
Emir terlihat kesal, dia ingin tidur tapi pendengarannya terlalu bagus dan suara air mengalir membuatnya terjaga. Dia marah pada dirinya sendiri, dia tak pernah ingin menikahi Arimbi dan semua pernikahan ini telah disetujui dan membuatnya merasa telah ditipu oleh Arimbi. Menjaga rahasia tentang pernikahan mereka adalah kesepakatan bersama. Tapi Emir kesal mendengar Mosha mengeluh tentangnya dan dia tidak dapat menahan dirinya untuk memberitahunya bahwa mereka sudah menikah.
Emir berguling dan membuka matanya lalu melirik bantal disebelahnya. Beni mengatakan kalau dia bermimpi lagi sejak kehadiran Arimbi. ‘Baiklah, aku akan tinggal disini sebentar….tunggu dulu. Inikan rumahku? Aku bisa tidur dimanapun aku mau.’ bisik hatinya. Lalu Emirpun menguasai seluruh tempat tidur tanpa merasa bersalah sedikitpun.
Dia berbaring ditengah ranjang dengan menelentangkan kedua kaki dan tangannya. Saat Arimbi kembali ke kamar dan melihat Emir telah tidur ditengah ranjang diapun mendekat dan mendorongnya. “Jadi kamu mau tidur disebelah mana? Minggir! Aku butuh celah untuk berbaring.”
“Berapa lebar?”
‘Hah? Lebar? Dia nanya berapa lebar aku perlukan untuk berbaring?’ tanya Arimbi dalam hatinya.
“Kurang lebih enam puluh sentimeter!” jawabnya.
“Ini ada cukup celah untukmu, sekitar enam puluh sentimeter kan? Kurasa cukup untukmu!”
Arimbi berdiri sambil bertolak pinggang dan memelototi Emir. Pria itu memicingkan matanya menatap Arimbi, ‘Apa Arimbi akan bertengkar denganku? Tidak, dia tidak akan berani betrengkar denganku.’ ucap Emir didalam hatinya.
Arimbi meletakkan tangannya disamping tubuhnya lalu tersenyum manis pada Emir, “Emir, aku tidur lasak dan banyak bergerak. Aku juga menggertakkan gigiku, menggigau dan aku mendengkut kuat saat tidur. Kadang aku bermimpi melihat pria tampan dan aku akan menerkamnya, menelanjanginya dan menindihnya lalu memperkosanya!” ujar Arimbi asal untuk menakuti Emir.
“Oh ya?” hanya itu balasan dari Emir.
“Emir! Kamu sangat tampan, melihatmu saja sudah membuat air liurku menetes. Aku tahu kamu akan muncul dalam mimpiku jadi jangan salahkan aku kalau saat bangun besok pagi kamu telanjang. Aku selalu mencoba tidur bersama pria tampan dalam mimpiku. Tapi kamu tenang saja ya, aku akan bertanggung jawab setelah aku memperkosamu.”
“Kamu sudah bertanggung jawab.” kata Emir mengingatkan.
“Hahahahha….oh iya, Aku sudah bertanggung jawab ya?” kata Arimbi tertawa.
“Tidur saja diranjang!” Emir minggir dan memberi celah lebih untuk Arimbi.
“Apa kamu benar-benar tidur seranjang denganku, Emir?” tanya Arimbi menatap Emir.
“Kenapa? Takut?”
“Hehehe kenapa harus takut? Aku hanya khawatir saja kalau kamu nanti malah lari. Hatiku sangat sakit tahu! Aku ini cantik dan aku sadar itu. Tapi kamu menganggapku monster mesum. Kamu menghinaku dengan melarikan diri dariku!” Arimbi berbaring disamping Emir dan meredupkan lampur tidur. Dia menguap pelan dengan gerakan anggun dan terlihat sangat gembira.
“Mimpi indah ya. Mimpikan aku.” ujarnya lalu membalikkan tubuhnya dan meletakkan tangan diperut Emir dan mencubitnya pelan. “Kamu sebenarnya mesum Emir! Cepat marah dan tidak pernah berkata jujur. Tapi aku masih mencintaimu dan aku senang sekali bisa tidur sambil memelukmu.”
Emir terdiam, dia tegang saat Arimbi memeluknya.
Dalam pikirannya Emir menebak mungkin Arimbi sudah terbiasa tidur seranjang dengan lawan jenisnya tapi Emir tidak. Dia mencium aroma shampoo dari rambut wanita itu dan rambutnya menggelitik tengkuh lehernya yang membuatnya merasa seperti tersengat aliran listrik disekujur tubuhnya.
“Arimbi.” Emir memanggilnya tapi tidak ada jawaban.”Arimbi?”
‘Arimbi tertidur cepat sambil memelukku?’ Emir merasa sedikit kecewa, dia menganggap ini tak adil lalu dia mencubit pipi Arimbi dan wanita itu menghempas tangannya karena mengira itu adalah nyamuk. Kemudian Emir mencubit hidungnya dan Arimbi bergumam sebelum membenamkan kepalanya didada bidang Emir untuk menghentikan pria itu mencubitnya.
‘Ya Tuhan? Dia bahkan semakin memelukku erat?’ ingin rasanya Emir mendorongnya tapi saat dia menyentuh bahu Arimbi dia merasa kalau wanita ini benar-benar lembut dan dia tidak jadi mendorongnya. Sesaat kemudian dia malah memeluk Arimbi dan bergumam, “Kamu akan mengerti besok saat kamu bangun.”
...********...
Reza tiba dirumah sakit yang berada di pusat kota dan memarkirkan mobilnya. Pakaiannya compang camping dan dia tidak berani memasuki rumah sakit dengan penampilan seperti itu karena pasti akan dikira orang gila. Dia menunggu amanda untuk mengirimkan pakaiannya, ‘Dimana Amanda?’
Lalu dia mengeluarkan ponselnya dan hendak menghubunginya tapi seseorang sudah terlebih dahulu menghubungi Reza. Dia memperhatikan nomor yang terasa familiar itu. “Siapa?”
“Tuan Kanchana, ini saya Sandra!”
“Sandra? Kamu membutuhkan sesuatu dari saya?” tanya Reza setelah terdiam sesaat.
“Saya berada dirumah sakit Tuan Kanchana. Anda dimana? Nona Amanda tidak bisa datang karena dia ada urusan mendadak yang harus diselesaikan dan beliau meminta saya untuk datang.”
“Amanda ada urusan mendadak untuk ditangani? Urusan apa?” Reza terkejut.
‘Memangnya urusan apa yang lebih penting dariku? Saat ini aku membutuhkannya, aku terluka tapi dia malah mengabaikanku?’ bisiknya dalam hati yang membuatnya sedih dan sakit hati.
“Entahlah, saya juga tidak tahu Tuan. Dia tidak mengatakan apa-apa pada saya. Ibunya meminta Nona Amanda pulang sekarang juga dan Nona Amanda tidak memberitahuku kenapa ibunya memintanya segera pulang.” Sandra menjelaskan apa yang dia tahu.
“Oh begitu rupanya. Aku masih berada di mobil, bawakan pakaian-pakaian itu padaku. Berdirilah tepat diluar rumah sakit, aku akan menghubungimu setelah melihatmu.” ucap Reza.
“Baik Tuan Kanchana!”
Reza menutup telepon dan segera menghubungi Amanda, “Kenapa ibumu memintamu pulang Amanda?”
“Aku juga tidak tahu. Aku baru saja sampai dirumah. Bagaimana keadaanmu Reza? Aku menyuruh Sandra mengantarkan pakaian untukmu. Maafkan aku ya sudah meninggalkanmu saat kamu sangat membutuhkanku, Reza.”
Meskipun Reza merasa kecewa tapi dia sadar kalau Amanda akan banyak kehilangan peluang dan harta jika dia melawan keluarga Rafaldi sekarang. “Tidak apa-apa! Pasti ada alasan Nyonya Rafaldi memintamu pulang. Aku tidak akan menyalahkanmu, Amanda.” ujarnya berusaha menenangkan Amanda dan dirinya juga.
“Aku akan menemuimu nanti jika semuanya berjalan baik dirumah. Jangan biarkan Sandra melihatmu saat kamu berganti pakaian.” ucap Amanda yang sangat protektif dan pecemburu.
Suasana hati Reza langsung membaik mendengar ucapan Amanda yang masih peduli padanya. “Iya, tenang saja tidak akan ada orang lain yang bisa melihatku telanjang, hanya kamu saja.”
“Aku pergi sekarang Reza! Akan kuhubungi lagi nanti.” Amanda memutuskan panggilan itu sebelum Reza sempat menjawab. ‘Ibu tidak boleh sampai tahu kalau aku berhubungan dengan Reza dan merencanakan sesuatu.’
Amanda benar-benar merasa sangat khawatir sekarang memikirkan keadaan Reza. Dia juga resah takut ketahuan ibunya kalau dia berhubungan dengan Reza dan punya rencana untuk menyingkirkan Arimbi.