GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 138. PROVOKASI AMANDA


“Pulanglah Amanda. Dia hanya mengkonsumsi sesuatu yang tidak seharusnya dan dokter tadi bilang kalau dia baik-baik saja. Dia akan segera dipulangkan saat dia siuman nanti.”


Setelah berdiam diri beberapa saat, Amanda mengangguk, “Aku akan berpamitan pada bibi dulu. Tunggu sebentar ya.”


“Baiklah.” Gio selalu lemah lembut dalam menghadapi permintaan Amanda.


Saat Amanda kembali keruang perawatan,Yessi masih terisak. Melihat gadis itu datang Yessi langsung menyeka airmatanya. “Amanda, kenapa dia belum bangun juga?”


 “Bibi, jangan khawatir ya. Tadi dokter bilang dia baik-baik saja dan akan segera bangun.”


Yessi bergumam sebagai balasan lalu bersungut-sungut, “Bocah itu lebih baik segera sembunyi atau aku akan membuatnya membayar. Apa dia pikir dia masih bisa menjadi istri Reza setelah ini?”


Amanda terdiam sejenak sebelum kemudian memberanikan diri berkata, “Bibi, apa bibi tahu siapa yang paling ingin menikahi Reza?”


“Arimbi Rafaldi! Ya pasti dia! Gadis tidak tahu malu itu. Berani-beraninya dia merencanakan sesuatu pada putraku? Saat Reza siuman nanti aku akan mencarinya besok!” dia benar-benar yakin pelakunya adalah Arimbi. Dia bahkan dengan yakinnya memberitahu Amanda juga.


“Amanda, maaf ya aku sudah membuatmu berada dalam posisi sulit. Tapi aku benar-benar tidak bisa menerima penghinaan ini. Apa kamu rela melihat gadis kampungan tidak tahu malu itu menghalangi cintamu dan Reza?”


“Bibi, aku yakin dia bertindak tanpa pikir panjang.” kalimat provokasi Amanda semakin memperkuat tuduhan Yessi terhadap Arimbi.


“Amanda, apa ada yang kamu sembunyikan? Apa benar dia? Wanita tidak punya malu itu! Reza sudah berjanji akan menikahinya, tapi dia malah menolak! Apa saat aku datang ke keluargamu dan membahas pernikahanmu dengan Reza yang membuatnya merasa kesal hingga melakukan ini pada Reza?”


“Bibi, kurasa seharusnya kita sampai disini saja karena paling tidak semuanya tidak berakhir buruk malam ini. Selain itu, Arimbi sekarang tinggal bersama keluarga Serkan. Apa bibi mau pergi kesana hanya untuk mencarinya?”


Ruangan itu pun dipenuhi keheningan sejenak, tak lama kemudian Yessi bertanya, “Tuan Emir itu orang yang baik,bukan?”


“Bibi, pikirkan tentang Reza dan Kanchana Semesta. Kita tidak boleh pergi ke tempat mereka untuk mencari Arimbi dengan cara seperti ini. Mari kita tunggu saja sampai diapulang kerumah. Saat itu masih belum terlambat untuk membalasnya. Aku akan harap bibi bisa membalaskan Arimbi atas apa yang dia perbuat pada Reza.” ujar Amanda. Dia sedang memainkan peran orang baik dan membiarkan tangan orang lain yang bekerja untuk menghancurkan Arimbi.


Memikirkan Emir dengan sikapnya sangat kejam, Yessi pun bergidik ketakutan. “Baiklah Amanda,Kita akan melakukannya sesuai rencanamu.”


Setelah itu dia menggenggam tangan Amanda, “Amanda, maafkan aku untuk semuanya. Kamu benar-benar menyayangi kami dan Reza sangat mencintaimu. Tapi...jangan khawatir. Kamulah satu-satunya calon menantu yang ku restui. Tidak ada satupun yang bisa merebut tempatmu.”


Amanda tersneyum, “Oh benar! Tentang apa yang Reza lakukan pada Nona Ruby…?”


“Ada apa? Mereka tidak berbuat apa-apa, bukan? Selain bajunya robek, Ruby Zemina tidak terluka sedikitpun. Akua kan memberikannya gaun sebagai ganti rugi saat waktunya tiba.”


Yessi menganggap putranya tidak bersalah karena dia tidak menggauli Ruby. Selain iti keluarga Zemina bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan mereka.


“Tapi ada banyak saksi mata. Aku takut Keluarga Zemina tidak akan melepaskan Reza dengan mudah dari masalah ini.” ujar Amanda.


“Meskipun mereka tidak sebanding dengan kita tapi mereka tetap ada hubungannya dengan Keluarga Lavani. Jadi, Keluarga Lavani pasti ada dipihak mereka. Kini Reza hanya punya dua pilihan, menjadi musuh dua keluarga atau menjadikan Ruby istrinya….”


Saat menyadari itu, wajah Yessi memucat. Dia hampir saja lupa bahwa Nyonya Zemina adalah sepupu Nyonya Lavani. Sekalipun Kanchana bisa meremehkan Zemina, tapi mereka tidak akan mungkin bisa menyinggung para Lavani.


Reza pernah bilang kalau Amanda akan membujuk Nona Zivanna untuk membantu mereka. Semuanya seketika berubah menjadi semakin rumit. Memikirkan kembali Arimbi yang telah berbuat onar dan mengacaukan segalanya membuat Yessi pun naik pitam.


“Bibi, jangan terlalu dipikirkan dulu. Nari kita tunggu hingga Reza siuman. Aku ingin menemanimu tapi ayahku memintaku pulang. Telepon aku kalau terjadi apa-apa ya.”


Meskipun sedikit enggan, Yessi tetap mengantarnya sampai pintu. “Amanda, aku tahu betapa besarnya pengorbananmu untuk kami. Tapi bisakah kamu membantu kami kali ini juga? Kamu dan Nona Zivanna berteman baik. Kamu bisa membujuknya untuk kamu, kami akan menerima persyaratan apapun asalkan tidak melewati batas. Satu hal lagi, asal bukan pernikahan. Kamu dan Reza saling mencintai dan aku tidak tega memisahkan kalian berdua. Setelah semuanya beres, aku akan mengunjungi keluargamu dan melamar dengan syarat kalian berdua tidak boleh menutup-nutupi hubungan kalian lagi.”


Yessi tak lagi mengakui dirinya sendiri di masa lalu, dia yang pernah meremehkan Amanda hanya karena statusnya anak angkat. Tapi hari ini dia akhirnya menyadari bahwa Amanda adalah gadis yang jeli dan tenang, yang memiliki kemampuan untuk membantu putranya menuntut hak atas warisan.


“Bibi, biar Reza yang memutuskan semuanya.Aku rela kehilangan asalkan dia baik-baik saja.”


Meskipun kalimat Amanda itu terdapat kebohongan tetapi yessi sedikitpun tidak peduli lagi karena dia benar-benar bersyukur pada gadis itu.


“Bibi, aku harus pergi sekarang. Aku akan bicara pada Zivanna dan menjelaskan semua padanya. Mudah-mudahan dia akan mengerti dan mau melupakan masalah ini.


Akan tetapi Zivanna pasti tidak akan baik-baik saja sekarang setelah pesta ulang tahunnya hancur dan kacau balau. Saat teringat temperamen temannya, Amanda kembali merasa sakit. Dia harus memikirkan cara untuk menghibur Zivanna dan membujuknya agar memaafkan Reza. Ini juga untuk kebaikannya, dia tak mungkin merelakan Reza menikahi wanita lain.


Sementara itu ditempat lain, tentu saja Arimbi tidak menyadari bahwa Amanda telah mengkambing hitamkannya atas apa yang terjadi. Meskipun, itu tidak sepenuhnya salah karena memang dia dan suaminya yang membalas Reza dengan membuat pria itu memakan umpannya sendiri. Matahari menyingsing di langit pagi saat dia terbangun.


Saat meraba-raba sekitarnya, dia menyentuh Emir dan berjengit kaget hanya untuk mendapati mata pria itu tengah menatap tajam kearahnya.


“Sayang, apa kita sudah pulang?”


“Kalau belum, lalu dimana lagi ini?”


Arimbi mengerjapkan matanya bingung karena yang dia ingat terakhir, dia masih tidur didalam mobil. “Bagaimana aku bisa dikamar?”


“Kamu berjalan sambil tidur. Bahkan mulutmu monyong-monyong seperti muncung bebek saat berjalan.” jawab Emir sekenanya.


Sambil tersenyum, Arimbi merayap ke atas tubuh suaminya lalu mencubit pipinya dengan lembut.