
Arimbi mencoba menenangkan diri dan menelusuri kembali rute yang dia ambil ketika dia keluar. Karena dia terlalu tertekan akibat ban mobilnya yang dicopot, Arimbi pun lupa dengan jalur yang telah dia ambil. Dia tidak bisa mengingat apapun sama sekali. Dia pun kehabisan akal dan mengeluarkan teleponnya dan mencoba menghubungi Emir.
Untungnya dia sudah punya nomor telepon Emir, setidaknya dia punya cara untuk mencari bantuan saat ini. Emir tidak mengangkat teleponnya. Tapi Arimbi tidak menyerah dan setelah mencoba enam kali akhirnya Emir menjawab panggilannya.
“Emir!”
Tidak ada jawaban.
“Emir, aku tidak bisa menemukan jalan masuk. Bisakah kamu meminta seseorang untuk membawaku masuk?” tanya Arimbi dengan suara lembut tapi masih tidak ada jawaban.
“Emir...” suaranya berubah menjadi lembut dan memohon.
Mungkin karena nada suaranya yang terdengar cukup manis sehingga melelehkan gunung es seorang pria karena akhirnya Emir berkata, “Tetap ditempatmu.”
“Baiklah. Terimakasih Emir.”
Meskipun Emir adalah sumber kesulitannya tapi dia harus tetap berterimakasih agar dia masih bisa memanfaatkan suaminya itu lagi nanti saat dia butuh. Setelah menutup telepon, Emir memanggil kepalay pelayannya dan memberi perintah, “Tuan Beni, pergilah kedepan dan pimpin jalan untuknya. Dia tidak ingat jalan masuk.”
Beni pun mengangguk dengan hormat, “Baiklah.”
Emir hendak beranjak dari kursi rodanya ketika sebuah pikiran terlintas dibenaknya. Lalu dia berhenti dan memanggil kembali Beni. “Michael Hara akan datang untuk menata rambutnya. Setelah mereka selesai, bawa dia berkeliling kompleks dan suruh dia berjalan sepuluh putaran agar dia ingat jalannya. Tidak masalah jika dia tidak mengingat semuanya tapi dia harus ingat jalan keluar dan jalan pulang kepadaku.”
Beni mengangguk, “Baik, Tuan Emir.”
‘Nyonya Muda Arimbi tidak bisa disalahkan kalau dia tersesat. Villa Serkan sangat besar dan ditutupi jalur pepohonan yang membuatnya terlihat seperti labirin raksasa. Nyonya Muda Arimbi masih baru disini jadi wajar jika dia masih belum tahu jalan.’ bisiknya dalam hati.
Setiap orang yang bekerja di Villa Serkan juga pernah tersesat berkali-kali sebeleum akhirnya mengingat semua jalan-jalannya. Beni keluar untuk memimpin Arimbi masuk dan dibawah bimbingannya Arimbi pun menemukan dirinya sudah berada dirumah lagi.
Dia tidak melihat suaminya, lalu dia berbalik dan berjalan keluar. Tebakannya adalah Emir pasti berada di pavilliun di taman. Itu adalah tempat yang sejuk dengan pemandangan sangat bagus dan cocok untuknya. Setelah menghabiskan beberapa waktu bersama Emir, Arimbi mengetahui kalau pria itu menyukai kedamian dan ketenagan karena rumahnya selalu dalam keadaan hening.
Semua pekerja berjalan tanpa suara, sering kali Arimbi melompat ketakutan karena kemunculan mereka yang tiba-tiba sehingga Arimbi berpikir para pekerja itu cocok untuk bekerja dirumah hantu.
Ketika Arimbi sampai di pavilliun, dia melihat Emir sedang makan. Aroma makanannya mulai membuatnya ngiler dan dia menelan ludahnya.
“Hai Emir.”
Arimbi menyapa dan langsung duduk, ketika dia melihat ada satu set alat makan tambahan, dia pikir itu untuknya. Dia pun langsung mengambilnya dan ikut makan. Emir meliriknya sebelum menyesap supnya. “Siapa yang mengizinkanmu duduk? Aku pernah bilang kalau kamu ingin tetap tinggal disini maka kamu harus mengurus dirimu sendiri!”
“Aku pulang tergesa-gesa dan tidak sempat membeli bahan makanan. Emir, bisakah kamu mengizinkanku makan? Anggap saja kamu mentraktir aku sekali ini saja. Aku akan membayarnya lain kali dengan memasak untukmu.”
Arimbi langsung menyendok semangkuk sup. ‘Ah, Emir benar-benar tahu bagaimana memanjakanku, meja ini dipenuhi makanan enak dan lezat yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Asyikkk….aku bisa makan sepuasnya.’ bisiknya dalam hati.
Setelah beberapa suap, Arimbi kembali teringat alasannya bergegas masuk ke villa, “Emir, kenapa kamu menyuruh pengawlamu melepas ban mobilku?”
Sebuah masalah? Ya, benar itu memang jadi masalah buatnya.
“Emir! Aku butuh mobil untuk berkeliling. Apa yang harus kulakukan dengan mobil tanpa ban itu? Apa aku harus berjalan kaki kemanapun?”
“Kita punya banyak supir. Kalau mau pergi kemana-mana cukup beritahu pada Beni saja. Dia kepala pelayan yang tadi membawamu masuk. Kamu bisa beritahu dia apa yang kamu perlukan dan dia akan membantumu.”
Menurut Emir, sangat berbahaya bagi Arimbi jika dia terus mengemudi dengan cara seperti itu dan jika dia mengalami kecelakaan maka akan berakibat fatal. Emir tidak mau ada rumor tentang dirinya yang menjadi penyebab kemalangannya. Arimbi terdiam tapi dia masih merasa belum puas.
“Jika itu masalahnya, kamu tidak perlu melepas ban mobilku. Itu mobil baru yang diberikan ibu padaku. Mobil itu keluaran terbaru loh!” protesnya.
“Sepertinya kamu mau aku menggantinya dengan mobil baru ya?” sindir Emir. Matanya menyipit menatap Arimbi sehingga membuat Arimbi diam dan menundukkan wajahnya. Tatapan dingin suaminya itu terlalu menusuk dan dia merasa seperti ada belasan belati yang ditusukkan padanya.
“Kamu merusak mobil baruku. Sudah seharusnya kamu memberi ganti rugi?” ujar Arimbi memundurkan duduknya sedikit. “Kamu bisa meminta orang-orang itu untuk mengembalikan ban mobilku.”
Arimbi melihat bagaimana cekatannya para pengawal itu melepas ban mobilnya. Berarti mereka snagat terampil dan sudah terbiasa mengganti ban mobil.
“Apa kamu masih mau makan gratis?” tanya Emir tiba-tiba yang dijawab Arimbi dengan anggukan.
“Apa kamu sudah selesai makan?” tanya Emir lagi.
“Belum.”
“Semua makanan dimeja ini seharusnya sudah bisa menutup mulutmu yang ceriwis itu.”
Arimbi mengerucutkan bibirnya dengan kesal, lalu menundukkan kepalanya dan melanjutkan makan. Emir tahu kalau arimbi pasti sedang mengutukinya karena dia bisa melihat bibir istrinya itu bergerak-gerak mendesis tapi dia tidak bisa mendengar apa yang diucapkannya.
Keduanya pun diam dan melanjutkan makan mereka tanpa ada satupun yang berusaha untuk bicara lagi. Emir bertekad tidak akan membiarkan Arimbi mengemudi lagi dan dia tidak peduli mau sekeras apapun Arimbi menentang keputusannya itu nanti, tidak peduli seberapa kerasnya Arimbi berusaha merayunya tetap Emir tidak akan merubah keputusannya.
Sedangkan Arimbi mengira dengan rayuan suara lembut dan manjanya akan mampu menggoyahkan pendirian suaminya tapi dia tidak akan pernah menang melawan suaminya itu. Emir tidak pernah banyak bicara tapi dia selalu mengalahkannya dan membuatnya mundur dengan tindakannya. Benar-benar rubah yang licik!
Setelah pasangan suami istri itu selesai makan siang, mereka menerima kabar kalau Michael Hara sudah tiba. Para pengawal bergegas membersihkan meja sedang Arimbi berjalan mendekati Emir lalu mendorong kursi rodanya keluar dari pavilliun.
Ketika dia mendengar Michael sudah sampai, Arimbi langsung ingin menemuinya. Emir memperhatikan gerak gerik istrinya itu lalu menoleh ke belakang, “Apa kamu menyukai Mike?”
“Tidak! Aku hanya menyukaimu Emir! Hanya kamu satu-satunya.” jawab Arimbi dengan tersenyum manis. Dia tidak bodoh untuk terjebak dalam jeratan kata-kata Emir lagi. Tapi memang benar yang dikatakannya, dia tidak menyukai Michael.
Hanya saja di kehidupan sebelumnya dia agak kesal karena tidak pernah bisa membuat janji dengan Michael Hara untuk menata rambutnya. Rasa penyesalannya berlarut-larut yang mendorongnya ingin segera bertemu dengan pria itu.
Emir pun tidak jadi marah setelah mendengar jawaban istrinya. “Tidak semua orang bisa memanggil Michael Hara untuk mendatangi rumah mereka.”
“Aku tahu Emir. Terimakasih ya, kamu baik banget sama aku.” Arimbi ahli dalam menyanjung.