
Ketika Arimbi sudah tiba dirumah, dia langsung masuk kekamarnya dan mengobrak-abrik kotak. Sementara Emir mengikutinya masuk dan dengan tatapan dingin mengawasi semua gerak geriknya. Setelah beberapa saat mencari, akhirnya Arimbi menemukan sebuah kotak kaleng. “Aha! Aku sudah menemukannya! Maaf aku butuh waktu lama untuk mencarinya.” ujar Arimbi tersenyum manis.
Emir sama sekali tidak tertarik dengan itu. Dia memperhatikan Arimbi yang menyeka kotak kaleng dengan tisu dan menyerahkan kotak itu padanya.
“Emir, ini hadiah untukmu!”
“Apa ini?”
Arimbi masih tetap tersenyum mani, “Kamu harus membuka hadiahnya sendiri saat kamu menerimanya. Dengan begitu kamu akan terkejut melihat isinya. Kamu tidak akan terkejut jika sudah diberitahu duluan sisinya.”
Emir tidak buru-buru untuk membuka kotak besi dan dia malah menatap Arimbi. “Apakah kamu pikir bisa lolos dariku jika kamu memberiku kotak yang tidak berharga? Katakan padaku, mengapa Dion Harimurti mengganggumu?”
“Aku tadi menabraknya dan menarik dasinya ketika aku akan jatuh. Rupanya aku hampir mencekiknya. Aku tidak meminta maaf padanya jadi dia terus saja menggangguku agar meminta maaf.”
“Arimbi! Tidak ada akhir bahagia untuk seseorang yang berbohong padaku.”
“Emir, aku mengatakan yang sebenarnya, kamu kan bisa menyeledikinya sendiri jika kamu tidak percaya. Dengan kemampuan suamiku yang luar biasa kamu bisa menemukan kebenaran dalam hitungan menit. Jika hasilnya tidak menyakinkanmu, hanya ada satu penjelasan yang tersisa.”
“Bahwa dia jatuh cinta padamu pada pandangan pertama?” jawab Emir.
Arimbi tersenyum, “Jadi kamu setuju dengan apa yang kukatakan sebelumnya kan Emir?”
Tangan Arimbi menyentuh wajah Emir, lalu meluruskan punggungnnya dan melepaskan ikatan rambutnya. Kemudian dia mengibaskan rambutnya dengan gaya penuh pesona, Emir menatapnya sambil mengerucutkan bibir seksinya.
“Ngomong-ngomong terimakasih ya Emir.”
“Untuk apa?” Emir tak paham mengapa Arimbi berterimakasih padanya. Dia berpikir bahwa semakin dia mengenal Arimbi semakin sulit untuk menebak apa yang dia pikirkan. Untuk berpikir bahwa Arimbi hanyalah gadis desa yang naif.
“Ini tentang surat cinta yang kamu berikan padaku melalui Beni!”
“Itu bukan surat cinta! Aku tidak akan pernah menulis surat cinta apalagi menulisnya untukmu.”
“Baiklah.” ujar Arimbi meskipun dia agak kecewa tapi dia tetap ceria, “Aku juga tidak menyangka kamu akan menulis surat cinta untukku.”
Setelah Emir melihat kalau Arimbi tidak marah sama sekali, dia merasakan ekspresinya itu berubah menjadi lebih dingin. Mungkin dia berharap wanita itu akan memarahinya jadi dia bisa tahu bahwa Arimbi suka surat cinta.
Emir menundukkan kepalanya dan membuka kotak kaleng. Didalam kotak itu ada patung naga yang terbuat dari kawat. Dia tercengang ketika melihat patung naga dari tenunan kawat buatan tangan seindah itu. Setelah mendapatkan dua tikus kecil dari Arimbi, dia pun tahu kalau wanita ini orang yang terampil. Meskipun begitu Emir masih terkejut dengan keahliannya.
“Dulu setiap kali aku merasa bosan, aku akan menenun beberapa kerajinan dan menjualnya online. Penghasilan bulananku mencapai belasan juta dan kadang bisa melebihi dua puluh juta setiap bulannya. Tapi aku tidak berhasil mendaftarkan patung naga itu di toko onlineku setelah aku kembali ke Keluarga Rafaldi. Jadi aku memasukkannya kedalam kotak kaleng dan tidak pernah aku buka. Sekarang aku memberikannya padamu sebagai hadiah. Emir, kamu adalah naga yang menjulang dihatiku!”
Emir mengambil patung naga kawat itu dan melihatnya lama sebelum memasukkannya kembali kedalam kotak. “Arimbi, kamu piawai sekali dalam menyanjung ya.”
“Ayolah Emir, jangan begitu. Apa yang kukatakan itu benar. Aku sangat mencintaimu dan bersyukur mempunyai suami sepertimu. Kamu adalah naga dihatiku yang menjulang dan memenuhi setiap ruang hatiku. Saat aku melihatmu sedih, hatiku terasa sakit karena setiap tetes airmatamu adalah deritaku.”
Emir semakin pusing karena dia serasa terbang melayang mendengar rayuan Arimbi. Belum pernah ada seorangpun yang merayunya seperti itu sebelumnya.
“Emir, beri aku waktu ya. Tidak mudah untuk menenun patung-patung ini. Tidak sesederhana ABC.”
“Aku tidak memintamu untuk memberiku sekarang. Kamu punya beberapa stok kan?”
“Iya ada. Tapi aku menyisakan beberapa untuk Adrian. Institut pelatihan kesenianku dan toko online ku di ambil alih oleh Adrian. Aku tidak mengurusi banyak hal.”
“Minta Adrian mengantarkan sisa stokmu kesini!” ujar Emir mendominasi.
‘Apapun yang dibuat oleh Arimbi harus menjadi milikku! Bukan Adrian! Meskipun mereka bersaudara tapi bukan saudara kandung. Aku tidak suka Arimbi terlalu dengan Adrian Darmawan!’ bisiknya dalam hati. Entah kenapa Emir mulai sering cemburu pada Arimbi dan tak suka jika istrinya itu dekat dengan laki-laki lain. Dia sangat ingin menguasai dan mendominasi Arimbi, semua tentang Arimbi haruslah fokus padanya.
“Emir, aku rasa stoknya sudah habis. Kalau kamu menyukainya aku akan menenun sesuatu untukmu. Kamu tidak perlu mengambil stok dari Adrian.” ucap Arimbi menatap Emir.
Setelah mengatakan kalimat tadi, dia baru tersadar kalau dia sudah menunjukkan sikap posesifnya pada Arimbi dan Emir pun mulai resah. Meskipun begitu, melihat istrinya yang tidak tahu isi pikiran Emir, dengan cepat dia menjadi tenang kembali.
“Ke tempat yang sama, aku mau makan.”
“Baiklah.” saat bicara makanan senyum Arimbi langsung melebar. Emir mengerahkan seluruh kekuatannya untuk tidak memanggil istrinya itu dengans ebutan tukang makan. Jarang bagi pasangan itu untuk menghabiskan waktu dengan bahagia. Setelah makan malam, Emir meminta Arimbi untuk mendorongnya berjalan-jalan dihalaman rumahnya.
“Apakah kamu sudah ingat rute disini sekarang?”
“Aku hampir tidak ingat rute kembali ke rumah kecil kita.” jawab Arimbi jujur.
Emir langsung mengerucutkan bibirnya, hatinya melunak ketika dia mendengar Arimbi mengatakan rumah kecil kita.
“Emir...”
“Iya?”
“Apakah kamu ingin berlatih berjalan? Aku bisa mendukungmu.”
Emir dengan dingin berkata, “Apakah kamu melihatku sebagai pengganggu karena aku lumpuh?”
“Emir, mengapa kamu berpikiran begitu buruk? Aku tidak merasa kamu pengganggu. Ini untuk kebaikanmu sendiri, apakah kamu ingin duduk di kursi roda selama sisa hidupmu? Aku dapat mendorongmu seumur hidupku jika kamu lumpuh secara permanen/ Tapi kamu tidak begitu, dan kamu masih mempunyai kesempatan. Kamu harus melakukan latihan fisik untuk bisa berdiri lagi.”
Emir ingat nasihat Aslan padanya. Siapa yang ingin terikat di kursi roda seumur hidup?” Namun dia menjadi berkecil hati.
“Emir, ayo jalan kaki sejauh dua meter saja untuk latihan ya?”
Arimbi melembutkan suaranya dan mencoba membujuk pria yang berpikir buruk tentangnya itu. Tapi Emir tidak merespon dan hanya diam saja.
Arimbi berhenti dan menghadapnya lalu berjongkok dan menatapnya. Tatapan mata Emir sedalam jurang dan Arimbi tidak bisa melihat dasarnya. Dia diam-diam menatap Arimbi didepannya. Saat ini dia mengerucutkn bibirnya dan memancarkan aura dingin.
“Emir!” Arimbi mencoba menarik tangannya tetapi Emir menepisnya. Meksipun begitu dia melakukannya lagi, Arimbi tak mau menyerah begitu saja.