
“Aku peminum berat. Aku bisa menghabiskan ratusan gelas tanpa mabuk. Oh iya, kan ini kamar kita dan hanya kita berdua disini lalu apa salahnya aku hanya pakai ini?”
Arimbi bisa mendengar Emir mendengus sinis, pipinya pun memerah. Pria itu tahu betul seberapa besar toleransi alkohol istrinya, Dia jauh sekali dari kata menenggak ratusan gelas alkohol. Sedikit saja pun tidak mendekati langsung mabuk.
Saat Arimbi mandi, Emir berpindah ke meja rias Arimbi dan duduk didepan cermin. Setelah itu dia mengeluarkan selembar kertas dan pulpen lalu mulai menulis. Sepuluh menit kemudian, wanita itupun keluar dari kamar mandi hanya berlilitkan handuk ditubuhnya memperlihatkan kakinya yang mulus.
“Emir sayang, kamu sedang menulis apa?”
Pria itu tidak berusaha untuk menutupinya, dia membiarkan Arimbi yang penasaran mengintip isi kertasnya. ‘Daftar Hadiah’
Hanya membaca dua kata itu saja sudah menggelitik rasa penasarannya dan minatnya hingga ketitik paling maksimal. Dia berpikir kalau suaminya itu berencana untuk memberinya hadiah, padahal dia kan tidak meminta apapun padanya selama ini Emir yang selalu memberinya.
Lalu dia pun berkata, “Emir sayangku…..kamu akan memberikan hadiah ini ke siapa? Villa, perhiasan….sebanyak itu? Tapi kenapa tidak ada mobil mewahnya? Harusnya ada mobil mewah loh sayang jadi paketnya komplit!”
Emir menjawab tanpa sedikitpun mendongakkan kepalanya. “Seseorang suka mengendarai mobil seperti sedang mengendarai pesawat jet. Jadi untuk keselamatannya akan lebih baik tidak ada mobil mewah. Lagipula aku sudah punya banyak mobil mewah dan supir yang siap 24 jam.”
“Seseorang? Apa ini untukku?”
Emir mengangkat wajahnya lalu memukul kepala wanita itu dengan pulpen. “Untung saja kepalamu tidak sebebal itu.”
“YA, sekarang mungkin belum tapi aku bisa bodoh suatu hari nanti kalau kamu terus-terusan mengetuk kepalaku seperti itu. Dan jika aku bodoh, kamu juga yang malu, iyakan?” ujarnya lalu merebut pulpen dari tangan Emira lalu mengetuk kepala pria itu. “Sakit tidak?”
“Sakit sekali.” jawab Emir.
“Oh benarkah? Biar kulihat apa kepalamu benjol atau tidak?”
Baru saja Arimbi hendak memeriksanya, Emir mengambil pulpen itu dan bertanya, “Kenapa harus sakit kalau kamu saja memukulnya dengan pelan? Arimbi, jawab aku dengan jujur kutanya sekali lagi apa kamu menyesal menikah denganku?”
“Tidak dan tidak akan pernah!” jawabnya tegas dan mantap.
“Itu kesempatan terakhirmu. Kamu tidak akan bisa lari dariku kalau suatu saat nanti kamu berubah pikiran dan ingin meninggalkanku. Karena aku pastikan kamu tidak akan pernah pergi dari sisiku.”
“Kita sudah mengurus sertifikat pernikahan kita. Aku tidak akan menyesal, asal kamu tidak menceraikanku. Apakah kamu ada niat untuk itu?”
“Emir, katakan padaku apakah kamu akan meninggalkanku saat kakimu sembuh nanti? Lagipula sejak awal aku memang tidak sepadan denganmu. Keluargamu pasti menendangku keluar saat kakimu sudah sembuh nanti dan mencarikan istri yang sepadan untukmu.” tambahnya lagi.
Emir mengabaikan pertanyaan itu dan melanjutkan menyelesaikan daftar hadiahnya. Arimbi lanjut mengamati daftar hadiah itu sebelum kemudian dia berseru, “Emir, istrimu pasti beruntung sekali memiliki suami sepertimu. Dia bisa menjadi wanita paling kaya di Kota Metro hanya dalam semalam. Dan sepertinya akulah yang beruntung itu. Kukira aku akan butuh beberapa puluh tahun lagi agar bisa menjadi wanita terkaya di kota ini tapi sekarang aku tahu cara yang mudah.” dia tersenyum manis.
“Nah yang harus kulakukan hanyalah menikah denganmu. Kalau saja aku hamil ya, kita bisa melahirkan beberapa anak dan menerima hadiah dari keluarga. Maka aku akan menjadi wanita paling beruntung karena melahirkan anak-anakmu dan mendapakan hadiah milyaran rupiah. Emir sayang, kapan ya aku hamil anakmu?”
Mendengar hal itu, Emir segera meletakkan pulpennya lalu melotot kearah Arimbi.
“Ada apa? Kenapa kamu menatapku seperti itu?” tanya Arimbi.
“Kamu bisa diam tidak? Itu mulut bisa berhenti bicara tidak?” kata Emir.
Namun Arimbi tetap saja tak bisa diam dan pada akhirnya dia pun bertanya kembali, “Emir, apa kamu benar-benar akan mengumumkan tentang pernikahan kita? Setelah itu, apakah aku masih bisa tetap pergi untuk bekerja?”
Kebenaran bahwa dia adalah Nyonya Muda di keluarga Serkan masih menjadi rahasia saat ini, jadi dia merasa penasaran apakah Emir bisa membantunya untuk melonggarkan aturan keluarga Serkan yang mengekangnya untuk bekerja.
“Sudah pernah kukatakan kalau kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau tanpa perlu mempedulikan aturan keluarga. Aturan itu tetap ada, sementara manusia tidak. Kalau perlu aku bisa saja memusnahkan peraturannya.” jawab Emir.
Arimbi yang tercengang mendengar pernyataan suaminya itupun berkata dengan lembut, “Emir, kenapa kamu memperlakukanku dengan begitu baik?”
Sambil memutar bola matanya kearahnya, Emir pun dudu di kursi rodanya dan mulai menggerakkannya. Saat itu juga Arimbi berusaha menghentikannya. “Tunggu Emir!”
Arimbi mrngejarnya lalu mendorong kursi roda Emir sambil berkata, “Mau sarapan di gazebo tidak?”
Tapi Emir hanya diam saja tak mengatakan apa-apa.
“Selamat pagi Tuan dan Nyonya Muda.” sapa Beni dan yang lainnya dengan sopan. Entah kenapa Arimbi merasa sepertinya mereka memperlakukannya jauh lebih sopan dibanding sebelumnya.
“Arimbi, kamu harus tahu bahwa Reza menargetkanmu tadai malam.” ujar Emir tiba-tiba mengungkapkan sebuah kebenaran.
Mendengar itu Arimbi kehilangan kata-kata. “Dia benar-benar tidak tahu kapan harus menyerah.”
“Ini bukan pertama kalinya?” tanya Emir mengeryitkan dahinya.
Arimbi terdiam tak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan itu. Ya memang ini bukan yang pertama kalinya Reza ingin menjebaknya. Karena di kehidupan sebelumnya pria itu melakukannya beberapa kali hingga menghancurkan kehidupan Arimbi.
Kali ini rencana licik Reza bisa digagalkan di kehidupan kedua ini tapi dikehidupan sebelumnya karena rencana busuk Rezalah yang membuat Arimbi kehilangan kesuciannya oleh Dion dan akhirnya melahirkan seorang putri.
Pada akhirnya anak itupun harus menemui ajalnya di tangan Reza dan Amanda yang dengan kejamnya membunuhnya. ‘Ini masih awal, aku ingat di kehidupan sebelumnya mereka berdua banyak menjebakku.’ gumamnya didalam hati.
“Emir, biarkan aku saja yang berurusan dengan Amanda. Kamu bisa mengawasi dari jauh saja dan mungkin kamu bisa memberiku beberapa saran.” ujar Arimbi.
Emir tidak menolak usulan Arimbi, dia pun menjawab, “Jangan menanggung semuanya sendirian. Aku ini suamimu sekarang. Aku akan selalu mendukungmu bahkan jika langit runtuh sekalipun.”
“Terimakasih Emir.” ucap Arimbi tersenyum senang mendengar perkataan suaminya.
“Aku tidak mau sekedar ucapan terima kasih.” ujar Emir sedikit kesal, “Kamu selalu menyombongkan diri betapa banyak hadiah yang akan kuterima sampsai -sampai aku tidak bisa mengangkatnya dengan kedua tanganku. Namun sampai saat ini, aku tidak pernah menerima bungkusan yang mirip hadiah.”
“Akan kubelikan untukmu nanti.” jawab Arimbi cepat.
Sambil mengerucutkan bibirnya Emir menambahkan, “Kamu baru saja mendapat pekerjaan, jadi kamu pasti belum mendapat gaji. Untuk sementara aku bisa membantumu menyisihkan uang. Kamu boleh memberikanku apa saja yang kamu buat sebagai hadiah mulai sekarang.”
“Apa kamu tidak takut kalau aku mungkin memperlakukanmu sebagai tempat daur ulang barang-barang yang gagal? Aku tidak ingin mengecewakanmu.”