GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 388. AKU AKAN MENCERAIKANMU


Alarik menarik tangan Rania meninggalkan ruang keluarga dan membawa istrinya menuju ke kamar mereka. Alarik menutup pintu dengan keras sehingga membuat Rania terkejut dan memegang dadanya. “Sudah berulang kali aku memperingatkanmu! Aku bisa membaca apa yang ada dalam pikiranmu saat ini!”


“Ap---apa maksudmu suamiku?” tanya Rania dengan gagap.


“Enyahkan semua rencana-rencana yang ada didalam pikiranmu saat ini! Besok aku akan meminta pengacara keluarga Serkan untuk mengurus perceraian kita! Aku sudah lama mentolerirmu Rania! Tapi tidak kali ini! Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti Arimbi!”


“Apa? Kamu mau menceraikanku hanya gara-gara Arimbi? Oh, hebat sekali ya! Aku melayanimu sebagai istri bertahun-tahun lamanya dan sekarang kamu mau menceraikanku? Alarik! Katakan yang sebenarnya, apa selama ini kamu menemui wanita lain dibelakangku?”


“Kamu benar-benar gila Rania! Sekian lama aku hanya diam!”


Alarik enggan bertengkar dengan Rania, selama ini dia hanya mentolerir istrinya. Dia menyadari kalau dia gagal sebagai suami yang mendidik istri. Namun sejak kejadian Rania yang bersekongkol dengan Zivanna membuat Alarik kehilangan simpati dan kasih sayangnya pada istri yang sudah menemaninya bertahun-tahun.


Bagi Alarik, apa yang dilakukan Rania sudah sangat keterlaluan. Apalagi sekarang pun dia tahu apa yang ada didalam pikiran istrinya pastilah hal yang tidak baik. Semakin hari Rania semakin menunjukkan sifat buruknya. Apakah selama ini wanita itu terlalu hidup nyaman di keluarga Serkan sehingga membuatnya sangat egois?


Selama bertahun-tahun Rania adalah menantu tertua dikeluarga Serkan, yang berarti dia memiliki kekuasaan lebih dibandingkan ipar-iparnya. Uang bulanan dan fasilitas yang didapatnya pun lebih banyak sebagai menantu tertua dikeluarga itu. Namun Alarik tak pernah menyangka jika Rania seburuk dan sejahat itu.


Bagaimana bisa seorang ibu memilihkan wanita yang buruk untuk putranya? Bahkan berkolaborasi ingin menyatukan putranya dengan wanita pilihannya? Dan sekarang sepertinya Rania masih membenci Arimbi dan merencanakan sesuatu lagi? Alarik tidak akan membiarkan istrinya mengacaukan kehidupan keluarganya.


Sejak lama dia diam dan mendiamkan apapun yang Rania lakukan. Selama istrinya tidak membuat masalah padanya, Alarik diam setiap kali Rania lebih banyak menghabiskan waktunya liburan bersama teman-teman sosialitanya. Pernikahan mereka dulunya adalah pernikahan bisnis. Tak ada cinta namun saling menghormati kedua keluarga.


Tapi semakin lama, Alarik seringkali merasa kecewa dengan Rania yang terlalu manja dan tidak pernah melayaninya sebagai suami. Dan saat Alarik melihat bagaimana perlakuan Arimbi pada Emir membuat hatinya tersentak, bertahun-tahun menikah dia tak pernah mendapatkan perlakuan seperti yang diberikan Arimbi pada Emir.


Rania bahkan tidak pernah menyiapkan air mandinya, atau sekedar memasakkan makanan untuknya. Semuanya dilakukan oleh pelayan, hal itu membuat Alarik sangat menyayangi Arimbi karena dia tahu ketulusan hati menantunya itu. Apapun akan dia lakukan untuk menjaga pernikahan putranya tetap langgeng.


Meskipun itu berarti dia harus menceraikan Rania jika istrinya itu berusaha mengacaukan rumah tangga Emir dan Arimbi. Tapi saat ini dia tidak bisa mengatakan apapun pada Layla Serkan, ibunya. Alarik menatap tajam Rania yang menangis tersedu-sedu namun tak sedikitpun menyentuh hatinya.


Dia cukup mengenal istrinya, dan kali ini dia tidak akan membiarkan Rania memainkan drama airmatanya lagi. Kebahagiaan putranya jauh lebih penting! Lagipula dia sangat bahagia karena Arimbi memperlakukannya seperti orangtuanya sendiri. Tak jarang Arimbi memasakkan makanan kesukaan Emir dan memberikan juga pada Alarik.


“Kalau kamu sudah selesai menangis! Bersihkan wajah dan tubuhmu supaya kamu tidak terlihat jelek! Semakin tua bukannya semakin baik, kamu malah semakin buruk!” ujar Alarik.


Mendengar perkataan suaminya langsung membuat Rania menghentikan tangisannya.


‘Sial! Sepertinya Alarik tidak tersentuh lagi dengan airmataku! Apa aku akan kehilangan segalanya sekarang? Kenapa semua orang begitu menyayangi Arimbi? Apa sih hebatnya perempuan itu? Hanya karena dia sedang mengandung keturunan Serkan?’


Rania pun merasa panik dan sedikit ketakutan mulai mendera hatinya. ‘Tidak! Aku tidak boleh bercerai dengan Alarik! Arrgggg……memalukan sekali kalau semua kalangan atas mengetahui kalau aku diceraikan suamiku? Pasti mereka akan berpikir kalau aku adalah wanita yang buruk sehingga keluarga Serkan membuangku?’


Alarik yang tadi masuk ke kamar mandi membersihkan tubuhnya, kini sudah keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian. Lalu dia melirik Rania dan berkata, “Bertahun-tahun aku membiarkanmu melakukan apapun yang menyenangkan hatimu! Bukan berarti kamu bisa bertindak sesuka hatimu!”


“Tidak! Kamu tidak boleh melakukan itu. Suamiku, aku akui aku salah…..aku minta maaf! Aku mohon jangan ceraikan aku!” ujar Rania dengan panik dan memegang tangan suaminya memohon dengan wajah memelas.


“Aku tidak suka memiliki istri yang jahat dan membohongiku selama bertahun-tahun!”


“Tidak! Suamiku, aku tidak pernah membohongimu. Apa yang kamu katakan? Aku akui apa yang aku lakukan bersama Zivanna sebelumnya tapi semuanya sudah usai. Lagipula wanita itu sudah menghilang dan sekalipun dia ada disini sekarang mana mungkin aku membiarkannya mendekati putraku! Dia tidak layak!”


“Aku tidak sedang membicarakan tentang apa yang kamu dan Zivanna lakukan sebelumnya! Aku sedang membahas hal lain! Sebuah kebohongan yang kamu simpan selama ini! Coba kamu pikirkan baik-baik Rania! Atau aku sendiri yang akan membongkar semuanya dihadapan seluruh keluarga Serkan dan membuatmu terusir dan dipermalukan?”


Rania mengeryitkan dahinya tak paham apa yang dibicarakan oleh suaminya. Alarik menghempaskan tangan Rania yang memegang lengannya dengan kasar.


Wanita paruh baya itu sedang berpikir namun dia tidak memahami apapun. Dia merasa kalau dia tidak pernah melakukan sesuatu yang salah lantas kenapa akhir-akhir ini Alarik sepertinya sangat marah padanya?


Semakin Rania memikirkannya, semakin dia pusing dan tak mengerti. “Aku tidak paham apa yang kamu maksudkan, suamiku! Semuanya baik-baik saja dikeluarga kita selama ini. Tapi akhir-akhir ini aku melihatmu sering marah dan tidak sehangat dulu lagi padaku. Tolong katakan kesalahan apa yang sudah kulakukan yang membuatmu marah?”


“Oh kamu masih tidak mau bicara? Baiklah Rania, biar aku beritahu sesuatu. Mungkin dengan begitu kamu akan mengingat sedikit!” ujar Alarik yang semakin tajam menatap Rania. “Selama enam tahun terakhir apa yang kamu lakukan dengan uang pribadimu? Apakah kamu ada melakukan bisnis bersama teman-teman sosialitamu?”


“Heh? Aku tidak paham suamiku. Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan tentang uang pribadiku?” tanya Rania mengerutkan alisnya dan mencoba berpikir maksud dari perkataan suaminya. Namun dia masih tetap tidak bisa menarik benang merahnya.


“Apakah kamu menyembunyikan sesuatu dariku?”


“Ah, tidak suamiku! Bukankah selama ini kita sering bepergian bersama? Kamu pasti tahu semuanya bukan?”


“Ehm…..aku tidak bicara tentang tiga tahun belakangan ini! Kita memang sering bepergian selama tiga tahun belakangan ini setelah kecelakaan yang menimpa Emir. Tapi aku membicarakan tentang enam tahun lalu.”


Entah mengapa tiba-tiba hati Rania merasa tak tenang saat dia mendengar untuk kedua kalinya suaminya menyebut enam tahun yang lalu. ‘Ah, tidak mungkin apa yang Alarik bicarakan ada hubungannya dengan kejadian waktu itu bukan? Tidak…..tidak……tidak mungkin! Tidak ada seorangpun yang tahu tentang itu.’


“Aku memberimu waktu selama dua hari untuk memikirkan perkataanku. Aku pernah mencoba membahas hal ini sebelumnya saat kita berada diluar negeri. Tapi kali ini adalah kesempatan terakhirmu Rania! Aku akan meminta supir mengantarmu ke villa. Dan renungkan semuanya disana selama dua hari ini. Aku rasa itu waktu yang cukup untuk mengurus perceraian.”


Alarik tak menunggu Rania bicara karena dia sudah tidak mau mendengar apapun lagi. Dia segera keluar dari kamar dan meminta pelayan mengemasi pakaian Rania dan meminta supir untuk mengantar istrinya itu ke villa. Rania yang panik tak tahu harus melakukan apa, dia terlihat pucat dan berjalan mondar mandir didalam kamar.


‘Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Kenapa tiba-tiba semuanya berubah menjadi seperti ini? Apakah Alarik mengetahui sesuatu? Apakah ada orang yang memberitahunya? Tidak mungkin! Semuanya ini pasti imajinasinya saja! Tapi lamunan Rania buyar saat pelayan membuka pintu kamar. “Nyonya, mobil sudah siap dan supir menunggu nyonya didepan.”


“Ap----apa?” Rania tergagap.