
Arimbi tahu suasana hati Amanda saat ini sangat buruk. Takkan ada yang menyangka kalau Keluarga Serkan akan membelikan perhiasan mahal untuknya. Tapi masuk akal karena Arimbi merawat Emir dan mungkin dia sudah melakukan sesuatu yang membuat Keluarga kaya itu memberinya perhiasan semahal itu. Begitulah pemikiran Amanda saat ini yang masih tidak mengetahui status Arimbi yang merupakan istri sah Emir dan merupakan wanita paling berkuasa dan paling kaya sekarang.
Mereka berdua mengenakan gaun malam dan hak tinggi sehingga mereka tidak mengemudikan mobil sendiri. Mosha memerintahkan supir untuk mengantarkan kedua putrinya pergi ke kediaman Lavani. Perjamuan ulang tahun Zivanna diadakan disana. Villa Lavani sama seperti Villa Keluarga Serkan yang dibangun di tanah yang luas dan memiliki fasilitas lengkap. Tapi Villa Lavani tidak semewah Villa Keluarga Serkan.
Meskipun banyak sosok terkenal di dunia bisnis Metro yang diundang ke perjamuan ulang tahun Zivanna, tapi rumah itu tak terasa sempit. PT. Lavani Indoraya adalah pemilik perusahaan dibidang hiburan.
Untuk merayakan ulang tahun Zivanna tersayang, keluarga Lavani mengundang sejumlah penyanyi terkenal untuk memeriahkan pesta itu, mereka juga mengisi acara. Malam ini Villa Lavani penuh dengan orang ternaman didunia bisnis dan wanita cantik.
Sebagai bintang acara, Zivanna belum muncul karena dia masih berada dikamarnya memilih gaun malam untuk dipakainya. Tadi dia ke butik Michele untuk membeli gaun yang dia sukai.
Semua gaunnya indah, dia berpikir bahwa dia pasti tampil menawan dalam gaun manapun. Dia tidak dapat memilih karena semua gaunnya cocok untuknya. Saat itu Gionino Lavani mengetuk pintu dan masuk.
Dia adalah anak keempat Keluarga Lavabi, kakak kandungnya saudara kembar Zivanna dan wakil direktur PT. Lavani Indoraya. “Zivanna, kamu belum mengganti bajumu. Para tamu sudah datang dan mereka sedang menunggumu. Kamu tak bisa sembunyi selamanya.”
Saat Gion melihat adiknya belum ganti baju dia mulai merasa jengkel dan berkata, “Apa kamu tidak suka dengan semua gaunnya? Apakah kamu perlu menghubungi butik Michele agar dibawakan lebih banyak gaun lagi?”
“Oh Gion, untung saja kamu ada disini. Tolong bantu aku memilih gaun yang akan kupaki. Aku ingin terlihat menawan dan menjadi pusat perhatian.” jawab Zivanna dengan wajah ditekuk. Lalu dia menyeret Gion masuk dan memintanya memilihkan gaun.
“Jadi kamu tidak tahu harus memakai gaun yang mana?” tanya Gion tersenyum, “Apapun gaun yang kamu pakai tidak akan jadi masalah. Kamu pasti akan tampak menawan. Kamu bahkan akan menjadi pusat perhatian. Wajahmu cantik dan tubuhmu juga bagus, pilihlah salah satu gaun ini yang paling kamu sukai. Tidak perlu khawatir dengan yang lainnya.”
Meskipun dia berkata begitu tapi Gion tetap memilihkan gaun untuk adiknya, “Bagaimana kalau gaun yang ini Zivanna? Aku rasa gaun ini yang paling cocok untuk pestamu.”
“Baiklah.” Zivanna percaya pada penilaian kakaknya dan dengan senang hati dia memakai gaun yang dipilihkan Gionino untuknya. Setelah Zivanna berganti pakaian, Gion bersiul beberapa kali dan memuji. “Adikku sayang terlihat cantik sekali. Aku harus berada disisimu sepanjang pesta malam ini agar aku bisa menjagamu dari para pengagum yang akan mengerumunimu seperti semut.”
“Jangan bercanda Gion.” ucapnya dengan pipi merona.
Perjamuan ulang tahunnya begitu megah karena acara itu sekaligus menjadi kesempatan untuk memilih suami pilihannya. Zivanna selalu menyukai Emir dan terus emngincarnya.
Meskipun Emir tak pernah menanggapi usahanya tapi keluarganya mengizinkannya untuk melanjutkan usahanya. Mereka bahkan membantu Zivanna untuk membuat kesempatan bagi mereka berdua untuk kencan agar Keluarga Lavani bisa bersatu dengan Keluarga Serkan.
Sayangnya Emir mengalami kecelakaan. Zivanna seperti jatuh dari surga menuju ke neraka. Bagi seorang pria, tidak mampu memperoleh keturunan sama saja masuk ke dalam neraka.
Zivanna masih tidak bisa merelakan perasaannya pada Emir tapi dia juga tak ingin menikahinya dan tak punya anak seumur hidupnya. Saat dia tahu bahwa Emir menganggap Arimbi istimewa, dia merasa cemburu buta. Tetapi dia masih mengizinkan keluarganya untuk membuat rencana untuknya.
Untung saja Dion Harimurti akan menghadiri perjamuan ulang tahunnya malam ini. Tiba-tiba Zivanna teringat sesuatu lalu menoleh pada kakaknya, “Gio, menurutmu apakah Emir akan datang malam ini?”
“Zivanna! Mengingat keadaan emir, sebaiknya kamu melupakannya. Siapa yang peduliapakah dia datang atau tidak? Jika dia memang datang apakah kamu akan bersamanya semalam suntuk? Dia tak lagi bisa memberimu kebahagiaan. Jadi lebih baik lupakan saja dia sesegera mungkin.”
Gion terdiam sesaat lalu menambahkan,”Emir tidak akan datang. Sejak dulu dia tidak suka menghadiri perjamuan, apalagi sekarang dengan kondisinya seperti itu.”
Zivanna merasa sangat kecewa, dia seorang gadis yang tamak. Dia menginginkan Dion Harimurti tapi dia juga tak mau melepaskan Emir. Dia sangat ingin memiliki kedua pria itu, meskipun Emir memiliki kekurangan, Zivanna masih bisa senang menatapnya dan mengagumi wajahnya.
“Zivanna! Malam ini Dion Harimurti akan datang. Ini adalah kesempatan langka untukmu. Jangan sia-siakan kesempatan ini karena mungkin tidak akan ada kesempatan lain.”
Keluarga Harimurti dan Serkan adalah musuh bebuyutan. Meskipun Keluarga Lavani tidak terlibat dalam permusuhan kedua perusahaan itu, karena Zivanna menyukai Emir maka Keluarga Lavani memihak keluarga Serkan.
Kali ini, saat mereka mengundang Dion Harimurti ke perjamuan ulang tahun Zivanna itu adalah sebagai bentuk rasa hormat pada Keluarga Harimurti. Dion menerima undangan dan itu adalah awal dari kemitraan kedua perusahaan.
Tentu saja keluarga Lavani cukup cerdik dalam hal ini mereka tidak sunggug-sungguh akan bermitra dengan Keluarga Harimurti sebelum Zivanna menikahi anggota keluarga Harimurti.
Ternyata mereka telah menyiapkan jalan keluar untuk masa depan putrinya.
“Aku mengerti Gio!” ucap Zivanna mengangguk dan tersenyum. Lalu dia berkata lagi, “Gio...aku harus merias diri. Pergilah ke bawah lebih dahulu. Beritahu aku jika Amanda sudah datang.”
“Ada begitu banyak orang yang menyambut tamu di lantai bawah. Kenapa harus aku sendiri yang menunggu Amanda di pintu?” tanya Gio.
Meskipun begitu dia sudah berpaling dan berjalan menuju pintu.
“Kamu keras kepala sekali! Htai-hati saja karena seseorang mungkin akan datang untuk merebut Amanda. Aku rasa sekarang dia makin akrab dengan Reza. Amanda sudah mengenalnya lebih dahulu selama bertahun-tahun. Kamu harus berusaha keras, Gio! Pertama yang harus kamu lakukan adalah menyatakan perasaanmu padanya agar Amanda tahu bahwa kamu menyukainya!”
Dengan percaya diri Gio berkata, “Hanya orang udik semacam Arimbi yang akan jatuh cinta pada pria seperti reza! Amanda adalah wanita bermartabat dan cerda, tidak mungkin Amanda menyukai Reza!”
Jabatan dan status Gionino juga lebih tinggi daripada Reza, dia juga lebih tampan. Jika dia menyatakan perasaannya pada Amanda, dia pasti mau menjadi kekasihnya.
“Tentu saja kamu yang terbaik. Sekarang pergilah dan tunggu calon istrimu di pintu masuk.”