GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 130. BERTEMU MUSUH BEBUYUTAN


Kalimat Arimbi itu sangat merendahkan harga diri seseorang jika mereka paham makna disetiap kata-kata itu. Semua orang yang mendengar pun langsung terdiam karena lagi-lagi perkataan Arimbi itu memang benar. Mereka hanya pura-pura saling menyukai dan tak sepenuhnya teman. Semua orang-orang kaya kelas atas ini penuh kepura-puraan dan Arimbi telah merobek topeng yang mereka kenakan malam ini.


Tatapan Zivanna menjadi dingin dan muram. Harga dirinya serasa diinjak-injak malam ini oleh Arimbi.


“Nona Elisha! Tuan Emir!”


“Apa? Tuan Emir ada disini?”


“Tuan Emir benar-benar datang!”


Saat Zivanna hendak meneruskan hinaannya pada Arimbi, dia mendengar nama Emir diucapkan dari luar. Dia tertegun sesaat kemudian dengan perasaan gembira dia lupa akan semua ucapan Gio dan meninggalkan kerumuman untuk pergikeluar dan menyambut Emir.


Rino mendorong kursi roda Emir dan berjalan bersama Elisha disisinya memasuki rumah. Tujuh pengawal lainnya membuntuti mereka dibelakang.


Kota hadiah yang dibawa Emir dihiasi dengan pita yang indah dan siapapun dapat menebakkalau itu adalah hadiah ulang tahun dari Emir untuk Zivanna. Setiap kali Emir muncul slalu ada sepuluh pegawal bersamanya. Rino mendorong kursi rodanya sisanya mengikuti dibelakang. Pengawalnya dua orang lebih sedikit jika dibandingkan dengan Dion Harimurti.


“Tuan Emir,” Zivanna menyambutnya dengan tersenyum manis lalu mendekati Emir. Dengan suaranya yang lembut dia berkata, “Tuan Emir sudah datang.”


“Selamat ulang tahun Zivanna!” Elisha yang mengucapkan selamat terlebih dahulu lalu memberikan hadiah yang dia bawa pada Zivanna.


“Terimakasih Eli.” Zivanna menerima hadiah Elisha dengan hati senang. Sikapnya pada Eisha berbeda dengan sikapnya pada Arimbi. Bahkan Amanda sahabat Zivanna tidak diperlakukan seramah ini. Memang benar kata-kata Arimbi tadi, semua orang disini hidup pura-pura dan memakai topeng kepalsuan, sangat mengerikan bukan?


Saat itu juga Emir melirik Zivanna, dia tidak melihat istrinya yang tak tahu malu itu tapi dia melihat Amanda. Dia yakin istrinya itu pasti pergi makan saat orang lain keluar untuk menyambutnya.


Lagipula istri tak tahu malunya itu memang tukang makan. Kemanapun pergi, hal pertama yang dicari Arimbi pasti makanan. Pasti dia menganggap hidangannya lebih menarik daripada suaminya sendiri. Lalu Emir berbalik.


Hendra yang memegang kotak hadiahnya langsung mendekat dna menyerahkannya pada Emir. Emir memberikan kotaknya pada Zivanna dan dengan dingin dia berkata, “Selamat ulang tahun Nona Lavani.”


“Terimakasih Tuan Emir. Anda baik sekali. Kehadiran Tuan di perjamuan ulang tahunku adalah hadiah terbaik, mana mungkin saya meminta lebih?” Zivanna memberikan hadiah Elisha pada pelayannya dan dia memegang kotak Emir. Kotaknya sangat berat, dia tidak tahu apa isinya.


Apapun isinya, asalkan itu hadiah dari Emir, dia akan menyukainya dan akan menjaganya dengan baik. Semua orang ingin tahu hadiah apa yang diberikan Emir pada Zivanna tapi dia begitu menyukainya hingga dia tidak ingin membukanya dihadapan semua orang.


“Apakah besok matahari terbit dari barat? Tuan Emir sungguh datang menghadiri perjamuan ulang tahun seorang wanita! Ini belum pernah terjadi sebelumnya!” ucapan seseorang dengan dingin. Semuanya langsung terdiam karena itu suara Dion Harimurti. Lagipula Dion dan Emir adalah musuh bebuyutan. Saat itu Keluarga Lavani merasa cemas jika mereka tahu Emir akan datang, mereka tidak akan mengundang Dion.


Setiap kali keduanya berada ditempat yang sama, mereka pasti akan bertengkar dan tak ada orang lain yang bisa ikut campur.


“Ya, bukankah ini juga pertama kalinya kepala keluarga Harimurti menghadiri perjamuan ulang tahun Nona Lavani? Jika anda memang melihat matahari terbit dari barat besok, rekam dan kirimkan videonya padaku agar saya juga bisa melihat pemandangan hebat itu.” jawab Emir dengan sarkas dan mencibir dengan sikap dingin pada Dion.


Balasan Emir nyaris membuat Dion tersedak. Dion melihat kotakdi tangan Zivanna, matanya berkilau sambil tersenyum berkata, “Nona Lavani karena Nona membuka hadiah Nona Arimbi didepan semua orang, mengapa tidak membuka hadiah Tuan Emir juga? Tuan Emir jarang memberikan hadiah, bisakah Nona memuaskan rasa penasaran kami sekali lagi?”


Zivanna terdiam tak tahu harus berbuat apa. Dia tidak ingin membuka hadiah Emir dihadapan semua orang tapi dia juga tidak ingin menolak permintaan Dion. Zivanna sudah mengincar pria itu bertahun-tahun dan sejak dulu ingin menikahi salah satunya. Tetapi pria satunya adalah sasaran utamanya. Tentu saja Zivanna mengenal cinta, dari luar dia tampak keras kepala tetapi didalam dia tahu harus berbuat apa. Dia harus menikahi pria yang setara dengannya, cinta dapat menyusul nanti.


Keluarga yang setara dengan keluarganya adalah Serkan dan Harimurti. Menikahi anggota keluarga Serkan mungkin terlalu berat tapi keluarga Harimurti setara dengannya. Emir melirik Zivann, dia menunggu apa reaksi wanita itu menanggapi permintaan Dion.


Lagipula Emir pun jadi penasaran setelah mendengar perkataan Dion tentang Zivanna yang membuka hadiah Arimbi dihadapan semua orang. Emir pun langsung paham bahwa Zivanna sudah sengaja mempermalukan istri kesayangannya itu tadi sebelum dia datang.


Zivanna yang tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Emir, dia menatap pria itu dan menyadari tatapan Emir yang tertuju padanya. Seketika dia membuat keputusa, dengan sopan dia menjawab Dion “Tuan Harimurti, tidak baik membuka hadiah didepan banyak orang. Akan saya buka setelah perjamuan. Kalau ingin tahu isinya, silahkan tinggal setelah perjamuan usai. Kita bisa membuka semua hadiah bersama-sama.”


Dia dapat memuaskan rasa penasaran Dion Harimurti sambil menghabiskan waktu bersamanya membuka semua hadiah nanti. Di kota ini Emir dan Dion adalah pemuda ternama tapi keduanya juga orang yang paling sulit untuk didekati.


Tak peduli kapan atau dimanapun mereka berada, mereka selalu bersama para pengawalnya. Pengawal mereka pun cekatan dan setia, tidak bisa disuap dengan uang atau jasa. Karena itulah sulit bagi orang untuk menyuap mereka untuk mendekati kedua pria itu.


Emir dan Dion juga musuh bebuyutan dan mereka saingan di dunia bisnis karena watak mereka sama. Dan dengan kesamaan dalam temperamen, jabatan, dan status keduanya tidak akan mengalah pada yang lain. Itulah yang menjadikan mereka musuh bebuyutan.


Mendengar perkataan Zivanna, membuat Dion tertawa menyindir, “Sepertinya Nona Lavani juga tahu bahwa tidak sopan jika membuka hadiah didepan orang banyak.”


Ucapannya membuat wajah Zivanna memerah. Dion dengan sengaja telah menyindirnya karena mempermalukan Arimbi.


“Ayo kita masuk Tuan Emir, Nona Elisha. Silahkan lewat sini.” ujar ayah Zivanna menyela dan membimbing semua orang masuk kedalam rumah. Kedua direktur itu saling menatap seolah saling ingin menggulingkan lawannya dengan tatapannya.


Diluar ucapan dan sikap Emir yang biasanya dingin. Meskipun Dion juga dingin tapi dia banyak bicara terutama soal Emir, dia bisa bicara panjang lebar. “Bahkan pembantu Tuan Emir menghadiri perjamuan ini, kenapa dia tidak datang bersama Tuan? Dengan begitu dia tidak akan dihina, dipermalukan atau dikucilkan karena semua orang akan mempertimbangkan status Tuan Emir. Saya sekedar lewat harus ikut campur dan memberikan keadilan yang patut dia dapatkan.”