
“Nyonya Muda, ini semua barang-barang yang nyonya minta. Tolong di periksa jika semuanya sudah lengkap.” ujar seorang pengawal bernama Ken menyodorkan bungkusan plastik pada Arimbi. Dengan cepat dia dan Joana memeriksa lalu tersenyum.
“Sudah cukup! Terima kasih.” ucap Arimbi.
“Baiklah. Kami akan menunggu didepan.”
Pengawal itu keluar dan menutup pintu kamar. Jam sudah menunjukkan pukul enam sore.
“Joana, kamu jangan sampai salah bertindak saat didalam nanti.”
“Sudahlah Arimbi! Serahkan semuanya padaku. Sekarang kita siap-siap! Topeng itu pas sekali diwajahmu. Hahahahaha…...kamu terlihat sepertiku.” ujar Joana tertawa.
“Aku tidak sabar ingin melihat bagaimana reaksi Amanda nanti kalau rencananya gagal.”
“Sudah….sudah….Arimbi! Pokoknya kamu harus bersikap tomboi sepertiku! Ah….ternyata ini menyenangkan sekali!” ujar Joana yang memang merencanakan semua untuk malam ini.
Beberapa menit kemudian Arimbi yang memakai topeng wajah Joana mengendarai mobil Joana menuju ke Kelab Malam yang dikatakan Amanda. Saat mereka tiba disana, suasana kelab itu sudah mulai ramai. Kedua wanita itu berjalan menuju ke ruang VIP yang sudah dipesan oleh Jordan.
“Aku akan menunggumu diruang sebelah. Ingat, segera berikan sinyal jika ada bahaya.” ucap Arimbi mengingatkan Joana. Joana memakai topeng wajah Arimbi dan berdandan layaknya Arimbi.
Dengan langkah mantap Joana melangkah menuju kelantai atas dimana ruang VIP berada. Tanpa mereka sadari ada beberapa pasang mata yang mengawasi saat mereka memasuki kelab itu.
Ruang VIP 1808, Joana diantarkan oleh seorang pelayan. Setelah pintu dibuka, Joana pun melirik kedalam ruangan yang sudah ada Jordan sedang menunggu bersama Amanda. Dengan langkah pasti dia memasuki ruangan sambil tersenyum manis. Joana bisa melihat tatapan mata Amanda yang tajam menusuk.
Sejak dulu Joana tidak menyukai Amanda, bahkan sekarang dia lebih tidak menyukai wanita munafik itu. “Selamat malam. Maaf aku terlambat, jalanan sedikit macet tadi karena ada kecelakaan lalu lintas.” ucapnya dengan lancar.
“Tidak apa-apa Nona Arimbi. Kami juga baru sampai disini. Bagaimana kalau kita langsung pesan makanan saja? Disini makanannya juga enak-enak.” ucap Jordan yang tampak bersikap biasa saja.
Sementara di ruang VIP sebelah, ada Arimbi yang memakai topeng wajah Joana. Dia mengunci pintu ruangan itu sambil menikmati makanan yang dipesannya.
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan di pintu, Arimbi mengeryitkan keningnya karena dia merasa tidak meminta sesuatu dari pengawal. Kenapa mereka mengetuk pintu ruangannya?
Dengan rasa curiga Arimbi melangkah menghampiri pintu lalu membukanya sedikit untuk melihat siapa yang mengetuk pintunya. Ekspresi wajahnya langsung berubah saat melihat siapa yang berdiri disana.
“Rino? Ada apa kesini? Apakah Emir juga ada disini?”
Arimbi membuka pintu lebih lebar untuk melihat jika suaminya juga ada disana. Tapi Rino menggelengkan kepalanya.
“Maaf Nyonya, saya hanya ingin memberikan ini.” ujarnya memberikan sebuah surat kepada Arimbi. “Nyonya, saya harap berhati-hati. Ada beberapa orang dibawah yang memperhatikan Nyonya dan Nona Joana sejak masuk tadi. Saya akan meminta dua orang pengawal untuk menemani Nyonya di ruangan ini untuk jaga-jaga.”
“Rino. Aku rasa tidak perlu. Biarkan mereka berjaga-jaga di luar saja.” ucap Arimbi menolak.
“Maaf Nyonya tapi ini perintah Tuan Emir. Mohon kerjasamanya, agar tidak ada yang mencurigai.”
Akhirnya Arimbi pun mengerti dan menganggukkan kepalanya. “Dimana mereka sekarang?”
“Ada di lantai dansa. Saya memilih dua orang pengawal wanita untuk menemani Nyonya. Jadi tidak akan ada yang curiga. Mereka akan segera kemari. Saya permisi dulu.”
Sementara itu di ruang VIP yang dipesan Arimbi, dia ditemani dua orang wanita berpenampilan cantik. Arimbi tertawa didalam hatinya, memikirkan bagaimana suaminya mengatur dan memilih orang-orang yang mengikutinya malam ini.
“Nyonya, apa makanannya sudah cukup?” tanya seorang pengawal wanita pada Arimbi.
“Sudah cukup! Aku makan terlalu banyak, hehe….” Arimbi terkekeh. Lalu dia menatap pengawal wanita satunya lagi yang terlihat serius menatap layar laptop.
“Ada apa? Semuanya baik-baik saja?” tanya Arimbi penasaran.
“Nyonya, mari kita lihat apa yang terjadi diruangan sebelah.” ucap pengawal wanita bernama Sintha. Dia menyalakan laptop yang memang sudah terhubungkan dengan kamera CCTV diruangan Joana berada bersama Jordan dan Amanda. Ternyata Emir sudah mempersiapkan semuanya sejak awal, dia meminta anak buahnya untuk masuk kesana dan memasang kamera tersembunyi.
Sementara itu didalam ruangan, Joana yang berwajah Arimbi duduk disamping Jordan. Pria itu sebenarnya merasa takut dan gelisah setelah mengetahui status Arimbi. Tapi, dia yang merasa ditipu dan dijebak oleh Amanda punya rencana sendiri malam ini.
“Nona Amanda. Bagaimana makanannya?” tanya Jordan menatap Amanda.
“Semuanya enak. Makanan disini memang terbaik.” Amanda tersenyum penuh arti.
“Apakah kamu sudah pernah kesini sebelumnya?” tanya Jordan lagi.
“Oh, belum. Ini pertama kalinya saya datang kesini. Tuan Jordan kehidupan saya cukup sederhana, hanya bekerja dan dirumah saja.”
“Oh begitu. Untuk malam ini mari kita bersulang. Saya sudah memesan anggur terbaik. Saya harap Nona Arimbi ikut bergabung bersulang bersama kami.” ucap Jordan menoleh menatap Joana.
“Tidak masalah. Untuk menghormati undangan Tuan Jordan dan kerjasama kedua perusahaan malam ini saya ikut bersulang.” ucap Joana tersenyum.
Ketiganya mendentingkan gelasnya lalu Joana menyesap anggur sambil melirik Amanda yang secara kebetulan juga meliriknya sambil mengeryitkan keningnya. Joana terlihat sangat santai dan tenang lalu dia mengisi gelasnya lagi dengan anggur.
“Arimbi, sebaiknya kamu jangan banyak minum.” ucap Amanda dengan penuh perhatian.
“Toleransiku cukup bagus, bukankah begitu Amanda? Jadi malam ini aku ingin minum beberapa gelas lagi. Jarang sekali aku bisa menikmati anggur seenak ini. Tuan Jordan terima kasih atas undangannya.”
“Sama-sama Nona Arimbi. Seharusnya saya yang berterima kasih atas kedatangan anda.” ucap Jordan. Joana benar-benar menikmati waktunya bersenang-senang, sikapnya yang lugas dan periang persis sama seperti Arimbi sehingga tidak ada yang menyadari jika wanita itu bukanlah Arimbi.
Dreeetttt dreeetttt dreeeetttt…..Ponsel Amanda berdering……
“Maaf, saya menjawab telepon sebentar.” ucap Amanda lalu bergegas keluar dari ruang VIP itu dan menuju ke arah sudut yang tidak dilalui orang. “Halo. Dimana kamu?”
“Kamu sudah keluar dari ruangan itu?” tanya si penelepon.
“Sudah. Aku ada di sudut lorong sekarang. Apa rencana selanjutnya?” tanya Amanda sambil celingak celinguk mengamati sekelilingnya memastikan tidak ada orang lain disana.
“Diamlah disana sebentar saja. Lima menit lagi akan ada penggerebekan di kelab itu. Kamu pergi saja dulu ke toilet dan diam disana selama sekitar lima belas menit.” ujar orang dari seberang telepon.
“Baiklah. Apakah semuanya aman?” tanya Amanda lagi.