkan.


Jordan yang mendengar perkataan Emir langsung terdiam. Entah mengapa dia merasa heran dan bingung apa maksud perkataan Emir tersebut. Bukankah seharusnya dia membenci Arimbi yang sudah dengan keras menolak lamarannya? Tapi kenapa dia tetap bersikap tenang dan seolah membela wanita itu? Bisik hati Jordan.


Dia sengaja melakukan itu semua dengan mempermalukan Arimbi didepan Emir karena dia ingin membalaskan dendam Emir pada Arimbi yang sudah menolak lamarannya. Yang Jordan tidak tahu adalah, Arimbi adalah kesayangan Emir! Dengan tindakannya seperti itu dia sudah menyulut kemarahan Emir padanya. Entah bagaimana nasibnya nanti setelah ini.


“Terima kasih atas perhatianmu Tuan Emir.” jawab Arimbi dengan senang, tidak peduli dengan apa yang terjadi disekitarnya. Emir berhenti bicara dan berdiri lalu berkata kepada orang-orang yang berada disana, ”Aku sudah kenyang, jadi aku pergi dulu agar tidak mempengaruhi nafsu makan semua orang.”


Dengan kehadiran Emir disana, tidak ada yang berani makan kecuali Arimbi. Bagaimanapun semua hidangan yang dia pesan adalah makanan favoritnya, Tidak ada yang berani meminta Emir untuk tinggal jadi mereka berdiri dan mengantarkannya keluar dari ruangan.


Baru setelah Rino mendorong Emir kedalam lift dengan kursi rodanya, mereka kembali ke tempat duduk mereka dan melanjutkan makan. Jordan merasa tidak senang dengan sikap Arimbi yang terkesan mengacuhkan Emir dan tidak menghormatinya dengan tetap makan tanpa mempedulikan apapun.


Sedangkan mereka sama sekali tidak berani makan. Jordan pun berkata, “Nona Arimbi! Sangat tidak sopan kamu masih bisa melahap makananmu seperti itu dihadapan Tuan Emir.”


“Tuan Jordan, bukankah kita datang ke tempat ini untuk makan siang? Tuan Emir pun sama sekali tidak keberatan dan dialah yang memesan semua makanan ini.”


“Arimbi! Tidak seharusnya kamu bicara seperti itu pada Tuan Jordan. Meskipun semua makanan ini dipesan oleh Tuan Emir tapi kamu seharusnya menghormatinya! Kenapa kamu tidak bisa menahan nafsu makanmu dan terus saja makan sementara Tuan Emir hanya makan sedikit?”


“Apa kamu tidak berpikir mungkin dia kehilangan selera makannya karena melihatmu melahap makanan dengan tidak tahu malunya?” ucap Jordan yang kesal. Bagaimana mungkin wanita ini memperlakukan Tuan Emir seperti itu? Seharusnya dia malu dan merasa bersalah setelah menolak keras lamarannya dulu.


Amanda buru-buru berkata seolah dia adalah wanita terhormat dan berkelas, “Maafkan saudariku ini Tuan Jordan. Harap maklum karena dia masih belum bisa menghilangkan kebiasaan buruknya. Saya akan mengajarkannya untuk bersikap lebih baik lain kali.” ucap Amanda sambil tersenyum.