
“Halo Emir, selamat pagi. Apa kau sudah dikantor?” tanya Bryan yang menghubungi Emir.
“Ya aku baru saja sampai.” jawab Emir. “Ada apa? Sudah menemukan lokasinya?”
“Sudah. Jack sudah bisa menelusurinya. Aku akan sampai di kantormu sebentar lagi. Kita harus bicara langsung masalah ini.” ucap Bryan lagi.
“Baiklah! Aku tunggu.” balas Emir mengakhiri percakapan.
“Bagus sekali. Akhirnya aku dan teman-temanku bisa menemukan apa yang selama ini kami cari! Inilah akhir dari keluarga Lavani! Setelah ini semua berakhir, tidak akan ada yang mengingat nama keluarga itu lagi!” gumamnya pelan.
Emir kembali fokus pada pekerjaannya. Larut dalam pekerjaannya yang menumpuk, terdengar suara ketukan dipintu.
“Masuk.”
“Emir…..kenapa setiap kali aku datang kamu sibuk.” ucap Bryan memasuki ruang kerja Emir. Lalu dia duduk dikursi diseberang Emir. Dia menatap tumpukan dokumen diatas meja kerja didepannya.
“Biasalah! Memang seperti ini setiap hari.” jawab Emir meletakkan penanya. “Bagaimana?”
“Oh soal itu! Apa kamu mau ikut dengan kami nanti malam?”
Emir terdiam dan berpikir sejenak. “Istriku sedang hamil dan aku sudah berjanji padanya akan menemaninya. Makanya aku selalu pulang lebih cepat setiap hari.”
“Ckckck! Emir Serkan! Ternyata setelah menikah kamu banyak berubah.”
“Ya, sebaiknya kamu juga segera menikah! Biar kamu tahu rasanya seperti apa menikah itu.”
“Aku sudah siap menikah kalau sudah mendapat restu darimu.” ujar Bryan.
“Maksudmu?” Emir memicingkan matanya menatap temannya itu.
“Ayolah Emir! Sudah sejak lama aku menyukai Elisha, adikmu. Kenapa kamu tidak mengijinkanku menjadi kekasih adikmu? Memangnya ada pria lain yang lebih baik dariku?” ujar Bryan. Pria itu memang sudah menyukai Elisha sejak gadis itu masih kecil.
Dimata Bryan, gadis itu sangat imut dan dia menyukai sikap Elisha yang malu-malu dan berbeda dari gadia-gadis kaya lainnya yang selama ini dipacarinya.
“Tidak! Mau kamu kemanakan wnaita-wanitamu itu?” Emir mencibir pada Bryan.
“Emir, mereka itu semua hanya untuk bersenang-senang saja. Aku mencari wanita baik-baik untuk kujadikan istri. Apa aku seburuk itu dimatamu?”
“Aku tidak akan membiarkan temanku menjadi kekasih adik perempuanku! Kalian semua sama saja!”
“Hahahaha! Emir, tidak ada pria yang sanggup sepertimu! Kamu punya kontrol diri yang bagus, meskipun banyak wanita mengejarmu tapi kamu selalu bisa mengendalikan dirimu.”
Bryan menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa memandang temannya itu.
“Karena itu, aku akan mencarikan pria sepertiku untuk adik perempuanku.”
“Apa itu tidak membosankan? Untung saja Arimbi mau menerimamu?” ejek Bryan.
“Eh, Aku ini suami terbaik! Kalau tidak percaya tanya saja pada Arimbi!”
“Ya, mungkin dirumah kamu adalah suami terbaik! Tapi mungkin karena istrimu itu bisa mengendalikanmu! Semua orang juga tahu kamu itu seperti apa.” balas Bryan.
Saat keduanya sedang asyik berbicara, terdengar suara ketukan di pintu. Emir mengira itu adalah salah satu sekretarisnya atau asisten pribadinya.
“Masuk.”
Tak lama pintu terbuka dan muncullah wanita cantik dengan perut buncit menenteng rantang.
“Sayang, aku datang…..”
Bryan yang mendengar suara imut itu pun langsung menoleh dan tersenyum. Gadis yang disukainya dan baru saja dibicarakannya ternyata kini ada dihadapannya. Detak jantungnya semakin kencang dan tatapannya lurus pada Elisha.
Bryan langsung berdiri dan menyambut mereka, “Halo Elisha! Nyonya Besar. Arimbi.”
“Oh Bryan ada disini juga ya? Apa kabarmu? Kapan kamu kembali dari luar negeri?” Layla Serkan senang melihat Bryan ada disana. Dia menepuk-nepuk lengan pria itu sambil tersenyum.
“Kenapa kamu selalu bersikap formal padaku, hmm?”
“Anda adalah tetua keluarga Serkan! Jadi saya menghormati anda Nyonya Besar. Ayo duduk.”
Pria itu sangat sopan menuntun Layla Serkan duduk di sofa lalu dia duduk disebelahnya kanan sedangkan Elisha duduk di sofa sebelahnya.
“Kakak, aku dan nenek menemani kakak ipar ke sini untuk mengantarkan makan siangmu! Lihatlah, kakak ipar memasak makanan kesukaanmu.”
“Terima kasih istriku. Kemarilah.” Emir tersenyum hangat memanggil Arimbi untuk duduk disampingnya.
Bryan hanya tersenyum melihat Emir yang bersikap lembut dan perhatian pada Arimbi. Emir berdiri dan menuntun Arimbi duduk disebelahnya.
“Kenapa kamu repot-repot memasak? Apa kamu tidak capek?” tanya Emir penuh perhatian.
“Aku sudah janji akan membawakanmu makan siang. Sekalian kami mau pergi belanja keperluanku.” jawab Arimbi.
“Kamu kan bisa meminta chef yang memasak, aku tidak mau kamu dan anak kita kenapa-napa.”
“Emir! Istrimu khawatir kamu sibuk kerja dan lupa makan. Dia sudah sibuk di dapur sejak tadi memasak untukmu! Makanlah, kami juga tidak lama disini. Nenek mau menemani Arimbi membeli pakaian baru untuknya dan beberapa keperluan untuk kamar bayi.”
“Nenek, kenapa capek-capek? Aku bisa meminta toko yang datang kerumah mengantarkan semua keperluan Arimbi.” ujar Emir. Dia mengkhawatirkan Arimbi yang berperut besar harus berjalan kaki.
“Kakak, tidak baik juga kalau kakak ipar tinggal dirumah saja setiap hari. Dia juga bosan, lagipula kakak ipar pakai kursi roda jadi dia tidak akan lelah berjalan di mall.” ucap Elisha menjelaskan.
“Kamu yakin? Kalau kamu lelah kamu istirahat saja dirumah, ya sayang?” Emir terdengar cemas sambil memandang perut besar Arimbi. Dia membayangkan betapa lelahnya wanita itu berjalan.
“Aku yakin. Ini juga bagus untuk kehamilanku. Setiap hari berjalan sebentar, kalau aku lelah aku juga berhenti. Aku mau shopping, sudah lama sekali sejak terakhir kali aku pergi ke mall.”
“Baiklah.” Emir hanya bisa mengiyakan keinginan istrinya meskipun didalam hatinya berat.
“Bagaimana kalau aku ikut menemani kalian belanja?” tanya Bryan yang melihat kesempatan.
“Sebaiknya kamu pergi saja urus perusahaanmu! Untuk apa kamu ikutan belanja dengan para wanita?” Emir mendengus kesal, dia tahu apa yang ada dibenak temannya itu.
“Nyonya Besar, bolehkah aku menemani kalian berbelanja? Setidaknya aku bisa membantu kalian membawakan belanjaan.” Bryan pasang akal untuk meminta persetujuan dari Layla Serkan.
“Tidak mau! Kamu selalu bersikap formal padaku! Dulu kamu memanggilku nenek, sekarang kamu memanggilku Nyonya Besar! Huh!”Layla Serkan kesal dengan cucu sahabatnya itu.
“Hehehee…baiklah. Maafkan aku nenek! Jadi bagaimana? Bolehkan aku ikut dengan kalian?” Bryan tak mau kehilangan kesempatan ini.
“Tidak bisa! Biarkan istri, adik dan nenekku belanja dan menikmati waktu mereka bersama.”
“Ayolah Emir! Aku merindukan nenekku! Setidaknya aku bisa menghabiskan waktu dengan nenek Serkan rasa rindu pada nenekku terobati.” ujar Bryan memberi alasan.
“Ya sudah, kalau kamu tidak sibuk kamu bisa ikut dengan kami. Kamu bisa sekalian menjaga Elisha kalau dia mau ditemani belanja.” ujar Layla Serkan yang membuat Bryan langsung berbinar matanya.
“Ya ya benar sekali nek. Aku akan menemani Elisha kemana pun dia mau pergi. Kamu tidak keberatan kan Elisha?” Bryan menatap adik perempuan Emir itu sambil tersenyum.
Emir yang memperhatikan temannya itu hanya bisa mendengus kesal. “Asal jangan macam-macam saja dengan adikku! Awas saja ya!” ancam Emir membuat Arimbi mencubit pinggangnya. “Awww!”
“Kamu apaan bicara seperti itu? Bairkan sajalah.” ucap Arimbi. “Kamu juga pernah muda kan sayang?” Arimbi mengedipkan matanya. Dia sadar sejak mereka masuk Bryan terus menerus menatap Elisha.