
Semuanya langsung memahami maksud Dion. Semua orang berandai mengapa Dion mau membela Arimbi meskipun dia sama sekali tak mengenalnya? Ternyata Dion memanfaatkan keadaan ini untuk menghina Emir dan kekurangannya. Melindungi pembantunya sendiri pun dia tak mampu. Bahkan Zivanna yang dendam pada Arimbi memadamkan amarahnya setelah ini. Tidak mungkin kan Dion Harimurti tertarik pada Arimbi si udik itu? Pikirnya.
Hanya Zivanna yang layak mendapatkan pria sejati seperti Dion Harimurti dan Emir Serkan.
“Direktur Harimurti, apakah anda meminta imbalan?” ucap Emir. Dengan sifat dinginnya dia melanjutkan. “Dia bukan pembantu saya!”
‘Dia adalah istriku!’ sambungnya didalam hati.
Emir belum tiba disana saat Arimbi dirundung oleh Zivanna. Dia tidak bisa melindunginya tetapi dari yang ia tahu tentang Arimbi. Dia takkan dimanfaatkan dan dia tak akan keberatan jika Zvanna membuka hadiah didepan orang banyak. Namun itu justru memberikan kesempatan bagi Dion untuk membelanya dan itu membuat Emir murka!
Tampaknya lawan Emir semakin mendekati istrinya! Emir tak mungkin membiarkan ini!
“Oh jadi dia bukan pembantu anda? Benar juga, anda sudah membahas pernikahan dengannya dulu jadi saya rasa dia mantan tunangan anda ya.” ucap Dion sengaja memanas-manasi Emir. “Mantan!”
“Arimbi juga bukan tunangan saya!” kata Emir lagi. “Dia juga bukan mantan saya!”
“Kalau begitu siapa dia? Dia tinggal bersama anda di Villa Serkan. Lagipula ini pertama kalinya hal seperti ini terjadi dalam hidup Tuan Emir.”
Emir balik bertanya, “Itu urusan pribadi saya Direktur Harimurti. Kenapa jadi urusan anda? Anda banyak sekali bertanya seolah anda mencintai saya. Apakah anda cemburu atau iri? Apakah anda menyalahkan saya karena tidak mengusik anda?”
Dion tak bisa berkata-kata, “Apa maksudmu Emir? Siapa yang jatuh cinta padamu?”
“Kalau tidak, kenapa anda banyak bertanya? Malam ini ulang tahun Nona Zivanna tapi anda menjadi pusat perhatian dan itu mengganggu saya. Anda mencoba untuk menempel pada saya untuk memamerkan diri anda. Bukankah itu namanya mencari perhatian?” ejek Emir.
Semua orang yang mendengar ucapan Emir pun terdiam. Dion kembali tak bisa mengatakan apapun. Dia sangat kesal hingga wajahnya merah padam. Jika dia punya kumis mungkin kumisnya juga ikut berdiri karena amarahnya. Dia sengaja menyinggung Emir karena dia tertarik mendekati Arimbi.
Emir memang sedikit bicara, tapi sekali bicara, ucapannya menyayat hati. Sedikit kata menyinggung pun cukup untuk membuat Dion murka. Dia menghentakkan kakinya dengan marah akan ketidak mampuannya membalas Emir. Dia tidak bisa melawan pria itu. Sedangkan orang lain takut membuat Dion tersinggung tapi Emir tidak. Dia bahkan dengan sengaja menyinggung Dion setiap hari.
Sementara itu Arimbi yang bersembunyi di belakang kerumunan sedang menikmati makanannya. Dia sedang menyantap makanan penutup saat dia mendengar sindiran suaminya pada Dion Harimurti. Dia hampir tersedak dibuatnya tapi dia akhirnya bisa menelan makanannya. Dia sudah merasa baikan lalu menyesap segelas anggur dan bernapas dengan baik.
Emir selalu menyebutnya sebagai istri tak tahu malu, tapi Emir lebih tak tahu malu darinya. Hah! Tidak heran mereka bisa menjadi pasangan. Sifat mereka berdua ternyata sama. Dion pun berhenti bicara. Elisha dan Emir pun akhirnya masuk kedalam rumah diantar oleh keluarga Lavani. Yuda Lavani ayah Zivanna mengisyaratkan para keponakannya untuk menemani Dion Harimurti sementara dia membawa anak-anaknya untuk menemani Emir.
Amanda yang mendapati Arimbi sedang makan dan minum anggur dengan santainya di pojok, memandangnya dengan jijik lalu mulai mengomel, “Arimbi! Memangnya kamu kelaparan? Apa kamu hanya bisa makan saja ya? Menjijikkan!”
“Aku belum makan sejak dari rumah. Aku memang lapar. Kamu tidak lapar? Jangan menahan gengsi, kalau lapar ya makan saja daripada pingsan! Itu yang lebih memalukan dan menjijikkan.” balasnya.
Amanda pun terdiam, sebenarnya dia pun kelaparan tapi seperti kata Arimbi gengsi Amanda terlalu tinggi. Dia selalu menjaga imagenya agar terlihat sebagai wanita sempurna.
“Saat para dewa bertarung, manusialah yang menderita. Ikan teri seperti kita ini harus pergi sejauh mungkin, tidak perlu ikut-ikutan nanti kejepit rasanya sakit!”
Amanda melihat bagaimana Emir diperlakukan layaknya VIP oleh Keluarga Lavani. Dia tidak bisa menahan rasa takut dalam hatinya. Dia ketakutan saat melihat pria kejam berdarah dingin dengan kata-katanya yang tajam itu. Memang sebaiknya dia menjauh darinya seperti kata Arimbi tadi.
Emir sudah datang artinya Zivanna tidak akan punya waktu untuk sahabatnya. Amanda pun tahu diri jadi dia memutuskan untuk makan. Tetapi dia menjauhkan diri dari Arimbi. Amanda mendekati teman-temannya yang lain dan berbincang sambil tertawa.
“Arimbi!”
Arimbi mengenali suara itu lalu berbalik dan terkejut melihat Joana. Seperti layaknya Arimbi, Joana juga adalah wanita kelas atas yang pemalu, setiap kali dia menghadiri pesta perjamuan, dia akan menyendiri setelah menyapa tuan rumah. Bukan karena dia tidak ingin bergaul dengan wanita lainnya tapi karena dia dikucilkan.
Saat Joana bertemu Arimbi pertama kalinya, dia sudah menduga kalau mereka tidak cocok dengan lingkungan sekitarnya. Karena itulah mereka berdua cepat akur dan berteman sampai sekarang.
“Kamu terlambat.” ujar Arimbi bergeser memberikan tempat untuk Joana yang juga membawa sepiring makanan dan segelas anggur.
“Ini semua gara-gara ibuku. Ibu sangat lambat, dia berdandan begitu lama sampai aku bosan.” keluhnya sambil duduk. Mereka pun menghabiskan waktu menikmati hidangan dan berbincang.
“Hei, aku dengar ada hal menarik yang terjadi.” ucap Joana penasaran. Meski dia terlambat datang untuk melihat pertunjukannya, dia mendengar orang-orang membicarakan kejadian tadi.
“Emir ada disini? Mengejutkan! Aku sudah menghadiri banyak acara tapi baru kali ini aku melihatnya langsung.” ujar Joana.
Arimbi mengintip pria yang tampak mencolok diantara kerumunan meskipun dia duduk di kursi roda.
“Itu membuktikan pengaruh Nona Zivanna. Kalau dibandingkan dengan ikan teri seperti kita.” Arimbi melihat sekilas pada suaminya. Dia juga terkejut dengan kehadirannya karena dia tidak menyebutkan apapun tentang menghadiri pesta.
‘Hmmm…..mulai berani tidak jujur dia. Aku ini istrinya! Dia tahu aku akan menghadiri pesta malam ini tapi dia tidak bilang apa-apa? Eh, malah muncul disini begitu saja? Awas kamu Emir!’ geramnya. 'Eh, kenapa aku tidak menghukumnya saja nanti dirumah?'
“Benar.”
Meskipun Keluarga Ganesha kaya tapi status keuangan mereka jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan keluarga Lavani. Agar Joana bisa masuk kedalam dunia orang kaya kelas atas, ibunya bersusah payah untuk mendapatkan dua undangan untuk mereka.
“Tuan Emir seksi sekali!” seru Joana. “Sayang sekali dia tidak bisa jalan.”
“Memang. Kenapa kamu tidak memfotonya?”
Joana langsung menggelengkan kepalanya, “Jangan dia. Aku tidak berani melakukannya. Aku masih belum bosa hidup!”
“Dia tidak menggigit.” Arimbi tersenyum pada komentar lucunya.