GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 145. KEKECEWAAN ADRIAN


Lalu dia bertanya lagi, “Apa kamu sudah mulai terbiasa bekerja disana?” tanya Adrian.


Semenjak Arimbi lulus kuliah, dia tidak pernah bekerja di perusahaan sebelumnya dan dia memilih memulai bisnisnya sendiri. Apa dia akan terbiasa bekerja dari jam delapan pagi sampai jam lima sore dan terkungkung dalam waktu selama itu?


“Aku akan mencobanya Adrian! Jangan khawatir, aku akan beradaptasi dengan baik, omong-omong, apa kamu belum memberitahu ayah tentang keadaan ibu?” tanya Arimbi. Karena dia tidak melihat Mardin Darmawan dan kakaknya Panca Darmawan.


“Ayah tahu keadaan ibu tapi dia terlalu sibuk dikebun, jadi dia tidak bisa datang. Sementara Panca sedang sibuk menjaga tokomu jadi aku meminta mereka untuk tidak usah datang. Kesehatanku pulih dengan baik dan dokter bilang aku boleh pulang minggu depan.” ujar Pratiwi menjelaskan.


Keinginan Pratiwi telah terwujud untuk bertemu dengan Amanda dan dia merasa cukup puas setelah Amanda menemaninya beberapa waktu dirumah sakit meskipun putri kandungnya itu terkesan dingin dan tidak memperlakukannya seperti layaknya sikap seorang anak terhadap ibu kandungnya.


Hanya saja, tingkah adik kandungnya membuat Adrian merasa sedikit kecewa. Namun Pratiwi tidak mengijinkannnya untuk mengeluh tentang Amanda sama sekali.


Karena dia khwatir putrinya akan berhenti berkunjung kalau dia mendengar saudara laki-lakinya membuka suara dan mengatakan sesuatu yang bisa menyinggung Amanda.


Jadi Adrian hanya bisa menahan dirinya untuk tidak bicara dan mengatakan apapun pada Amanda selama ini.


“Seharusnya ayah mempekerjakan orang untuk merawat kebun. Katakan pada ayah, dia tidak usah sering-sering berkebun lagi. Keluarga kita tidak mengalami masalah keuangan lagi jadi dia cukup berkebun saat dia merasa bosan saja untuk menghabiskan waktu luangnya.” ujar Arimbi.


Alasan Arimbi selalu memberikan uang tiap kali datang berkunjung ke tempat orang tua angkatnya adalah karena dia ingin orang tua angkatnya dapat memiliki kehidupan yang berkecukupan dan supaya mereka berhenti bekerja keras dan mulai menikmati hidup di hari tua mereka tanpa bekerja keras lagi.


Dengan pasrah, Adrian menjawab, “Kamu tahu sendiri ayah dan ibu itu seperti apa kan?”


Karena orang tua angkatnya bekerja sebagai petani, meminta mereka tetap berada dirumah dan terkungkung sepanjang hari hanya akan membuat mereka merasa tidak nyaman. Hanya dengan berkebun dan melakukan pekerjaan rumah mereka bisa merasakan kehidupan.


Arimbi pun akhirnya terdiam mendengar perkataan Adrian. Beberapa saat kemudian, dia meninggalkan rumah sakit karena Pratiwi terus saja mendesaknya untuk segera pergi.


Wanita paruh baya itu ingin membuat jarak antara dia dan Arimbi karena merasa tidak enak hati dengan keluarga Rafaldi. Adrian mengantarkan Arimbi keluar.


“Arimbi.” panggilnya. “Apakah kamu dan Amanda berkelahi?” tanyanya sambil berjalan.


Hah? Darimana kamu tahu?” tanya Arimbi mengeryitkan dahinya.


Mendengar itu, Adrian pun langsung bertanya lagi, “Kenapa? Apa masalahnya sehingga kalian bertengkar? Apakah Amanda mengganggumu?”


Dimatanya, Arimbi adalah wanita yang sombong dan angkuh. Meskipun dia pandai sekali ilmu bela diri, kepribadiannya yang ceplas ceplos dapat menyinggung orang lain dengan mudah.


Di tambah lagi Arimbi tumbuh besar di pedesaan, jadi tentu saja dia tidak bisa mengalahkan kecerdikan Amanda yang tinggal dan besar di kota.


Adrian segera memahami apa maksud dari perkataan Arimbi itu. “Amanda tidak tahan hanya karena kamu bekerja di perusahaan keluargamu? Bagaimanapun itu adalah perusaHaanmu. Meskipun nama belakangnya sekarang adalah Rafaldi, seharusnya dia memakai nama Darmawan. Karena dia adalah anggota keluarga kami.” ujar Adrian.


“Adrian, kamu tak perlu mengkhawatirkan perseteruan antara kami berdua. Bagaimanapun juga Amanda adalah saudara kandungmu. Sementara aku hanyalah seseorang yang kebetulan menemanimu selama dua puluh tiga tahun terakhir. Bagimu, kami berdua adalah saudarimu, kamu hanya akan melukai salah satu diantara kami. Tidak peduli dipihak siapapun kamu memilih. Cukup kamu berada ditengah-tengah dan tidak ikut campur.”


Arimbi tidak ingin melibatkan saudaranya dalam kekacauan ini. Sambil menghela napas Adrian menjawab, “Aku tak bisa membantu meskipun aku ingin. Oh iya, Arimbi bagaimana hubunganmu dengan Tuan Muda dari keluarga Kanchana itu?”


Arimbi merasa kebingungan ditanya seperti itu, ”Apa maksudmu?”


“Begini, saat Amanda menemani ibu dirumah sakit, dia selalu keluar untuk menerima telepon. Meskipun dia melakukan ini untuk menghindari berinteraksi dengan kami tapi aku berhasil mencuri dengar pembicaraannya. Ternyata yang meneleponnya adalah adalah tuan muda yang sama. Aku tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan tetapi aku dapat melihat ekspresi manja Amanda tiap kali dia berbicara dengannya. Hanya pasangan kekasih saja yang menunjukkan ekspresi wajah seperti itu.”


Adrian mengira kalau Amanda ingin merebut kekasih Arimbi. “Arimbi, aku tahu kamu menyukai Tuan Muda Kanchana tapi dia bertingkah mesra dengan Amanda dibelakangmu. Mereka tidak hanya saling menelepon puluhan kali dalam sehari. Tetapi mereka juga saling berkirim pesan juga. Tidak mungkin ada yang percaya kalau mereka bilang hanya sebatas teman saja.”


“Pria ini tidak sebaik yang kamu kira. Dia berselingkuh darimu, kamu harus meninggalkannya secepat mungkin. Ada begitu banyak pria baik didunia ini, jadi aku percaya kamu akan menemukan satu yang lebih baik dari Tuan Muda yang satu itu.” ujar Adrian menambahkan lagi. Dia sangat peduli pada Arimbi dan tak ingin gadis itu tertipu oleh penampilan luar seorang pria.


“Terimakasih sudah mengingatkanku, Adrian. Aku akan mulai berhati-hati mulai dari sekarang.”


Sambil menepuk pundak kakaknya, Arimbi berpesan padanya dengan lembut, Adrian, daripada kamu mengurusi hidupku bukankah lebih baik kalau kamu mulai mengurus hidupmu sendiri. Kamu sudah berumur tiga puluh tahun. Sudah saatnya kamu menikah. Ayah dan ibu pasti sudah tidak sabar menimang cucu.”


Seraya mengetuk kening Arimbi dengan lembut, Adrian menjawab, “Kamu bahkan menyuruhku cepat-cepat menikah sekarang? Jodohku belum muncul. Kalau dia sudah datang, aku pasti akan menikahinya. Untuk sekarang, kamu bisa menunggu saja kapan undangan pernikahanku tiba.”


“Baiklah. Aku akan menunggu.” jawab Arimbi.


Sembari mengobrol dengan gembira, kedua kakak adik itu keluar dari rumah sakit Adrian baru kembali setelah dia memastikan Arimbi telah masuk kedalam mobil keluarga Serkan dan pergi.


Sambil menyentuh pundaknya, dia menatap lembut ke tempat yang disentuh Arimbi tadi. Setelah keluar dari rumah sakit, Arimbi meminta supirnya untuk membawanya pergi berbelanja.


Setelah keluar dari rumah sakit, Arimbi meminta supirnya untuk mengantarkannya berbelanja dimana da membeli dasai dan satu stel pakaian  pria sebagai hadiah.


Karena dia ingin pulang kerumah orang tuanya, dia juga membeli beberapa stel pakaian untuk mereka sebagai hadiah. Selama ini dia tidak pernah membelikan apapun untuk orang tua kandungnya jadi dia memutuskan mulai sekarang dia akan menghujani mereka dengan hadiah-hadiah darinya.


Dia keluar dari pusat perbelanjaan hendak menuju mobil dimana supir sudah menunggunya. Dia berjalan keluar dengan banyak paperbag berisi hadiah menggantung ditangannya.


Tak disangka-sangka dia malah berpapasan dengan Zivanna. Seolah Zivanna seperti sedang menunggunya disana. Zivanna memarkirkan mobilnya tepat disamping mobil  keluarga Serkan.