
Emir tidak menjawab pertanyaan istrinya, sebaliknya dia memberi isyarat padanya untuk mendorongnya ke depan. Para kepala pelayan berdiri menurut jenis kelamin dan tinggi badan. Meskipun ada banyak orang dengan pakaian yang sama, mereka berdiri dengan rapi dan jelas bahwa mereka semua terlatih.
Arimbi telah tinggal lama di Villa Serkan tetapi dia masih memiliki pemahaman yang terbatas tentang keluarga kayanya. Orang yang ingin menjadi kepala pelayan harus seperti para elit di dunia usaha. Untuk di promosikan, latar belakang dan kinerja mereka harus sangat baik. Menjadi kepala pelayan di Keluarga Serkan sebanding dengan memegang posisi senior di sebuah perusahaan besar.
Mereka menerima gaji dan tunjangan yang sangat menarik. Apalagi Keluarga Serkan membayar gaji para pekerjanya lebih tinggi dibandingkan keluarga kaya lainnya.
“Selamat pagi Tuan Emir.” semua orang menyapa dengan serempak.
Setelah semua orang menyambutnya, Emir menoleh untuk melihat Arimbi sebelum menatap orang-orang didepannya.
Dengan suara baritonnya, Emir membuat pengumuman, “Aku memanggil semua orang disini hari ini untuk mengakui Nyonya Muda kita Arimbi. Atau Nona Rafaldi yang berdiri dibelakangku, dia adalah istri sahku oleh karena itu dia adalah Nyonya Muda Keluarga Serkan!”
“Dan mulai hari ini posisi Nyonya Muda Serkan setara denganku. Kalian harus menghormatinya seperti kalian menghormatiku begitu pulak sebaliknya. Setiap perkataan Nyonya Muda Arimbi adalah perkataanku dan tidak ada yang boleh membantahnya. Dan mulai hari ini Nyonya Muda Arimbi memiliki kekuasaan penuh sama sepertiku dirumah ini.”
Rahang semua orang ternganga saat mendengarnya. Tidak ada yang tahu Emir sudah menikah kecuali Beni dan Yaya. Yaya sendiri baru mengetahui tadi malam ketika dia mendengar Nenek Serkan kehilangan kesabarannya.
Saat itulah dia tahu Emir dan Arimbi sudah menikah. Memikirkan permintaan Nenek Serkan untuk menyusahkan Arimbi membuat Yaya tidak bisa tidur nyenyak sepanjang malam.
“Aturan Keluarga Serkan tidak berlaku untuk Nyonya Muda Arimbi! Jika ada diantara kalian yang tidak menyukai dan mengomentari apapun yang dia lakukan terlepas dari benar atau salah kalian dapat datang padaku. Aku yang akan menanganinya sendiri, tetapi kalian tidak dapat membuat aturan sendiri dan berbicara rendah padanya!”
“Nyonya Muda Arimbi hanya akan mematuhi satu aturan di Keluarga Serkan dan itu adalah mencintai dan menghormatiku sebagai suaminya.” ujar Emir menambahkan dengan nada dingin.
Hal itu membuat Arimbi terdiam oleh kata-katanya dan wajahnya memerah seperti udang rebus.
“Yaya!” Emir sengaja memanggil Yaya karena dia adalah kepalapelayan dirumah utama.
Dia adalah pemimpin semua kepala pelayan di Keluarga Serkan.
“Ya,Tuan Muda Emi. Silahkan ajukan permintaan Tuan.” jawab Yaya dengan hormat sambil menunggu perintah dari Emir. Sebenarnya Yaya sudah mulai merasa tidak enak hati atas sikapnya selama ini pada Arimbi karena ketidak tahuannya tentang status Arimbi di keluarga itu.
“Biarkan Nenek Serkan tahu apa yang baru saja kukatakan. Jika dia berpikir hal itu tidak dapat diterima, aku akan berbicara dengannya ketika aku pulang nanti malam. Aku akan terus terang, istriku adalah seseorang yang harus dicintai dan disayangi bukan untuk diinjak-injak. Karena itu tidak peduli siapapun kalian, kalian harus sepenuhnya menghormati istriku.”
Kalimat terakhir Emir adalah peringatan kepada para sesepuh di keluarganya. Dia melarang mereka untuk menindas Arimbi hanya karena mereka adalah orang tua.
Bahkan jika keluarganya sendiri memberi istrinya kesulitan maka dia tidak akan membiarkannya begitu saja. Emir ingin melindungi Arimbi seperti yang dijanjikannya.
Pada titik ini, siapapun yang berencana untuk membuat Arimbi marah dengan cara apapun harus bersiap menghadapi amarah Emir yang meledak-ledak.
“Tuan Muda Emir, saya pasti akan menyampaikan pesan Tuan kepada Nenek Serkan tanpa ada kelalaian sedikitpun.” jawab Yaya menegaskan dengan hormat. Emir melirik sekilas ke sekeliling ruangan sementara wajahnya yang dingin dan tatapan matanya yang tajam membuat semua orang menggigil. “Untuk hari ini cukup itu saja. Kalian semua bisa kembali bekerja. Dan sampaikan ini juga kepada semua bawahan kalian.”
“Baik, Tuan Muda.” jawab semua kepala pelayan dengan hormat dan serempak.
Setelah itu, Arimbi membawa Emir menuju ke ruang makan. Begitu semua kepala pelayan pergi dengan tertib, petugas kebersihan segera datang untuk mengepel lantai beberapa kali sebelum memastikan aula itu bersih.
Saat Arimbi sedang duduk diruang makan menghadap meja yang penuh dengan makanan lezat, dia tidak memakannya. Dia merasakan tenggorokannya tercekat saat dia hampir menangis.
Dia menangis karena bahagia. Apa yang dilakukan Emir tadi benar-benar menyentuh hatinya yang paling dalam. Keputusannya untuk menikahi Emir adalah hal terbaik yang tidak akan pernah disesalinya.
“Apa kamu tidak menyukai pilihan sarapan hari ini, Arimbi? Atau rasa masakannya tidak enak? Jika iya, aku akan segera menghapusnya dari menu dan para koki mengucapkan selamat tinggal pada bonus satu bulan mereka.” ujar Emir menatap istrinya yang tampak ingin menangis dengan mata berkabut.
“Tidak!” jawab Arimbi cepat. “Aku hanya merasa sangat tersentuh, Emir. Aku ingin menangis tapi aku malu untuk melakukannya. Aku tidak bisa makan karena rasanya ada sesuatu di tenggorokanku.”
Arimbi selalu mengakui kekuatan Emir, tidak hanya di Keluarga Serkan tetapi juga di kota itu. Dia dikenal sebagai ‘Dewa Jahat’ karena dia adalah dewa sekaligus iblis!
Baru pada pertemuan barusan, akhirnya Arimbi menyadari toleransi yang cukup besar terhadapnya. Kalau tidak, dia bisa dengan mudah ditendang kejalanan hanya dengan jentikan jarinya.
Terima kasih atas belas kasih Emir padanya. Pada saat itu Emir mengaitkan jarinya dan memberi isyarat pada Arimbi untuk mendekat. Arimbi dengan sadar mengikuti instruksinya.
Jari-jarinya yang ramping menyentuh pipinya lalu dengan ringan menelusuri bagian lain dari wajahnya.
Saat Arimbi sedang menikmati momen intim ini, tiba-tiba Emir mencubit wajahnya dengan begitu keras sehingga Arimbi meringis kesakitan dan refleks menampar tangannya sampai Emir melepaskan cengekeramannya. Arimbi mengusap wajahnya yang sakit dan memelototi Emir dengan marah.
Kemarahannya tampak imut dan indah dimata Emir. “Sakit ya?” tanya Emir dengan suara dalam.
“Kenapa kamu tidak membiarkanku melakukannya padamu. Lalu kamu bisa memberi tahuku jawabannya sakit atau tidak.” jawab Arimbi yang kesal.
“Baguslah. Kamu masih bisa merasakan sesuatu. Kupikir sudah mati rasa. Apa kamu masih terlalu tersentuh untuk makan?”
Arimbi benar-benar terdiam ketika mendengar jawabannya. ‘Terharu? Apa? Apa itu? Yang kuinginkan sekarang adalah mencubitnya lebih keras! Tadi itu menyakitkan! Apa ada suami diluar sana yang mencubit istrinya seperti itu sakitnya? Arrgggg…..awas saja dia nanti ku beri hukuman kalau kami ada di kamar. Hahaha…..sepertinya akan menyenangkan untuk mengerjainya.’ gumamnya dalam hati.