GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 90. KEHANCURAN


“Apakah kamu lupa kalau baru-baru ini kamu pergi ke kediaman Serkan karena ingin menemui Arimbi? Siapa lagi kalau bukan kamu yang akan membuat masalah bagi perusahaan kita?”


Reza pun ingat saat dia bertemu dengan Emir lalu dia berkata dengan percaya diri. “Ayah percayalah padaku, ini semua bukan salahku ayah. Aku benar-benar tidak membuatnya kesal atau apapun itu. Tuan Emir bahkan bilang padaku kalau dia akan datang ke acara peertunanganku dan Arimbi nanti.”


Kriiiingggggg Krrriiinnggggg


Suara dering interkom menghentikan perbincangan kedua orang itu. Lalu Harry Kanchana mengangkat telepon. Reza hanya memperahtikan ayahnya tanpa berkata-kata mencoba mendengarkan apa yang dikatakan oleh penelepon itu. Setelah itu Harry membanting telepon diatas meja dengan penuh amarah dan bahkan mencabut kabel telepon.


Reza pun langsung mengerti bahwa ada sesuatu yang tidak beres. “Ayah, ada apa?”


Harry tiba-tiba berbalik menatap Reza dan memelototinya. “Reza Kanchana! Sebaiknya kau mengaku saja! Kelakuan macam apa yang telah kau lakukan saat berada dikediaman Serkan? Manajer Johan yang selama ini mengurus hubungan bisnis dengan perusahaan kita baru saja memberitahuku bahwa Tuan Aslan, asisten Tuan Emir telah memberitahu tentang keinginan mereka untuk memutuskan semua hubungan bisnis dengan PT. Kanchana Semesta!”


Aslan adalah sekretaris umum sekaligus tangan kanan Emir. Ada banyak orang yang ingin menjalin kerjasama dengan Serkan Global Group melalui Aslan. Namun, Aslan bukanlah orang yang mudah didekati, tidak ada yang pernah berhasil menyuap atau menjilatnya. Dia adalah seorang yang tak bisa digoyahkan dalam hal kesetiaan pada Emir.


Reza belum menjawab apapun saat sekretaris ayahnya mengetuk pintu lagi. “Direktur Kanchana! Saya baru saja mendapat kabar bahwa----”


Saat Reza berpikir bahwa segala sesuatunya pasti berubah menjadi lebih baik, Reza mendesaknya untuk mengatakan apa yang ingin dikatakan oleh sekretaris itu. “Apa itu? Cepat katakan!”


“Direktur Kanchana, ada desas desus yang beredar bahwa kita telah menyinggung Keluarga Serkan.” ujar sekretaris itu dengan hati-hati dan suara pelan.


“Apa? Tuduhan tidak benar itu! Beritahu departemen humas untuk segera menjernihkan suasana dan cari tahu siapa yang memulai rumor sialan itu? Aku akan menuntut sampai mereka tidak mempunyaiapa-apa lagi!”


Rumor yang cepat beredar mengatakan bahwa Serkan Global Group memutuskan semua hubungan bisnis dengan PT. Kanchana Semesta tepat setelah  Emir menandatangani kontrak kerjasama. Hanya ada dua kemungkinan semua kekacauan itu terjadi yaitu Keluarga Serkan mencoba menghancurkan Keluarga Kanchana atau ada pihak ketiga yang mencampuri urusan mereka.”


Pt. Kanchana Semesta memiliki banyak mitra kerja yang tidak dekat dengan Keluarga Serkan. Tapi tetap saja kalau sampai ada rumor seperti itu beredar hanya akan merusak nama baik keluarga Kanchana. Mitra bisnisnya adalah orang-orang yang takut terlibat masalah dan untuk menyelamatkan diri, mereka akan menghentikan kerjasama dengan PT. Kanchana Semesta yang akan menyebabkan kerugian besar pada Keluarga Kanchana.


Serkan Global Group sangat berpengaruh di Metro sehingga tidak ada pihak lain selain Harimurti  Group dan Lavani Group yang dapat menanggung konsekuensi yang ditimbulkan rumor seperti itu.


“Cepat beritahu manajer Johan agar dia ikut denganku pergi ke Serkan Global Group sekarang juga.” perintah Harry pada sekretarisnya. Harry tahu cara terbaik menyelamatkan diri dari situasi itu.


Dia ingin membiarkan publik menyaksikan bagaimana menyenangkannya perbincangan antara dia dan Emir atau Aslan. Dia bahkan tidak perlu membahas tentang rumor yang beredar untuk melenyapkan desas desus itu. Sedangkan mengenai Serkan Global Group yangmemutuskan semua hubungan bisnis mereka, Harry sangat yakin ada alasan baik dibalik semua itu dan dia akan mengetahuinya.


“Bagaimana dengan ku ayah?” tanya Reza yang mulai merasa cemas.


“Ayah! Aku benar-benar tidak melakukan apapun yang akan menyeret nama baik perusahaan kita kedalam jurang!” Reza merengek merasa tertuduh.


“Aku sangat yakin kamulah penyebabnya! Kamu pasti telah menyinggung Keluarga Serkan ketika kamu dan ibumu pergi melamar Arimbi di kediaman Rafaldi! Sial! Reza Kanchana! Apakah kamu ini sangat putus asa hanya untuk mendapatkan seorang istri? Mengapa kamu harus mencoba memperabutkan seorang wanita dengan Keluarga Serkan?”


Hanya itu satu-satunyg alasan yang dipikirkan oleh Harry yang mungkin menyinggung Emir.


“Ayah, kami yang melamar lebih dulu. Jadi ini bukan salahku!” ujar Reza masih kekeuh.


Keluarga Serkan hanya melamar setelah pihak keluarga Kanchana melakukannya. Bukankah urutan mereka pergi ke Arimbi patut diperhitungkan?


“Arimbi pasti mengancam akan melukai diri sendiri didepan Tuan Emir sebagai penolakannya terhadap lamarannya untuk menikahimu, bisa jadi itu alasannya Tuan Emir marah kalau begitu. Inilah sebabnya dia membalas dendam pada kita.” ujar Harry lagi.


“Tapi ayah, Tuan Emir mengatakan padaku bahwa dia akan menyiapkan hadiah besar untuk Arimbi dan aku ketika kami bertunangan. Dia bahkan akan datang ke acara pertunangan.” kata Reza lagi. Karena kata-kata Emir itulah Reza menjadi sangat bersemangat ingin bertunangan dan menikahi Arimbi. Seiring semakin lama mereka berdiskusi membuat Harry kanchana semakin bingung.


“Sebaiknya kamu menjauhi Arimbi! Dia adalah kutukan berjalan untukmu! Kamu bisa lihat hanya dari caranya yang bersungguh-sungguh menolak lamaran pernikahan, itu menunjukkan bahwa dia hanya akan menimbulkan masalah saja bagi calon suaminya.” setelah mengatakan itu Harry Kanchana bergegas keluar dari kantornya dan pergi menuju ke kantor Serkan Global Group bersama sekretaris dan manajer Johan yang mengikutinya. Satu-satunya hal yang harus diketahuinya adalah Emir telah pergi sejak tadi saat ketiga orang itu tiba diperusahaannya. Lagipula itu sudah waktu jam makan siang.


Sementara di rumah Keluarga Rafaldi, Arimbi masih makan siang dengan tenang dan damai bersama Mosha, mereka tidak tahu ada ekributan besar yang terjadi di dunia bisnis. Arimbi juga tidak tahu kalau suaminya sudah mulai melakukan  Rencana Masa Depan yang ditulisnya untuk Arimbi tempo hari. Emir bukan orang yang suka menunggu, dia selalu bergerak cepat menuntaskan sesuatu dan itulah mengapa dia tak terkalahkan di bidang bisnis.


“Anda sudah pulang Nona Amanda? Nyonya dan Nona Arimbi sedang makan siang bersama. Apakah anda sudah makan? Biar saya mengambilkan piring untukmu.” kata pelayan terdengar disertai suara langkah kaki Amanda yang tergesa-gesa. Penampilannya langsung mengganggu kedamaian angtara Arimbi dan ibunya.


“Amanda!” Mosha terkejut ketika dia melihat Amanda bergegas masuk kerumah. Dengan hati-hati Mosha bertanya padanya, “Amanda, apakah kamu sudah makan? Ayo bergabung dengan kami kalau kamu belum makan.”


Amanda mencoba yang terbaik untuk menahan amarahnya saat dia memaksakan diri untuk tersenyum dan terlihat tenang seolah tidak ada yang terjadi. “Bu, aku sudah makan dengan ibu kandungku tadi ketika aku dirumah sakit merawatnya tadi.”


Arimbi menyuap makanan kemulutnya dan melirik Amanda dengan tatapan mencemooh, “Ada apa dengan langkah tergesa-gesamu dan senyum palsumu? Apa ada yang terjadi padamu Amanda?” tanya Arimbi dengan santainya.


“Aku baik-baik saja. Bu makan sianglah dengan Arimbi. Aku akan menunggu Arimbi diruang tamu. Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan pada Arimbi nanti.”


Amanda masih menahan diri dan tidak menanyai Arimbi didepan ibunya. Setelah itu Amanda berbalik dan berjalan keluar dari ruang makan, sikapnya itu membuat Mosha bingung. Sedangkan Arimbi tidak ada perubahan ekspresi diwajahnya. Meskipun begitu, didalam hatinya dia merasa penasaran dengan apa yang ingin Amanda tanyakan padanya dengan buru-buru pulang seperti itu.