
“Selepas makan siang, ayah. Aku tidak mau bertemu dengan Amanda disana. Bagaimanapun kami berdua bersaing untuk mendapatkan kontrak kerjasama ini. Ini adalah caraku untuk mendapatkan pengakuan dari orang-orang di perusahaan ini.”
“Andalkan dirimu sendiri. Aku yakin kamu bisa melakukannya dengan baik. Datanglah pada ayah jika ada hal yang tidak kamu mengerti atau ingin menanyakan tentang pekerjaan.”
“Baik. Aku akan selalu mengganggu waktu ayah karena putrimu ini masih terlalu bodoh. Tapi aku tidak akan mengecewakan ayah. Aku janji!”
Ayah dan anak itu berbincang sambil mengerjakan beberapa pekerjaan mereka. Lalu Arimbi kembali keruang kerjanya. Setelah duduk dikursinya, dia menghela napas dalam-dalam. Dia mengingat kembali kejadian hari ini. Bertemu dengan dua wanita penggemar Emir. Dua-duanya wanita licik dengan cara yang berbeda.
Arimbi bersumpah akan memperkuat dirinya agar mampu menghadapi serangan dari semua penggemar berat Emir dan juga musuh-musuhnya.
Arimbi masih ingat bagaimana Zivanna membantu Amanda mempermalukannya berkali-kali. Tapi kali ini dia tidak akan menjadi pengecut meskipun tanpa bantuan Emir. Kemampuan seni bela dirinya lumayan hebat, dia bisa menghadapi siapapun yang menantangnya.
Bahkan jika dia dan Zivanna bersinggungan, kepala keluarga Lavani bukan orang yang tidak logis. Jika Arimbi sampai menyinggung Zivanna, paling-paling dia dijauhi dan dihukum olehnya tapi tidak akan berubah menjadi perselisihan antara dua perusahaan kecuali Arimbi melakukan sesuatu yang menyakiti Zivanna. Saat dia sedang sibuk dengan pikirannya, ponselnya berdering. Ada telepon masuk dari Amanda.
Arimbi mencibir melihat siapa yang meneleponnya. Si ular betina yang licik ini! Pasti dia menelepon karena maslah Zivanna, pasti wanita itu sudah menceritakan semua padanya. Dengan enggan dan malas-malasan dia menjawab panggilan telepon itu.
“Arimbi, kenapa kamu bersikap kasar pada Nona Zivanna? Tidakkah kamu tahu sikapmu itu bisa memberi masalah pada perusahaan kita?” tanya Amanda begitu panggilan tersambung.
“Siapa yang bersikap kasar? Apa aku harus diam saja saat dia mengancamku dan memarahiku? Amanda, jangan terlalu suka mencampuri urusan orang lain. Sebaiknya kamu fokus pada hidupmu dan masa depanmu. Reza akan segera menikah, lalu kamu kapan? Apakah kalian berpisah?”
“Arimbi! Jangan mengalihkan pembicaraan!” ujar Amanda dengan nada marah.
“Baiklah. Untuk kamu ketahui, aku tidak mengatakan sesuatu yang salah pada Nona Zivanna. Apa haknya meneriakiku dan mengancamku? Amanda, jangan bilang kalau kamu yang memberikan nomor teleponku padanya.” ujar Arimbi yang masih tenang. Dia sudah tahu waktunya akan segera datang untuk membasmi semua wanita-wanita gila ini.
“Ya, memang aku. Dia bilang ada hal penting ingin dibicarakan denganmu. Apakah benar Tuan Emir memesan pakaian untukmu hari ini?” tanya Amanda memastikan apa yang didengarnya dari Zivanna.
“Bukan urusanmu! Kalau Emir membelikan pakaian baru untukku, itu tidak ada hubungannya denganmu. Tapi, ya memang benar dan Michele baru saja pergi setelah selesai mengukurku.”
Amanda langsung menegurnya, “Arimbi, sejak kamu pergi ke Villa Keluarga Serkan, kamu benar-benar berubah dan sekarang sangat berani untuk membantah siapapun. Apa yang sudah Tuan Emir katakan padamu? Apakah dia akan melindungimu?”
Tanpa menunggu Arimbi menjawab, dia berkata seolah-olah itu untuk kebaikan Arimbi sendiri, “Kalau begitu aku sarankan padamu untuk menjauh dari Tuan Emir. Bahkan jika dia cacat, dia hukanlah seseorang yang bisa disentuh oleh wanita dengan statusmu itu. Diantara semua wanita yang menyukainya, tidak satupun dari mereka adalah musuh yang mudah. Kamu sama sekali tidak bisa mengalahkan wanita-wanita itu dengan tingkat kecerdasanmu. Selain itu para wanita di keluarga Serkan juga tidak bodoh. Kamu bahkan tidak bisa melawan Nyonya Tua Serkan!”
Arimbi merasa ingin tertawa mendengar perkataan Amanda yang munafik itu. Tapi dia memutuskan untuk tidak melawannya, karena belum tiba saatnya untuk membalas Amanda. “Terima kasih karena telah mengingatkanku.” ucapnya dengan tenang. Amanda tidak bisa melihat senyum mengejek Arimbi.
Arimbi sudah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi rencana kotor dari semua saingan cintanya sejak lama. Dia bahkan akan menikmati dan bersenang-senang saat para wanita itu menyerangnya.
Kata-kata Arimbi membuat Amanda merasa agak sedih. Dia berpikir bahwa Arimbi telah berubah menjadi licik, dia hanya tidak bisa membuatnya mengungkapkan informasi rahasianya. Lalu dia mengalihkan pembicaraan. “Reza akan segera menikah.” dia ingin memancing Arimbi yang menurutnya masih mencintai pria itu.
“Amanda, apakah kamu baik-baik saja dengan kenyataan bahwa dia tidak akan pernah menikahimu?”
“Arimbi! Apa yang kamu bicarakan? Kamu yang selalu menyukai reza dan kamu yang ingin menikah dengannya. Seharusnya aku yang menanyakan pertanyaan itu padamu.” sahut Amanda.
“Amanda, apa kamu benar-benar berpikir bahwa aku ini bodoh? Apa kamu masih mau berpura-pura denganku? Kamu dan Reza memiliki perasaan satu sama lain, kalian bahkan sering menghabiskan waktu bersama sebagai kekasih tetapi kamu terus saja berpura-pura. Apa kamu tidak capek? Kamu ingat Seberapa cemburunya kamu ketika kamu harus melihatku berkencan dengannya? Kamu cukup kuat Amanda dan aku mengagumimu atas kemampuanmu menyerahkan pria yang kamu cintai pada wanita lain. Apa kamu berencana jadi wanita simpanan Reza?”
Arimbi benar-benar berlidah tajam dan langsung menyentuh bagian paling sensitif Amanda. Arimbi memang mengaguminya karena keahliannya bersandiwara. Dia bahkan dibodohi oleh Amanda dan Reza dikehidupan sebelumnya.
“Tidak ada seorangpun yang dapat mengambil apa yang menjadi milikku dariku kecuali aku yang membuangnya. Baik itu barang maupun orang. Bagaimana bisa aku menyerahkannya? Arimbi siapa yang memberitahumu bahwa aku dan Reza memiliki hubungan rahasia? Kamu hanya mendengar rumor saja, kamu sudah salah paham. Jika kamu masih mencintai Reza, cepat cegah dia menikah dengan Ruby. Perempuan itu tidak pantas untuk Reza.”
Amanda ingin menghasut Arimbi untuk mencegah Reza menikahi Ruby. Dengan begitu Arimbi tidak hanya akan mengecewakan orang tuanya, tetapi juga menyinggung keliarga Lavani dan akan membuat Emir tidak akan menyukainya. Itu sama seperti membunuh tiga burung dengan satu batu.
“Reza yang memperkosa Nona Ruby jadi dia harus bertanggung jawab untuk menikahinya. Aku tidak mungkin menghentikannya dan menjadikannya sebagai orang yang tidak bertanggun jawab bukan?”
“Dia juga dipaksa. Selama kamu menghentikannya, dia pasti akan menyerah.” ujar Amanda lagi.
Arimbi tertawa, “Haha…..apa kamu tahu bahwa aku pergi ke Keluarga Kanchana dan mengambil semua hadiah yang pernah kuberikan padanya? Kami sudah berakhir selamanya! Aku tidak peduli dengan siapa dia menikah sekarang, bahkan jika dia mati pun aku tidak peduli! Karena semua itu tidak ada hubungannya denganku Arimbi Saraswaty Rafaldi!”
“Amanda. Seharusnya kamu yang melakukan sesuuatu jika kamu memang tidak bisa menerima kenyataan pahit itu. Kamu tidak bisa selamanya menjadi penggemar rahasianya. Kamu akan kehilangan terlalu banyak dengan cara itu.” ujar Arimbi bermaksud menyindirnya.