
Jordan sedikit mengeryitkan keningnya saat mendengar ucapan Aslan. Tidak biasanya kantor pusat mendesaknya menandatangani kontrak kerjasama sejak dia menjabat sebagai manajer umum. Apalagi saat Aslan mengatakan padanya agar memberikan kontrak itu pada Arimbi. Jordan pun sangat senang, itu berarti dia akan semakin sering bertemu dengan Arimbi.
Setelah percakapan berakhir, Jordan segera menyiapkan dokumen untuk penandatanganan kontrak kerja sama dengan Rafaldi Group. ‘Ada apa ya? Kenapa tiba-tiba kantor pusat memintaku segera menyetujui kontrak? Ahh….sepertinya memang ini keberuntunganku. Hahaha….mereka malah memintaku untuk menyetujui penawaran dari Arimbi.”
Senyum diwajah Jordan semakin sumringah. “Ini akan semakin muda untuk mendekati wanita itu. Aku akan semakin sering bertemu dengannya.” ujarnya terkekeh. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi Direktur Rafaldi.
...************...
“Ayah, ada apa memanggilku?”
“Duduklah Amanda. Ada yang ingin ayah beritahukan kepadamu.”
Amanda pun duduk di kursi diseberang meja kerja ayahnya. “Hal penting apa yang ingin ayah sampaikan padaku? Apakah ada masalah dengan salah satu proyek kita?”
“Oh bukan. Ini mengenai kerjasama dengan PT. Libra Elektroindo.”
“Tuan Jordan belum memberi kabar lagi padaku ayah. Dia masih mempertimbangkan penawaran yang aku dan Arimbi berikan padanya. Ini semua gara-gara Arimbi. Maafkan aku ayah, jika aku mengecewakanmu.”
“Apa maksudmu? Masalah apalagi yang dibuat Arimbi?” tanya Yadid mengeryitkan dahinya.
Amanda dengan bersikap tenang dan bersikap seolah dia adalah orang yang patut disalahkan atas semua kekacauan yang dibuat oleh Arimbi pun berkata, “Tuan Jordan…..Arimbi menyinggungnya. Sehingga sampai sekarang PT. Libra Elektroindo masih mempertimbangkan penawaran kita.”
Yadid hanya diam, sebenarnya dia memanggil Amanda untuk memberitahunya kabar baik yang barusan dia terima. Tapi mendengar ucapan Amanda membuatnya memikirkan sesuatu, ‘Apakah Amanda selama ini tidak seperti yang aku pikirkan? Kenapa sepertinya dia ingin membuat Arimbi terlihat buruk?’ bisiknya didalam hati.
Yadid teringat dengan semua perkataan istrinya selama ini tentang sikap buruk Amanda pada Arimbi. Begitu pula tentang kejadian beberapa hari terakhir, Yadid semakin merasa sikap Amanda semakin hari menunjukkan ketidaksukaannya pada Arimbi sejak putri kandungnya itu bergabung di perusahaan.
Pria paruh baya itu melemparkan senyum pada Amanda, dia tetap bersikap seperti biasa. “Begitukah? Coba jelaskan padaku semua yang terjadi.” ucap Yadid ingin mendengarkan penjelasan dari Amanda.
Wanita itupun mulai menceritakan semuanya pada ayahnya.
Dia sangat yakin kalau kali ini Yadid pasti akan memarahi Arimbi atas sikapnya. Sambil berbicara, Amanda terus memperhatikan ekspresi ayahnya yang tampak biasa saja dan sama sekali tidak terganggu dengan apa yang dikatakan oleh Amanda.
Yadid menghela napas setelah mendengarkan semua keluh kesah Amanda tentang Arimbi. Kepiawaiannya berbicara terdengar seolah-olah dialah orang yang baik dan melindungi Arimbi setiap kali Arimbi membuat kesalahan.
“Amanda, bukankah seharusnya kamu tidak membiarkan Tuan Jordan bicara seperti itu pada Arimbi? Aku harap kamu bisa bersikap baik padanya, aku dan ibumu merasa bersalah sekali. Dia menjalani kehidupan didesa selama lebih dua puluh tahun.”
“Seharusnya dia bisa mendapatkan pendidikan terbaik, menjalani hidup yang baik.” Yadid terdiam sejenal sebelum melanjutkan, “Kamu sudah lama bekerja disini, aku harap kamu bisa membantu Arimbi dan mengajarinya bagaimana operasional perusahaan. Ajaklah dia ke acara-acara sosial agar dia bisa banyak belajar lagi.”
Amanda mengerti maksud perkataan ayahnya, mereka tertukar sejak bayi membuat nasib si putri kandung tidak seberuntung dirinya. Seharusnya Arimbi yang menikmati kehidupanan yang dimiliki Amanda selama ini. Yadid memang tidak mengatakan secara langsung padanya tapi Amanda cukup mengerti.
Hal itu membuat hatinya merasa iri dan marah. Dia semakin ingin menyingkirkan Arimbi bahkan menyingkirkan siapa saja yang akan menjadi penghalangnya.
...*******...
Tepat jam makan siang, Amanda yang menerima telepon dari Reza pun meninggalkan gedung Rafaldi Group dengan suasana hati yang buruk. Apalagi saat Yadid mengatakan bahwa PT. Libra Elektroindo sudah menyetujui untuk bekerjasama dan yang mendapatkan kontrak itu adalah Arimbi.
Kekecewaan dan kemarahan bercampur aduk didalam hatinya. Bagaimana mungkin Arimbi bisa memenangkan kontrak berjumlah besar itu? Pasti dia sudah melakukan sesuatu dengan Jordan, pikirnya. Mengingat Jordan yang menyukai gadis muda dan cantik. Bagi Amanda satu-satunya alasan Arimbi mendapatkan kontrak kerjasama itu pasti karena dia menyodorkan dirinya.
Dia melajukan mobilnya menuju villa tempat biasa dia bertemu Reza. Saat Reza menyambutnya di pintu masuk, dia langsung menarik pinggang Amanda dan menutup pintu. Dengan liar dia meraup bibir Amanda dan wanita itu membalasnya.
Mungkin karena suasana hatinya yang sedang buruk, tiba-tiba dia mendorong tubuh Reza menjauh.
“Ada apa, Amanda? Aku sangat merindukanmu.” ujar Reza menggelus pipi Amanda. “Kenapa wajahmu seperti itu? Apa ada masalah lagi dengan Arimbi?”
“Reza! Ada apa kamu memintaku datang kesini? Aku sedang tidak baik-baik sekarang. Aku kesal dan marah karena Arimbi mendapatkan kontrak kerjasama dengan PT. Libra Elektroindo.”
“Apa? Kenapa bisa begitu?”
“Aku juga tidak tahu! Tiba-tiba Tuan Jordan menghubungi ayahku tadi dan mengatakan kalau dia menyetujui kontrak kerjasama dengan Rafaldi Group dan kontrak itu diberikan kepada Arimbi.”
“Apa kamu yakin Tuan Jordan melakukan itu atau jangan-jangan ayahmu yang melakukannya? Dia ingin Arimbi kelak mengambil alih perusahaan darimu. Bisa saja ayahmu yang memberikan kontrak itu pada Arimbi.” ujar Reza dengan nada tak senang.
“Tidak mungkin ayah melakukan itu! Aku mengenalnya dengan baik, meskipun Arimbi adalah putri kandungnya tapi dia tidak akan semudah itu memberikan perusahaan padanya. Dia itu tidak tahu apa-apa, bisa-bisa perusahaan akan hancur ditangannya!”
“Atau jangan-jangan…….” Reza tidak melanjutkan ucapannya. Dia hanya menatap Amanda lalu memeluknya. “Amanda, jangan bersedih! Kita bisa cari cara agar Arimbi batal mendapatkan kontrak itu. Kamu tidak bisa berlama-lama lagi Amanda! Kamu harus bergerak cepat, jika tidak maka Arimbi akan mengalahkanmu. Apa kamu mau itu?”
“Entahlah! Aku belum tahu langkah apa yang harus kulakukan. Akhir-akhir ini sikap ayah padaku juga sedikit berubah. Entah apa yang dikatakan Arimbi pada mereka.” ucap Amanda lagi. “Oh iya kapan pernikahanmu?”
“Aku merindukanmu makanya aku memintamu datang kesini. Ayolah kita makan dulu, aku sudah menyiapkan makan siang kesukaanmu.” ujar Reza menarik tangan Amanda menuju keruang makan.
“Kemana pelayanmu? Kenapa sepi?”
“Oh, aku menyuruhnya pergi karena aku ingin berdua denganmu.”
“Ck! Reza sebentar lagi kamu menikah. Apakah kamu yakin bisa menahan diri tidak menyentuh Ruby?” tanya Amanda.
“Aku berjanji padamu! Aku tidak akan pernah menyentuhnya. Sampai kondisi perusahaanku stabil, aku akan segera menceraikannya. Setelah itu aku akan menikahimu, Amanda.”
“Sudahlah, jangan kita bahas lagi. Sebaiknya makan dulu, kamu pasti sudah lapar kan? Ini semua makanan kesukaanmu.” ujar Reza meletakkan makanan di piring Amanda. “Apa kamu mau aku suapi?”