
Setelahnya, dia memegang buket bunga itu dengan satu tangan sementara tangannya yang lain menarik dasi Emir. Dengan wajah datar, wanita itu bertanya, “Emir, katakan sejujurnya. Apakah ini untukku atau kamu menerimanya dari orang lain.”
Pria itu tercengang dengan interogasi yang tiba-tiba itu. Di saat yang sama, Rino sekilas melirik kearah mereka sebelum memalingkan tatapannya ke depan, tak ingin mengganggu pasangan itu.
Emir mengangkat tangannya dan menepuk tangan Arimbi yang menarik lehernya, membuat mata wanita itu melebar. Arimbi bergumam, “Emir, apakah kamu pernah belajar seni bela diri? Rasanya sakit?”
Bukannya menjawab, pria itu mendorong Arimbi menjauh dengan menempatkan punggungnya ke kursi. Kemudian dia merebut bunga itu dari Arimbi dan menurunkan kaca jendela.
“Karena kamu curiga kalau itu hadiah dari orang lain, aku akan membuangnya.”
Sebelum dia sempat membuangnya, Arimbi dengan cepat merebutnya kembali.”Jadi ini untukku?”
Emir balas memelototinya. Ketika tahu kalau sikapnya keterlaluan, buru-buru ia menjelaskan, “Kamu bilang kamu takkan pernah memberiku hadiah ataupun bunga.”
Dulu siapa sangka kalau Emir yang penuh kuasa akan menjadi suami penyayang? Emir sendiripun pasti tidak akan pernah menyangka.
Emir menarik napas panjang untuk menahan rasa ingin melempar istrinya itu keluar dari mobil karena dialah yang pertama membuatnya merasa malu begini.
Belum lagi dialah yang patut disalahkan karena telah begitu memanjakan istrinya. Tenanglah Emir, tenang….akhiri saja secepatnya. Saat pria itu menatap Arimbi yang mencium bunganya sambil tersenyum lebar, ia pun merasa kalau memsrahkan harga dirinya bisa dibilang pantas.
Berpikir begitu, dia pun menyerahkan kotak kedepan Arimbi.
“Apa ini sayang?” tanya Arimbi yang penasaran saat mengambil kotak itu.
“Kenapa tidak membukanya sendiri saja?”
Arimbi menyisihkan bunganya kemudian membuka kotal yang ternyata berisi sebuah gelang permata imperial jade. Desainnya mirip dengan yang pernah diberikan suaminya padanya. Tidak, keduanya terlihat sama saja!
“Emir, kamu tidak menyukainya? Kenapa kamu mengembalikan ini padaku?”
“Perhatikan baik-baik.”
Arimbi memegang gelang itu untuk melihat dari dekat “Jadi ini bukan gelang yang kuberikan padamu waktu itu. Tapi terlihat sangat mirip sampai kukira kamu mengembalikannya karena tidak suka.”
“Kamu memberikan sesuatu yang sangat berarti bagimu, aku hanya membalas budi. Pakailah dan jangan pernah lepaskan gelang itu dari tanganmu.” ujar Emir. Lalu dia mengambil gelang itu lalu memasangnya ke pergelangan tangan Arimbi.
Mulai sekarang wanita itu hanya akan mengenakan perhiasan yang ia berikan. Dia tidak boleh mengenakan apapun yang diberikan orang lain. Tapi bisa saja disimpan untuk anak-anak mereka nanti.
Berhubungan dengan itu, mereka menyadari kalau semalam mereka melewatkan aktifitas malamnya dan hanya melakukannya sekali pagi ini.
Emir sangat menginginkan punya anak perempuan secantik Arimbi dan menggemaskan. Dia membayangkan betapa menyenangkannya jika dia bisa punya dua anak perempuan yang akan mewarnai hari-harinya.
Bahkan jika mereka sering melakukannya, akan sulit bagi mereka untuk mempunyai anak perempuan karena gen keluarga itu selalu melahirkan anak laki-laki.
“Tentu saja Emir. Aku akan terus mengenakannya karena ini darimu.” saat mengangkat tangannya untuk menunjukkan gelang dipergelangan tangannya, Arimbi bertanya, “Emir, apakah ini mahal?”
“Tenang saja. Harganya lebih murah daripada punyamu.” jawab Emir.
Pipi Arimbi memerah saat mendengar itu. “Tapi aku membuat itu sendiri. Yang penting adalah niatnya.” kata Arimbi tersenyum manis yang membuat Emir tak tahan ingin menerkam istrinya itu.
“Aku tahu. Dan aku suka semua hadiahmu.”
“Sulit rasanya mencari tahu hadiah apa yang bagus untukmu. Kepalaku terasa sakit karena terlalu banyak berpikir tentang hadiah untukmu.”
“Hah?” Emir bingung mendengar ucapan istrinya.
Emir mencubit pipi Arimbi saat mendengar pernyataan nakalnya itu. “Sebaiknya begitu.”
Pria itu tak mengatakan apapun lagi, dia justru memeluk pinggangnya.
Kringgg...kringgg…..kring……
Sayangnya ponsel Arimbi berdering di saat yang tepat, memotong momen intim mereka. Emir yang frustasi memutuskan kalau dia tidak menyukai siapapun yang menelepon istrinya saat itu.
“Joana.” Arimbi dengan senang menjawab telepon dari sahabatnya itu.
“Arimbi, apakah kamu sedang istirahat siang sekarang?”
“Iya. Kenapa?”
“Mau makan bersama? Aku bisa menjemputmu saat ini aku sudah dijalan menuju kantormu.”
“Tapi aku sudah dijalan untuk bertemu klien. Kita keluar dilain hari saja, Joana.”
Joana pun sedih mendengar itu. “Baiklah, kalau begitu. Sejak kamu mulai bekerja, aku tak punya teman lagi untuk bermain bersama dan merasa sangat bosan.”
“Menurutmu apakah aku harus mencari kerja juga? Ayahku dan kakakku bilang aku tak perlu bekerja selama mereka disini karena pemasukan mereka cukup banyak hingga bisa kuhabiskan. Mereka membuatku terdengar seperti wanita materialistis.” gerutu Joana.
Arimbi terkekeh mendengar keluhan sahabatnya itu. “Tapi menghabiskan uang yang kamu peroleh sendiri terasa berbeda. Kamu bisa mencari pekerjaan atau mungkin membuka sebuah toko untuk menghabiskan waktumu agar tidak merasa bosan.”
“Sudah lama aku ingin memiliki sebuah studio foto. Jadi aku bisa terang-terangan mengambil foto para pria tampan dan seksi.” jawab Joana. Sehingga membuat Arimbi terpaku mendengar perkataan sahabatnya.
“Oh, Arimbi! Aku mendengar sesuatu yang menarik. Apa kamu ingin tahu?”
“Kamu tahu kalau aku sangat suka menggosip. Ayo cepat katakan padaku berita apa itu.”
Joana terdiam sejenak sebelum berkata, “Reza akan bertanggung jawab untuk Ruby.”
Meskipun terkejut Arimbi menjawab dengan tenang, “Reza? Bagaimana dia akan bertanggung jawab? Dengan menikahi gadis itu?”
Pertama-tama, apakah Nyonya Kanchana mau menerima Ruby sebagai menantunya? Di kehidupan sebelumnya, Arimbi menikah dengan Reza sebagai wanita yang disimpan dirumah keluarga Kanchana tapi wanita kejam itu terus saja mengganggu, mencela dan meremehkannya seolah Arimbi sama sekali tak berharga.
Keluarga Zimena tak sebanding dengan keluarga Kanchana, apalagi dengan Keluarga Rafaldi. Jadi tidak mungkin Nyonya Kanchana akan menyukai Ruby.
“Rumor mengatakan kalau Reza saat ini sedang bersama keluarga Zimena.”
Arimbi menanggapi dengan acuh, “Kurasa pria itu memang tahu kapan menunduk saat situasinya memaksanya melakukan itu.”
Dikehidupan sekarang, Arimbi tak terjebak dengan Reza tapi pria itu justru akan menikahi Ruby. Tampaknya Amanda tak akan pernah bisa lari dari takdirnya menjadi wanita simpanan Reza.
Ketika Arimbi bertanya beberapa hal kepada Amanda pagi ini, dia melihat ****** disekitar leher Amanda ketika mereka berdiri berdekatan. Itu pasti ulah Reza tapi pria itu malah berencana menikahi Ruby ketika hubungannya dengan Amanda sedang dalam puncaknya?
Arimbi merasa penasaran dengan reaksi Amanda saat mendengar berita pernikahan Reza nanti. Setelah menyudahi panggilannya, Arimbi sejenak melamun sambil memikirkan tentang kehidupannya yang sebelumnya.
Dimana dia cinta mati pada Reza dan memberikan segalanya pada pria itu. Namun apa yang didapatnya sama sekali tak sebanding. Untungnya, dia bisa kabur dari mimpi buruk itu kali ini.
“Apakah kamu kesal karena pria yang kamu cinta menikahi wanita lain? Haruskah aku merebutnya untukmu?” suara dingin terdengar membuat Arimbi merasa merinding. Suaminya cemburu! Apa yang harus dilakukan? “Emir, aku tidak merasa kesal. Sungguh!”