
Arimbi menarik kembali tangannya. Menurunkan kepalanya untuk melihat tangannya. Kemudian dia bertanya dengan bingung. “Apa ada yang salah dengan tanganku? Bakteri apa yang ada ditanganku?”
Emir tidak menjawab dan hanya diam saja tanpa menatap kearahnya.
Emir tak menjawab dan masih tetap saja diam. Setelah beberapa saat, dia berkata dengan suara tegas, “Arimbi, Adrian itu bukan saudara kandungmu.”
“Iya. Dia memang bukan saudara kandungku, tapi kami sudah bersaudara selama lebih dua puluh tahun. Walaupun kami tidak memiliki hubungan darah tapi kami teap saudara. Di lubuk hatiku, dia adalah kakakku.”
Emir tidak meresponnya. Arimbi tidak bodoh dan dia sadar terhadap apa yang terjadi. Dia melihat emur yang penuh dengan rasa frustasi sekaligus merasa geli. Kemudian Arimbimencubit wajahnya yang tampan dua kali seraya berkata, “Emir, aku pikir kamu harus mengganti nama keluargamu. Ganti saja namamu menjadi Emir Tukang Cemburu.”
Arimbi memperhatikan tidak ada reaksi apapun dari suaminya itu, dia pun melanjutkan berkata, “Ayolah, dia hanya kakakku. Apa yang salah dengan menggandengnya? Dia beberapa tahun lebih tua dariku. Saat aku masih kecil dia membantuku mengganti popokku, memandikanku dan menidurkanku. Setiap kali kami keluar untuk bermain dia akan menggendongku.”
Tiba-tiba Emir menariknya kedalam pelukannya. Dia berbalik dan menekan tubuhnya dikursi. Tubuhnya yang berat menekan Aarimbi, lalu dia menarik dan menekan kedua tangannya di kepalanya. Dengan suara dingin Emir berkata, “Arimbi, aku tidak peduli tentang masa lalumu!”
“Sekarang dia bukan lagi kakakmu. Aku tidak suka dia memegang tanganmu. Dan aku juga tidak suka kamu dekat dengannya! Kalaupun kalian berdua bersaudara kamu tidak seharusnya terlalu dekat dengannya ketika kamu sudah dewasa. Omong-omong aku tidak suka kamu melakukan kontak fisik dengannya! Apa kamu paham? Kamu sekarang adalah istriku, dan semua orang akan memperhatikan segala sepak terjangmu.”
“Semua orang juga tahu tentangmu bahwa kamu adalah putri Keluarga Rafaldi yang tertukar. Jagalah nama baikku dan nama baik keluargamu! Jika ada orang lain yang melihat bagaimana interaksimu dengannya tadi maka orang-orang akan salah paham dan bisa menggunakan itu sebagai cara untuk menyerang dan menghancurkan nama baik. Kalian bukan saudara kandung!”
Arimbi ingin mengatakan sesuatu tapi Emir mengatupkan kedua bibirnya yang merah lalu dia menelan semua hal yang ingin dia sampaikan. Seusai berciuman, bibir Emir dan lidahnya masih menggosok-gosok daun telinganya Arimbi.
Suaranya yang lirih membuat dirinya semakin bergairah saat berkata, “Arimbi tolong berjanji padaku. Jaga jarak dengan Adrian dan kalian berdua harus tetap menjadi saudara! Kamu sedang mengandung anakku saat ini. Jika orang lain melihat kamu berpelukan dengan kakakmu maka mereka akan menyebarkan rumor tak sedap. Mereka percaya rumor tentangku, jika hal-hal seperti itu berkembang maka keluarga Serkan tidak akan melepaskanmu dengan mudah.”
Emir tahu kalau Adrian memiliki pandangan yang berbeda terhadap Arimbi. Dia juga seorang pria dan dia bisa merasakan perasaan Adrian kepada Arimbi yang tidak murni. Dengan kata lain, gadis ini masih saja menganggap Adrian sebagai kakaknya.
Arimbi selalu berkata kalau Emir adalah magnet yang menarik terlalu banyak wanita dan menyebabkannya memiliki banyak saingan. Namun Arimbi juga sama-----Emir punya banyak saingan juga. Jika mereka tidak bisa menjaga kestabilan dan sikap mereka maka itu akan memudahkan para penggemar gila itu untuk menjatuhkan mereka.
Reza masih tidak menyerah pada Arimbi, sedangkan Dion juga masih punya ketertarikan kepadanya dan ingin mengejarnya. Sekarang, Adrian muncul sebagai saingan barunya dan entah berapa banyak lagi yang akan muncul setelah ini.
Emir bisa melihat jika di masa depan, Arimbi akan mekar menjadi wanita yang sangat cantik dan menarik banyak perhatian banyak pria. Mau bagaimanapun juga Emir harus tetap melanjutkan rehabilitasinya sesegera mungkin agar bisa berdiri dan berjalan lebih cepat.
Dengan Emir bersanding disisinya, dia bisa menyingkirkan semua pria yang berani mengganggunya dan mereka tidak akan pernah muncul lagi dihadapannya. “Arimbi.”
“Emir, aku berjanji padamu. Aku akan menjaga sikapku dan selalu setia padamu. Karena aku hanya mencintaimu sekarang dan selamanya.” ucap Arimbi sambil tersenyum.
“Gadis pintar!” bibirnya bergerak kembali ke tubuh Arimbi. Emir menambahkan dengan suara rendah, “Ini hadiah untukmu.” lalu dia menciumnya dengan dalam di tubuhnya membuat Arimbi melayang dan tak bisa menahan gelombang gairah yang muncul setiap kali Emir menyentuhnya.
Arimbi melayang-layang merasakan ciuman yang menggairahkan itu. Dia akhirnya sadar dan mengingat bahwa mereka masih didalam mobil. Supir dan Rino masih dudup didepan. Arimbi tersipu malu dan dia mencubit Emir berkali-kali.
Rino dan supir memakai headset, mereka juga tidak melihat ke belakang. Arimbi tidak tahu jika mereka mendengarkan musik atau mereka menolak mendengarkan percakapan pasangan suami istri itu.
Bagi kedua orang yang sudah lama hidup bersama Emir sejak lama, mereka paham kalau semakin baik hubungan pasangan suami istri itu maka semakin bahagia para pegawainya.
Ketika perasaan Emir sedang baik maka hidup mereka juga akan membaik. Sehingga mereka hanya bisa berharap agar Nyonya Muda-nya itu bisa selalu membuat Emir bahagia agar suasana hati pria dingin itu juga baik setiap hari.
“Hei kita salah jalan.” ucap Arimbi tiba-tiba.
Setelah melewati bujuk rayu dan pesona suaminya, Arimbi sadar kalau mereka belum kembali ke Villa Serkan. Dia merasa sangat mengenal jalanan ini karena ini jalan menuju kediaman keluarga Rafaldi.
Emir tersenyum dengan lembut dan berkata, “Kamu tidak ingin menemui kedua orang tuamu? Setelah menemui Nyonya Partiwi di rumah sakit aku akan menemanimu di rumah keluarga Rafaldi untuk bertemu ibumu yang lain dan makan malam disana juga.”
Tanpa sepengetahuan Arimbi, suaminya itu sudah menghubungi Mosha dan mengatakan kepadanya kalau dia dan istrinya akan datang untuk makan malam bersamanya. Saat Mosha menerima panggilan tersebut, dia langsung merasa gembira.
Berulang kali dia bilang kalau dia akan secara pribadi memasak banyak makanan.
“Benarkah?” Arimbi terkejut dan merasa terharu atas tindakan Emir yang selalu mengejutkannya.
“Memangnya kapan aku pernah berbohong padamu?”
“Pernah! Buku nikah kita ada ditanganmu tapi kamu berbohong padaku dan ilang buku itu tidak ada ditanganmu. Kamu juga menyalahkanku atas hilangnya buku nikah kita karena menganggapku yang lalai.” jawab Arimbi mengingatkannya apa yang pernah Emir lakukan padanya.
Emir tidak bisa berkata-kata. Bagaimana mungkin dia mengulitiku seperti itu? Pikirnya. Melihat tatapan mata Emir yang terperangah, Arimbi melemparkan dirinya kedalam pelukan Emir sambil tersenyum.
Dia mengangkat tangannya untuk menahan wajahnya lalu Arimbi menatapnya dengan tatapan yang lembut dan penuh cinta.