
Elisha menduga ada yang sedang merencanakan sesuatu untuk merundung Arimbi. Tapi dimana Emir? Kenapa dia tidak kelihatan beserta para pengawalnya? Selama ada Emir disini, tidak akan ada yang berani macam-macam pada Arimbi.
“Terimakasih Nona Elisha.” Arimbi tahu bahwa Zivanna tidak akan lupa karena dia gagal mempermalukan Arimbi kali ini. Karena Arimbi tidak tahu apa yang akan terjadi, dia pun memutuskan untuk tetap bersama Elisha agar terhindar dari masalah.
“Tidak apa-apa. Kamu jangan sungkan akrena kamu ada dipihak Emir, maka aku harus menjagamu. Mereka semua hanya berpura-pura saja karena Emir tidak ada disini.” kata Elish tersenyum.
Kabar tentang Arimbi menjadi pembantu Emir telah menyebar luas berkat Gionino Lavani yang sengaja mengorek hal itu dari Amanda. Malam ini hanya tokoh penting saja yang hadir. Itu artinya semua orang dari masyarakat kelas atas mengetahui kabar itu.
Karenanya bahkan jika mereka merundung Arimbi, mereka tidak boleh melakukannya dihadapan Armir. Kalau tidak mereka akan kena batunya.
“Dimana Emir?” tanya Arimbi.
“Elisha menggelengkan kepalanya, “Entahlah. Aku tadi pergi sebentar tapi dia sudah pergi. Aku tidak melihatnya lagi saat aku kembali. Aku juga tidak melihat satupun pengawalnya.”
“Oh, begitu ya?” jawab Arimbi.
Sementara itu disalah bagian di rumah itu, jauh dari tempat pesta, Emir sebenarnya sedang membalas Reza karena telah menambahkan sesuatu ke gelas anggur Arimbi. Kalau istrinya meneguk minuman itu, tubuhnya akan memanas.
Reza ingin agar Arimbi berselingkuh dengannya di tempat parkir setelah dia meminum anggur itu. Jika rencananya berhasil maka dia akan bertanggung jawab atas perbuatannya dengan menikahinya. Lalu Keluarga Rafaldi pasti akan mengizinkan pernikahan mereka.
Di halaman paling ujung yang kosong, si brengsek Reza dibuat babak belur setelah diseret dan dimasukkan kedalam karung oleh pengawal Emir. Sementara tangannya diikat dan maatnya ditutup, seseorang telah mencekokinya dengan alkohol yang berisi obat bius yang dia gunakan untuk menjebak Arimbi. Glek….di emnegrang selagi berusaha membebaskan diri tapi usahanya sia-sia. Karena cairan pahit itu dijejalkan ke mulutnya tanpa henti.
Sementara itu Emir duduk manis di kursi rodanya sambil melihat bajingan itu menderita. Rino segera mendorong Emir pergi dari tempat itu setelah melihat Reza menegak semua alkohol yang ia peruntukkan pada Arimbi.
Kaki dan tangannya akhirnya dilepaskan ikatannya lalu Reza alri terbirit-birit dengan ketakutan. Dia terjatuh dan terduduk di tanah sambil berusaha mengatur napasnya dan melepaskan kain hitam yang menutup matanya.
Dengan seluruh kekuatannya, dia berusaha bangkit dan melihat ke sekelilingnya tapi tidak ada seorangpun disana. Hanya dia sendiri dihalaman sepi itu, dia mengerjapkan matanya dan kembali mengedarkan pandangan ke seluruh halaman kosong itu.
Tapi tidak ada siapapun disana, bagaimana dia bisa sampai disini? Siapa orang yang sudah menyeretnya kesini dan menyiksanya? Pikirannya berkecamuk memikirkan kejadian yang menimpanya.
Setelah menyeka darah yang mengalir dari hidungnya, Reza berdiri dan mengambil ponselnya untuk menghubungi Amanda. Karena dia dia tidak bisa kembali lagi ke pesta dalam keadaan seperti itu. Amanda langsung menjawab panggilannya, “Ada apa Reza? Kamu dimana ini?”
Suaranya lirih saat dia berkata, “Bukankah kamu sudah sampai Reza? Kemana saja kamu? Aku mencarimu dari tadi tapi aku tidak menemukanmu di area pesta.”
“Amanda kurasa aku berada di halaman belakang. Disini sunyi sekali tidak ada siapapun. Aku rasa kamu harus segera datang kesini saat tak ada orang yang melihatmu. Seseorang menyeretku kesini dan memukuliku. Ku rasa aku tidak bisa kembali ke pesta itu dengan wajah babak belur begini.”
“Reza, apa kamu tahu siapa pelakunya?”
“Tidak! Aku tidak tahu. Mereka menangkapku lalu memasukkan aku kedalam akrung dan dipukuli. Lalu mataku diikat kain hitam dan aku dipaksa minum alkohol. Aku nyaris mati tersedak tadi. Mereka memaksaku meminum banyak alkohol.” ujar Reza menjelaskan dengan panik. Reza menyeka mimisannya lagi lalu melonggarkan dasinya karena dia mulai merasa panas.
“Amanda! Tolong bawakan tisu juga ya. Hidungku berdarah.”
“Baiklah, aku akan segera kesana.” jawab Amanda dengan suara lirih,Amanda berusaha menyakinkan Reza untuk menunggunya datang sebelum dia menutup telepon.
“Amanda!” Gio yang cemas sejak tadi memperhatikan Amanda pun datang menghampirinya. “Ada apa Amanda? Kamu tampak cemas sekali setelah menerima panggilan telepon barusan.”
“Aku baik-baik saja.”Jawabnya dengan lembut. “Gio, mereka sudah mulai berdansa. Pergilah bergabung bersama mereka. Ini pesta ulang tahun adikmu, kamu harus berada disana bersamanya.”
Gio menatapnya dengan hangat dan mengulurkan tangan kanannya sambil tersenyum, “Aku tahu. Tapi aku butuh pasangan. Amanda, maukah kamu berdansa denganku?”
Amanda tidak punya alasan yang tepat untuk menolak tawaran Gionino Lavani. Akhirnya dia pun menerima tangannya tetapi dia terusa saja menginjak kakinya karena Amanda terus memikirkan Reza dan mengkhawatirkannya. “Maaf Gio. Sudah lama sekali aku tidak berdansa, aku sudah mulai lupa.”
Namun Gio menatapnya dan dengan tulus berkata, “Tidak apa-apa. Kamu sedang memikirkan apa Amanda? Ceritakanlah padaku. Aku akan membantumu.”
Amanda berusaha menghindari tatapan Gio lalu berkata, “Aku tidak apa-apa Gio! Tapi aku harus pergi...” sebelum ia pamit ke kamar mandi, terdengar keributan dari luar dan Gio memasang wajah cemberut. Ini ulang tahun adiknya tapi sepertinya ada orang yang sudah berani membuat keributan di acara pesta seperti ini. Sebagai Tuan rumah, dia berkewajiban mengendalikan segalanya.
Semua tamu termasuk Amanda bergegas keluar untuk melihat dan mencari tahu apa yang sebenarnya telah terjadi disana. Setelah mereka keluar, mereka melihat banyak orang mengerumuni halaman belakang tempat dimana Reza berada. Amanda langsung merasa tidak tenang, pasti sesuatu telah terjadi dan dia mulai berandai-andai, mungkinkah orang-orang ini menemukan Reza?
“Ayo kita lihat Gio! Aku ingin tahu apa yang terjadi?” meski Amanda merasa cemas tapi dia berusaha menyembunyikan keingintahuannya dan menarik Gio kearah kerumuman.
Tidak ada seorangpun yang dapat menahan diri dari gosip, termasuk Arimbi. Dia juga mengikuti kerumuman bersama Elisha setelah dia puas makan.
“Arimbi!” dua wanita berhenti saat dia mendengar suara Emir yang dingin memanggilnya. “Kamu dan Elisha mau kemana?” tanya Emir.
Elisha mendekatinya dan berusaha menjelaskan untuk mewakili Arimbi. Elisha berusaha menjadi adik ipar yang baik buat Arimbi. “Aku ingin tahu ada kejadian apa jadi aku mengajak Arimbi pergi melihat. Ini bukan idenya. Aku penasaran saja mau tahu.”
“Diam disini! Kalian jangan kemana-mana.” Emir bersikeras. Arimbi dan Elisha slaing bertukar pandang dan takut meninggalkan tempat itu. Meskipun begitu Emir meminta Dimas untuk mencari tahu apa yang terjadi disana.
Selain mereka masih ada orang-orang terpandang lainnya dirumah itu. Meskipun mereka juga merasa penasaran tapi mereka memilih untuk menunggu cerita dari orang lain alih-alih mencari tahu sendiri.