GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 382. FITTING GAUN PENGANTIN


Damian:


“Ada apa? Kenapa kamu senyum-senyum sendiri seperti itu?” tanya Emir saat melihat Arimbi menatap layar ponselnya sambil tersenyum sendiri. Jari jemarinya bergerak mengetik sesuatu membuat Emir mengerutkan alisnya dan berjalan menghampiri istrinya. Dari samping dia melirik kearah ponsel Arimbi ingin tahu apa yang dikerjakannya.


“Tidak apa-apa suamiku sayang. Aku sedang membalas pesan dengan Joana.”


“Hmm….awas saja kalau kamu membalas pesan laki-laki lain.”


“Memangnya siapa laki-laki lain? Sayang, jangan membuatku marah. Aku sedang lelah dan butuh pijatan yang menyenangkan. Emir ku sayang……maukah kamu memijat kakiku?”


Arimbi sedang duduk menyandar di tempat tidur, Emir pun duduk didekat kaki Arimbi tanpa banyak bicara mengambil body lotion dan menuangkan ke tangannya. Lalu dia mulai memijat kaki Arimbi. Dia kembali menatap Arimbi yang kembali terkekeh dan terlihat senang sekali berbalas pesan dengan Joana.


“Apa yang sedang kalian bicarakan?”


“Urusan perempuan! Ah…..aku ingin memberitahumu kabar bagus.” ucap Arimbi tersenyum.


“Kabar gembira? Kamu menang lotere atau apa?” tanya Emir sambil memijat Arimbi.


“Joana sudah bertunangan dan acara pertunangannya tidak akan lama lagi digelar.”


“Ehm….bagus! Siapa tunangannya?” tanya Emir penasaran.


“Tuan Dion Harimurti!” kata Arimbi.


“Apa? Haha……Dion Harimurti dan Joana?” ujar Emir tertawa terbahak-bahak. Apa yang baru saja didengarnya itu seperti sebuah lelucon. Dia mengenal betul seorang Dion Harimurti. Pria yang juga punya sifat sama persis sepertinya dan juga musuhnya. Bagaimana bisa Joana bertunangan dengar pria itu?


“Emir sayang, apa menurutmu mereka tidak cocok? Tapi menurutku mereka itu pasti serasi sekali. Coba bayangkan, Dion yang dingin dan bermuka datar sepertimu berpasangan dengan Joana yang cerewet dan selalu bising. Hahaha….aku bisa bayangkan Joana pasti membuat Dion Harimurti sakit kepala setiap hari.”


“Jangan ikut campur urusan mereka. Sepertinya Dion memang selalu mengikuti apa yang kulakukan. Pesta pernikahan kita akan digelar tak lama lagi dan dia buru-buru ingin menggelar pesta pertunangan juga! Fuuhhhh! Pria itu tidak pernah mau kalah.” ujar Emir.


Mendengar perkataan suaminya, sebuah ide bagus pun muncul dibenak Arimbi.


Tepat jam makan siang, Emir dan Arimbi berjalan memasuki sebuah restoran mewah. Perutnya sudah mulai kelihatan tapi penampilan Arimbi membuatnya bertambah cantik. Pelayan membawa mereka ke meja yang sudah dipesan. Sejak mereka memasuki restoran dua pasang mata memperhatikan mereka.


Emir terlihat sangat posesif dalam memperlakukan Arimbi. Meja yang mereka duduki berada didekat jendela dengan pemandangan kearah pantai.


“Permisi Tuan dan Nyonya.” dua orang pelayan datang membawa beberapa makanan diatas troli yang sudah dipesan Emir terlebih dulu. Satu persatu hidangan itu diletakkan diatas meja.


**********


“Kita mau kemana lagi sekarang?” tanya Arimbi. “Kapan kita pulang? Aku sudah merindukan rumah kita, ayah dan ibu, nenek juga. Mereka selalu menanyakan kapan kita pulang.”


“Dua hari lagi. Sekarang kita pergi fitting baju pengantin. Besok akan ada acara peresmian hotel dan apartemen disini. Sekalian kita beli baju yang akan kamu pakai untuk acara besok.”


“Oh Emir sayang…..bolehkah aku beli oleh-oleh untuk nenek?”


“Nenek tidak butuh apa-apa. Dia sudah punya segalanya.” jawab Emir.


“Hah? Mana bisa begitu! Aku akan belikan oleh-oleh untuk nenek dan semua orang dirumah.”


“Kenapa kamu selalu saja membantahku Arimbi?”


Percakapan mereka terhenti karena sudah tiba di butik. “Tuan, Nyonya…..sudah sampai dibutik.”


Emir dan Arimbi turun dari mobil saling bergandengan tangan memasuki butik.


“Selamat datang Tuan dan Nyonya Serkan.”


“Edward! Senang bertemu denganmu lagi. Ini istriku, Arimbi.”


Saat Edward mengulurkan tangannya pada Arimbi, sebuah tangan menepisnya dan berkata, “Cukup kenalannya! Tidak perlu jabat tangan.”


“Hahahaha….Emir….Emir……kita ini berteman sejak lama. Apa salahnya berjabat tangan dengan istrimu? Ehm? Apa kau takut? Atau cemburu?” ujar Edward menggoda temannya.


Emir tak menanggapi hanya berkata, “Mana baju pesananku? Kami tidak punya banyak waktu. Aku sudah memintamu untuk datang tapi kamu selalu beralasan sibuk.”


“Aku akan datang pada hari pernikahan kalian. Baju pesananmu aku sendiri yang mengerjakan, aku ingin membuatkan gaun terbaik untuk istrimu. Kalau aku mengerjakannya disana takutnya ada bahan yang tidak tersedia disana.”


Tok tok tok


“Masuk!”


Dua orang staff membawakan sebuah gaun pengantin berwarna putih dan bertaburkan permata.


“Tolong kalian bantu Nyonya Arimbi memakai gaun pengantinya.” ucap Edward pada kedua staffnya. “Apa kamu tidak ingin mencoba jas pesananmu?” tanya Edward pada Emir.


Emir tak menjawab dan langsung mengambil set jas pesananannya dan pergi ke ruang pas yang bersebelahan dengan Arimbi.


********


“Amanda! Kamu tidak bisa terus-terusan bersikap seperti ini! Memangnya kamu pikir kamu itu siapa? Selama tinggal disini tak sekalipun kamu melakukan pekerjaan rumah! Kamu selalu memerintah ibu melakukan semuanya!” protes Adrian pada Amanda yang memerintah ibunya untuk menggosok pakaiannya.


“Adrian! Aku tidak pernah melakukan pekerjaan apapun dirumah keluarga Rafaldi, aku adalah putri satu-satunya! Apa salahnya jika ibu menggosok pakaianku? Toh aku juga memberikan bantuan keuangan pada keluarga ini? Lalu apa masalahnya?”


“Ibu bukan pelayanmu yang bisa kamu suruh-suruh seenakmu! Kamu bukan lagi putri keluarga Rafaldi! Sebaiknya kamu mulai berpikir untuk mencari tempat tinggal baru.”


“Kamu mengusirku Adrian? Aku berhak tinggal dirumah ini.” protes Amanda.


“Aku sarankan padamu Amanda, sebaiknya kamu mulai memikirkan mencari pekerjaan! Kamu bahkan tidak pernah memberikan kontribusi apa-apa untuk keperluan hidupmu selama tinggal disini! Seenaknya kamu bicara seolah kamu pernah memberi uang pada ibu.”


“Amanda! Keuanganmu semakin menipis dan keluarga ini tidak akan bisa membiayai kehidupanmu dan bayimu nanti. Bukankah pendidikanmu tinggi? Kenapa kamu sulit mendapatkan pekerjaan? Apakah begitu banyak orang yang sudah kamu singgung sehingga tak ada yang mau mempekerjakanmu?”


“Cukup Adrian! Jangan ikut campur urusanku! Uangku masih cukup banyak untuk biaya hidupku sampai anakku lahir.”


“Hahaha…..Amanda! Bangunlah dari mimpimu! Aku melihat sendiri buku rekeningmu. Apa kamu tidak tahu malu bilang ke orang-orang kampung ini kalau orangtua Arimbi memberikan uang yang banyak padamu?”


“Adrian! Amanda! Apa yang sedang kalian bicarakan?” Pratiwi tiba-tiba muncul menghentikan pembicaraan kedua anaknya.


“Bu, berhentilah mengerjakan pekerjaan rumah! Amanda bisa mengerjakan sendiri hal-hal kecil. Kenapa ibu selalu begini? Sampai kapan putri ibu ini akan sadar kalau sekarang hidupnya tidak lagi sebagai putri dari keluarga Rafaldi yang kaya?”


“Jangan bicara seperti itu pada adikmu. Dia sedang mengandung dan kondisinya tertekan! Setidaknya ibu masih bisa melakukan pekerjaan kecil untuknya. Biarkan saja dia istirahat, ini kehamilannya masih trismester pertama dan masih rentan. Ibu hanya tidak mau terjadi apa-apa pada kandungannya.”


“Aku tidak masalah kalau ibu hanya sekedar memasak tetapi dia memperlakukan ibu seperti seorang pelayan! Lagipula apa dia tidak berpikir bagaimana mensupport dirinya sendiri sekarang? Amanda! Apa kamu tidak tahu malu, heh? Lihatlah Arimbi, meskipun dia putri keluarga kaya dan menikah dengan Emir yang kaya raya tapi dia masih bekerja.”


“Diam! Jangan pernah menyebutkan nama perempuan itu didepanku! Aku tidak suka dibanding-bandingkan dengan perempuan tak berpendidikan itu!”


PLAK!


“Ah…..” Amanda terkejut saat pipinya terasa panas akibat tamparan keras Adrian.


“Arimbi jauh lebih baik darimu! Dalam segala hal, dia lebih baik!”