GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 240. ISTRIKU


Rombongan Emir meninggalkan rumah sakit, Arimbi menyandarkan tubuhnya disandaran jok mobil. Dia masih tak mau bicara pada Emir. Saat dia merasakan tidak ada pergerakan apapun dari orang disebelahnya, Arimbi melirik dan mendapati kalau Emir sedang memandangi foto USG ditangannya.


Dia terlihat serius menatap foto USG itu, sembari jarinya mengelus seolah-olah dia sedang menyentuh anaknya. Arimbi bisa melihat ekspresi wajah tampan suaminya yang tampak tersenyum. Melihat itu Arimbi melunak tapi dia masih ingin memberi hukuman pada suaminya.


‘Ah…..ini akan sangat menyenangkan! Biasanya ibu hamil itu kan suka bikin permintaan yang aneh-aneh?’ pikirnya. Sebersit ide pun bermunculan di benak Arimbi untuk mengerjai suaminya itu. Dia masih tidak terima karena Emir mengirim anak buahnya mengawasi Zivanna.


“Arimbi, aku melakukan semuanya demi kamu.” dengan lembut Emir bicara. Memecahkan keheningan didalam mobil itu. Sedangkan supir dan Rino yang duduk di jok depan hanya diam sejak tadi. “Zivanna terlalu suka memerintah dan dia memang sombong. Dia pasti tahu kalau aku meminta Michele mendesain pakaian untukmu kan?” ujar Emir melirik Arimbi.


Dia tahu istrinya itu sedang marah, tak mau membuat istri kesayangannya itu mengamuk dan pingsan lagi seperti tadi. Dia berusaha menjelaskan dengan lembut agar tidak ada kesalahpahaman lagi.


“Dia pasti langsung mencari gara-gara denganmu kan? Aku takut dia akan menyakitimu. Itu sebabnya aku menyuruh seseorang untuk mengikutinya.”


“Soal alasan kenapa aku tidak menyuruh orang untuk mengikutimu, itu karena aku tidak mau kamu salah paham dan marah padaku dan berpikir kalau aku mengawasimu. Kalau aku mau, aku bisa saja dengan mudah mengetahui aktivitasmu setiap hari.”


“Tapi aku tidak melakukannya karena aku tahu kamu pasti tidak akan suka. Jadi aku menghormatimu dan memberimu kebebasan. Tapi, dengan kondisimu sekarang aku khawatir jika Zivanna akan melakukan hal lebih buruk lagi padamu.”


“Arimbi, aku akan menjaga dan melindungimu. Mulai besok aku akan menyuruh anak buahku untuk menjagamu, itupun jika kamu mau. Aku akan meminta mereka mengawasimu dari jauh agar kamu tidak merasa tertekan. Apakah kamu bersedia? Tidak akan ada yang tahu kalau ada pengawal yang mengikutimu kemanapun. Ini demi keselamatanmu dan calon anak kita nanti.”


Emir sudah bicara panjang lebar tanpa ada respon dari Arimbi yang tetap mendengarkan. Setelah Emir selesai menjelaskan semuanya, semua kemarahan Arimbi lenyap dalam sekejap. Tanpa sadar tangannya mengelus perutnya yang masih rata. Anakku! Aku harus melindungi anakku, pikirnya.


Memang dia tidak akan suka jika Emir menyuruh seseorang untuk mengikutinya maka dia akan merasa diawasi dan sama sekali tidak merasa bebas. Harus dia akui, Emir memang sangat mengenalnya. Selain itu, dia sangat perhatian dan pengertian.


Tapi mengingat keadaan sekarang, mau tak mau dia harus menerima saran Emir. Bahwa dia sedang hamil dan harus ada orang yang mengikuti dan mengawasinya.


“Baiklah. Aku sudah memberi penjelasan padamu. Jadi katakan padaku sekarang, bagaimana aku harus menghukummu?” detik berikutnya nada suaranya berubah menjadi tegas.


“Emir! Aku sedang mengandung anakmu! Apa kamu masih tega menghukumku? Kalau kamu menghukumku sekarang, itu berarti kamu menghukum dua orang karena ada calon anakku disini.” ujar Arimbi sambil menunjukk perutnya.


Emir tak bisa melawan istrinya. Dia menarik Arimbi kedalam pelukannya dan berkata dengan lembut, “Berjanjilah padaku Arimbi---jangan ngebut lagi mulai sekarang! Ada calon anak kita disini. Penyesalan selalu datang terakhir.” tangannya menyentuh perut datar Arimbi dengan lembut mengelusnya sambil menatap Arimbi dengan penuh kasih sayang.


“Biarkan supir mengantarmu kemanapun kamu ingin pergi. Supir akan menunggu di kantor setiap saat sehingga kamu bisa memintanya mengantarmu kapan saja. Aku akan meminta Beni untuk menyediakan supir yang selalu siaga untukmu.”


“Baiklah,” jawabnya setuju. “Maaf Emir. Aku tidak bermaksud melakukannya tapi aku tidak tahan.”


Emir bisa mengerti hal itu. Sebelum lumpuh, dia sesekali juga mengendarai mobilnya untuk jalan-jalan di pinggiran kota.


“Emir.”


“Ya?”


“Aku bermasalah dengan dua orang hari ini. Apa yang harus kulakukan? Ah, mungkin tiga orang.”


“Dengan Ruby Zimena juga. Amanda juga karena Amanda yang memberitahu Zivanna dimana aku berada sehingga dia mengejarku kesana.” jawabnya. Lalu Arimbi menceritakan semua yang telah terjadi tanpa ada satupun yang terlewatkan.


“Aku bukan pembuat onar, tapi mereka selalu saja merundungku. Mereka semakin keterlalun dan Zivanna terus mempermainkan aku. Emir, ini semua salahmu! Kalau bukan karena kamu terlalu tampan dan memikat dan disukai banyak wanita, mereka tidak akan mempersulit hidupku.”


“Zivanna juga berlebihan! Dia bahkan tidak mau…..dia sudah menyerah padamu, tapi dia tidak memperbolehkan wanita lain dekat-dekat denganmu.”


Sambil terkekeh Emir berkata, “Oke, ini salahku. Akulah yang membuat istriku ditimpa masalah. Maafkan aku istriku.”


“Emir, maukah kamu memanggilku istri beberapa kali lagi?” rasanya sangat menyenangkan pikirnya.


Emir juga tidak mau mengecewakannya apalagi istrinya sedang mengandung sekarang. Dengan suara yang berat dan serak, dia memanggil Arimbi ‘istri’ beberapa kali.


Yang dipanggil tersenyum secerah mentari pagi, pantulan sinarnya menerangi seluruh dunia Emir. Rino dan supir yang duduk didepan saling melempar pandang dan tersenyum. Sepertinya kebahagiaan rumah tangganya dan kabar bahagia hari ini membuat dunia bos mereka itu menjadi berwarna bahagia.


“Arimbi, entah itu Ruby atau Zivanna, kamu tidak perlu takut pada mereka. Jangan cari masalah dengan orang lain kecuali jika mereka yang memulai duluan. Jika mereka cari gara-gara denganmu, balas saja sesukamu. Bahkan jika langit runtuh, aku akan mengangkatnya kembali untukmu.”


“Ingat ya, kamu adalah istriku dan ibu dari calon anakku, harusnya orang lain yang takut padamu, bukan sebaliknya. Aku akan segera mempersiapkan semuanya untuk pesta pernikahan agar semua orang tahu statusmu!”


Sambil menyeringai Arimbi berkata, “Emir, jadi kamu akan memberikan semua yang aku mau? Aku akan sangat manja hingga lepas kendali dan mengganggu semua orang kemanapun aku pergi. Pada saat itu, kamu akan sangat kesal karena harus membereskan semua kekacauan yang aku buat.


Emir menundukkan kepalanya dan mengecup bibir istrinya sebelum bergumam, “Aku senang memanjakanmu dan aku akan memanjakanmu sampai-sampai hanya aku yang bisa menoleransi dan menerimamu. Dengan begitu kamu akan menjadi milikku selamanya.”


“Jangan khawatir. Dalam hidupku, aku tidak akan pergi selama kamu tidak membuangku. Bahkan jika kamu membuangkau, aku tidak akan pergi karena aku sudah memutuskan untuk melekat padamu!”


Sambil terkekeh, Emir berkata, “Aku tahu kamu terpikat padaku. Begitu bangun, kamu langsung memaksaku untuk menikahimu.”


“Arimbi, apa yang membuatmu berani mengatakan hal-hal tidak tahu malu seperti itu kepadaku?”


Entah Emir yang menikahinya atau dia yang menikahi Emir! Tapi kenapa akhirnya Emir setuju menikahinya? Emir berpikir bahwa mungkin karena aura dominan Arimbi pada waktu itu yang membuat dirinya punya pandangan baru terhadap wanita itu.


Setelah itu, dia setuju menikahinya. Namun tentu saja dia juga ingin mengubah Arimbi. Sembari mengingat kembali memori itu, Emir diam-diam tidak bisa menahan senyum karena itu adalah hal yang tak terduga dan sekarang mereka sudah mempunyai calon anak.


Emir terbiasa bertanggung jawab atas segalanya dan dia pikir dia mampu, tetapi siapa yang tahu bahwa dia akan jatuh ke tangan Arimbi. Tanpa dia sadari dia bahkan sangat memanjakan wanita itu dan mentoleransi semua perbuatan dan tingkah lakunya yang dimata Emir sangat menggemaskan itu.