GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 419. BERTEMU PARA MUSUH


Mata wanita itu terus mengawasi Arimbi yang didorong pengawal dikursi rodanya. Tatapan kebencian dan juga kecemburuan memenuhi ekspresi wajah wanita itu. Dia pun berpura-pura berpindah ke rak lain sambil sibuk memilih pakaian. Dia berusaha menghindari Arimbi dan orang-orang itu. Tapi satu hal yang tidak disadarinya jika sejak tadi sebenarnya Arimbi sudah melihatnya.


Namun Arimbi pura-pura tidak tahu dan dia memang tak ingin tahu. Melihat orang yang telah membunuhnya di kehidupan sebelumnya membuat kebencian Arimbi muncul lagi. Wajahnya menegang dan kedua tangannya mengepal erat.


Namun saat dia mengingat kalau saat ini dia sedang hamil, Arimbi berusaha menahan rasa marahnya. 'Fuuuhhh! Aku tidak boleh terpancing emosi! Aku tidak mau emosiku mempengaruhi kondisi kandunganku. Kenapa aku harus melihat dia disini?' bisiknya dalam hati.


Tapi berbeda dengan Elisha yang tiba-tiba melangkah kearah sebuah manekin yang memajang sebuah baju terusan yang bagus, dia pun tanpa sadar berjalan kesana. Saat dia berbalik hendak memanggil pegawai butik, dia memicingkan matanya.


'Apakah itu Amanda? Saudara tiri Arimbi? Ahhhh bukan...bukan saudara tiri! Mereka tidak punya hubungan apa-apa lagi sekarang. Sedang apa dia disini?' pikir Elisha yang merasa heran. Dia tidak mengetahui kalau Amanda sedang hamil.


Rasa penasarannya pun membuat Elisha berjalan menghampiri Amanda. Amanda mengenal Elisha namun tidak terlalu familiar dengan wajah gadis itu. Melihat Elisha menjauh darinya, Bryan pun segera menyusul.


"Elisha!" panggilnya namun gadis itu tidak mendengar.


"Hei, kamu Amanda bukan?" sapanya pada Amanda yang langsung menoleh menatap Elisha.


Dia memicingkan matanya mencoba-coba mengingat, padahal sebenarnya dia tahu siapa Elisha. Dia sudah bisa menebak jika gadis didepannya ini adalah putri kesayangan keluarga Serkan. Namun dia malah berpura-pura tidak kenal.


"Ehm.....darimana kamu tahu namaku?" tanyanya menatap Elisha sekilas. 'Ck! Para putri dari keluarga kaya raya! Mereka bahkan tidak perlu bekerja, semuanya sudah dipenuhi! Kenapa nasibku sial sejak kehadiran Arimbi? Seharusnya akulah putri satu-satunya keluarga Rafaldi dan berada di posisi Elisha sekarang.'


Kekesalan Amanda masih belum hilang, hidupnya kini berubah dan dia kehilangan semua kekayaan dan kemewahan yang sudah dinikmatinya sejak kecil.


"Apakah kamu tidak mengenaliku?" tanya Elisha menatap Amanda dengan tatapan tajam. 'Huh Aku tahu kamu sedang pura-pura tak kenal! Dasar wanita jahat!' bisik hatinya.


Tak sengaja mata Elisha menatap perut Amanda yang sedikit menonjol, berbeda dengan perut Arimbi yang besar karena hamil anak kembar. Dia pun bertanya, "Apa kamu mau beli baju hamil juga? Siapa yang hamil Amanda?"


Mendengar perkataan Elisha, membuat Amanda kesal dan marah didalam hatinya. Dia pikir kalau Elisha sengaja menyindirnya. Padahal Elisha memang tidak tahu jika Amanda hamil.


??."Ak---aku tidak hamil! Aku ingin membelikan hadiah untuk temanku. Ya....untuk temanku." Amanda menjawab dengan gugup. Saat dia hendak mencari alasan untuk pergi tiba-tiba dia mendengar suara yang sangat dikenalnya.


Sepasang suami istri berjalan memasuki butik itu. Reza dan Ruby baru saja memasuki butik itu dan langsung melihat Arimbi dan Nyonya Besar Serkan. Mata Reza terpaku pada Arimbi yang duduk di kursi roda dnegan perut besarnya.


Ruby melirik suaminya yang sedang menatap Arimbi dengan serius. Sisi hatinya merasa cemburu dan tak senang jika suaminya masih menatap wanita yang dulu pernah menjadi kekasihnya. Apalagi saat Ruby melihat beberapa pengawal yang menjaga Arimbi.


Kecemburuan wanita itu pun semakin memuncak, dia bukan berasal dari keluarga yang kaya raya. Keluarganya hanya memiliki perusahaan kecil. Jika dia bukan sepupu dari Zivanna mungkin saja tak seorangpun yang memandangnya. Tidak juga Reza.


"Reza, apa sebaiknya kita ke butik lain saja?" tanya Ruby yang memeluk lengan Reza. Namun pria itu tak mendengarkan, dia sibuk dengan pikirannya sambil menatap Arimbi.


Layla Serkan yang menoleh dan melihat Reza dan Ruby disanapun langsung mengeryitkan keningnya. Ekspresi wajahnya langsung berubah tak senang. Dengan suara keras dia berkata, "Apa kalian bisa mengosongkan butik ini?"


"Mall ini adalah milik cucu menantuku! Hari ini dia mengajakku berbelanja ke mall ini sekalian ingin melihat-lihat! Tapi sayangnya, yang terlihat malah tidak menyenangkan." ucap Layle Serkan dengan sarkasme.


Mendengar itu Ruby hendak menyahut namun Reza langsung menahan tangannya dan menatapnya tajam. Sudah cukup banyak masalah yang sedang dihadapinya saat ini. Dia tidak mau menambah masalah dengan keluarga Serkan.


"Jangan membuat masalah disini." bisik Reza ditelinga Ruby yang langsung menatapnya. Sejak menikah dengan Reza, sedikit banyak Ruby mulai berubah menjadi lebih arogan. Karena saat itu Reza memimpin perusahaan Lavani.


Lagipula, sejak dia mengetahui bahwa Reza dan Arimbi pernah berhubungan membuatnya tak senang. Apalagi Arimbi menikahi keluarga paling kaya. Ucapan Layla Serkan barusan terdengar merendahkannya.


"Apa maksud Nyonya itu bicara seperti itu? Kita juga berhak belanja disini." protes Ruby.


"Ruby, mall ini milik Arimbi! Itu artinya dia punya hak mengusir semua orang dari sini jika dia mau."


"Huh! Sejak dia jadi istri Tuan Emir dan memiliki kekuasaan seperti suaminya, aku lihat dia semakin sombong saja. Lihatlah, dia duduk dikursi roda mewah seperti itu didorong oleh pengawal! Padahal dia berasal dari pedesaan."


"Jangan lupa kalau dia adalah putri kandung Keluarga Rafaldi dan pewaris dari perusahaan itu." ujar Reza dengan nada tak senang. Membayangkan semua rencananya bersama Amanda yang disusun dengan rapi akhirnya berantakan.


Dan kini hidupnya kacau balau, jika dia tidak pernah setuju dengan rencana Amanda mungkin saat ini dia masih bersama Arimbi. Dia mungkin punya peluang menguasai perusahaan itu.  Memikirkan bahwa Rafaldi Group dipimpin oleh salah satu putra Keluarga Serkan dan kini perusahaan milik orang tua Arimbi itu semakin besar membuat Reza merasa kesal.


Amanda yang sejak tadi ingin meninggalkan tempat itupun tak bisa bersembunyi lagi. Reza melihatnya berdiri disamping Elisha. Mata pria itu memicing tajam menatap Amanda.


'Kenapa dia ada disini? Bukankah itu putri Keluarga Serkan? Apa Amanda bersama Arimbi datang ke tempat ini? Mereka sama-sama sedang hamil.' pikir Reza.


Dia mengira kalau Amanda bersama dengan Arimbi. Mungkin saja hubungan mereka sudah baik, memikirkan itu Reza pun tersenyum dan terbersit sebuah ide di kepalanya. Dia meantap Ruby, Sejauh ini Ruby adalah istri yang baik dan selalu menurut.


Tapi Ruby bukan Amanda yang pintar dan licik. 'Aku harus memikirkan cara agar bertemu dengan Amanda dan bicara dengannya. Dia bisa belanja dibutik ini, berarti dia punya banyak uang, bukan?'


'Ah, aku akan mencoba mendekati Amanda. Mungkin dia bisa membantuku keluar dari kesulitan! Ruby bisa tetap menjadi istriku. Dia tidak terlalu banyak menuntut dan selalu menurut padaku! Aku lebih mudha mengendalikannya! Tapi urusan menyelesaikan masalah, harus kuakui kalau Amanda hebat. Sejak dulu dia banyak membantuku.' bisiknya dalam hati.


"Reza, bukankah itu Amanda? Apa dia kesini bersama Arimbi?" tanya Ruby dengan suara pelan. Disaat bersamaan seorang wanita menghampiri mereka.


"Maaf Tuan dan Nyonya. Butik ini ditutup sementara. Silahkan datang kembali nanti." ucap manajer butik itu dengan sopan.


"Ditutup? Sejak kapan? Kami mau belanja disini! Apa kamu mengusir kami?" ucap Ruby dengan nada kesal.


Disaat Mereka sedang beradu mulut, Amanda mengambil kesempatan itu untuk keluar meninggalkan butik. Reza yang ingin mengejarnya pun terpaksa menahan diri.


"Sekali lagi, atas nama butik ini saya minta maaf! Butik kami tutup sementara karena Nyonya Besar Serkan sedang berbelanja bersama Nyonya Serkan. Mereka tidak ingin ada pelanggan lain disini."